
Detik demi detik berlalu, dan semakin lama area Balaikota semakin dipadati oleh aparat kepolisian dan militer. Beberapa korban yang terluka, dan yang tewas satu persatu telah dievakuasi serta dilarikan ke rumah sakit segera. Raungan sirine perlahan dapat di dengar di jalanan antar gedung-gedung perkotaan. Terpantau cukup banyak ambulans yang berlalu-lalang di jalanan kota, mereka terlihat sedang sibuk menyelamatkan korban yang selamat dan mengevakuasi korban yang tewas untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit Pusat.
"Akhirnya ... berakhir sudah," ucap Prawira berjalan perlahan mendekati Garwig, dan kemudian berdiri di samping pria berseragam loreng hijau itu.
"Kurasa belum, masih ada beberapa prosedur untuk memproses mereka semua," sahut Garwig, pandangannya tertuju ke arah kumpulan orang-orang berpakaian putih, ungu, dan merah. Mereka semua dikumpulkan di tengah-tengah halaman gedung, dan dipisahkan sebelum dipindahkan menuju ke Federal menggunakan beberapa kendaraan baja milik kepolisian.
"James, lakukan pengawalan terhadap kendaraan-kendaraan itu!" pinta Prawira kepada James yang kebetulan lewat tepat di depannya.
James memberikan hormat kepada Prawira dan menjawab, "siap, pak!" sebelum kemudian segera beranjak pergi.
"Pak, kebanyakan dari Red Rascals berhasil melarikan diri dari sini, dan kami kehilangan tanda-tanda dari mereka." Flix menghampiri Prawira dan melaporkan hal tersebut kepadanya.
Tampaknya Red Rascals adalah pihak yang paling banyak berhasil untuk melarikan diri dari lokasi kejadian, dibandingkan dengan Cassano dan Clone Nostra. Dapat dilihat juga, bahwa hanya ada tidak lebih dari lima orang dari Red Rascals yang tertangkap dan dimuat ke dalam kendaraan-kendaraan baja itu.
Prawira sempat melirik ke arah Garwig yang berdiri di sampingnya, sebelum kemudian menjawab, "baik, laporan diterima. Untuk sementara ini, kita tenang terlebih dahulu ...!"
"Baik," jawab Flix menundukkan kepalanya, dan kemudian beranjak pergi.
"Prawira, bisakah kau ikut denganku sebentar?" tanya Garwig.
Prawira pun mengangguk dan menjawab, "baik."
Garwig pun melangkah pergi dari halaman depan itu masuk ke dalam gedung, dan kemudian menuju ke halaman belakang gedung bersama dengan Prawira. Hanya tempat itu yang saat ini cukup sepi dibandingkan halaman depan yang sangat ramai.
__ADS_1
"Ada apa? Apakah ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Prawira melangkah menuju ke sebuah pohon dan bersandar pada pohon tersebut.
Garwig berjalan mendekati pembatas beton sisi halaman, dan bersandar di sana sembari menjawab, "ya, hanya beberapa hal."
"Tadi aku belum sempat menemui Berlin, bagaimana kondisinya?" tanya Garwig menoleh dan menatap ke arah Prawira.
Prawira tersenyum dan menjawab, "jangan khawatir, dia sudah mendapatkan penanganan dari pihak medis dan akan baik-baik saja."
Garwig memalingkan kembali pandangannya ke arah gedung-gedung perkotaan yang terlihat cukup jelas dari kejauhan. Letak dari Gedung Balaikota di atas perbukitan kota itu memiliki pemandangan yang sangat bagus, yakni dapat melihat suasana perkotaan dari atas bukit tersebut.
Suasana sore yang tenang dan dingin dengan cuaca yang sangat mendung. Begitu menenangkan, apalagi semua kekacauan yang terjadi telah selesai dan mereda. Sekarang yang akan menjadi PR pemerintah dan masyarakat adalah, mengembalikan serta memulihkan seluruh wilayah dari dampak kekacauan yang terjadi di hari ini.
"Garwig, sepertinya ... Boni mengatakan banyak hal kepadanya, dan semua berhubungan dengan apa yang menimpa kedua orang tuanya," cetus Prawira berbicara mengenai Berlin yang sepertinya telah mengetahui banyak hal dari Boni. Bahkan Berlin sempat berbicara padanya dan meminta dirinya untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada Boni Jackson, seorang Walikota yang berperan sebagai penghianat dalam konflik dan permasalahan ini.
"Kau mengetahui semuanya soal tragedi itu, dan kau sengaja menyembunyikannya dari Berlin, bukan begitu?" sahut Prawira dengan tatapan tajamnya ke arah Garwig.
"Ya, aku sengaja tidak langsung memberitahukannya padanya, karena aku tidak ingin membuatnya syok seketika," jawab Garwig sebelum kemudian menambahkan, "sebenarnya ... kalau dia bertanya dan sangat ingin mengetahuinya dariku, aku tidak segan untuk memberitahunya, sih."
"Tch!" decak Prawira sebelum kemudian berkata, "kau benar-benar menyebalkan, sih!"
Garwig hanya tertawa terbahak-bahak mendengar reaksi dari Prawira yang seolah mewakili perasaan Berlin jika mendengar apa yang ia katakan. Namun tawa itu kembali terdiam saat Prawira berbicara mengenai sang walikota tunggal itu.
"Ngomong-ngomong soal Boni, dia adalah orang yang menduduki kursi jabatan tertinggi itu, dan sekarang terpaksa dia harus disingkirkan dari kursi tersebut karena penghianat yang dia lakukan."
__ADS_1
"Dengan begitu maka terjadi kekosongan kekuasaan pada kursi tersebut, dan kemungkinan besar akan menjadi perebutan banyak pihak."
Setelah berbicara sedikit soal kursi jabatan yang kini kosong itu. Prawira melirik tajam dan serius kepada Garwig sebelum akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan yakni, "apa keputusanmu, Garwig?"
Terjadinya kekosongan kekuasaan atas kursi jabatan yang ditinggalkan oleh Boni Jackson, tentu akan menjadi kontrovesi politik yang berkemungkinan besar akan menyebabkan dampak buruk. Banyak yang akan memperebutkan kursi jabatan itu, dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi perpecahan.
Pada dasarnya jika kursi jabatan kepala negara atau pemerintah terjadi kekosongan, maka akan digantikan dengan wakil. Namun pada kasus Boni Jackson sangat berbeda, karena dia adalah walikota pengganti setelah Axel Gates, dan hadir tanpa seorang wakil.
Berdasarkan orang-orang yang memiliki kedudukan tepat di bawah walikota dan wakil walikota, yang paling cocok dan siap untuk menggantikan serta mengisi kedudukan tersebut adalah menteri pertahanan yakni Garwig Gates sendiri.
Garwig menghela napas mendengar pertanyaan yang sungguh memberatkan pundaknya. Ia menoleh ke arah Prawira dan menjawab, "aku tidak yakin."
"Namun kau harus! Karena tidak ada lagi orang yang cocok untuk mengisi kursi itu, Garwig! Apakah kau ingin membiarkan kota ini jatuh ke orang seperti Boni lagi?" sahut Prawira terlihat sangat berusaha untuk meyakinkan Garwig.
"Ya, aku tahu itu! Tetapi apakah tidak apa-apa? Aku tidak yakin masyarakat akan mempercayakannya padaku, karena percuma jika aku mendapatkan jabatan itu namun tidak dengan kepercayaan masyarakat," sahut Garwig.
Prawira kembali santai dengan bersandar pada pohon itu sembari berkata, "namun meski begitu kau harus segera mengambil keputusan, Garwig ...!"
Apa yang dikatakan oleh Prawira memang benar. Semuanya harus terus berjalan, meskipun jika itu hanya mengikuti arus. Garwig terlihat sangat tenang dan sedang berpikir keras mengenai apa keputusan yang harus ia ambil.
.
Bersambung.
__ADS_1