
Sesaat setelah semua di area vila tersebut listrik mati. Berlin langsung mengumpulkan rekan-rekannya dan segera bersiap untuk bergerak.
"Aku akan menunjuk empat orang untuk memasang benda ini di perbatasan vila." Berlin pun kemudian memilih keempat orang rekannya untuk membawa sebuah benda kotak berwarna hitam yang tampaknya adalah bom. Keempat orang yang ia percayakan untuk melakukan tugas ini adalah Bobi, Kent, Galang, dan Rony.
Keempat orang itu langsung mengambil benda yang Berlin maksud, dan kemudian segera beranjak pergi begitu saja ke empat arah yang berbeda.
"Saatnya bergerak! Tidak ada waktu lagi," titah Berlin sembari menggenggam pistol miliknya yang sudah terisi penuh oleh peluru.
...
Nicolaus menghela napas panjang dan kemudian bergumam, "sudah ku duga kau akan datang malam ini." Kedua matanya dapat menyaksikan halaman depan vila yang sebelumnya terang berkat lampu-lampu, namun sekarang gelap gulita secara tiba-tiba. Tetapi tidak dengan listrik di dalam bangunan vila tersebut yang terlihat masih menyala.
"Sabotase?!"
"Cepat di posisi kalian!"
"Bawa senjata kalian, dan laporkan jika melihat pergerakan!"
Sedikit kepanikan dapat terlihat dari banyaknya personel milik Clone Nostra yang berlarian melalui halaman belakangnya. Namun tampaknya kepanikan itu tidak dirasakan oleh Nicolaus yang justru tampak begitu tenang menyaksikan para bawahannya berlarian kesana-kemari melalui balkon lantai dua vila.
"Bos, sepertinya listrik perbatasan vila kita telah disabotase. Mungkin Ashgard telah melakukan pergerakan tanpa kita sadari." Seorang pria berjas putih berlari menghampirinya dan melaporkan hal tersebut kepada Nicolaus.
"Kerahkan semua personel kita, dan cari Ashgard! Ku yakin mereka sesaat lagi akan melewati perbatasan kita. Jika ketemu langsung saja habisi mereka, namun sisakan Berlin!" ucap Nicolaus tegas.
"Baik!" pria itu langsung pergi dari sana.
"Aku ingin lihat, apakah Ashgard tetap hebat seperti yang dahulu?" gumam Nico dengan sendirinya. Dirinya menurunkan lebih dari seratus anak buah dengan persenjataan lengkap untuk memerangi Ashgard.
"Sepertinya aku perlu secangkir teh," lanjutnya kemudian beranjak masuk kembali ke vila dari balkon itu.
...
__ADS_1
"Aku dan Kent selesai menempatkannya," lapor Rony menggunakan radionya.
"Bobi dan aku juga sudah," timpal Galang.
Berlin menerima laporan itu tepat setelah dirinya dan rekan-rekannya berhasil melewati para penjaga di dinding perbatasan itu. Ia bersama dengan rekan-rekannya tetap berada di dalam hutan-hutan itu untuk berkamuflase.
"Kalian berempat segeralah bergabung!" titah Berlin menggunakan radionya.
Setelah berjalan beberapa langkah di antara semak-semak yang cukup padat. Berlin menghentikan langkahnya ketika kedua matanya melihat sebuah bangunan yang sangat megah terletak di atas dari sebuah bukit kecil.
"Tidak salah lagi, itu vilanya," ucap Mavi berada tepat di sampingnya.
"Apakah kau mengetahui seluk-beluk vila itu?" tanya Berlin.
"Tidak begitu pasti, namun yang hanya ku ketahui hanyalah letak ruang bawah tanahnya, karena di sanalah beberapa dari penduduk kami ditahan." Mavi menjawab pertanyaan itu sesuai dengan sepengetahuan dirinya.
Tiba-tiba terlintas dalam benak Berlin untuk melakukan sebuah rencana yang sebelumnya tidak pernah ia terpikirkan. Dirinya menyampaikan idenya langsung kepada rekan-rekannya, sekaligus secara tiba-tiba membagi mereka menjadi dua regu.
"Apakah sudah cukup jelas?"
Titah Berlin dengan intonasi bicara yang tidak terlalu keras namun tegas dapat didengar oleh seluruh rekannya yang saat ini berjumlah sembilan orang, belum termasuk keempat rekannya yang sampai sekarang belum bergabung.
Mendengar hal tersebut, tentu membuat banyak sekali kontra dari rekan-rekannya, terutama Kimmy. "Tunggu! Mengapa harus begitu?! Bukankah kita bisa lakukan semuanya tanpa harus terbagi?" sahut Kimmy.
"Ya, aku setuju dengan Kimmy. Kita akan terpecah jika seperti itu!" timpal Sasha, dan yang lainnya juga berpendapat sama dengan Kimmy.
Namun di antara mereka, Adam menengahi rekan-rekannya dengan berkata, "Berlin, aku tahu niat dan tujuan mu sampai-sampai kau membagi dua regu. Namun kita akan lebih mudah terpecah belah bila seperti itu."
"Sepanjang perjalanan Ashgard, kita dapat melewati berbagai bahaya yang awalnya mustahil menjadi tidak mustahil. Kunci dari itu semua adalah bersama-sama."
"Seperti yang kita ketahui, kita akan menghadapi lebih dari puluhan orang, dan mereka semua bersenjata lengkap. Jika kita terpecah menjadi dua regu di awal, maka akan sangat sulit bagi kita untuk dapat bertahan dan menghadapi mereka."
__ADS_1
"Ku sarankan kita tetap bersama dari awal," ucap Adam mengakhiri kalimatnya.
Adam langsung memberikan nasihat dan sarannya kepada Berlin, dan baiknya Berlin benar-benar mendengarkan nasihat serta saran tersebut.
Di tengah perbincangan singkat itu. Mavi melihat banyak sekali orang-orang dengan senapan-senapan di tangan mereka yang mulai memenuhi halaman vila itu. Pemandangan itu juga disaksikan oleh Berlin dan rekan-rekannya.
"Baiklah, apapun yang terjadi ... kita tetap bersama. Berangkat bersama, pulang juga harus bersama. Ingat, saling jaga satu dengan yang lainnya!" ucap Berlin menegaskan hal tersebut kepada rekan-rekannya.
Meskipun Berlin tahu jumlah pihaknya kalah telak dengan jumlah personel yang dimiliki oleh Clone Nostra. Namun dirinya tidak melihat sama sekali wajah-wajah keputusasaan dan ketakutan. Justru wajah-wajah penuh dengan api semangat yang terlihat. Mavi juga menyaksikan semangat itu dan dibuat tidak menyangka akan hal tersebut.
"Untuk senjata api kita hanya memiliki pistol, jadi silakan kalian rampas persenjataan milik mereka sesuka kalian. Dan untuk pihak milik Prime, mereka akan menyusul kita nanti setelah selesai menyelesaikan yang di luar," lanjut Berlin.
...
Pukul 01:30 dini hari.
Suasana kota begitu tenang dan sunyi. Jarang sekali terlihat adanya kegiatan-kegiatan malam dari beberapa masyarakat. Mereka cenderung lebih memilih untuk berada di rumah masing-masing dengan tujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti insiden kejadian perampokan berskala besar yang tiba-tiba saja terjadi.
Prawira benar-benar menggencarkan setiap personel aparatnya untuk tetap memperketat keamanan semenjak kasus perampokan terkahir terjadi. Sedangkan Garwig juga mempersiapkan beberapa personel yang ia miliki untuk bersiaga. Mereka berdua sama-sama memiliki pemikiran yang sama. Mereka sangat mewaspadai adanya aksi susulan yang kemungkinan besar akan dilakukan oleh Clone Nostra.
"Pak, laporan patroli yang dilakukan oleh regu helikopter milik kita baru saja." Netty menyerahkan sebuah map berisikan lampiran laporan dan gambar-gambar yang ditangkap oleh kamera dari helikopter.
Pada gambar-gambar tersebut, Prawira dapat menyaksikan adanya beberapa pergerakan yang dilakukan oleh Clone Nostra. Pergerakan itu berasal dari sebuah lokasi yang terletak cukup terpencil di tengah perbukitan Shandy Shell.
"Persiapkan regu untuk ke sana!" titah Prawira secara tiba-tiba.
Meskipun waktu menunjukkan pukul dini hari. Namun tampaknya Prawira tidak ingin memberikan napas untuk Clone Nostra dapat merencanakan aksi selanjutnya. Dirinya langsung berniat untuk mempersiapkan regu, dan kemudian pergi ke lokasi tersebut.
.
Bersambung.
__ADS_1