
Waktu perlahan terus bergerak dan menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun langit di pagi ini tidaklah cerah, hanya diwarnai oleh gumpalan awan cumulus congetus yang sudah berwarna abu-abu pekat.
Lokasi berada tepat di pintu depan gedung pusat pemerintahan. Berlin masih berlutut dan hanya berdiam diri di sana. Beberapa kali ia sempat melirik ke kanan dan ke kiri, berusaha untuk menemukan celah yang mungkin dapat ia manfaatkan untuk melarikan diri. Namun, setelah melihat situasi yang dipadati oleh pasukan Clone Nostra, Berlin merasa sepertinya tidak mungkin bagi dirinya untuk melarikan diri dari sana. Jika dirinya nekat melakukannya, maka dirinya hanya akan mempercepat nasibnya untuk terjun ke dalam jurang kematian.
Beberapa detik kemudian, benar saja awan abu-abu itu perlahan menurunkan airnya ke tanah. Rintik hujan pun perlahan menghujani setiap benda dan makhluk hidup yang berada di bumi.
"Hujan? Hei, kalian bertiga segeralah pergi menuju puncak bukit itu!" titah tiba-tiba seorang pria berbaju putih sembari menunjuk ke arah perbukitan seberang Gedung Balaikota. Tiga orang yang dia tunjuk pun segera pergi menuju puncak bukit yang ada di sana dengan membawa senapan-senapan mereka.
Berlin menyaksikan dan memantau segala aktivitas yang terjadi di sekitarnya. Dari apa yang ia lihat, tampaknya Clone Nostra lebih meningkatkan kewaspadaan mereka ketika hujan. Apalagi perlahan hujan mulai deras dan semakin deras, dan berhasil membuat Berlin basah kuyup di seluruh tubuhnya.
Berlin menghela napas dan merasa beruntung dengan datangnya hujan ini. Sedikit demi sedikit dirinya dengan sengaja meminum air hujan itu, dan membuat tenggorokannya yang kering menjadi basah. Tak hanya itu, dengan datangnya air hujan ini juga perlahan membasuh luka-luka yang ada pada dirinya.
"Hei, kalian berdua! Bawa dia ke dalam!" titah seorang wanita yakni Karina kepada dua orang anak buahnya yang berdiri dekat dengan Berlin.
Berlin pun diangkat paksa oleh kedua orang itu untuk berdiri, dan kemudian dibawa kembali menuju ke dalam gedung. Dirinya sempat bingung apa yang dipikirkan oleh Tokyo, mengapa orang itu membawa kembali dirinya ke dalam. Ia mengiranya dirinya akan terus-terusan dipajang di depan gedung.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu, Berlin." Karina tiba-tiba saja berbisik kepada Berlin yang perlahan dipapah oleh kedua orang itu.
Berlin tak menanggapi perkataan itu, dan melemparkan lirikan tajamnya kepada wanita itu. Wajah dan ekspresi Karina benar-benar seolah menyimpan sebuah rencana yang membuat Berlin harus lebih waspada.
"Masukkan dia ke dalam ruangan yang ada di ujung sana! Kunci pintunya, dan jaga ruangan itu!" titah Karina kepada dua orang yang memapah Berlin.
BRAAKK ...!!
Suara pintu yang tertutup sangat kasar, dan kemudian dikunci dengan sangat rapat. Berlin kini berada di ruangan yang dimaksud oleh Karina. Sebuah ruang hampa, benar-benar kosong bahkan tidak terdapat jendela hanya ada tiga ventilasi kecil di bagian belakang ruangan. Tampaknya ruangan ini adalah ruangan bekas gudang, namun sudah tidak terpakai lagi.
"Mereka sudah mengurungku di sini, tetapi tetap tidak melepaskan ikatanku, yang benar saja?! Apakah setakut itu mereka pada diriku?!" gusar Berlin meracau dengan sendirinya, kedua tangannya masih dalam keadaan terikat di belakang.
Berlin hanya bisa bersandar di salah satu sisi dinding ruangan tersebut. Tidak banyak yang bisa ia lakukan di posisi ini, dan dirinya lebih banyak menunggu serta berharap.
***
Ashgard mulai melakukan sedikit pergerakan menuju ke sebuah kompleks perumahan elit yang berada tak jauh dari Gedung Balaikota itu berada. Tak sendirian, mereka ditemani oleh banyak aparat kepolisian beserta Prawira dan dua perwira terbaiknya yakni Flix serta Prime yang juga ikut.
Di sebuah taman yang berada di kompleks perumahan tersebut, mereka mendatangi sebuah kamp milik pihak militer dan kemudian menemui Garwig di sana.
"Aku sudah mengetahui situasinya, dan juga sudah menerbangkan pesawat tersebut yang kini berada tepat di atas Gedung Balaikota."
Garwig langsung menyambut tiga petinggi Ashgard serta Prawira, serta kemudian membawa mereka ke sebuah tenda pusat kontrol dan komunikasi. Di tenda tersebutlah drone atau pesawat tanpa awak itu dikendalikan serta dipantau. Banyak layar-layar monitor yang terpasang dan menampilkan setiap rekaman gambar yang ditangkap oleh kamera drone dengan secara real time.
__ADS_1
"Tak hanya satu, aku langsung menggunakan dua drone sekaligus," ucap Garwig.
Di depan banyaknya layar yang terpampang di sana, terdapat dua petugas yang tampaknya mengoperasikan terbangnya pesawat tanpa awak itu.
"Bagaimana, apa yang kalian dapatkan?" tanya Garwig kepada dua petugasnya.
Layar-layar monitor itu kemudian menunjukkan kondisi serta situasi dari Gedung Balaikota dari atas awan. Melalui kamera pada drone itu, Garwig beserta Prawira dan tiga orang kepercayaan Ashgard dapat menyaksikan semuanya. Terlihat banyak sekali personel Clone Nostra yang memenuhi sekitaran gedung itu, dan mereka semua bersenjata lengkap.
"Berlin di mana? Bukankah laporan terkahir mengatakan kalau dia berada di halaman depan gedung?" tanya Kimmy kepada Prawira.
"Bisakah kau aktifkan pendeteksi suhu panas?" tanya Garwig meminta hal tersebut kepada dua pilot pesawat tanpa awak itu.
Pendeteksi suhu panas pada kamera dua drone itu pun aktif, dan dapat menunjukkan setiap makhluk hidup yang memenuhi Gedung Balaikota sekitarnya.
Di antara banyaknya suhu panas yang terdeteksi, terdapat lebih dari lima suhu panas yang mengelompok di suatu ruangan dalam gedung pemerintahan itu. Garwig dan Prawira menduga bahwa yang berada di dalam ruangan itu adalah para tawanan yang ditahan.
"Tunggu, aku melihatnya ...! Yang sendirian itu ...!" cetus Kimmy menunjuk ke salah satu layar monitor yang menampilkan adanya satu suhu panas yang menyendiri, tampaknya orang itu terkurung di dalam ruangan yang berbeda dengan ruangan yang digunakan untuk mengurung para tawanan itu.
"Aku merasa itu Berlin," lanjut Kimmy menurunkan kembali satu tangannya dan sedikit tertunduk.
Semua pandangan pun tertuju kepada suhu panas yang ditunjuk oleh Kimmy. Tidak terlihat adanya pergerakan, seolah orang itu bersandar pada dinding ruangan dan terlihat sangat lemas.
"Kita harus segera ke sana!" cetus Kimmy.
"Iya, aku rasa akan sangat sulit jika pihak kita sendiri yang melawan mereka, apalagi tanpa adanya Berlin," timpal Asep dengan pandangan sedikit tertunduk.
Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba saja layar-layar monitor itu seolah kehilangan sinyalnya. Rekaman-rekaman yang ditampilkan perlahan kehilangan gambarnya.
"Apa yang terjadi?! Katakan!" titah Garwig.
"Kami tidak tahu!"
"Aku kehilangan kendali, seolah ada yang berusaha mengambil alih!"
***
"Bagaimana, Farres?" tanya Tokyo menghampiri Farres yang tampak sibuk dengan sebuah laptop di ruang kerja milik walikota.
"Aku berhasil mendeteksi dua pesawat tanpa awak yang terbang tepat di atas kita," jawab Farres kemudian menyunggingkan senyum sinisnya dan menambahkan, "aku juga berhasil menerobos ke sistem pesawat tersebut."
__ADS_1
Tokyo tersenyum tipis mendengar hal tersebut dan kemudian berkata, "bagus, lanjutkan dan tunjukkan pada mereka keahlianmu."
***
"Sistem pesawat anda sepertinya sedang diretas, pak." Asep tiba-tiba saja melangkah lebih dekat dengan Garwig dan berbicara demikian.
Mendengar hal tersebut tentunya membuat Garwig cukup terkejut, "cepat atasi hal ini! Jangan diam saja!" titahnya kepada dua operator pesawat tanpa awak itu.
"Tunggu! Jika kalian mencoba mengambil alih dengan memakai sistem yang ada pada komputer itu, yang ada itu akan mempermudah si peretas untuk lebih masuk dalam sistem komputer kalian ...!" sela Asep.
Kimmy dan Adam sama-sama saling menatap melihat reaksi Asep ketika melihat permasalahan yang terjadi pada sistem komputer milik aparat itu.
"Apa yang anda katakan?!" sahut salah satu dari kedua petugas itu.
Asep melirik dan menatap serius kepada Garwig dan berkata, "jika berkenan, izinkan saya untuk mengatasi permasalah ini ...!"
"Tunggu! Apakah kau memang ahli dalam bidang ini?" sahut Prawira tampak sedikit menaruh rasa ragu.
Kimmy tiba-tiba saja tersenyum lebar dan menyeletuk, "tenang saja, rekan kami ini sangat handal dalam bidang ini." Begitu pula dengan Adam yang berkata, "jangan khawatir, serahkan saja pada Asep ...!"
Garwig pun mengizinkan Asep untuk mengutak-atik aset komputer miliknya, setelah melihat Kimmy dan Adam yang begitu yakin dengan kemampuan Asep.
"Wow! Ini pertama kalinya aku memegang sistem yang begitu canggih!" gumam Asep ketika duduk pada salah satu kursi yang sebelumnya milik pilot drone itu.
"Baiklah, saatnya bermain!" celetuknya dengan senyuman dan ekspresi yang sangat optimis.
***
"Sial ...! Sial, sial!"
"Ada apa?"
Tokyo begitu bingung dengan tingkah Farres yang tiba-tiba saja terlihat sangat panik.
"Aku mulai kehilangan kendali atas drone itu," jawab Farres terlihat begitu fokus dengan layar laptopnya. Jari jemarinya begitu lihai dalam mengoperasikan sistem komputer tersebut.
"Apakah kau bisa mengambil alihnya lagi?" tanya Tokyo.
"Akan ku coba!" sahut Farres dengan kedua mata yang tidak terlepas dari layar laptopnya.
__ADS_1
.
Bersambung.