
"Apa yang terjadi?" cetus Tokyo terkejut ketika layar laptop milik Farres tiba-tiba saja mati dan gelap.
Farres sendiri juga cukup terkejut, namun dirinya yakin kalau dirinya tidak mematikan laptop tersebut. Setelah ia telusuri apa penyebabnya. Tampaknya ia menemukan sebuah petunjuk, "lokasi kita diketahui," ucapnya.
"Bagaimana caranya? Siapa?" sahut Tokyo.
Namun tatapan Farres tajam tertuju ke arah pintu masuk ruangan yang terbuat dari baja layaknya brankas bank pusat. Bukannya menjawab pertanyaan dari Tokyo, dirinya malah berkata, "ada yang datang ...!"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Farres, Tokyo langsung beranjak mendekat ke arah Boni yang terikat kencang di sudut ruangan dengan sebuah pistol dalam genggamannya.
Tiitt ...!!!
GREEEKK ...!!!
Pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka dengan cara tergeser ke samping dan ke atas. Sesaat setelah pintu tersebut terbuka, sosok Berlin tiba-tiba saja terlihat bersama dengan kelima rekannya dan dua aparat taktis yang berdiri tepat di depan pintu itu.
"Selamat datang, aku benar-benar tidak menyangka akan kedatangan kalian," cetus Farres menyambut kehadiran Berlin bersama dengan pihaknya secara tiba-tiba. Jujur saja, pertemuan yang terjadi ini sangat jauh dari rencana dan sangat tidak terduga oleh Farres dan Tokyo sendiri.
Prime dan Flix yang melihat Boni terikat dan dijadikan tawanan di dalam sana, langsung mengangkat senapan serbu mereka dan berkata dengan tegas, "jangan bergerak, dan lepaskan dia! Kalian sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi."
Namun Berlin dengan satu kaki sedikit berjinjit melangkah ke depan Prime dan Flix sembari menyuruh mereka untuk menurunkan senapan yang mereka bawa.
__ADS_1
"Turunkan senjata kalian! Kalau memang mereka berdua ingin membunuh Boni, maka biarkan saja!" ucap Berlin dengan intonasi yang terdengar sungguh berat nan kejam. Tatapannya sempat tajam melirik ke arah Boni yang hanya bisa berlutut di sudut ruangan tepat di belakang Farres yang saat ini berada di balik sebuah meja berwarna putih.
Sontak apa yang dikatakan oleh Berlin mengundang pertanyaan Prime dan Flix. Mereka dibuat bingung dengan apa yang dikatakan oleh pria berjaket hitam itu.
"Apa maksudmu? Kau ingin membiarkan walikota terbunuh?!" sahut Prime.
Berlin menoleh dan menatap tajam Prime sembari menjawab, "bagiku, penghianat sepertinya memang sudah seharusnya untuk mendapatkan hukuman itu."
Penghianat? Boni Jackson seorang walikota penghianat?! Tak hanya Prime dan Flix yang dibuat bertanya-tanya, namun kelima rekan Berlin juga dibuat kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Berlin.
"Tokyo El Claunius, kau bebas mau apakan pria yang saat ini tengah berlutut di dekatmu itu. Aku tidak peduli!"
Meskipun dengan langkah terpincang-pincang, Berlin melangkah beberapa langkah ke depan bahkan kini berjarak dua meter dengan Farres. Mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, itu membuat Tokyo menurunkan pistolnya dari kepala Boni.
"Berlin Gates Axel, mengapa kau begitu ambisi untuk menghentikan diriku? Bukankah musuhmu adalah Nicolaus Matrix?" cetus Tokyo kini melangkah dan berdiri di samping Farres.
Tokyo menghela napas panjang, meletakkan sebuah pistol yang sebelumnya ia genggam di atas sebuah meja putih yang ada di sampingnya.
"Mengapa kau begitu berambisi untuk menghentikan langkahku? Bukankah sudah jelas bahwa yang sulit melangkah kini adalah dirimu?" celetuk Tokyo, yang tampaknya cukup menyulut api amarah dari rekan-rekan Berlin ketika mendengarnya.
Namun berbeda dengan Berlin yang justru terlihat sangat tenang, bahkan seolah tidak terpengaruh oleh kata-kata pancingan yang diucapkan oleh Tokyo padanya.
__ADS_1
"Aku akan memberikan kesempatan untukmu bisa hidup, Berlin. Aku akan membiarkanmu untuk pergi dari sini, jadi silakan pergi!" lanjut Tokyo bersedekap dan menatap tajam sosok Berlin yang kini berhadapan dengannya.
"Jujur saja pada awalnya aku tidak tertarik dengan konflik dan kekacauan yang kau buat, Tokyo. Namun ... dari awal ... Clone Nostra yang menarik kami untuk terlibat," sahut Berlin.
Tokyo tahu dan paham dengan apa yang dibicarakan oleh Berlin. Memang dari awal Clone Nostra-lah yang mencari-cari masalah dengan Ashgard. Beberapa bentrok yang pernah terjadi di antara dua kelompok itu karena Tokyo yang memenuhi keinginan Nicolaus.
"Hanya karena itu?" tanya Tokyo.
Berlin menggelengkan kepalanya dan menjawab, "kau pikirkan saja sendiri! Setelah kau membuat semua kekacauan ini, seharusnya otakmu dapat menerka-nerka mengapa aku begitu ambisi dan bertujuan untuk menghentikan dirimu, Tokyo El Claunius."
"Cih!" dengus Farres merasa cukup kesal dengan nada bicara dan kosa kata Berlin yang terdengar merendahkan Tokyo.
"Baiklah, jika itu memang kemauan dirimu, Berlin. Aku sudah tahu dan sudah menduga bahwa kau itu orangnya memang keras kepala," ucap Tokyo. Tiba-tiba saja ia mengambil kembali pistol miliknya, dan kemudian mengangkat serta membidikkannya ke arah Berlin.
Melihat hal tersebut, spontan kelima rekan Berlin langsung dengan sigap memasang badan tepat di depan Berlin. Mereka juga mengeluarkan senjata api yang mereka bawa ke arah Tokyo, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut ketika berhadapan dengan sosok Tokyo El Claunius dan Farres El Claunius itu. Bahkan mereka terlihat seolah siap menerima tembakan dan mengorbankan nyawa mereka asalkan Berlin selamat.
"Tokyo, aku harap kau segera sadar diri akan posisimu sekarang ...!" cetus Berlin dengan tatapan tajamnya ke arah Tokyo dari balik rekan-rekannya.
.
Bersambung.
__ADS_1