
Kilas balik: On
Dua minggu yang lalu.
"Tidak! Akira tidak mau!" gadis kecil itu menjerit, merengek, dan menangis di sudut ruangan. Terlihat Ibu Helena dan Alana cukup dibuat kewalahan dengan sikap itu. Hari ini seharusnya menjadi hari yang sangat baik dan bahagia untuk Akira, karena dia akan segera mendapatkan keluarga yang baru yang akan merawatnya. Namun Akira malah menolaknya dan merengek tidak mau.
Ini adalah kali keduanya Akira melakukan hal yang sama, dan cukup membuat Ibu Helena kewalahan. Ditambah lagi kedua orang tua baru Akira sudah datang dan duduk menunggu Akira di ruang tengah. Karena Akira bersikap seperti itu, secara terpaksa Ibu Helena harus berbicara apa adanya kepada calon orang tua Akira.
Mengetahui hal tersebut, orang tua baru Akira pun mencoba untuk membujuk dan bersikap lembut terhadap gadis kecil itu. Namun tetap saja Akira menolak dan merengek untuk tidak mau ikut bersama orang tua barunya.
"Tidak! Akira hanya mau bersama orang tua yang Akira pilih sendiri!" jerit Akira semakin menjadi ketika kedua orang tua barunya berusaha untuk membujuknya. Mendengar dan mengetahui sikap Akira yang seperti itu, Ibu Helena dan kedua calon orang tua baru Akira bersepakat untuk membatalkan adopsi Akira.
Kilas balik: Off.
***
Ibu Helena menceritakan dan memberitahu semua itu kepada Nadia sekaligus menjawab pertanyaan Nadia sebelumnya dengan sedikit bersedih hati. Meskipun dirinya sangat tidak keberatan jika memang Akira harus tinggal bersamanya hingga dewasa. Tetapi dirinya hanya tidak tega ketika Akira harus kehilangan teman-temannya yang perlahan satu-persatu sudah pergi bersama keluarga baru mereka masing-masing.
"Ya ampun, sampai segitunya ...?" gumam Nadia juga ikut merasa cukup sedih. Pandangannya tak bisa lepas dari Akira yang masih saja terlihat asyik bermain bersama Berlin dan juga anak-anak yang lain di sana.
Ibu Helena tersenyum tipis dan berkata, "meski begitu ... aku sudah menganggapnya seperti dahulu aku merawat Alana kecil ku. Jadi mungkin ... aku juga akan bersedih jika Akira pergi."
"Ibu, jangan bilang seperti itu di depan Nadia! Aku ... malu, tahu!" sahut Alana seraya mengerucutkan bibirnya dan menyipitkan matanya menatap Ibu Helena.
"Hahaha!" Nadia tertawa mendengar dan melihat sikap itu, dirinya jadi teringat kembali masa kecilnya yang di mana dirinya sangat akrab sekali dengan Alana. "Alana kecil yang suka manja, jangan malu-malu dong," ucap Nadia melirik sinis seraya tersenyum tipis dan menyindir Alana yang duduk di sampingnya.
"Ih! Sekarang aku udah nggak manja, ya!" sahut Alana dengan nada kesal dan memalingkan wajahnya dari Nadia yang menunjukkan kalau dirinya sedang sebal. Namun Nadia hanya terkekeh melihatnya. Begitu pula dengan Ibu Helena yang lalu tersenyum melihat kedua wanita yang dahulu sempat menjadi gadis kecilnya.
"Senang bisa melihat kalian berdua sangat akrab seperti ini lagi," ujar Ibu Helena tersenyum bahagia melihat kedua gadis kecilnya yang sangat akrab dan rukun satu sama lain.
Nadia dan Alana pun langsung terhenti dari semua candaan mereka. Mereka berdua langsung memandang ke arah Ibu Helena dan lalu tersenyum secara bersamaan karena merasa sangat senang dapat bernostalgia kembali.
***
Pukul 16:00 sore.
__ADS_1
Perlahan sore menjelang tanpa terasa. Berlin dan Nadia pun harus pulang karena tentunya terlalu lama bertamu juga tidak baik, dan juga sudah cukup lama mereka berada di sana. Mereka berdua pun berpamitan untuk pulang.
"Terima kasih banyak sekali lagi," ucap Ibu Helena kepada Berlin dan juga Nadia yang sudah berada di halaman.
"Kami akan menantikan kalian berkunjung lagi," timpal Alana berdiri di samping Ibu Helena.
"Tentu saja!" sahut Nadia tersenyum lebar.
Setelah itu Alana pun segera kembali ke dalam panti seraya membawa anak-anak itu untuk beristirahat dan makan. Sedangkan Ibu Helena masih berada di sana, dan tiba-tiba saja Akira berlari dari dalam panti menghampiri Berlin dan Nadia.
"Kakak! Kalian sudah mau pulang?" tanya gadis kecil itu menghampiri Berlin dan Nadia dengan bersedih.
Tatapan gadis kecil itu cukup berkaca-kaca mendongak memperhatikan Berlin dan Nadia yang berdiri di hadapannya. Nadia mengusap pipi milik Akira dan menatap gadis kecil itu seraya berkata, "iya, sayang. Bertamu terlalu lama itu juga tidak baik," ucapnya sembari tersenyum manis kepada Akira.
"Tetapi, Akira malah senang kalau kalian di sini! Akira nggak keberatan, kok!" sahut Akira dengan wajah polosnya.
Berlin tersenyum melihat kepolosan anak itu. Dirinya berlutut dan menatap Akira lalu tersenyum kepadanya seraya berkata, "suatu saat kakak boleh berkunjung lagi, 'kan?" tanyanya menatap bulat kedua bola mata indah milik gadis kecil itu.
"Tentu saja! Kalau bisa Akira ingin bersama kalian terus!" pekik Akira lalu dengan tiba-tiba memeluk erat Berlin yang ada di depannya. Ia memejamkan matanya yang mulai berair dan memeluk erat-erat Berlin.
"Baiklah kalau begitu! Suatu saat nanti kakak ingin mengajak Akira pergi bersama, apa Akira mau?" Berlin melepas pelukan itu perlahan dan menyaksikan ekspresi sedih anak perempuan di hadapannya, dan ekspresi itu cukup untuk menggoyahkan hatinya.
Mendengar ajakan tersebut, ekspresi Akira seketika berubah menjadi sangat senang dan ceria. "Sungguh? Akira mau! Kapan?" sahut Akira sangat gembira.
Berlin tersenyum melihat ekspresi gembira itu dan menjawab, "suatu saat nanti, ya? Karena ada banyak pekerjaan yang harus kakak selesaikan terlebih dahulu."
"Janji?" sahut Akira kembali dengan wajah berseri-seri seraya mengajukan jari kelingkingnya.
Berlin menatap lembut gadis di hadapannya dan mengikat janji kelingking dengannya, "janji! Kalau semuanya sudah selesai, kakak akan hampiri Akira untuk kita pergi bersama," ucapnya seraya tersenyum kepada gadis kecil itu.
"Yay!" Akira melompat kegirangan, "Akira akan tunggu! Kak, jangan lupa, ya!" ucapnya tersenyum lebar dan menunjukkan wajah ceria nan polosnya kepada Berlin.
***
"Apa kamu yakin dengan janji dan apa yang kamu ucapkan kepada Akira tadi?" tanya Nadia menoleh dan menatap Berlin yang terlihat fokus menyetir.
__ADS_1
Setelah perbincangannya dengan Akira selesai. Berlin pun berpamitan dan pergi dari panti asuhan itu. Nadia merasa senang dengan semua yang ia saksikan hari ini, namun juga menyimpan rasa keraguan tentang janji yang Berlin buat kepada Akira.
"Tentu saja aku yakin, itu keputusan bulat dari diriku sendiri, sayang. Kamu nggak keberatan dengan keputusanku itu, 'kan?" Berlin sedikit menoleh dan menjawab pertanyaan tersebut, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan di depannya.
Nadia tersenyum dan berkata, "aku sangat tidak keberatan," ucapnya lalu dirinya menatap tajam Berlin dan kemudian berkata, "kamu jangan memberikan harapan palsu kepada anak kecil, ya!" tegasnya.
Berlin tersenyum dan berkata, "tentu saja aku tidak akan melakukan hal itu, dan aku bukanlah orang yang seperti itu."
Nadia mengangkat satu alisnya dan mengerutkan dahinya, "memang iya kamu bukan orang yang seperti itu?" tanyanya menatap curiga.
"Iya, sayang. Coba ingat-ingat kembali sepanjang hubungan kita, apakah aku pernah memberikan harapan palsu padamu?" sahut Berlin melirik pada istrinya.
Nadia jadi tersipu sendiri dengan pertanyaan dan jawaban yang didapatnya. Seingatnya memang benar, Berlin tidak pernah ingkar atau memberikan harapan palsu.
"Lagipula masa aku setega itu memberikan harapan palsu kepada anak di bawah usia lima tahun? Aku memanglah orang jahat, tetapi aku masih punya hati dan tidak sejahat itu," lanjutnya.
Nadia menoleh dan menatap suaminya dengan tatapan kagum bercampur senang. Pria yang ia kenal itu kini jauh berubah menjadi lebih baik dibandingkan dengan dahulu waktu pertama ia kenal. Apalagi mengetahui sifat dan sikapnya yang berubah drastis ketika menghadapi anak-anak, dan itu menunjukkan kalau Berlin terlihat sangat menyukai kehadiran anak-anak.
"Ada apa? Apa ada yang salah dengan ku?" Berlin tergugup bingung mendapati istrinya hanya diam seraya terus melihat dirinya yang sedang menyetir.
Nadia tersenyum dan menggeleng, "aku hanya masih tidak percaya kalau tadi kau akan disukai anak-anak di sana," ucapnya.
"Berlin, apa kau suka dengan anak-anak?" lanjutnya bertanya.
Berlin tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. "Terkadang anak-anak memang merepotkan, tetapi mereka itu lucu. Aku sendiri tidak tahu apa aku menyukai mereka, namun aku tidak keberatan dengan kehadiran mereka. Jika aku keberatan, maka sudah pasti tadi aku menolak untuk berkunjung ke panti asuhan."
"Um ... ngomongin soal anak-anak, a-apa kamu ... sudah terpikirkan ... jika suatu saat nanti ... kita memiliki seorang anak?" celetuk Nadia tiba-tiba bertanya demikian sembari menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona. Ia terlihat sangat gugup ketika bertanya tentang hal itu.
Berlin melirik dan sedikit tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja aku sudah terpikirkan, bahkan dari awal ketika aku berkomitmen untuk menjalani hubungan dan menikah denganmu, Nadia." Berlin memberikan jawabannya dengan serius, namun dengan pandangan terus fokus pada jalanan di depannya.
Nadia terdiam mendengar jawaban itu dan merasa bahagia dengan sendirinya. Dirinya menyandarkan kepalanya pada bahu milik suaminya, dan memejamkan matanya di sana.
"Duh, kamu ini kebiasaan, deh! Aku sedang menyetir, loh!" cetus Berlin ketika istrinya bersandar padanya, meskipun dirinya tidak keberatan dengan itu. Namun Nadia hanya tersenyum dengan mata masih terpejam.
.
__ADS_1
Bersambung.