Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Hanya Ancaman Ringan #209


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusannya di Balaikota, Berlin memutuskan untuk bergegas pulang. Ia berpisah dengan Kimmy dan Carlos di tengah perjalanan, dikarenakan menaiki mobil yang berbeda. Sedangkan dirinya satu mobil dengan Asep yang menyetir.


Sepanjang perjalanan, Asep hampir tidak ada hentinya untuk bertanya-tanya mengenai apa yang akan dilakukan di hari persidangan lusa. Laki-laki itu juga terlihat penasaran dengan apa rencana Berlin untuk Ashgard di hari tersebut.


"Kita tidak akan tahu bagaimana situasi di hari tersebut, jadi pada dasarnya kita akan melakukan rencana awal. Rencana selanjutnya akan menyusul, tergantung dengan situasi dan kondisi." Berlin berbicara, menjawab semua pertanyaan yang dilayangkan oleh Asep sepanjang perjalanan.


"Kau benar, sih. Faktor yang menentukan rencana itu terlaksana adalah situasi dan kondisi di lapangan," ujar Asep, kemudian menghela napas dengan fokus ke depan sembari menyetir.


"Lalu bagaimana untuk besok? Bukankah dari segi kesiapan, kita sudah cukup siap? Sudah cukup informasi yang kita kantongi, sudah lengkap pula perlengkapan yang diperlukan," lanjut Asep, sempat menoleh kepada Berlin yang duduk di sampingnya, dan kemudian kembali fokus ke jalanan perbukitan di depan.


Berlin menoleh kepada rekannya itu dan kemudian menjawab, "kita lihat saja besok."


"Memang dari segi kesiapan pengetahuan serta materi, kita bisa terbilang sangat siap. Namun belum tentu mental kita semua sama, dan juga siap untuk misi pertama ini," lanjut Berlin sembari memalingkan kembali pandangannya ke depan.


"Mental? Maksudmu ... mental rekan-rekan masih belum siap, begitu?" sahut Asep, mengerutkan dahinya, bingung.


"Ya, terlebih melihat situasi mereka akhir-akhir ini dengan Carlos," jawab Berlin, bersandar santai sembari melipat kedua lengannya di atas dada dan kemudian lanjut berbicara, "aku jadi cukup meragukan kekompakan kita."


"Jika memang begitu, maka apa yang akan kau lakukan? Apalagi mengingat hari persidangan sudah sangat dekat, dan waktu persiapan tersisa satu hari." Asep tiba-tiba melempar pertanyaan tersebut dengan sangat serius, bahkan tanpa melirik sedikitpun Berlin ketika bertanya.


"Tunggu saja hari esok," jawab singkat Berlin, dengan sikapnya yang tenang dan datar.


***


Lima belas menit dihabiskan untuk perjalanan dari Balaikota menuju ke kediaman atau vila milik Berlin. Sesampainya di kediaman tersebut, Asep langsung beranjak pergi setelah selesai mengantarkan Berlin dengan selamat.


Di teras rumah, terlihat Akira membuka pintu besar itu dengan riangnya sembari berseru, "Papa!!" kemudian disusul oleh Nadia yang kemudian berdiri tepat di ambang pintu masuk.


"Dasar, Papa terlambat!" ujar Akira, tegas sembari mengerucutkan bibir mungilnya. Seketika ekspresi riangnya berubah menjadi galak, yang justru ekspresi tersebut terkesan lucu karena sikap kekanak-kanakannya yang menggambarkan dirinya sedang kesal dan marah dengan Berlin.

__ADS_1


Berlin tertawa kecil, tersenyum, dan menunduk sembari berkata, "maaf, ya. Papa terlambat untuk makan malam bersama," ucapnya, sembari mengelus puncak kepala milik putrinya dengan lembut.


"Ayo, cepatan! Nanti sup buat Papa aku habisin, loh!" cetus Akira, meraih, menggenggam salah satu tangan milik Berlin dan kemudian segera menariknya untuk masuk. Sedangkan Nadia hanya tersenyum hangat melihat kelakuan mereka berdua.


Berlin bergegas melangkah langsung menuju ke meja makan, bersama dengan putrinya yang sedari tadi menggandeng serta menarik salah satu tangannya. Di atas meja sudah tersedia satu mangkuk sup yang masih hangat, dan porsi tersebut terlihat memang sengaja sudah disiapkan sedari tadi untuknya.


Lima menit berlalu, dan pria itu terlihat asyik menyantap supnya selagi masih hangat. Sedangkan Nadia hanya menemaninya dengan duduk bersebrangan dengan dirinya. Berlin beberapa kali fokusnya teralih kepada istrinya yang terlihat seperti ingin mengungkapkan sesuatu kepadanya.


"Kalau makan yang dilihat makanannya, mengapa jadi aku yang jadi pusat perhatian ...?" cetus Nadia, menopang dagu dengan salah satu tangannya di atas meja.


"Memang kamu tuh selalu berhasil menarik perhatian ku, sih!" sahut Berlin, kemudian melanjutkan menyendok kuah sup miliknya.


Nadia hanya berdecak sebal, menghela napas dan kemudian berkata, "kebiasaan ...!"


Berlin hanya tertawa kecil melihat wajah datar dari istrinya, dan kemudian tersenyum serta bertanya, "dari raut wajahmu, apakah ada yang ingin kamu bicarakan denganku?"


Nadia sempat menoleh terlebih dahulu ke arah ruang tengah, memastikan putrinya yang tengah asyik duduk di sofa panjang sembari membaca buku bergambarnya, sebelum akhirnya menjawab singkat, "ada, tetapi nanti saja," ucapnya, terdengar pelan.


Lima belas menit kemudian berlalu, namun Nadia tak kunjung mengutarakan serta membicarakan apa yang ingin ia bicarakan, padahal Berlin sendiri sudah selesai dari makannya. Berlin beranjak dari meja makannya, membawa mangkuk dan cangkirnya ke wastafel, dan kemudian mencucinya. Sedangkan Nadia, bumil itu masih duduk di kursinya seperti sedang menunggu momen yang tepat untuk berbicara.


"Mama, aku main di atas, ya!" seru Akira, kemudian perlahan melangkah menuju tangga, dan menaiki anak-anak tangga itu secara perlahan.


"Iya, nanti jam sembilan harus sudah di kamar, ya! Enggak boleh terlalu malam! Hati-hati naik tangganya, jangan lari!" sahut Nadia.


"Oke!!" sahut Akira berseru, ia sudah hampir sampai di ujung anak tangga lantai dua.


Setelah anak itu tidak terlihat lagi, dan suara langkahnya perlahan sudah memudar di atas tangga. Sembari kedua tangannya sibuk dengan mangkuk kotornya yang masih dicuci, Berlin bertanya, "apakah aku harus menunggu lagi?"


Nadia menggeleng, menjawab, "tidak harus."

__ADS_1


"Aku ingin memberitahumu, kalau tadi aku sempat mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal," lanjut perempuan itu, masih duduk manis di kursinya.


"Nomor tidak dikenal?" Berlin selesai dengan kesibukannya, kemudian berbalik badan dan beranjak menuju ke sofa ruang tengah diikuti oleh sang istri.


"Apa yang dikatakan oleh orang itu kepadamu? Katakan padaku! Karena sepertinya apapun yang dikatakan oleh orang itu, tampaknya cukup mengganggu pikiranmu," lanjut Berlin berbicara, duduk di sofa panjang itu berdampingan dengan istrinya.


Dengan perlahan Nadia pun memberitahu apa saja yang ia dengar dari kontak tidak dikenal itu kepada Berlin. Tak lupa juga dirinya untuk memperlihatkan kontak serta nomor tidak dikenal itu kepada suaminya.


"Dia tiba-tiba menelepon, menyebut nama lengkap ku, dan menyampaikan beberapa pesan yang ditujukan untukmu. Aku tidak begitu mengerti, tetapi yang jelas aku merasa itu adalah ancaman," ucap Nadia.


Di dalam genggaman salah satu tangan Berlin sudah terdapat ponsel milik istrinya, dan dirinya bisa melihat sendiri nomor yang sangat asing itu serta kontak yang tidak memiliki foto dan keterangan apapun di kolom deskripsinya.


"Pria itu bilang untuk tidak menghalang-halangi apapun tindakan yang akan mereka lakukan, jika memang tidak ingin ada nyawa yang melayang. Dia juga berkata kalau dirinya tidak akan segan untuk mencari, mengincar, melukai, bahkan menghabisi siapapun yang menghalangi. Begitulah yang dia ucap," lanjut wanita itu kepada Berlin.


Berlin mengangguk pelan dan berkata, "aku percaya dengan apa yang kamu katakan, dan anggap saja ini sebagai ancaman ringan."


"Jangan khawatir, ini hanya sekedar ancaman verbal dan tidak lebih," lanjutnya sembari menoleh dan merangkul, kemudian berhasil membuat istrinya menyandarkan kepalanya tepat di atas bahu miliknya.


"Yah, meskipun begitu tetap saja tidak membuatku bisa lepas dari rasa khawatir ini," sahut Nadia, terlihat masih menyimpan rasa khawatir, berbeda dengan Berlin yang justru terlihat jauh lebih santai dan tenang dari dirinya.


"Dia tahu nama lengkap ku, yang padahal aku tidak mengenalnya. Aneh!" lanjut Nadia, sembari perlahan melingkarkan kedua tangannya pada badan milik lelaki tersebut.


"Namanya juga penjahat, mereka bisa meraih apapun informasi yang mereka ingin," jawab Berlin, santai.


Berbeda dengan Nadia, Berlin benar-benar terlihat sangat tenang. Bahkan ia tidak terkejut sama sekali ketika pertama kali mengetahui soal telepon ancaman tersebut. Pria itu seolah terlihat sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.


"Aku tahu tugas yang diberikan padamu bukanlah tugas yang sembarangan, maka dari itu aku mohon padamu untuk lebih berhati-hati, ya ...!" ujar Nadia, menatap lekat kedua mata milik Berlin dengan jarak yang sungguh dekat.


Berlin tersenyum, mengangguk pelan dan menjawab, "iya, aku tahu, kamu jangan terlalu khawatir, ya ...!"

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2