
Hari kedua persiapan. Di pagi harinya sebelum Berlin kembali ke aktivitas pekerjaannya. Sesuai dengan apa yang sudah ia janjikan pada pagi kemarin. Di hari ini dirinya ingin menemani istrinya untuk periksa kandungan, yang akan dilakukan tepat pada pukul sepuluh pagi di rumah sakit kota. Agenda untuk awal hari ini sangat membuat Berlin bersemangat. Rasa antusiasnya tidak dapat terbendung, bahkan satu jam sebelum berangkat saja Berlin sudah bersiap-siap dengan pakaian rapinya.
Saking semangat dan antusiasnya, ia sampai lupa untuk memakai tongkat yang biasanya ia pakai untuk jalan. Tentu hal itu membuat Nadia sangat terkejut ketika sang suami menemui dirinya di ruang tamu vila dan berjalan tanpa tongkat.
"Di mana tongkatmu?!" cetus Nadia, tegas dan menatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Ada di mobil, tetapi aku sudah bisa jalan normal, kok! Dan khusus kali ini, aku pengen menyetir," jawab Berlin, dengan santainya sembari melangkah dan mendekati sang istri yang berdiri di ruang tamu.
"Jangan aneh-aneh, Berlin!" pekik Nadia.
Berlin menggerak-gerakkan pergelangan kaki kanannya yang masih terbalut perban itu, dan tidak ada masalah. Ia bisa menggerakkannya dengan normal, walaupun secara perlahan dan tidak bisa secepat seperti dahulu. "Tuh lihat! Kakiku sudah baik, sayang. Kamu tenang saja ...!" ucapnya ketika menunjukkan bahwa kakinya sudah baik.
"Papa! Papa sudah sembuh?!" seru Akira, berlari kecil dengan ekspresi antusiasnya ketika melihat Berlin tidak berjalan dengan tongkat lagi, sebelum kemudian pandangan anak itu tertuju ke bawah melihat pergelangan kaki kanan milik Berlin yang masih dibalut perban.
"Sudah, dong! Yuk berangkat?" sahut Berlin, melempar senyumannya yang begitu lebar sembari menggandeng salah satu tangan kecil milik Akira.
Sembari berjalan ke teras, dan mengunci pintu besar berwarna cokelat itu. Nadia masih menatap cemas Berlin, meskipun kelihatannya lelaki itu sudah bisa berjalan dengan normal. Tetapi tetap saja, pergelangan kakinya masih diperban dan belum ada pernyataan dari dokter untuknya berjalan tanpa alat bantu seperti tongkat yang biasa ia gunakan.
Saat sudah berada di dalam mobil, dengan posisi Berlin berada di atas bangku kemudi sedangkan istrinya duduk tepat di sebelahnya. Nadia tiba-tiba saja mendaratkan satu telapak tangannya tepat di atas kening milik Berlin sembari bertanya, "kamu tidak sedang demam, 'kan?" tanyanya dengan intonasi dan tatapan khawatir.
__ADS_1
Berlin tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Segera ia raih salah satu tangan lembut milik istrinya, menggenggam sembari menjawab, "aku sehat, kamu tenang saja."
"Lagipula, kaki kanan tidak akan terlalu capek karena tugasnya hanya menginjak pedal gas dan rem, sedangkan pedal kopling ada di kiri, bukan begitu 'kan?" lanjutnya, sembari menyesuaikan tempat duduknya dan bersiap untuk menyalakan mesin mobil.
"I-iya, sih. Cuma ... aku masih terkejut lihat kamu tiba-tiba jalan tanpa tongkat, sekaligus ... kepikiran mengingat belum ada pernyataan dari dokter untukmu kembali berjalan normal, 'kan?" jawab Nadia, sedikit menundukkan pandangannya dan mengintip pada kaki kanan milik Berlin yang terlihat sudah siap untuk menginjak pedal.
"Cuma sekali ini, kok! Nanti kalau sudah selesai, aku kembali pakai tongkat sampai pernyataan dokter memperbolehkan ku untuk jalan." Berlin meraih puncak kepala milik sang istri, dan kemudian mengusapnya dengan lembut sembari berbicara.
"Asyik!! Papa yang menyetir?!" seru Akira menyela pembicaraan mereka berdua dengan ekspresi riangnya, berdiri di antara kursi tengah dan kursi depan.
"Akira duduk yang manis, ya ...! Jangan lupa pakai sabuknya." Nadia menoleh, tersenyum hangat dan berbicara lembut kepada putrinya itu.
"Kamu yakin bisa, 'kan? Enggak terasa sakit? Kalau mau biar aku saja yang menyetir," tanya Nadia, menatap lembut suaminya yang baru saja selesai menyalakan mesin mobil.
Berlin menoleh dan melemparkan senyumnya sembari menjawab, "tidak sakit sama sekali, paling agak penyesuaian sedikit karena sudah lama tidak menyetir."
"Jangan ngebut!" tegas Nadia, lugas.
"Aku ingat kalau sedang bersamamu dan Akira, jadi tenang saja, tidak akan ngebut." Berlin sempat tertawa kecil mendengar apa yang diingatkan oleh istrinya, sebelum kemudian menanggapinya.
__ADS_1
"Ayo, Papa! Kapan kita berangkatnya?" cetus Akira.
Berlin melirik dan melihat betapa antusias dan semangat dari putrinya melalui kaca spion tengah, "oke, kita berangkat sekarang!" ucapnya.
Mobil tersebut pun perlahan berjalan keluar dari pekarangan serta gerbang utama dan kemudian menghilang di kelokan jalan. Akira terlihat sangat senang, wajahnya yang riang dan seolah sangat sekali untuk pudar. Kedua iris matanya yang terlihat sangat cantik dengan warna cokelat gelap itu sepertinya sangat sulit untuk memalingkan pandangan dari pemandangan jalanan di luar kaca jendela mobil.
Berlin mengendarai mobilnya dengan begitu hati-hati, apalagi dengan kondisi cedera pada pergelangan kaki kanannya yang belum sepenuhnya pulih. Namun sejauh ini, yang dirasakannya tidak ada rasa sakit ketika menggerakkan pergelangan kakinya, jauh lebih baik dari beberapa pekan yang lalu atau saat pertama kali cedera itu ia dapatkan.
Tetapi sejenak pria itu tidak begitu menghiraukan soal cedera pada pergelangan kaki kanannya. Dirinya lebih antusias dengan agendanya pagi atau awal hari ini. Ketika menyetir, Berlin terlihat beberapa kali melirik ke arah istrinya yang duduk manis tepat di sebelahnya. Bahkan pandangannya beberapa kali tertuju pada perut besar milik perempuan tercintanya itu.
"Nyetir tuh yang fokus, jangan melirik ke aku terus!" celetuk Nadia, menanggapinya juga dengan lirikan tajam bahkan sedikit menyipitkan matanya ketika melirik.
Berlin hanya tertawa dan kemudian berkata, "iya, aku fokus ke jalan, kok! Tetapi juga fokus ke kamu, sih," ucapnya dengan intonasi seperti sedang menggoda atau merayu istrinya.
"Kebiasaan ya kamu tuh!" sahut Nadia, sebal sembari sedikit mengerucutkan bibir tipis merah mudanya, sebelum akhirnya memalingkan pandangannya menuju ke arah pemandangan jalanan perbukitan kota di luar jendela mobil.
Berlin hanya tertawa kecil dan tersenyum melihat ekspresi tersebut. Pandangan kedua matanya sempat melirik kembali ke arah kaca spion tengah, untuk memastikan putrinya yang duduk manis di kursi tengah. Anak itu terlihat sangat anteng dengan tatapan antusiasnya yang sedari tadi terus melihat ke arah pemandangan luar jendela. Pemandangan di perjalanan perbukitan kota memanglah indah, karena posisi jalanan yang ada di area tersebut berada tepat di lereng bukit, dan memiliki pemandangan langsung mengarah ke gedung-gedung perkotaan yang terlihat di kejauhan.
.
__ADS_1
Bersambung.