Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Keputusan yang Sulit Jika Diambil Sekarang #48


__ADS_3

"Bos, ini adalah catatan berkas identitas pria berjaket hitam yang sempat diberikan Bobi padaku kemarin-kemarin." Asep berjalan masuk ke dalam ruangan milik Berlin, dan memberikan berkas tersebut di atas meja milik Berlin.


Di pagi hari ini, Berlin sudah berada di meja kerjanya. Di atas mejanya kini terdapat sebuah berkas yang diperoleh oleh salah satu rekan kepercayaannya.


"Bos, apa kau baik-baik saja?" cetus Asep ketika melihat wajah Berlin yang tampak sedang sibuk memikirkan sesuatu.


"Iya, aku baik-baik saja, kok." Berlin langsung menjawabnya, dan kemudian meraih berkas tersebut.


Berlin melihat sekilas berkas tersebut. Dirinya dapat melihat sebuah nama yang cukup asing baginya, dan beberapa identitas lain mengenai orang yang memiliki nama yang tertulis di situ. Nama pria berjaket hitam tersebut adalah Doma El Claunius.


Tak hanya satu nama saja, namun ketika Berlin berpindah ke halaman kedua. Berlin dapat membaca sebuah nama yang tidak asing baginya. Tokyo El Claunius. Namun tidak tercatat hal-hal penting mengenai orang bernama Tokyo di berkas ini.


"Marga Claunius, ya? Menarik," gumam Berlin.


"Sayang sekali aku tidak mendapat banyak hal mengenai orang bernama Tokyo itu," ucap Asep sedikit menundukkan kepalanya ketika berbicara.


"Tidak apa, terima kasih. Sekarang kau boleh keluar," sahut Berlin.


Asep pun berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Berlin justru malah langsung menutup berkas yang baru saja ia terima. Pikirannya tidak pada berkas itu, melainkan sibuk memikirkan hal yang lain.


Berlin menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi miliknya, dan kemudian berbicara dengan sendirinya. "Hmm, mengadopsi seorang anak, ya?" gumamnya sembari menghela napas.


*


Kilas balik: ON.


Kemarin malam, sebelum tidur.


"Soal ... Akira," ucap Nadia.


Nadia pun menceritakan panjang lebar mengenai kedatangan Akira, Helena, dan Alana berkunjung ke rumah secara tiba-tiba. Tidak lupa juga, Nadia membahas soal panggilan yang diberikan Akira untuknya dan Berlin.


Berlin yang berbaring di samping wanita itu hanya diam dan mendengarkan secara saksama. Ia juga kelihatannya dibuat cukup terkejut dengan panggilan Akira padanya dan Nadia. Dirinya benar-benar tidak menyangka.


Setelah menjelaskan serta menceritakan semuanya. Nadia juga bercerita mengenai pertanyaan yang diberikan oleh Helena untuknya dan juga Berlin. Pertanyaan mengenai keputusan apa yang akan diambil untuk Akira.


"Berlin, jujur saja aku merasa kasihan kepada Akira," gumam Nadia setelah selesai membicarakan semuanya. Ia memeluk pria tersebut, dan kemudian menyandarkan kepalanya di atas dada bidang milik Berlin.


Berlin membenarkan selimut yang digunakannya bersama istrinya yang sempat terbuka, sebelum dirinya memberikan jawaban atas semua yang baru saja dibicarakan.


"Bagaimana Akira menurutmu?" tanya Berlin dengan intonasi berbicara begitu lembut.


Nadia sedikit mendongak untuk dapat melihat wajah milik laki-lakinya, dan kemudian menjawab, "dia lucu dan menggemaskan, dia anak yang baik dan nurut."


Berlin tersenyum mendengar jawaban tersebut, "iya, sih. Dia benar-benar menggemaskan," jawabnya sebelum kemudian menambahkan, "semoga anak kita nanti bisa selucu dan sepintar Akira, ya," ucapnya kemudian dengan satu tangan kembali mendarat pada perut sang istri yang masih datar itu.


Nadia kembali menundukkan pandangannya, dan memeluk lembut tubuh milik suaminya. Kepalanya sudah terlanjur nyaman bersandar pada dada milik Berlin, dan mungkin akan sulit untuk berpindah dari sana.


"Apakah kamu tidak keberatan, jika memang suatu saat nanti Akira akan menjadi bagian dari keluarga kita?" tanya Berlin dengan satu tangan merangkul tubuh milik istrinya.


Nadia menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "sama sekali tidak, jika memang sudah seperti itu jalannya."


"Tetapi, aku tidak bisa memberi keputusan untuk itu pada waktu dekat atau sekarang. Karena memang, masih ada banyak masalah yang harus ku selesaikan terlebih dahulu." Berlin kemudian berbicara mengenai keputusan yang akan diambilnya.


Nadia tersenyum dan sangat dapat memahami hal tersebut. "Iya, aku paham, kok." Ia berbicara sembari meletakkan satu tangannya di atas perut milik Berlin yang cukup kekar itu. Ketika berada di posisi favoritnya, dirinya dapat mendengar dan merasakan detak jantung milik sang suami yang berdebar-debar.


"Apa kamu mau tidur di posisi begini?" cetus Berlin bertanya, satu tangannya sibuk memainkan rambut hitam panjang milik sang istri. Setelah asyik dengan rambut panjang tersebut, tangannya perlahan turun ke pinggul milik Nadia, sembari dirinya mengecup lembut kepala milik wanitanya.


"He'em," gumam Nadia menjawab, namun sama sekali tidak menatap Berlin ketika menjawab, justru malah menyembunyikan kepalanya di bawah leher milik laki-laki itu.


*


Kilas balik: OFF

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok ...!


Suara ketukan pintu berhasil memecahkan Berlin dari lamunan dan diamnya. "Masuk!" titahnya kepada seseorang yang mengetuk pintu ruangan tersebut.


Kimmy membuka pintu itu dan kemudian berkata, "teman-teman sudah berkumpul, bos."


"Baik, aku akan segera ke bawah," sahut Berlin.


Kimmy pun lebih dahulu beranjak pergi dari sana kembali turun ke lantai dasar untuk berkumpul bersama yang lain. Sedangkan Berlin, dirinya masih berada di ruangannya sebelum beberapa saat kemudian akan menyusul Kimmy.


***


Di kediaman milik Garwig. Ia mengundang Prawira dan Boni sebagai walikota untuk sedikit membicarakan sesuatu. Sesuatu soal Pulau La Luna, dan sesuatu soal laporan-laporan yang ia terima melalui regu yang ia kirim beberapa minggu yang lalu.


Prawira hanya datang sendiri, sedangkan Boni bersama beberapa pengawal walikotanya. Namun beberapa pengawal pribadi itu tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam rumah milik Garwig.


Mengingat kecurigaan Berlin terhadap para pengawal atau penjaga itu. Garwig memerintahkan kepada seluruh penjaga di rumahnya untuk menahan para pengawal itu masuk ke dalam rumahnya, dan mendengarkan perbincangan yang akan berlangsung.


Tentu, memisahkan para pengawal itu dari Walikota tidaklah mudah. Sempat sedikit terjadi cekcok mulut antara beberapa pengawal walikota dengan pihak penjaga milik Garwig. Namun cekcok itu hanya berlangsung sangat singkat, karena Garwig dan Boni langsung turun tangan menghentikannya.


"Maaf, Garwig, atas protes dari beberapa pengawal saya tadi," ucap Boni ketika berjalan masuk melalui ruang tamu rumah itu bersama Garwig.


Garwig hanya tertawa kecil dan kemudian menjawab, "tidak masalah, itu adalah hal yang wajar karena sudah menjadi tugas dan tanggung jawab mereka untuk selalu menjaga serta berada di dekat anda." Ia menjawab dengan begitu santai.


"Apakah kau melakukan ini karena ... kecurigaan Berlin beberapa waktu yang lalu? Makanya kau memisahkan kami agar mereka tidak bisa mendengar pembicaraan kita nanti?"


Boni langsung menerka-nerka tujuan atau maksud dari tindakan Garwig. Mendengar alasannya sudah tertebak, maka Garwig hanya menjawab, "iya."


Mendengar jawaban yang begitu singkat dan cukup meyakinkan itu. Boni hanya terdiam. Pandangannya lurus ke depan ketika berjalan melalui sebuah ruang keluarga menuju ke taman belakang rumah. Di pikirannya kali ini sedang memikirkan kebenaran soal kecurigaan Berlin terhadap para pengawal atau penjaganya.


"Kalian cukup lama sekali datangnya, untung ini di bawah pohon, jadi tidak terlalu gosong saya menunggu di sini," cetus Prawira menyambut kedatangan dua pria itu. Tampaknya ia sudah duduk di sebuah meja bundar yang terletak tepat di bawah dari sebuah pohon besar yang ada di sana.


"Hahaha, maaf, sempat terjadi sedikit masalah di depan," sahut Boni tertawa, lalu kemudian ia duduk bersamaan dengan Garwig yang juga duduk di meja yang sama.


"Terima kasih," ucap Garwig kepada Lia. Lia menundukkan kepalanya dan kemudian segera beranjak pergi dari sana.


"Baik, kita akan kembali." Garwig membuka beberapa berkas itu, dan membiarkan Boni serta Prawira melihat isi dari laporan-laporan yang ia dapat.


"Laporan-laporan ini berasal dari regu khusus yang sengaja saya kirim ke pulau. Melihat beberapa laporan mereka, cukup membuatku terkejut di beberapa poin tertentu."


Boni menyimak isi laporan tersebut dengan serius, terutama Prawira. Prawira tampak sangat serius membaca salah satu lembar berisikan laporan tertulis yang kini berada di tangannya. Ada beberapa poin penting yang menarik perhatiannya. Poin-poin ini tentunya memiliki hubungan dengan sindikat bernama Clone Nostra.


"Senjata berat, senapan serbu, pakaian identik dengan tuksedo putih, jumlah personel lebih dari lima puluh orang." Prawira beberapa kali bergumam dengan sendirinya ketika membaca poin-poin yang menarik perhatiannya.


"Apa yang sebenarnya mereka inginkan?" gumam Boni dengan pandangan sedikit tertunduk ke arah kertas-kertas di atas meja yang berisikan laporan-laporan penting itu.


"Lain dari persenjataan atau perlengkapan mereka. Ada satu hal yang menarik perhatian ku." Garwig menyela kedua rekannya yang tampak sedang berpikir. Dirinya mengambil selembar potret dan kutipan berita di balik berkas-berkas itu. Tampaknya potret dan kutipan berita itu bersumber dari sebuah berita koran lama.


Dalam potret yang digambarkan, tampak keadaan pulau yang sangat tertutup dan memang sengaja ditutup untuk pendatang. Terdapat sebuah papan penanda bertuliskan "kami menolak keras pendatang untuk sementara waktu!" yang terpampang jelas di pelabuhan utama pulau.


Sedangkan pada kutipan artikel pada berita koran itu hanya tertulis "Pulau La Luna sedang dalam pemeliharaan". Tentu hal ini menarik perhatian Garwig ketika membaca artikel tersebut.


"Berita ini diambil 20 tahun yang lalu, bahkan kantor percetakan koran ini saja sudah gulung tikar," gumam Prawira ketika melihat dan membaca kutipan artikel pada berita koran lama itu.


"Bagaimana menurutmu, Boni?" tanya Garwig melirik dan menatap serius walikotanya.


Dengan ekspresi yang tampak kesulitan untuk memikirkan permasalahan ini, Boni hanya menjawab, "kurasa ... penutupan Pulau La Luna 20 tahun yang lalu ada hubungannya dengan Clone Nostra."


"Kalau anda, bagaimana menurut anda, pak?" sahut Prawira tiba-tiba melempar pertanyaan tersebut kepada Garwig.


Garwig tampak memandangi serius secarik berita dari koran lama yang ia dapatkan, dan kemudian menjawab pertanyaan tersebut.


"Menurutku, ya? Jika ditanya begitu, maka jawabanku adalah ... mungkin ... akan terjadi sesuatu yang besar," jawabnya sebelum kemudian menambahkan dengan berkata, "Pak Walikota terhormat, saya sarankan kepada anda untuk mempersiapkan segalanya dari sekarang!"

__ADS_1


"Baik, nanti saya akan berkoordinasi dengan tim pertahanan pihak walikota," jawab Boni.


Namun jawaban tersebut justru mendapatkan peringatan oleh Garwig yang tiba-tiba saja berkata, "jangan sampai regu pengawal walikota anda tahu!" ucap Garwig dengan tegas.


Mendengar peringatan tersebut, Boni jadi teringat soal Berlin yang sangat tidak mempercayai para penjaganya ketika akan berbincang di Balaikota beberapa pekan yang lalu.


"Baik!"


Perbincangan itu pun akhirnya mencapai titik akhir. Setelah semua pembicaraan itu selesai. Boni kembali bersama rekan-rekan pengawalnya ke Balaikota. Sedangkan Prawira masih belum beranjak sama sekali dari posisi duduknya.


Garwig berjalan kembali menghampiri Prawira setelah dirinya mengantar kepergian Boni. Dirinya sangat tahu rekannya ini pasti ingin membicarakan sesuatu padanya.


"Garwig, menurutmu apa tujuan Clone Nostra?" cetus Prawira langsung bertanya ketika Garwig baru saja duduk kembali di kursinya.


"Aku tidak tahu, jika dijabarkan ... akan banyak kemungkinan mengenai tujuan mereka," jawab Garwig.


Prawira hanya diam dan tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Memang, saat ini sedang ada satu hal yang mengganggu pikirannya.


"Apa kau sudah tahu soal keberadaan Nicolaus?" lanjut Prawira bertanya dengan tatapan tajamnya. Namun Garwig hanya diam saja.


Kemudian Prawira tiba-tiba saja meraih sebuah kertas berisikan catatan laporan kasus kepolisian dari sakunya. Ia menunjukkan kertas tersebut kepada Garwig, dan berhasil membuat rekannya itu cukup terkejut.


"Nicolaus ada bersama mereka, Garwig. Beberapa minggu yang lalu, mereka selalu mengincar Berlin dan teman-temannya di bawah perintah Nicolaus."


"Aku mengetahuinya, karena beberapa pekan yang lalu Clone Nostra dan Ashgard sempat bentrok secara langsung. Dari peperangan singkat itu, kami hanya sempat mengamankan satu pelaku di antara lima belas pelaku yang tewas. Namun, satu pelaku itu juga menyusul rekan-rekannya yang tewas, tepat setelah kami melakukan perawatan intensif padanya dan juga sempat memintainya keterangan."


"Lima belas orang, mereka semua tewas?" Garwig terkejut pada poin tersebut.


"Ya, Ashgard yang melakukannya," sahut Prawira.


"Baik, lalu apa keterangan yang kau dapat?" tanya Garwig.


Prawira kembali ke topik pembahasan utamanya, dan kemudian menjawab, "Nicolaus yang memberikan perintah kepada mereka untuk mengejar Ashgard, terutama menjadikan Berlin sebagai tujuan utamanya."


Garwig mengangguk paham, dan mengingat satu hal lagi mengenai kelompok berjaket ungu yang juga sempat hampir membawa Berlin pergi dari pelabuhan kota. Dirinya jadi berpikir, apakah semua itu berkaitan dengan Clone Nostra? Dan apakah semuanya juga berkaitan dengan Nicolaus?


"Maka dari itu, Garwig. Mungkin kau dapat memahami diriku yang cukup berambisi untuk melindungi Berlin. Namun tetap saja, anak itu sepertinya sulit untuk dilindungi," lanjut Prawira sebelum dirinya tertawa kecil dengan sendirinya setelah berbicara.


Garwig juga ikut tertawa, sebelum akhirnya berkata, "tenang saja, selama ada teman-temannya dan Ashgard, aku yakin dia akan baik-baik saja."


***


Pulau La Luna.


18:00.


"Beberapa infomasi penting sudah kita miliki. Sekarang tinggal bagaimana kita mengeksekusi rencana kita." Seorang pria dengan jaket putih bernama Farres menemui Tokyo di taman belakang vila.


"Ya, aku tahu, tetapi jangan terlalu terburu-buru atau akan sulit nantinya. Cukup santai dan nikmati prosesnya saja," jawab Tokyo dengan sangat santai.


Di saat yang bersamaan. Nicolaus datang menghampiri mereka berdua dengan satu pertanyaan. Namun, belum sempat Nicolaus bertanya. Rupanya Tokyo sudah lebih dahulu memberikan jawabannya.


"Nico, ada kabar bagus. Aku sudah mendapatkan informasi menarik mengenai Berlin."


"Apa saja?" sahut Nico langsung bertanya pada inti dari pembicaraan.


Tokyo pun memberikan informasi soal Berlin dan Nadia kepada rekannya, Nicolaus. Tanpa ada yang dipotong atau disembunyikan sama sekali.


"Tinggal ... bagaimana cara yang ingin kau lakukan saja," ucap Tokyo setelah membeberkan informasi tersebut, sebelum akhirnya menambahkan, "atau ... kau bisa mengikuti caraku."


Lirikan Tokyo benar-benar tajam mengarah kepada Nicolaus yang kini berdiri di sampingnya. Semua pikiran dan rencana jahat memenuhi kepalanya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2