
Pesta kecil itu berlangsung cukup lama, hingga malam tiba. Lampu-lampu taman dan dekorasi yang dinyalakan jadi tambah mempercantik suasana. Tidak ada yang merasa bosan, semuanya benar-benar menikmati acara tersebut, hingga penghujung atau akhir acara telah tiba.
Acara itu berakhir pada pukul delapan malam, dan di saat itu juga Helena bersama dengan pihaknya sudah lebih dahulu beranjak dari kediaman tersebut. Mereka diantarkan oleh dua orang dari Ashgard yang ditunjuk oleh Berlin.
"Berlin, sebelum kau pulang, bisakah aku berbincang sebentar denganmu?" Garwig berjalan menghampiri Berlin yang terlihat sedang bersama Nadia dan Akira di taman.
Berlin sempat melirik ke arah istrinya, sebelum kemudian menjawab, "bisa saja."
"Papa mau ke mana?" tanya Akira, memegang salah satu kaki milik Berlin. Tatapan mata anak perempuan itu terlihat sudah sayu, mengantuk.
"Papa mau ngobrol sama Paman Garwig sebentar, ya? Kamu kalau sudah mengantuk, langsung ke mobil saja sama Mama ...!" Berlin sedikit menunduk, berbicara lembut kepada anak itu.
"Iya, yuk?" timpal Nadia, menggandeng tangan kecil Akira. Anak itu sudah beberapa kali menguap, mengantuk.
"Kamu jangan lama-lama, ya ...!?" lanjut Nadia, mengingatkan Berlin, membuat lelaki itu mengangguk patuh. Kemudian, mereka berdua pun beranjak pergi menuju halaman depan rumah.
"Mari ikuti aku, Berlin ...!"
Garwig berjalan, melangkah, sedikit menjauh dari taman belakang menuju ke sebuah lapangan tembak yang ada di paling belakang pekarangan rumah. Di sana terdapat sebuah bangku yang terletak di pintu masuk lapangan tembak itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Berlin, kepada Garwig yang duduk pada bangku panjang itu.
"Aku ingin bertanya padamu, apakah kau yakin atas keputusanmu soal pembebasan Carlos?" tanya Garwig.
Berlin duduk di ujung bangku, menyandarkan tongkat bantu jalannya di samping bangku, dan kemudian menjawab, "aku tak sepenuhnya yakin, karena aku tetap menyimpan kecurigaan dan kewaspadaan terhadap dirinya."
__ADS_1
"Namun, aku ingin memberikan sedikit kesempatan untuknya," lanjut Berlin.
Suasana lapangan tembak sangatlah gelap, minim pencahayaan, dan sunyi, hanya terdengar beberapa serangga yang berbunyi. Angin yang berhembus pun lebih kencang dan dapat terasa lebih dingin, karena memang di area tersebut sangat minim objek yang dapat menghalangi hembusan angin malam.
"Aku melihat adanya perubahan dalam dirinya, tentunya itu perubahan ke arah yang lebih baik," ucap Berlin, bersandar santai pada sandaran bangku tersebut.
"Baiklah, dan kurasa yang lain juga tidak masalah dengan kehadiran Carlos kembali." Garwig tampak begitu mempercayai keputusan yang diambil oleh Berlin.
Berlin sempat menoleh ke belakang, ke arah Carlos yang tampak turut sibuk mengemasi beberapa barang di gazebo taman yang dapat terlihat dari kejauhan. Laki-laki itu tampak sibuk membantu saudara-saudaranya di sana, bahkan ekspresi wajahnya jauh lebih ceria dibandingkan ketika Berlin menemuinya di penjara.
"Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya soal putri angkatmu Akira. Sejak kapan? Kau belum pernah berbicara padaku mengenai itu, bukan?" cetus Garwig, langsung membanting setir topik pembicaraan.
Berlin tertawa kecil dan tersenyum, "sebenarnya sudah lama, hanya saja memang aku belum pernah berbincang mengenai ini denganmu."
Garwig melirik, menatap pria di sampingnya, dan tersenyum padanya. "Mengapa tak kunjung selesai? Apakah ada masalah? Mungkin saja aku bisa membantumu," ucapnya.
Berlin menghela napas berat, menjawab, "gimana aku mau mengurusnya, kalau Clone Nostra selalu membuat masalah dengan Ashgard?" cetusnya, dengan sedikit dengusan kesal.
Garwig terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, karena memang ada benarnya. Semua gara-gara Clone Nostra, yang berujung menghambat banyak sekali rencana dan aktivitas.
"Lalu bagaimana dengan kediamanmu? Aku sudah mendengar kabar soal itu, Berlin. Apakah semuanya baik-baik saja?" Garwig tiba-tiba kembali berganti topik, dan kini menuju ke arah yang lebih dalam. Intonasinya ketika berbicara terdengar berat, dan tatapannya menyimpan rasa prihatin.
Berlin tidak terkejut dengan Garwig yang tiba-tiba saja sudah tahu mengenai masalahnya. Garwig adalah orang penting yang bisa mendapatkan berbagai kabar di luar sana dengan mudahnya, dan sudah sewajarnya jika pria itu mengetahui soal masalah yang tengah menimpa dirinya.
"Hancur, benar-benar hancur gara-gara si br*ngs*k Clone Nostra," sahut Berlin, tidak menunjukkan ekspresi galau atau gelisah karena tertekan dengan masalah tersebut. Intonasi dan sikapnya sangat santai.
__ADS_1
"Biaya renovasinya juga sangat tidak masuk akal, jadi ... aku memutuskan untuk pindah kediaman," lanjut Berlin.
"Tetapi semuanya baik-baik saja, 'kan? Jika kau merasa kesulitan, kau bisa bilang padaku. Aku akan membantumu, Berlin ...!" sahut Garwig.
"Untuk sementara tidak, jangan khawatir ...!" jawab Berlin, santai, dan begitu tenang. Ekspresi Berlin tiba-tiba saja berubah, tatapannya tajam dan terkesan licik. Pria itu tiba-tiba saja melanjutkan kata-katanya dengan berbicara, "kalaupun aku membutuhkan bantuanmu, aku tidak akan segan untuk memanfaatkan dirimu, Garwig. Tenang saja!" ucapnya, terkesan licik dan kejam dengan intonasi yang terdengar dingin.
Garwig terdiam, menciptakan keheningan beberapa saat. Namun keheningan itu terurai dengan tawa dari mereka berdua yang tiba-tiba saja pecah.
Perbincangan antara Berlin dan Garwig terus berlangsung. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Berlin teringat dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Dirinya pun segera bertemu dengan saudara-saudaranya, dan berpamitan dengan mereka semua, terutama Carlos.
Ketika berada di halaman depan, Berlin berhadapan dengan Carlos, dan berpamitan dengannya. Sekali lagi, dan untuk yang kesekian kalinya, Carlos mengucapkan kata "terima kasih" kepada Berlin.
"Terima kasih, Berlin. Aku akan berusaha untuk menjalani ujian yang kau berikan," cetus Carlos, memasang wajah yang lebih berseri-seri.
"Sudah berapa kali kau mengatakan kata 'terima kasih', Carlos?" sahut Berlin tenang dan datar.
Tatapan Berlin tajam, serius, dan dalam. Ia melihat kepada Calros yang berdiri tepat di hadapannya, sebelum kemudian berkata, "kesempatan tidak akan datang dua kali, Carlos."
"Dan ingat! Meski aku membebaskan mu, namun jangan kira aku tidak lagi waspada dan curiga pada dirimu, Carlos!" lanjutnya, tegas.
Carlos mengangguk paham, "aku tahu diriku, Berlin. Aku bersumpah tidak akan mengecewakan mu ...!" ucapnya, serius atas apa yang dikatakannya.
.
Bersambung.
__ADS_1