Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Sosok Penting Dalam Rencana #97


__ADS_3

Pagi ini tepat pada pukul lima pagi, ketika perlahan matahari mulai terbangun kembali dari istirahatnya. Garwig tampak tengah mengumpulkan banyak personel militernya di markas besar militer. Dirinya telah paham akan situasi yang saat ini sedang terjadi di berbagai wilayah, dan tentunya akan ia hadapi.


Karena peristiwa yang dibuat oleh Clone Nostra telah mempengaruhi kedaulatan pemerintah. Maka dari itu Garwig akan menurunkan personel militernya sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang telah tertulis dalam undang-undang kota.


Melihat serta mengetahui persenjataan yang digunakan oleh pihak Clone Nostra, tentu itu akan sangat sulit bagi pihak kepolisian jika hanya mereka yang harus menangani hal ini.


Garwig sendiri telah memiliki rencana untuk menangani serta mengendalikan kembali tatanan kota yang sedang kacau ini. Terlebih lagi, dirinya benar-benar tidak mengetahui di mana keberadaan Boni Jackson sebagai walikota. Pria itu seolah tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar dalam waktu semalam.


"Persiapkan semuanya! Kita akan bergerak setelah fajar menyingsing." Garwig memberikan arahan kepada salah satu perwira tertingginya untuk mempersiapkan personelnya.


Dalam rencana yang Garwig miliki, tentu dirinya memerlukan peran dari pihak kepolisian yang nantinya akan bergerak bersama dengan personelnya. Karena hal tersebut, dirinya pun memutuskan untuk menemui Prawira di kantor pusat.


...


Pada pukul lima lebih lima menit pagi hari, Garwig telah sampai di Kantor Polisi Pusat dan langsung bergegas menemui rekannya yakni Prawira.


"Bagaimana? Apa yang diperlukan?" tanya Prawira ketika bertemu dengan Garwig. Keduanya berjalan menuju ke ruang kerja milik Prawira sembari membahas rencana yang hendak dilakukan oleh Garwig.


"Berdasarkan informasi yang telah ku dapat, Clone Nostra lemah di wilayah Paletown dibandingkan Shandy Shell dan area kota."


"Aku berencana untuk menyerang sekaligus menghimpit mereka dari kedua sisi, dari sisi kota dan Paletown. Dengan begitu kita akan mendapat keuntungan besar untuk melumpuhkan mereka." Garwig menjelaskan rencananya ketika sampai di ruang kerja milik rekannya.


Namun terdapat sebuah keraguan di balik rencana yang sudah ia siapkan. Keraguan itu bersumber dari ketidaktahuannya soal keberadaan Boni Jackson sebagai walikota.


"Prawira, apakah kau mengetahui keberadaan Boni?" tanya Garwig ketika duduk di sebuah sofa di ruangan tersebut.


"Kami sudah berusaha mencarinya, namun hasilnya nihil. Berdasarkan lokasi terakhir yang terlacak oleh kami, Boni Jackson berada di kediamannya pada pukul 00:00 malam." Prawira menjawab dengan rasa kecewa yang cukup besar terhadap kinerjanya sendiri.


Garwig menghela napas berat mendengar hasil tersebut. Ia mencurigai sesuatu, namun benaknya berusaha menepis pikiran-pikiran yang isinya cuma mencurigai sosok walikota itu.


"Jangan sampai masyarakat tahu soal menghilangnya walikota, karena itu hanya akan semakin memperkeruh suasana yang sudah keruh ini," ucap Garwig.


"Itu dapat diatur," jawab Prawira.

__ADS_1


"Kembali ke topik awal, aku memerlukan divisi taktis mu yang nantinya akan membantu personelku di barisan terdepan. Sisanya, kami membutuhkan setiap anggota mu sigap pada bagian belakang," ucap Garwig kembali ke topik utama pembahasan, dan mengesampingkan sementara soal menghilangnya Boni.


"Dan kami juga memerlukan regu medismu yang siap siaga di barisan belakang serta tengah," lanjutnya.


"Baik, aku akan mengaturnya," ucap Prawira dan kemudian mengambil sebuah telepon genggam yang tergeletak di atas mejanya.


Tak lama kemudian, Netty sekertarisnya datang ke ruangannya setelah menerima panggilan darinya. Prawira pun meminta Netty untuk mencatat setiap hal yang diperlukan.


Setelah apa yang diperlukan selesai dicatat oleh Netty. Wanita itu pun kemudian beranjak pergi dari ruangan tersebut, dan turut membantu untuk mengurus beberapa hal yang penting.


"Garwig, apakah kau sudah tahu kalau Ashgard telah kembali dari pulau? Aku mendapat laporan dari Prime kalau mereka saat ini sedang berada di Rumah Sakit Pusat." Prawira duduk di kursinya, dan mencoba untuk bersandar santai sejenak meskipun pikirannya tentu tidak bisa santai.


"Tentu saja aku sudah mengetahuinya, beberapa personelku yang berjaga di sana sempat memberikan laporan mengenai itu," jawab Garwig.


"Tampaknya Berlin berhasil menuntaskan segala urusannya di pulau itu, bahkan ia mengamankan buronan tingkat nasional yakni Nicolaus Matrix," ucap Prawira, ia terlihat menyimpan rasa tidak menyangka tentang kabar yang ia dengar, namun juga sekaligus bersyukur karena dirinya mengetahui kalau Berlin dapat kembali dengan selamat.


"Aku mengiranya Nicolaus akan tewas di tangan Berlin, namun ternyata laki-laki itu mengambil keputusan yang tidak ku sangka," timpal Garwig.


Prawira kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan mengarah pintu ruangan sembari berkata, "lebih baik kita segera bersiap."


"Pengetahuan dan informasi akan sangat penting bagi kita, dan kedua hal ini bisa menjadi sumber kekuatan kita untuk melumpuhkan mereka," lanjut Garwig.


"Ya, aku tahu, aku telah menugaskan divisi khusus untuk mencari segala hal tentang mereka," sahut Prawira ketika berjalan keluar dari kantor bersama dengan Garwig.


"Tak hanya itu, tetapi kita juga membutuhkan peran regu udara milik kepolisian," ucap Garwig menghentikan dan secara tidak langsung membuat langkah Prawira ikut terhenti.


Prawira sempat menoleh dan melihat ke arah rekannya itu sembari berkata, "tidak ada banyak unit helikopter milik kepolisian yang dapat digunakan, dan semuanya berpusat di sini."


"Jatuhnya wilayah Shandy Shell dan Paletown memberikan efek yang cukup berdampak bagi kami, terutama regu helikopter tersebut," lanjut Prawira.


Garwig mengetahui dan memahami hal itu, "tidak perlu banyak-banyak, cukup dua unit saja yang mengudara sudah lebih dari cukup."


"Kita memerlukan mata di udara untuk mengawasi segala pergerakan Clone Nostra," lanjut Garwig.

__ADS_1


"Baiklah, akan ku persiapkan mereka untuk mengudara," sahut Prawira.


***


Situasi gedung pusat pemerintahan yakni Balaikota kini telah jatuh di tangan Clone Nostra. Seluruh penjagaan serta keamanan gedung tersebut telah dilumpuhkan oleh orang-orang bersenjata itu. Setiap aparat yang melakukan perlawanan telah dihabisi oleh mereka tanpa belas kasihan, dan sisa aparat yang menyefahy serta pegawai gedung itu yang masih hidup dijadikan tawanan begitu saja oleh mereka.


Pagi ini pada pukul lima lebih lima belas menit pagi. Tokyo telah sampai di gedung putih yang telah ia kuasai itu, dan hendak menemui seseorang penting di sana.


Seseorang yang juga sangat berpengaruh dalam aksi invasinya kali ini untuk menguasai kota. Tanpa peran dari orang yang akan ia temui ini, mungkin dirinya akan cukup kesulitan untuk mencapai ambisinya.


"Selamat pagi, bos. Semuanya telah terkendali dengan baik sebelum fajar tiba," ucap Farres ketika menyambut kedatangan Tokyo di gedung tersebut.


"Bagus, sekarang hubungi Cassano dan Red Rascals untuk bersiap memasuki fase puncak!" titah Tokyo sembari berjalan melalui halaman menuju pintu besar gedung itu.


"Baik!" sahut Farres dengan kepala yang tertunduk ketika di hadapan Tokyo.


"Tuan, 'dia' telah menunggu anda di dalam," ucap salah satu dari sekian banyak anak buahnya yang tiba-tiba menghampiri dirinya. Tak lupa salah satu personel wanitanya itu menundukkan kepalanya ketika bertemu dengan Tokyo.


Tokyo terlihat sangat dihormati dan sangat disegani oleh seluruh anak buahnya yang kini tengah menempati gedung itu. Setelah berjumpa dengan sekian banyak anak buahnya, ia segera melangkah ke dalam gedung putih itu dan menuju ke sebuah ruangan di mana dirinya akan bertemu dengan seseorang.


ProoKk ... ProoKk ...!!


Tokyo berjalan memasuki ruangan sembari tepuk tangan sebelum kemudian ia berhadapan dengan sosok pria yang bersandar pada meja kerja milik walikota.


"Hebat! Sungguh hebat! Tanpa peranmu, kurasa Clone Nostra tidak dapat menduduki gedung ini dengan mudah," ucap Tokyo ketika bertatapan dengan sosok pria berbaju rapi hitam itu.


"Kau paham apa status yang akan ditimpakan kepada ku setelah semua ini, 'kan? Maka dari itu aku ingin menagih bayarannya ...!" ucap tegas sosok pria itu. Sorot matanya terlihat begitu menuntut akan permintaan serta kehendaknya.


Tokyo menyeringai tipis dan berkata, "kau akan mendapat bayaran sesuai dengan apapun yang kau mau, Boni Jackson."


Sosok pria yang bersandar pada meja kerja milik walikota ternyata adalah Boni Jackson, sang Walikota itu sendiri. Ia begitu nekat melakukan keputusan serta tindakan yang tentunya akan membawa dirinya pada hukuman mati jika ketahuan dan tertangkap.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2