Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Prioritas #102


__ADS_3

Awal hari yang menjadi awal dari segalanya. Sejarah baru telah terukir hari ini, dan sejarah tersebut akan dapat menjadi sejarah yang kelam. Awal dari kehancuran yang diciptakan oleh Clone Nostra bisa saja terus berlangsung, bahkan mungkin menjadikan pemerintahan Kota Metro beserta dua wilayah lainnya dibawah tirani mereka seperti apa yang terjadi pada Pulau La Luna.


Namun Garwig tidak ingin membiarkan itu terjadi. Dirinya berambisi untuk menyingkirkan sindikat itu, dan mengembalikan kondisi kota seperti semula. Kehidupan serta nasib banyak orang akan sangat dipertaruhkan di hari ini.


"Mereka tampaknya sedikit mundur ke area perbukitan kota, pak." salah seorang rekan aparatnya melaporkan hal tersebut kepada Garwig.


Garwig masih berada di dalam mobil militernya yang berukuran amat besar. Ketika mendengar laporan tersebut, dirinya tidak kaget karena sudah sewajarnya mereka melakukan hal itu.


"Sudah seharusnya mereka mengambil keputusan tersebut, di sisi lain itu bisa mempersulit pergerakan kita karena mereka mengamankan keuntungan dataran tinggi," ucap Garwig.


Tak hanya di Kota Metro saja dan tak hanya dalam satu jalur saja pihak militer milik Garwig melakukan pergerakan. Namun Garwig juga membagi personelnya untuk bersiap melakukan invasi kembali di beberapa titik dan wilayah, salah satunya adalah Paletown. Sudah terdapat beberapa regu yang telah disiapkan untuk mengambil alih kembali wilayah Paletown.


"Baik, berhenti!" titah Garwig terdengar sangat lantang.


Seluruh personel dalam regu yang ia pimpin pun berhenti di suatu taman kecil di kompleks perumahan elite yang letaknya cukup dekat dengan posisi Gedung Balaikota. Di tempat itulah, Garwig mulai membagi tugas serta misi untuk grup atau regu miliknya.


"Semua, dengarkan!" titah Garwig berbicara lantang di depan orang-orangnya yang berjumlah kurang lebih tiga puluh orang.


"Objektif kita adalah mengambil alih gedung putih itu, serta membebaskan para sandera yang ditawan di dalam sana."


"Peperangan sudah dipastikan tidak akan dapat lagi terelakkan, namun jangan khawatir karena regu A dan regu B akan datang dari Timur dan Barat."


"Jika ada yang takut di antara kalian, maka angkat kaki dan pulang sekarang, dan jangan harap dapat kembali lagi!" Garwig berbicara dengan intonasi yang sangat tegas serta terdengar sangat lantang dan terkesan menakutkan.


Sambil menunggu waktunya tiba, Garwig beserta seluruh personelnya mempersiapkan segala perlengkapannya. Taman kecil di kompleks tersebut dijadikan sebagai pos sementara dan perimeter dalam yang dibangun oleh pihak militer.


"Apapun yang terjadi di lapangan, jangan sekalipun mengharapkan pengampunan dari mereka," ucap Garwig memperingatkan setiap anggotanya. Ia kemudian menghampiri salah satu dari sekian personelnya dan meminta, "posisikan dirimu di atap rumah yang memiliki posisi paling tinggi di sekitar sini!" pintanya

__ADS_1


"Baik, pak!" sahut aparat itu sembari membawa senapan laras panjangnya menuju ke sebuah rumah tingkat tiga yang terletak tak jauh dari taman tersebut.


***


Pukul 06:10 pagi, Taman Kota Metro.


Prawira terlihat tengah bersiap untuk segera beranjak pergi dari taman tersebut. Tak hanya dirinya pribadi, namun juga seluruh anggota aparat kepolisian yang ada di sana juga ikut bersiap. Dalam waktu dekat, mereka akan segera berangkat dan bergabung sebagai personel gabungan yang dipimpin oleh Garwig di barisan tengah dan belakang.


Seluruh perlengkapan baik persenjataan sampai perlengkapan medis yang akan dibawa oleh pihak medis milik kepolisian. Semuanya dipersiapkan secara matang oleh Netty yang turut mendata masing-masing barang yang akan dibutuhkan.


Namun di tengah persiapan tersebut, Prawira tiba-tiba saja menerima sebuah laporan dari salah satu anggotanya yang tiba-tiba menemui dirinya di dalam tenda logistik.


"Pak, anda harus lihat apa yang kamera dari salah satu helikopter kita tangkap," ucap aparat wanita itu dengan napas yang cukup terengah-engah karena ia berlari untuk menemui Prawira.


Prawira pun mengikuti langkah anggotanya menuju ke sebuah tenda yang berisikan banyak sekali layar monitor. Gambar-gambar yang ditampilkan pada layar-layar itu adalah gambar-gambar yang tertangkap oleh kamera dari dua unit helikopter yang tengah mengudara secara real time.


Ketika Prawira memeriksa satu persatu dari beberapa itu, dan dirinya dibuat cukup terkejut dengan salah satu dari sekian banyaknya layar.


Kedua mata Prawira dapat menyaksikan adanya sekelompok orang berpakaian serba hitam yang tengah bergerak dari Pusat Kota menuju ke arah Distrik Timur. Empat unit mobil yang berisikan masing-masing satu orang, dan sisanya empat unit kendaraan bermotor.


Prawira sendiri tidak tahu siapa orang-orang itu, namun setelah melihat salah satu dari keempat mobil yang sedang melaju di jalanan menuju ke Distrik Timur. Dirinya dibuat terkejut ketika kedua matanya menangkap satu unit mobil beroda enam yang sudah tidak asing lagi di matanya.


"Tidak, tidak perlu ...! Namun aku memerlukan orang untuk memantau mereka," ucap Prawira menanggapi pertanyaan anggotanya.


"Sampaikan kepada Flix untuk segera berangkat menuju Distrik Timur, dan lakukan pemantauan terhadap sekelompok orang itu," lanjut Prawira menoleh dan menatap tajam polwan yang kini tengah berdiri di sampingnya.


"Baik, Pak!" polwan itu segera beranjak pergi untuk menemui Flix dan menyampaikan titah Prawira.

__ADS_1


Kedua mata milik Prawira kembali tertuju pada layar yang terus menampilkan pergerakan sekelompok orang berbaju hitam itu, "apa yang sedang kau rencanakan, Berlin?" gumamnya tiba-tiba.


***


Berlin tengah mengendarai mobil beroda enam miliknya, diikuti oleh tiga mobil lain yang dikendarai oleh ketiga orang kepercayaannya tepat mengikuti di belakangnya. Sedangkan rekan-rekan sisanya mengendarai motor dan melaju terlebih dahulu untuk membukakan sekaligus memeriksa jalur yang akan dilalui.


Saat ini Berlin tengah dalam perjalanan menuju ke Distrik Timur, lebih tepatnya menuju ke panti asuhan milik Nyonya Helena berada.


"Bos, apakah kau memiliki strategi atau rencana untuk keputusanmu kali ini?" tanya Asep melalui radio komunikasi.


Berlin pun menjawab dengan singkat, "tidak, tidak terpikirkan."


"Namun prioritas utama kita adalah membawa anak-anak atau orang-orang panti asuhan ke zona aman," lanjutnya.


"Siap!"


"Tenang saja, bos!"


Seluruh rekannya tampak begitu mendukung keputusannya kali ini. Bahkan ketika pertama kali Berlin meminta bantuan kepada rekan-rekannya untuk ikut guna membawa anak-anak panti menuju ke zona aman, reaksi yang ditunjukkan oleh rekan-rekannya sangat bersemangat dan langsung setuju.


"Berapa jauh lagi, bos?" tanya Kimmy menggunakan radio komunikasi yang ada di mobil.


"Seharusnya tidak jauh lagi, jika kita tidak menemukan hambatan," jawab Berlin.


Berlin tahu betul kini dirinya memasuki wilayah mana dan milik siapa. Seperti yang diberitakan, Distrik Timur kini telah jatuh di tangan Clone Nostra. Maka dari itu sangat besar kemungkinan dirinya beserta rombongannya dapat bertemu dengan orang-orang Clone Nostra itu di wilayah tersebut.


Namun Berlin tidak terlalu menghiraukan apapun hambatannya, karena dalam benaknya saat ini adalah memikirkan keselamatan orang-orang panti asuhan, terutama anak perempuan bernama Akira yang tak henti-hentinya membuat hatinya cukup gelisah sejak pertama kali dirinya mendengar kabar soal mereka dari istrinya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2