Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Aku Pulang #143


__ADS_3

"Alana, kapan kekacauan di sana selesai, ya?" cetus Nadia bertanya kepada Alana yang terlihat sedang mendampingi Akira yang terlihat tertidur manis di atas sebuah sofa di sudut ruangan tersebut.


Nadia benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi di Area Balaikota itu. Dirinya terlihat sangat mengkhawatirkan Berlin yang sudah satu hari tidak ada kabar sama sekali. Sebenarnya ia sangat penasaran untuk menyimak dan melihat berita yang disiarkan oleh media melalui televisi. Namun Alana selalu mencegahnya dan tidak memperbolehkan dirinya untuk melihat televisi.


"Aku tidak tahu," jawab Alana beranjak dari sofa, dan mendekati sosok Nadia yang hanya terduduk manis di atas brankar.


Nadia sempat melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam petang, dan kemudian pandangannya tertuju ke arah jendela kamar inap. Dirinya dapat mendengar adanya keramaian yang berasal dari luar ruangannya, dan itu rasa penasarannya meninggi.


"Di luar sepertinya ramai sekali, kira-kira ada apa, ya?" tanya Nadia kepada Alana yang kini duduk di sebuah kursi kecil di samping brankarnya.


"Rumah sakit saat ini memang sedang ramai, Nadia. Aku dengar juga ada banyak sekali ambulans yang kembali dari Balaikota," jawab Alana.


Mendengar soal ambulans, Nadia secara spontan bertanya, "apakah Berlin ada di salah satu ambulans itu?"


Seketika Alana langsung dibuat terdiam, dan merasa kalau dirinya salah mengucapkan kata-kata tersebut kepada Nadia. Jujur saja dirinya tidak tahu soal jawaban dari pertanyaan itu, karena memang sedari tadi pagi dirinya hanya menemani bumil itu agar tidak sendirian.


"Aku tidak tahu, Nadia." Jawaban yang sama seperti sebelumnya kembali terucap dari mulut Alana.


Kepala Nadia langsung tertunduk dengan kedua telapak tangan saling mengepal di atas kedua pahanya setelah mendengar jawaban yang sama sedari tadi. Ekspresi wajahnya tidak dapat terlihat karena rambut hitamnya yang cukup panjang dan bergelombang itu cukup menutupinya. Namun secara tiba-tiba, beberapa air mata terlihat menetes dan membasahi telapak tangannya.


"Nadia," melihat hal tersebut, Alana meraih dan menggenggam kedua tangan lembut milik Nadia yang hanya terdiam. Ia merasa sangat tidak tega dengan Nadia, apalagi dirinya juga dapat memahami bagaimana perasaan Nadia saat ini.


Nadia melepas genggaman Alana untuk menyeka dan menghapus air mata yang sempat berlinang membasahi pipi sebelum kemudian berkata, "aku tidak apa-apa, kok! Aku ... aku hanya bingung," ujarnya sembari memasang senyuman yang terlihat sangat dipaksakan.

__ADS_1


"Bukan hanya dirimu, aku juga bingung harus apa," batin Alana menanggapi apa yang dikatakan oleh Nadia.


Nadia memalingkan pandangannya yang sebelumnya melihat ke arah Alana, kini beralih tertuju ke arah Akira kecil yang terlihat tengah tidur dan di atas sofa itu. Melihat wajah manis dan imut Akira apalagi ketika tengah tertidur itu, cukup membuat dirinya tersenyum dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan. Kehadiran gadis kecil itu seolah memberikan semangat dan motivasi tersendiri untuk Nadia yang saat ini sedang sangat gelisah tak menentu.


Di tengah kegelisahan yang semakin lama semakin larut dan membuatnya semakin tidak dapat merasa tenang. Tiba-tiba saja Nadia dan Alana dikejutkan oleh seseorang yang membuka pintu kamar secara perlahan dan tanpa mengetuk.


KLEEEKK ...!!!


"Tunggu! Siapa?" cetus Alana beranjak dari kursinya. Betapa terkejutnya ia ketika membuka pintu dan memastikan siapa yang datang.


Tanpa berbasa-basi dan berlama-lama. Alana langsung membukakan pintu tersebut agar orang itu dapat langsung bertemu dengan Nadia, "Nadia, lihatlah siapa yang datang ...!" ucapnya dengan senyuman senang sembari membukakan pintu itu.


Tatapan Nadia terbelalak ketika melihat seorang pria yang sangat ia kenal dan ia cintai duduk di sebuah kursi roda. Ya, orang tersebut adalah Berlin. Melihat kedatangan sosok yang ia sangat cintai itu, apalagi dengan kondisinya yang duduk di atas kursi roda. Nadia langsung beranjak turun dari brankar dan dengan langkah cepat langsung menghampirinya.


Berlin didorong oleh sosok wanita yakni Kimmy dan ditemani oleh Adam di luar ruangan itu. Melihat Nadia menghampirinya, Kimmy mendorong kursi roda yang diduduki oleh Berlin masuk ke dalam ruangan dan kemudian dirinya segera beranjak kembali berdiri tepat di depan pintu.


Tatapan mata Nadia seketika melihat ke arah lengan kiri Berlin yang terbalut perban, serta kaki kanan laki-laki itu yang terbalut gips. Melihat kedua mata yang terlihat sangat begitu mengkhawatirkan dirinya, laki-laki itu justru tersenyum padanya dan berkata, "maaf, sepertinya ... aku pulang sangat terlambat, ya ...?"


Sepasang iris mata cantik nan indah berwarna hitam pekat milik wanita itu kembali berlinang air mata ketika melihat sosok yang sangat dikhawatirkan serta dirindukan oleh hatinya. Nadia langsung sedikit berlutut di hadapan Berlin, dan kemudian memeluk laki-laki itu dengan perlahan dan lembut. Di kala pelukan itu berlangsung, di situlah isak tangisnya pecah dengan perlahan semakin mempererat pelukannya.


"Aku pulang, sayang." Berlin berbisik dengan intonasi bicara yang sungguh lembut pada telinga kanan milik sang istri ketika memeluknya.


Melihat pertemuan mereka berdua, kedua rekan Berlin yang berdiri di dekat pintu bersama dengan Alana dibuat tersenyum dengan sendirinya. Menyadari hal tersebut, Berlin menoleh ke belakang dan kemudian mengatakan, "maaf, bisakah aku mohon pada kalian untuk tinggalkan kami berdua--" ketika berbicara demikian, kedua mata Berlin sempat melirik ke arah sofa ruangan itu dan melihat kehadiran Akira yang tengah tidur di sana, "lebih tepatnya ... kami bertiga ...?" lanjut Berlin meralat ucapannya.

__ADS_1


Adam dan Alana tersenyum mendengar permintaan tersebut, apalagi Kimmy yang tahu betul kalau Berlin adalah orang yang tidak suka dilihat ketika sedang dalam momen seperti itu. Mereka bertiga pun segera beranjak pergi dari ruangan itu.


"Alana, terima kasih sudah menemaninya," cetus Berlin membuat langkah Alana sempat terhenti tepat di depan pintu.


Alana tersenyum, sedikit menundukkan kepalanya dan berkata, "justru aku yang berterima kasih padamu, Berlin," ucapnya kemudian menutup rapat pintu kamar tersebut.


Setelah melihat dan memastikan ketiga orang itu tak lagi melihatnya. Berlin pun dengan lembut mempererat pelukannya, dan membelai sang istri dengan penuh kasih sembari berkata, "sudah, jangan menangis ...! Aku 'kan sudah ada di sini sekarang."


Masih di posisi yang sama, dan seolah tak ingin melepaskan pelukan hangat itu. Nadia menanggapi apa yang dikatakan oleh suaminya dengan mengucap, "ini tangis bahagia, Berlin!" ucapnya dengan senyuman bahagia bercampur lega yang terlihat sangat tulus dari hatinya tanpa adanya pemaksaan.


"Baiklah, tetapi jangan keras-keras, oke? Nanti Akira bisa bangun, loh ...!" sahut Berlin dengan tatapan yang melirik ke arah sofa di sudut ruangan.


Nadia melonggarkan pelukan tersebut, berpindah menatap wajah yang tampan milik sang suami dengan jarak yang sungguh dekat. Kedua tangannya melingkar pada tengkuk milik Berlin, dan menatap dalam-dalam kedua mata milik lelakinya.


Berlin tak tahan melihat tatapan yang sungguh membuatnya terbuai dengan mudah. Melihat pipi milik Nadia yang basah karena air mata, Berlin dengan spontan mengusap pipi tersebut dengan salah satu tangannya.


"Maaf, aku membuatmu gelisah, ya?" cetus Berlin, yang kemudian permintaan maaf itu langsung ditanggapi oleh Nadia yang berkata, "emang!" sahutnya dengan ekspresi dan intonasi bicara yang terdengar sebal. Sedangkan Berlin hanya tertawa kecil dan tersenyum melihat ekspresi tersebut.


Berlin menghela napas panjang dengan senyuman yang kelihatannya tidak pudar setelah bertemu kembali dengan sosok yang sangat ia cintai. Apalagi melihat ekspresi Nadia yang tampaknya begitu mencemaskan cedera dan luka yang ada pada dirinya.


"Apakah luka mu tidak apa-apa? Kakimu bagaimana? Mengapa bisa sampai seperti ini? Apa yang terjadi padamu?" celoteh Nadia yang tampaknya sangat cemas pada dirinya ketika berdiri di hadapannya. Namun Berlin malah tersenyum-senyum dengan sendirinya ketika melihat sikap Nadia yang menunjukkan perhatian lebih kepada dirinya.


"Kenapa malah senyum-senyum, sih?! Aku benar-benar khawatir, kamu malah senyum-senyum! Dasar!!" dengus bumil itu dengan bibir kecilnya yang mengerucut serta ekspresi sebal ketika berdiri di depan Berlin. Namun bukannya menjawab atau menanggapi apa yang dikatakan oleh istrinya, Berlin hanya tertawa kecil dan tersenyum-senyum melihat ekspresi yang satu harian ini sangat ia rindukan.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2