
Lima menit waktu tersisa, dan skor antara kedua tim yang bermain sangat tipis hanya terpaut satu poin saja. Kedudukan tim milik Adam masih diunggulkan daripada tim milik Kimmy, namun hanya selisih satu poin saja. Jika tim milik Kimmy bisa mencetak dua atau tiga poin, maka timnya akan unggul dan bisa memenangkan permainan. Namun jika hanya berhasil mencetak satu poin, maka kedudukan akan imbang. Apalagi mengingat waktu tersisa hanya tinggal lima menit lagi.
Kesempatan terbesar saat ini mungkin berada di pihak Kimmy, karena bola basket itu berada di bawah kekuasaan rekan-rekan timnya. Sedangkan Adam dan rekan-rekannya cenderung bersiap bertahan jika tim lawan melakukan penyerangan.
"Bagaimana menurutmu, Berlin? Apakah Adam dan timnya yang akan memenangkan permainan? Atau justru Kimmy dan timnya?" cetus Garwig, kini pria itu duduk tepat di sebelah Berlin pada bangku tersebut. Sedangkan Siska duduk di bawah bangku kecil yang ada tepat di sebelah bangku panjang yang diduduki oleh Berlin dan Garwig.
"Sebenarnya posisi yang disulitkan ada di pihak milik Adam, karena mereka cenderung bertahan, dan asal kau tahu melakukan sikap bertahan itu lebih sulit jika dibandingkan dengan menyerang." Berlin menjawab pertanyaan itu, tentu dengan sikapnya yang tenang seperti biasa ketika menjawab.
Melakukan strategi bertahan adalah hal yang tersulit dibandingkan penyerangan atau sebagai penyerang, kira-kira begitulah yang dipikirkan oleh Berlin. Garwig jadi terdiam dengan pandangan sedikit tertunduk setelah mendengar hal tersebut.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, apalagi setelah mendengar apa yang ku katakan barusan," celetuk Berlin sedikit menoleh dan menyadari pria disampingnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Melakukan pertahanan itu memang kelihatannya simpel dan mudah, namun di sisi lain kita harus siap dengan segala gempuran dari berbagai aspek." Berlin berbicara dengan tatapannya kepada Garwig, sebelum kemudian memalingkan kembali pandangannya ke arah kedua tim yang masih bertanding itu sembari berkata, "sekuat-kuatnya strategi pertahanan itu diterapkan, dapat dipastikan akan ada sedikit celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lawan untuk melakukan penyerangan, dan meruntuhkan pertahanan tersebut."
"Lalu bagaimana menurutmu soal strategi yang diterapkan oleh kepolisian untuk pengamanan persidangan di hari esok?" cetus Garwig, tiba-tiba saja bertanya soal kekhawatirannya saat ini.
"Kepolisian menerapkan rencana yang bagus, dan sistem pengamanan yang sesuai dengan prosedur. Tentu aku mempercayai apa yang mereka rencanakan, selama itu demi kebaikan bersama," jawab Berlin, datar.
Namun Berlin belum selesai berbicara. Ia menoleh perlahan kepada Garwig yang duduk di sampingnya sembari berkata, "kalau boleh ... aku ingin mengajukan saran."
Garwig perlahan menoleh dan melihat wajah lelaki itu, "saran?"
Berlin pun menjawab pertanyaan singkat itu, sekaligus memberikan kejelasan atas saran yang ingin ia sampaikan untuk pihak keamanan. Saran yang kemungkinan besar akan sedikit menambah pertahanan yang diterapkan oleh pihak kepolisian dalam melakukan pengawalan persidangan.
...
Lima menit kemudian, permainan tersebut telah selesai. Salva telah meniup peluit panjang, yang menjadi tanda akhir dari permainan. Di akhir pertandingan, mengejutkannya tidak ada tim yang berhasil memenangkan permainan tersebut, ataupun tim yang kalah. Skor berakhir dalam kondisi imbang.
__ADS_1
Kedua tim yang sebelumnya bertanding dan saling berselisih di atas lapangan, kini sama-sama istirahat di pinggir lapangan dengan menikmati botol minuman dingin mereka masing-masing. Beberapa pembicaraan dan gurauan tercipta berkali-kali, dan Berlin dapat menyaksikan semuanya.
"Bos, sayang banget kenapa kau nggak ikut?" cetus Kimmy, tubuhnya berkeringat dan terlihat sedang asyik duduk meluruskan kedua kakinya di atas tanah sembari menikmati minuman dinginnya.
"Lihat sendiri kakiku, 'kan?" sahut Berlin, tersenyum dan kemudian terkekeh kecil. Ia bersama dengan Garwig dan Siska melangkah mendekati kumpulan rekan-rekannya yang berada tepat di sebelah bangku panjangnya sebelumnya.
"Hadiahnya apa, Bos? Tetapi kami imbang, sih." Aryo berani angkat bicara mengenai hadiah yang sempat Berlin janjikan sebelum permainan itu dimulai.
Berlin terkekeh kecil mendengar pertanyaan tersebut, apalagi ketika melihat wajah dari rekan-rekannya yang cukup antusias untuk mengetahui apa hadiah yang ia janjikan.
"Walaupun tidak diberikan karena hasil kami imbang, tetapi setidaknya beritahu kami apa hadiahnya ...!" ujar Sasha, bahkan dengan intonasi sedikit memohon kepada Berlin.
Meskipun mereka semua terlihat sudah sangat kelelahan, dan duduk-duduk santai di atas tanah. Namun semangat serta antusias mereka untuk mengetahui apa sebenarnya hadiah yang dirahasiakan oleh Berlin sedari tahu.
"Siapa bilang hadiah tidak akan diberikan walaupun hasil kalian imbang? Memangnya aku berkata seperti itu?" sahut Berlin, menyanggah pernyataan Sasha sembari melipat kedua lengannya di atas dada.
"Hadiahnya akan tetap diberikan? Tetapi kepada siapa? Apakah semuanya akan dapat?" sahut Kina, selesai menenggak sebotol minuman dingin miliknya.
Seketika mereka semua terdiam, bingung, dan berpikir setelah mendengar jawaban dari Berlin. Hadiah seperti apa yang dimaksud? Setahu mereka, Berlin tidak memberikan apapun sepanjang pertandingan, bahkan lelaki itu baru hadir kembali di pertengahan pertandingan.
"Sesuai dengan apa yang ku katakan sebelum permainan di mulai, 'hadiahnya sangat berharga dan bernilai tinggi'. Saking tingginya nilai tersebut dan sangat berharganya, hadiah ini bahkan mungkin tidak dapat diukur oleh angka." Berlin berbicara di depan rekan-rekannya yang masih terduduk di atas tanah dengan wajah-wajah bingung mereka.
"Maaf, Bos. Kami bingung," ujar Galang, mengangkat salah satu tangannya, dan berbicara dengan dahi yang sedikit berkerut karena bingung.
Berlin tersenyum melihat ekspresi polos dan kebingungan dari rekan-rekannya, "maaf pula kalau aku tidak menyebutkan seperti apa wujud dari hadiahnya, karena sebenarnya hadiah tersebut memang tidak memiliki wujud ataupun bentuk."
"Seperti apa yang ku katakan, kalian sudah menikmati hadiah yang ku maksudkan sepanjang permainan, bahkan sampai di detik ini. Momen seperti inilah hadiah yang aku maksudkan, dan itu menjadi salah satu alasan ku menciptakan kegiatan pertandingan mendadak untuk kalian," lanjut Berlin.
__ADS_1
Garwig yang berdiri di samping lelaki itu hanya bersedekap dan tersenyum, mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin. Alasan dan tujuan dari terciptanya agenda permainan itu, kini telah diketahui serta dirasakan oleh seluruh rekannya. Mereka sempat beberapa kali saling menatap satu sama lain, kemudian saling melempar senyuman dan canda tawa setelah Berlin selesai berbicara.
Namun mereka kembali diam, melihat Berlin yang kemudian berbicara, "maaf, hari ini aku sengaja ingin menguji kalian. Aku hanya ingin memastikan bagaimana komunikasi kalian, kerjasama tim kalian, serta chemistry kalian. Dan ternyata hasilnya ... kalian memang Ashgard yang ku kenal," ucap lelaki itu, kemudian tersenyum lebar.
"Sudah pasti, dong!" cetus Faris.
"Kita harus selalu kompak!" timpal Sasha.
"Dan solid!" lanjut Aryo menambahkan serta melengkapi apa yang Sasha katakan.
Berlin hanya tersenyum melihat rekan-rekannya yang terlihat tidak keberatan karena dirinya telah menguji mereka semua, dan membuat mereka hingga kelelahan. Namun meski begitu, mereka terlihat begitu senang bahkan gurauan mereka hampir tidak pernah pudar. Pandangannya juga sempat melihat ke arah saudara laki-lakinya yakni Carlos yang terlihat sudah mulai adaptasi dengan teman-temannya. Laki-laki itu meskipun cenderung diam, namun ia terlihat asyik saja dalam berbincang dengan rekan-rekannya. Walaupun sepertinya memang dia terlihat tidak terlalu bisa dalam pembukaan topik pembicaraan. Tetapi ada Adam yang hampir selalu mengajaknya berbicara, dan bergabung dengan rekan yang lainnya dalam pembicaraan.
"Berlin, aku benar-benar memercayakan banyak hal di hari esok kepada mu, kepada kalian Ashgard." Garwig berbicara dengan intonasi rendah bahkan suaranya kalah dengan suara rekan-rekan Berlin yang masih terlihat asyik bergurau. Pria itu kemudian menoleh dan lanjut berkata, "ku akui ... kau mirip sekali dengan ayahmu."
"Memang seperti apa dia?" sahut Berlin, tertarik dengan kalimat terakhir yang dikatakan oleh Garwig.
Garwig kemudian memalingkan pandangannya menuju ke arah langit yang sedikit berwarna abu-abu itu sembari berkata, "dia sangat mirip denganmu."
"Sikapnya, sifatnya, bahkan cara-caranya dalam melakukan kepemimpinan. Persis sekali sepertimu," lanjut pria itu berbicara dengan intonasi yang terdengar lembut, kemudian kembali menoleh dan menatap lelaki berjaket biru yang berdiri di sampingnya ketika mengucap kalian akhirnya.
Terlihat senyuman hangat yang terpampang pada wajah tampan nan dingin laki-laki berjaket biru itu. Ia tidak berkata-kata lebih, apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Garwig padanya. Setelah terdiam beberapa saat, Berlin tiba-tiba saja berbicara, "berarti ... sifat keras kepalaku juga menurun darinya, ya?"
Garwig terkekeh kecil, mengangguk pelan dan menjawab, "ya ... pernyataan itu tidak ada salahnya, sih."
"Aku bingung kalian ngomongin apa," cetus Siska, bersedekap dan mendengus kesal. Meskipun dirinya juga memiliki marga serta berasal dari keluarga besar yang sama dengan kedua pria itu. Namun ia tidak mengetahui banyak hal atas apa yang dibicarakan oleh mereka.
Garwig hanya tertawa sebelum akhirnya berkata, "hanya sedikit membicarakan kenangan," ucapnya dan kemudian tersenyum, memandangi anggota-anggota Ashgard yang masih bersantai sembari asyik bersenda gurau satu sama lain.
__ADS_1
.
Bersambung.