
Setelah Tokyo melakukan pertemuannya dengan salah satu informan wanita yang ia miliki. Dirinya pun segera kembali ke pulau, dan akan membahas langkah selanjutnya yang akan dilakukan jalankan oleh Clone Nostra. Berkat informasi yang diberikan oleh wanita yang menjadi informan itu. Kini Tokyo memiliki banyak pengetahuan mengenai siapa dan apa yang akan ia lawan.
Saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam hari. Tokyo melakukan pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang tertentu Clone Nostra. Pertemuan tersebut dilakukan di pulau, dan di dalam ruang pertemuan pada vila pribadi milik Tokyo yang amat mewah itu.
"Berarti kita tinggal melakukan aksinya saja, 'kan?" tanya Dom ketika berada di meja bundar yang ada di ruang pertemuan tersebut.
"Ya, namun akan ada yang sedikit melenceng dari langkah serta rencana yang sudah selama ini kita persiapkan." Tokyo memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut.
"Apakah itu karena Ashgard dan Berlin?" tanya Karina yang duduk di bangku tepat di sebelah Tokyo. Ia menoleh dan menatap laki-laki berbaju tukas putih rapi di sebelahnya.
"Tentu aku tidak bisa menutup mata soal itu," jawab Tokyo.
Farres menatap tajam Tokyo dan bertanya, "lalu bagaimana kita harus bergerak?"
"Dan bagaimana dengan Nicolaus? Harus kita apakan dia?" timpal Dom bertanya.
Tokyo menyeringai mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kini di kepalanya sudah hadir rencana-rencana jahat yang akan ia jalankan.
"Tenang saja, aku sudah menyiapkan rencana untuk Nico." Tokyo menjawab dua pertanyaan tersebut dan lanjut berbicara, "kita ... akan memanfaatkan dendam dan ambisinya untuk menghabisi Ashgard, terutama Berlin."
"Setelah itu, kita langsung bergerak ke kota dan lakukan aksi yang sudah lama kita nanti di sana."
"Dengan informasi-informasi yang kita dapatkan dari beberapa orang dalam yang kita miliki. Kita sudah cukup memiliki perbekalan soal pengetahuan untuk bisa melawan pemerintah."
Tokyo berbicara cukup singkat namun jelas mengenai rencana dan langkah yang akan ia ambil. Namun di akhir kalimat, ia menambahkan, "itu semua masih rencana awal, yang namanya rencana dapat berubah sewaktu-waktu, jadi mau tidak mau kita harus siap!" ucapnya dengan nada dan sikap berbicara yang begitu dingin namun tegas.
"Baik, mau kapan kita memainkan permainan ini?" ucap Karina melirik tajam lelaki yang duduk di bangku sampingnya.
Tokyo menghela napas sebentar sembari memejamkan mata. Ia membuka kembali matanya dan kemudian menjawab, "pepatah pernah berkata 'lebih cepat lebih baik', bukan?" jawabnya dengan sikap yang begitu dingin, dan tatapannya yang tajam menyimpan berbagai arti kejahatan yang selalu menyelimuti dirinya.
***
"Jadi benar? Sudah valid bahwa komplotan perampok kemarin adalah bagian dari Clone Nostra?" Garwig datang menemui Prawira di ruang jenderal kantor polisi pusat.
"Benar," jawaban singkat Prawira yang tengah duduk di kursi balik meja kerjanya.
Garwig berjalan dan duduk di sofa sembari mengambil sesuatu dari dalam kantongnya. Rupanya ia datang tidak hanya dengan tangan kosong. Sebuah lampiran berisikan catatan laporan penting kini ada di tangannya, dan laporan tersebut mengenai aktivitas yang ada di pulau.
Prawira diperlihatkan isi dari laporan tersebut oleh Garwig. Ia membaca isi laporan itu, dan berhasil dibuat tercengang sekaligus terkejut.
"Gerak-gerik persiapan dari Clone Nostra?! Maksudmu ... Clone Nostra sedang bersiap-siap untuk sesuatu?" cetus Prawira menatap tajam sekaligus heran kepada Garwig.
"Ya, kurasa begitu, dan berdasarkan laporan dari regu yang ku kirim ke pulau itu, Clone Nostra sedang mempersiapkan persenjataan mereka." Garwig menjawab pertanyaan yang tercetus begitu saja oleh Prawira.
__ADS_1
"Garwig, jangan katakan kalau semua persiapan mereka ditujukan untuk kota ini?!" ucap Prawira dengan nada dan sikap yang cukup cemas setelah membaca isi laporan singkat itu.
Garwig menghela napas dan menjawab, "jujur saja aku masih sulit menebak apa tujuan mereka, apa yang mereka inginkan, dan untuk apa semua persiapan serta persenjataan mereka. Tetapi yang jelas, jika mereka mengancam kita dan masyarakat kita, tentu kita tidak hanya tinggal diam, bukan?"
Prawira menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya. Dirinya berusaha untuk tenang dan berpikir.
"Aku sudah melakukan perbincangan dengan walikota mengenai rencana pertahanan, jika sekenario terburuk dari yang paling buruk terjadi."
Di kala mendengar Garwig berbicara hingga selesai. Prawira tiba-tiba saja mencetuskan pertanyaan, "apakah Berlin mengetahui soal ini?"
"Belum, dia tidak tahu soal persiapan dari Clone Nostra. Namun, dia sudah mengetahui rencana pertahanan dari pemerintah. Ditambah, dia memiliki masalah dengan sindikat putih itu, dia dicari oleh mereka."
Prawira menatap tajam Garwig dan berspekulasi, "jika ... Clone Nostra mencari Berlin, apakah itu tujuan dari mereka?"
"Aku tidak begitu yakin tebakanmu sepenuhnya benar, Prawira." Garwig langsung menyangkal hal tersebut dan menambahkan, "jika memang tujuan mereka adalah Berlin seorang. Maka menurutku ... Clone Nostra sudah terlalu berlebihan melakukan persiapan, apalagi dari segi persenjataan mereka."
Suasana ruangan menjadi hening seketika sesaat setelah Garwig selesai berbicara. Prawira terlihat mengkhawatirkan sesuatu, dan memikirkan langkah apa yang harus ia ambil sebagai kepala kepolisian.
"Tenanglah!" Garwig menyunggingkan senyuman kecilnya dan lalu berkata, "jika mereka sedang bersiap-siap untuk bergerak, maka kita harus sudah satu langkah lebih maju daripada mereka, 'bukan?"
"Aku sudah berkoordinasi dengan pasukan gabungan untuk mengatasi hal-hal yang terjadi di luar perkiraan kita."
"Pasukan gabungan? Maksudmu ... militer?" gumam Prawira menatap Garwig dengan penuh tanya.
***
Pada sore harinya, langit sepertinya agak suram. Awan yang sebelumnya memperlihatkan cuaca yang sangat cerah, kini berubah menjadi abu-abu.
Di kompleks pemakaman yang terletak di ujung kota. Berlin seorang diri mendatangi dua buah batu nisan yang letaknya bersebelahan. Tempat dua buah nisan tersebut berada di sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh sungai kecil di tengah-tengah pemakaman. Tempat itu seperti dikhususkan hanya untuk dua buah nisan yang saat ini sedang dikunjungi oleh Berlin.
Berlin duduk berjongkok di sebelah dua batu nisan tersebut, dan mulai sedikit berbicara dengan sendirinya di sana.
"Ayah ibu? Atau Papa Mama? Aku bingung harus memanggil kalian dengan panggilan yang mana. Meskipun aku tahu kalian adalah orang tuaku, tetapi ... aku ... tidak pernah melihat dan ... memanggil kalian sebelumnya." Berlin berbicara dengan sendirinya ketika di hadapkan dengan dua buah batu nisan orang kesayangannya. Berhubung kondisi pemakaman sangat sepi hanya ada Berlin seorang di sore hari yang mendung ini. Maka dari itu ia berani berbicara dengan sendiri, tanpa harus khawatir akan ada orang yang melihat dan menganggapnya gila karena berbicara dengan dua buah batu nisan.
"Entah mengapa perasaan buruk dan penasaran menyelimuti ku hari ini, dan perasaan inilah yang membuatku datang." Berlin mencabuti rumput-rumput liar kecil yang tumbuh di sekitar dua buah nisan tersebut.
"Ketika aku bangun di pagi tadi, tiba-tiba ada pertanyaan yang terlintas di kepalaku. Pertanyaan itu soal ... tragedi pembunuhan kalian berdua, di ... Kediaman Gates."
Berlin menghentikan aktivitas mencabut rumputnya, dan tertahan pada kata-kata di akhir kalian ia berbicara. Sesak rasanya ketika berbicara hal tersebut. Berbagai pertanyaan akan terus menyelimutinya mengenai tragedi pembunuhan itu yang terjadi saat dirinya masih bayi. Apalagi pembunuhan tersebut terjadi di Kediaman Gates, yang mana itu adalah kediaman dari kedua orang tuanya. Kediaman atau rumah yang seharusnya aman, justru malah menorehkan sejarah yang mengenaskan.
Ketika Berlin hanyut dalam lamunannya memikirkan hal tersebut di depan dua batu nisan orang kesayangannya. Tiba-tiba saja langit menurunkan airnya secara perlahan. Rintik-rintik hujan perlahan turun, dan sempat membasahi baju hitam yang dikenakan Berlin. Sebelum akhirnya secara tiba-tiba datang dua orang wanita yang membawakannya payung transparan.
"Ternyata kamu di sini," ucap satu di antara dua wanita yang kini berdiri tepat di belakangnya.
__ADS_1
Sontak kedatangan dua wanita itu berhasil mengejutkan Berlin. Ditambah lagi dirinya mendengar suara yang sangat-sangat tidak asing bagi telinganya.
"Nadia?" tanyanya sembari kembali berdiri dan membalikkan badan perlahan untuk memastikan.
"Jangan hujan-hujan, dong! Nanti kamu sakit, aku nggak mau itu terjadi!" tegas Nadia dengan intonasi berbicara yang lembut namun mengingatkan. Ia membawa payung tersebut di antara dirinya dan Berlin, memastikan agar Berlin tidak lagi basah terkena air hujan. Di belakangnya berdiri Alana yang tampak mengenakan payungnya sendiri. Alana melempar senyum ketika Berlin menyaksikan kehadirannya.
"Kenapa kamu dan Alana tiba-tiba ada di sini?" tanya Berlin.
"Ya ... aku mencarimu, dan aku minta bantuan kepada Alana untuk menemaniku mencarimu, karena kamu bilang aku tidak boleh bepergian sendirian." Nadia menjawab pertanyaannya.
"Lalu, kenapa kamu bisa tahu kalau aku sedang ada di sini?" tanya Berlin lagi.
Nadia sedikit menundukkan pandangannya dan menjawab dengan sedikit canggung, "um ... itu karena ... perasaanku mengatakan kalau kamu ada di sini, hehe," jawabnya lalu di akhir dengan sedikit tertawa kecil.
Berlin tersenyum mendengar jawaban itu. Ia melirik dan melihat ke arah Alana yang berdiri di belakang Nadia, dan kemudian berkata, "Alana, terima kasih sudah menemaninya untuk ke sini."
Alana tersenyum dengan satu tangan menggenggam payung yang ia gunakan, "tidak masalah! Tetapi kau harus ingat, Berlin! Membuat ibu hamil khawatir itu tidak baik, loh!" ucapnya dengan sedikit menasehati Berlin.
"Khawatir?" Berlin kembali menatap istrinya dan bertanya, "kamu khawatir soal apa?"
"Habisnya ... ponselmu tidak aktif saat ku telepon," jawab Nadia.
Berlin tertawa mendengar hal tersebut, karena memang seharian ini ponsel miliknya sengaja ia matikan dan lupa untuk menyalakannya. "Maaf, ponselku memang belum ku nyalakan," ucapnya.
Di kala pembicaraan mereka berdua. Alana menyela pembicaraan untuk pamit, "maaf menyela, tetapi aku harus permisi dahulu."
"Oh, makasih ya, Alana!" Nadia membalikan badannya dan tersenyum kepada Alana. Begitu pula dengan Berlin yang sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Alana.
Setelah Alana beranjak pergi dan meninggalkan pasangan suami istri itu di sana. Kini Nadia dan Berlin berada di bawah payung yang sama. Ketika di hadapkan dengan dua buah nisan milik orang tua Berlin. Entah mengapa justru Nadia-lah yang merasa sedih. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu milik sang suami, sehingga membuat Berlin menyadari kesedihannya.
"Maafkan aku," ucap Berlin seraya menggenggam jemari milik wanitanya.
Nadia tersenyum dan menjawab permintaan maaf itu, "tidak apa, lagipula orang tuamu berarti sudah menjadi orang tuaku juga, bukan?" ucapnya sebelum akhirnya ia kembali mengangkat kepalanya, menoleh dan menatap dalam-dalam kedua mata milik sang suami sembari berkata, "aku tidak terlampau sedih seperti dahulu, kok, Berlin. Di sisi lain aku sangat senang dan bahagia dengan statusku sebagai istrimu."
Berlin hanya tersenyum lebar dan sempat tertawa kecil dengan tatapan yang masih tak bisa lepas dari dua bola mata indah milik Nadia. Hatinya juga ikut senang dan bahagia saat melihat Nadia tersenyum dan merasakan hal yang sama.
"Papa, Mama, menantu kalian sangat cantik, loh! Dan kalian akan segera mempunyai cucu." Berlin menoleh dan menatap dua buah nisan milik kedua orang tuanya sembari berbicara dengan sendirinya.
Nadia tertawa malu ketika mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Namun dirinya tidak berbicara apa-apa, dan kembali memasang senyuman manisnya.
.
Bersambung.
__ADS_1