Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Saudara? #94


__ADS_3

Pada pukul empat lebih tiga puluh lima menit waktu setempat, Ashgard akhirnya sampai kembali ke kota. Setelah terombang-ambing cukup lama di tengah lautan, akhirnya mereka menyentuh daratan dengan selamat. Ketika sampai ke darat, Ashgard memutuskan untuk langsung berbisah dengan regu milik Prime dari pelabuhan kota.


Berlin ingin memastikan sesuatu yang dari tadi membuat hatinya tidak dapat tenang. Ia bersama dengan rekan-rekannya mengendarai mobil serta beberapa motor menyusuri jalanan kota yang amat sunyi.


Suasana kota benar-benar terasa sangat mencekam, bahkan seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Begitu sunyi dan sepi, bahkan juga terlihat sangat kacau. Beberapa jalanan juga tidak dapat dilewati akibat adanya puing-puing bangunan serta kendaraan yang hangus menutupi akses jalan.


"Apa yang sebenarnya terjadi ...?" gumam Berlin dengan sendirinya ketika melihat situasi kota yang sangat memprihatikan bagaikan kota mati.


Melihat situasi kota yang benar-benar kacau dan begitu sunyi seperti tanpa adanya kehidupan sama sekali, itu semakin membuat Berlin resah dan gelisah. Ia melajukan mobil yang dikendarainya dengan begitu kencang.


"Berlin! Tenanglah!" cetus Adam yang duduk tepat di samping kursi kemudi milik Berlin.


"Bos, apa yang terjadi?" celetuk salah satu rekannya yaitu Asep yang berada di mobil kedua tepat di belakang mobil yang dikendarai oleh Berlin. Ia bertanya melalui radio komunikasi.


"Entahlah, tetapi ikuti saja!" jawab Kimmy yang berada di dalam mobil yang sama dengan Berlin. Ia menjawab kebingungan Asep menggunakan radio komunikasi miliknya.


Mobil milik Berlin melaju kencang melalui jalanan kota menuju ke arah perbukitan kota. Tanpa ada keraguan, ia melajukan kendaraannya menuju ke kompleks perumahan yang terletak tepat di bawah bukit Balaikota.


Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke kompleks elite itu. Sesampainya di sana, suasana kompleks begitu sepi dan sunyi, bahkan listrik pun mati di area tersebut.


Melihat kondisi kompleks yang terlihat sudah tidak ada kehidupan sama sekali, Berlin langsung melaju menuju ke kediaman pribadinya.


"Tidak! Tidak, tidak mungkin ...!" gumam Berlin terpaku ketika melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya ketika sampai tepat di depan kediamannya.


Berlin bergegas turun dari mobil dan langsung mengambil langkah sigap menuju gerbang rumahnya. Ia membuka gerbang tersebut dengan tergesa-gesa dan kemudian hendak masuk untuk memastikan keberadaan Nadia.


Ketika ia hendak melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah. Tiba-tiba saja suara pria terdengar berbicara, "aku tahu apa yang sedang membuat hatimu gelisah, Berlin."


Mendengar suara tersebut membuat Berlin menghentikan langkahnya, dan langsung menghadap ke arah sumber suara. Seorang laki-laki terlihat sedang bersandar di depan garasi miliknya.

__ADS_1


"Kau?!"


"Carlos ...?!"


Kimmy beserta rekan-rekan yang lainnya seketika mengeluarkan pistol mereka, dan langsung menodongkan senjata api tersebut ke arah laki-laki itu. Mereka sangat terkejut dengan kehadiran lelaki bernama Carlos yang tiba-tiba berada di kediaman Berlin.


"Turunkan senjata kalian ...!" pinta Berlin kepada rekan-rekannya yang sudah terlanjur memasang sikap siaga terhadap pria itu.


Perlahan dengan menyimpan keraguan, masing-masing rekannya menurunkan senjata api mereka, namun tetap memasang sikap siaga dan tatapan waspada terhadap setiap gerak-gerik Carlos.


"Tenang saja, aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian," ucap Carlos sebelum kemudian ia melangkah sedikit lebih dekat dengan Berlin.


"Berlin, kau jangan khawatir karena Nadia baik-baik saja, dan saat ini dia berada di Rumah Sakit Pusat," lanjut Carlos langsung menjabarkan serta memberikan jawaban dari pertanyaan yang sudah dapat ia tebak.


"Rumah sakit?" gumam Berlin terlihat cukup bingung.


"Atau lebih tepatnya kalian," lanjut Carlos menghentikan langkahnya dan kemudian menatap ke arah rekan-rekan Berlin.


Carlos melihat adanya sedikit kebingungan di wajah Berlin dan juga rekan-rekannya. Mereka tidak mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi di kota, dan mengapa situasinya menjadi sangat mencekam seperti ini.


Tanpa adanya permintaan dari Berlin untuk menjelaskan, Carlos berinisiatif sendiri untuk sedikit menjabarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.


"Clone Nostra kali ini menginvasi berbagai wilayah, dan menghabisi semua orang yang menghalangi niat mereka. Akibatnya situasi kota menjadi sangat darurat, bahkan pihak militer pun akan ikut turun tangan."


"Mereka mulai melakukan penyerangan terhadap Balaikota, dan sekaligus mengacaukan area kompleks ini. Tak hanya itu, Clone Nostra juga bergerak serta mengambil alih wilayah Barat dan Timur."


Setelah Carlos menjabarkan sedikit soal situasi kota saat ini. Ia menatap ke arah Berlin dan kemudian berbicara, "Rumah Sakit Pusat menjadi salah satu tempat yang ditetapkan sebagai zona aman oleh pemerintah, dan di sana juga dijaga ketat oleh banyak aparat militer."


"Lebih baik kau cepat ke sana dan menemuinya," lanjut Carlos.

__ADS_1


Setelah mendengar sedikit penjabaran yang dilakukan oleh Carlos, terutama pada saat Carlos berkata soal keselamatan serta keamanan istrinya. Berlin menghela napas lega dan lebih tenang daripada sebelumnya. Rasa gelisah yang sebelumnya menyelimuti hatinya, kini sudah mulai perlahan memudar dan menghilang.


Sifat dan cara berbicara Carlos di depan Berlin dan rekan-rekannya begitu baik, bahkan sangat berbeda dibandingkan Carlos yang dahulu ketika masih berada di pihak Mafioso. Hal ini tentunya membuat rekan-rekan Berlin cukup terkejut dengan perubahan sifat tersebut.


"Carlos, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Berlin mendekati saudaranya itu dengan tatapan serius. Tentu dirinya tidak dapat melepaskan Carlos begitu saja, apalagi mengingat status Carlos yang masih semi tahanan.


Carlos menggelengkan kepalanya dan menjawab, "entahlah. Memangnya apa yang dapat ku lakukan lagi selain kembali ke Federal dan mendekam di balik jeruji besi?"


"Kurasa ... ada hal yang dapat kau lakukan selain mendekam di sana--" belum selesai Berlin berbicara, Carlos sudah menyahutnya dengan mengatakan, "kau yang benar saja!"


Berlin mengangguk dan berkata, "ya, ada satu hal lagi yang sebenarnya aku inginkan darimu, Carlos."


Carlos sedikit memicingkan matanya dan menatap tajam saudaranya sembari berkata, "ini tidak ada dalam perjanjian kontrak kita."


"Memang, karena apa yang ku inginkan ini tidak dapat dituliskan di atas kertas," sahut Berlin.


"Selama itu dapat membantu dan membayar hutang budiku padamu, apapun akan ku lakukan. Katakan keinginanmu, Berlin ...!"


"Bergabung dan ikutlah bersamaku, saudaraku Carlos," tanpa ada keraguan Berlin berkata demikian di hadapan Carlos.


DEG.


Tampaknya permintaan itu cukup menggoyahkan hati Carlos yang mendengarnya. Lelaki itu terdiam dan mematung di hadapan Berlin setelah mendengar permintaannya.


"Saudara? Apakah memang kau masih menganggap ku begitu, Berlin?" batin Carlos berbicara dengan sendirinya setelah mendengar permintaan tulus yang keluar dari lisan Berlin. Dirinya benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2