Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Pesta Kecil yang Meriah #160


__ADS_3

Pesta kecil itu berlangsung sangat meriah, apalagi dengan hadirnya anak-anak panti asuhan yang juga diundang oleh Berlin. Mereka, anak-anak itu, terlihat sangat senang sekali, berlarian, bermain, menikmati beberapa hidangan seperti kue-kue manis dan beberapa daging panggang. Tak hanya mereka, namun kehadiran rekan-rekan Ashgard juga turut membuat ramai suasana. Karena jika acara kecil tersebut hanya dihadiri oleh anggota keluarga Gates, sudah dapat dipastikan tidak akan seramai ini.


Berlin bergabung dengan kumpulan rekan-rekan serta saudara-saudaranya, berdampingan dengan istrinya yakni Nadia. Sedangkan Carlos, ia terlihat cukup canggung untuk bisa bergabung dan bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya.


"Papa! Papa harus coba ini, deh! Enak banget!!!" seru Akira, melangkah, antusias mendekati Berlin dengan kedua tangan membawa sebuah piring kecil berisikan kue cokelat.


Berlin tersenyum hangat, menerima piring tersebut, menjawab, "iya, 'kah?"


Akira mengangguk, tersenyum manis, "Akira suka yang ini! Enak!"


Berlin pun mencoba satu suap kue tersebut, merasakan betapa enaknya kue cokelat itu. Manis yang pas, dan cokelat yang lumer ketika masuk ke dalam mulut.


"Enak, 'kan?" cetus Akira, berdiri, mendongak untuk dapat menatap kepada Berlin. Pria itu mengangguk, tersenyum, "pantes aja kamu suka," ucapnya.


"Akira!"


"Ayo main lagi!"


Dua anak perempuan tiba-tiba saja menghampiri Akira, mengajak anak itu. Namun Akira menatap kepada Berlin dan berkata, "ya sudah, Akira mau main sama teman-teman! Dadah, Papa!"


Dengan langkah riang, Akira bersama dengan dua temannya berjalan kembali menuju taman, menghampiri beberapa tanaman bunga, dan bergabung dengan anak-anak lain.


"Sepertinya dia senang sekali, ya?" cetus Nadia, berdiri tepat di sebelah Berlin.


Berlin tertawa kecil, "biarkan saja," ucapnya, meletakkan piringnya di atas meja di belakangnya, dan mengajak Nadia untuk duduk di kursi kayu yang ada.


Kehadiran Nadia sepertinya menjadi pusat perhatian di antara anggota keluarga Gates. Bumil itu hadir cantik sekali walau dengan dress sederhananya berwarna biru muda, dan bahkan tanpa riasan wajah, hanya menambahkan gincu berwarna merah muda. Sekalinya ia duduk di sana. Siska, Netty, Sasha, Kina, Vhalen, dan Kimmy langsung mengajaknya ngobrol soal banyak hal. Sudah seperti perkumpulan ibu-ibu yang sekalinya ketemu dan berkumpul, langsung asyik berbincang tanpa peduli sekitar.


"Perkumpulan rumpi, biarkan saja," bisik Flix, mendekati Berlin yang duduk di sebelah Nadia, dan hanya melihat wanita itu sedang asyik berbincang. Mendengar apa yang dikatakannya, Berlin hanya terkekeh.


"Kalau mereka bisa ngerumpi, kenapa kita tidak?" timpal James, mengangkat kursinya, berpindah agar bisa sedikit dekat dengan Berlin dan Flix.


"Memang apa yang mau kau bicarakan?" sahut Flix, dan hanya mendapatkan jawaban singkat dari James yang menggeleng sembari berkata, "nggak tau juga, sih."


"James, ku dengar kau sempat menjadi komando saat kekacauan di depan Balaikota kemarin, ya? Apakah itu benar?" cetus Berlin, bertanya, mengambil secangkir teh hangat di atas meja, dan kemudian meminumnya.

__ADS_1


James menyisir rambut dengan jemarinya, mengangkat bahu dan kepalanya, menjawab, "oh, ya, jelas! Prawira sempat memberiku kepercayaan untuk itu kemarin," ucapnya, dengan intonasi sedikit menyombongkan diri.


"Performa ku sudah tidak dapat diragukan, sih!" lanjut James.


Secara tiba-tiba, Prawira muncul berdiri di belakang James, dan berbicara, "oh, begitukah, James? Aku agak setuju, tetapi juga kurang setuju, sih."


Seketika, James membeku, mematung dan membisu. Ekspresi tersebut membuat Flix dan Berlin tertawa melihatnya, karena seolah ekspresi James seperti ekspresi seorang anak kecil yang ketahuan mencuri permen.


...


Di antara ramainya kediaman di sore hari ini. Garwig berjalan menghampiri seorang wanita paruh baya yang tampaknya dari tadi sibuk mengatur anak-anak itu. Helena tengah berdiri di tepi taman, berdiri dan terus memantau anak-anak asuhnya yang terlihat asyik bermain di atas rerumputan.


"Jadi ... anda adalah pemilik dari panti asuhan tersebut?" cetus Garwig, bertanya.


Helena cukup terkejut dengan kehadiran Garwig yang sudah berdiri di sampingnya. "Saya meminta maaf, jika anak-anak ini sungguh merepotkan," ucap Helena, dengan intonasi yang sungguh tidak enak hati kepada tuan rumah.


Garwig tertawa kecil, tersenyum, dan berkata, "tidak perlu meminta maaf, justru dengan kehadiran anak-anak ini, acara kecil ini jadi semakin meriah."


"Melihat mereka asyik bermain di taman ini, membuatku teringat bagaimana Berlin dan Carlos ketika kecil berlarian bersama dengan anak-anak kami yang lain di taman ini," lanjut Garwig. Tatapan pria paruh baya itu menatap lembut ke arah anak-anak yang tengah bermain, dan berlarian di taman tersebut.


"Kalau begitu, mari ikut saya bergabung di meja sana! Saya belum melihat kalian berdua hadir, dan mencicipi hidangan yang ada," cetus Garwig, dengan ramah mengajak kedua tamu terhormatnya untuk bergabung. Meskipun menyimoan rasa sungkan, Helena dan Alana tetap mengikuti langkah Garwig.


...


Pesta kecil itu berlangsung meriah. Semua yang hadir di sana sama-sama dapat menikmati jalan acaranya. Beberapa hidangan kembali dihadirkan, ketika Siska selesai memanggang beberapa daging yang telah ia siapkan.


Setiap orang yang hadir menikmati hidangan yang bermacam-macam. Saling berbincang satu sama lain, bercanda tawa bersama, dan menciptakan suasana kekeluargaan yang sungguh terasa.


Suasana tersebut tidak ditemukan oleh Carlos ketika berada dalam ruang lingkup keluarga Matrix, dan juga ketika dirinya mendekam dalam penjara. Tidak ada kesenjangan yang tercipta, juga tidak ada pengecualian. Dirinya masih dianggap di sana, bahkan beberapa kali diajak berbicara oleh saudara-saudaranya, termasuk Berlin.


...


"Kenapa menyendiri di sini? Apakah kau tidak menikmatinya?"


Berlin berjalan perlahan menggunakan tongkatnya, mendekati sosok Carlos yang berpindah tempat duduk di sebuah bangku di tepi taman setelah menghabiskan waktu bersama dengan yang lain.

__ADS_1


Waktu terus berlalu, langit semakin berwarna jingga dengan matahari yang sudah berada di ufuk barat, beberapa saat kemudian akan tenggelam.


"Aku menikmatinya," jawab Carlos.


Berlin duduk tepat di samping saudara laki-lakinya itu, menghadap ke arah anak-anak yang masih asyik bermain di atas rerumputan lembut itu.


"Berlin, mungkin kau tidak mengingatnya, namun dahulu kita pernah bermain-main di taman ini, persis seperti anak-anak itu," celetuk Carlos, tatapannya terkesan lembut ketika melihat wajah-wajah bahagia anak-anak itu.


"Ya, aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, dan aku tidak mengingat apapun soal itu," ucap Berlin.


"Sayang sekali," gumam Carlos, menghela napas sedikit kecewa, namun memang begitulah kenyataannya.


"Papa!!" Suara Akira kembali terdengar memanggil Berlin. Anak itu berlari kecil mendekatinya, dengan membawa dua tusuk sate di masing-masing kedua tangannya.


"Papa, papa mau? Akira bawa dua, jadi Akira bisa bagi satu buat papa," ucap Akira, tersenyum manis, menyodorkan salah satu tusuk satenya kepada Berlin. Wajah cerianya terus terpampang, seolah tidak akan pudar.


Berlin menerima satu tusuk sate pemberian putrinya dengan senang hati, "makasih, ya ...!" ucapnya.


Tatapan Akira langsung berpindah kepada Carlos yang duduk di sebelah Berlin. Tatapan yang sebelumnya berbinar-binar, tiba-tiba saja perlahan redup.


"Om, maaf, Akira nggak bawa lebih lagi," ucap anak itu, sungguh polos.


Carlos tersenyum melihat ekspresi tersebut, dan mendengar apa yang dikatakan oleh anak itu. "Terima kasih, Akira. Kamu anak yang baik, tetapi jangan khawatir, nanti aku bisa ambil sendiri, kok!" ucapnya. Intonasi dan sikapnya ketika berbicara sungguh ramah kepada anak itu. Sungguh berbeda dengan sosok Carlos yang diketahui oleh Berlin. Akira tersenyum mendapat pujian itu, sebelum kemudian berlari pergi dari sana.


"Ternyata ... kau pandai bersikap di depan anak kecil, ya?" cetus Berlin, dengan nada sedikit menyindir dan bergurau.


"Lalu bagaimana aku harus bersikap? Ketus, gitu?" sahut Carlos, memasang wajah bingung dan tak berdosanya.


Berlin hanya diam, tak menjawab, sehingga keheningan di antara keduanya sempat tercipta. Namun keheningan itu pecah seketika, mereka berdua tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak secara bersamaan tanpa ada sebab.


Beberapa saat kemudian, Carlos terhenti dari tawanya, menatap ke arah langit jingga yang sangat cerah di sore hari ini. "Berlin, terima kasih," ucapnya, disusul dengan senyuman tipis yang tersungging, tanpa menoleh atau bahkan melirik Berlin yang duduk di sampingnya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2