Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Memasuki Empat Wilayah #226


__ADS_3

Salva melangkah menghampiri mobil milik Asep yang terparkir di tengah-tengah halaman parkir yang amat luas itu dengan dua buah cangkir kopi panas di kedua tangannya. "Sesuai dengan pesanan," ucap Salva, memberikan salah satu kopi panas tersebut kepada Asep melalui jendela mobil yang terbuka lebar.


"Terima kasih," jawab Asep, menerima secangkir kopi miliknya dan kemudian meletakkannya di wadah minuman yang ada di pintu mobil. Pandangannya masih terus tertuju kepada layar laptop yang masih berada di pangkuannya.


"Apakah sudah melihat hal yang mencurigakan?" tanya Salva, bersandar pada jendela mobil yang terbuka lebar itu sembari menikmati secangkir kopi panasnya di bawah guyuran hujan, dan kemudian meletakkannya di sebuah wadah minuman yang ada di atas dashboard mobil.


Asep menggeleng dan menjawab dengan jawaban singkat, "belum."


"Bagaimana dengan dua personel itu? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Asep, menoleh kepada Salva, dan menanyakan kabar soal dua aparat yang bergabung dengan timnya.


"Mereka baik-baik saja, dan saat ini sedang bersama dengan Carlos," jawab Salva.


Pria yang bersandar pada pintu mobil itu menghembuskan napas panjang. Ia tidak berkutik dari posisinya, meskipun mantel hitam yang dikenakan sudah basah karena terus-menerus terkena hujan. Salva membalikkan badannya, dan kemudian bersandar membelakangi jendela mobil tersebut.


"Bagaimana situasi di luar sana?" tanya Asep sembari jemarinya lihai mengutak-atik keyboard pada laptop tersebut.


"Kita sudah menghabiskan tiga jam lebih di bawah derasnya hujan, dan tidak menemukan serta melihat apapun tanda-tanda dari Red Rascals." Salva menjawab pertanyaan tersebut dengan intonasi datar.

__ADS_1


Asep bersandar sejenak pada kursinya kemudinya, kembali mengambil kopi miliknya dan kemudian perlahan menyeruput hangatnya kopi tersebut. Di tengah ia menyeruput serta menikmati kopi hangat itu, rekannya tiba-tiba bertanya, "kira-kira hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada Tokyo, ya?"


"Dengan kejahatan yang sudah sangat melampaui batas seperti itu, kurasa tidak akan ada celah untuknya mendapatkan pidana penjara dengan batasan waktu." Asep langsung menjawab pertanyaan tersebut sesaat setelah ia kembali meletakkan kopinya di tempat semula.


"Apa maksudmu ... dia akan dipidanakan dengan hukuman penjara seumur hidup?" sahut Salva langsung mengambil asumsi.


"Kurasa itu hukuman minimal yang bisa dia dapatkan, antara penjara seumur hidup, atau ... hukuman mati." Asep kembali menjawab pertanyaan dari rekannya, namun berdasarkan asumsi serta pendapatnya pribadi. Lagi-lagi semua itu hanya asumsi serta pendapat, bukanlah hasil akhir dari persidangan yang saat ini sedang berlangsung. Semua keputusan ada di tangan hakim persidangan itu, dan di luar dari pihak hakim hanya bisa menunggu kabar serta hasil akhir dari persidangan.


Di tengah perbincangan singkat dan santai itu. Fokus Asep tiba-tiba saja ditarik oleh sebuah gambar yang ditangkap oleh salah satu kamera pengawas pada layar laptop miliknya. "Salva, lihatlah ini!" cetus Asep sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat.


Salva sontak berbalik badan, dan kemudian melihat objek yang sama dengan apa yang dilihat oleh Asep, "itu mereka!" ucapnya dengan tatapan tajam menyaksikan rekaman yang diambil oleh salah satu kamera pengawas di salah satu gedung yang ada di Distrik Barat, lokasi di mana Asep dan timnya saat ini berada.


Salva langsung berlari menjauh untuk memanggil rekan-rekannya kembali berkumpul sesuai dengan arahan dari Asep. Sedangkan Asep sendiri langsung melaporkan apa yang ia lihat di radio komunikasi miliknya.


Sebuah pergerakan secara masif akhirnya terpantau dan tertangkap oleh salah satu kamera pengawas milik kepolisian yang terpasang di antara gedung-gedung perkotaan. Sekelompok orang berjaket merah bergerak melalui sela-sela gedung tanpa menggunakan atau mengendarai kendaraan. Mereka berlarian dengan menenteng persenjataan mereka. Terlihat sekali dan sangat mencolok, bahwa senjata api yang mereka bawa bukan hanya pistol.


***

__ADS_1


"Masuki empat wilayah, dan buat kericuhan! Terserah kalian mau ngapain juga, yang terpenting adalah membuat ancaman untuk para masyarakat." Felix terlihat memberikan komando serta arahannya dari dalam sebuah mobil hitam menggunakan radio komunikasi miliknya.


Pergerakan Red Rascals telah dimulai, dan langsung dilakukan secara masif. Pergerakan mereka juga sangat terorganisir dengan baik, memasuki empat wilayah berbeda. Jika dilihat dari peta, pergerakan kelompok merah itu terlihat ingin mengurung atau mengepung cincin perimeter yang dibuat oleh para aparat.


Di mobil tersebut Felix tak sendiri, ia ditemani oleh sosok Clovis yang duduk bersamanya di kursi belakang. Pria berjaket putih itu hanya duduk diam, sembari menunggu serta menyimak rombongan Red Rascals yang sudah melakukan pergerakannya.


"Strategi mu cukup klasik, tetapi jujur aku menyukainya," ucap Clovis.


"Meskipun klasik, tetapi tenang saja ini akan berjalan dengan baik, karena kita memanfaatkan kegaduhan yang terjadi di antara warga-warga sipil." Felix langsung menanggapi pernyataan serta pendapat dari Clovis.


Felix menepuk salah satu pundak dari rekan wanitanya yang duduk di depan, lebih tepatnya di kursi kemudi sembari berkata, "kita bergerak sedikit mendekat ke arah Distrik Komersial. Aku ingin melihat bagaimana mereka menciptakan kepanikan berskala besar."


"Baik!" jawab wanita berjaket merah sama seperti dirinya, dan kemudian mengemudikan mobil tersebut melaju menuju ke tempat yang diminta.


"Masyarakat adalah unsur terpenting jika ingin membuat kekacauan ataupun kegaduhan, karena mereka mudah sekali untuk dikendalikan maupun dimainkan. Maka dari itu aku mencoba untuk memanfaatkan kepanikan mereka."


Mendengar sedikit penjelasan yang diberikan oleh Felix, cukup membuat Clovis terkesan. Benar-benar rencana yang licik.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2