Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Tidak Bisa Tidur #218


__ADS_3

Malam yang sungguh tenang, dengan angin malam yang terasa dingin berhembus lembut melalui sela-sela gedung perkotaan di malam hari. Bintang serta terang rembulan tidak nampak di langit malam hari ini. Benar-benar gelap, kelam, dan tidak ada cahaya sama sekali di langit malam ini. Sepertinya cuaca di atas sana masih dipenuhi dengan awan mendung dan gelap, sehingga membuat malam ini terasa sungguh kelam.


Sekelompok orang berjaket merah tengah berkumpul di sebuah gedung parkir yang terbengkalai. Di sana tak hanya satu pihak dengan warna yang sama, karena terlihat juga pihak kedua dengan identitas warna putih mereka yakni Clone Nostra. Sebuah pertemuan di malam hari, apalagi dengan tenggat waktu kurang lebih dua belas jam dari sekarang sebelum persidangan Tokyo El Claunius dilaksanakan.


"Aku akan membeberkan rencana untuk nanti pagi, dan aku sangat ingin kalian dapat mematuhi serta bekerjasama dengan baik!" ucap Felix, cukup berambisi, terlihat sekali dari intonasi bicaranya yang cenderung tinggi dibarengi oleh sikapnya yang terlihat cukup angkuh.


Lelaki berjaket merah bernama Felix itu berdiri di depan rekan-rekannya, berada di antara kedua belah pihak dengan warna yang berbeda, dan menghadap ke arah sekelompok orang berbaju putih yang jumlahnya lebih sedikit daripada orang-orang berjaket merah. Jika ditanya apakah mereka semua bersenjata? Jawabannya tentu saja pertanyaan itu tidak perlu dipertanyakan. Meski mereka tidak memperlihatkan apa saja senjata yang dibawa, namun tidak akan ada yang pernah tahu apa yang mereka simpan di balik jas-jas putih serta jaket-jaket merah itu.


"Memangnya apa rencanamu? Bukankah kau tahu sendiri bahwa kepolisian tidak akan membebaskan kita untuk melakukan aksi?" sahut Clovis, berdiri di depan rekan-rekannya, dan berhadapan langsung dengan lelaki berjaket merah itu.


"Kau tahu kalau jumlah kami yang ada di sini bukan jumlah keseluruhan, bukan? Lagipula tidak perlu mencemaskan kepolisian, karena mereka terpaut dengan rantai komando. Jika kita melumpuhkan komando paling atas, maka yang di bawahnya akan kebingungan dan berceceran."


"Seperti anak-anak bebek yang terus berjalan mengikuti induknya ketika menyebrangi jalan, dan ketika induk bebek itu tertabrak kendaraan hingga tewas atau hilang. Maka dapat dipastikan anak-anaknya akan kebingungan untuk berjalan."


Felix berbicara dengan sangat lugas sekali, bahkan ia sangat yakin dengan pendapat serta pemikirannya sendiri mengenai pihak kepolisian yang pastinya akan melakukan pengawalan sepanjang persidangan.


"Namun sebelum aksi di siang hari itu, aku ingin memastikan sesuatu kepada kalian. Ku harap kalian bersikap kooperatif dengan kami ...!" lanjut Felix, berbicara tajam dan sangat serius dalam hal ini.


Clovis dapat menyaksikan tatapan tajam penuh dengan ambisi serta keserakahan yang diarahkan kepada dirinya. Dengan sikapnya yang tenang ia berbicara, "silakan kau pastikan kami sampai puas."


"Hampir setengah dari aset kami sudah berada di tangan kalian, tenang saja. Harta dan kekuatan kami tidak cukup untuk melakukan perlawanan," lanjut Clovis, bersedekap dan melakukan kontak mata dengan laki-laki berjaket merah itu tanpa adanya rasa ketakutan serta keraguan pada dirinya.


Felix mengangguk pelan dan berkata, "memang sebaiknya kalian begitu," ucapnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu bersama dengan rekan-rekannya.

__ADS_1


***


Pukul 23:23 malam, Kediaman atau Vila milik Berlin.


Di malam ini, lelaki yang kini sudah mengenakan baju tidur berwarna biru muda itu terlihat dengan duduk santai di sebuah ruang keluarga lantai tiga. Dengan santai dan tenangnya, ia duduk di atas sebuah sofa panjang empuk berwarna putih. Lelaki itu terlihat merenung dengan pandangan menuju ke arah langit malam melalui jendela di ruangan tersebut. Langit yang sangat gelap dan kelam, tidak ada cahaya sama sekali di langit malam ini.


Besok adalah hari dimana Ashgard akan menjalani tugas perdananya. Sebelum-sebelumnya, walaupun Ashgard telah melalui banyak pengalaman kejam yang bersangkutan dengan kriminalitas. Namun kelompok itu belum pernah sama sekali bekerja menjalankan tugas di bawah tekanan serta dikekang oleh aturan, dan hal tersebut yang saat ini menjadi pikiran Berlin sampai membuatnya cukup sulit untuk tidur. Meskipun seluruh perintah serta arahan mutlak berada di tangannya, tetapi tetap saja ia dan rekan-rekannya harus menaati segala peraturan yang ada.


Sekarang Ashgard bukanlah kelompok berandalan yang bisa bebas bertindak melakukan apa saja seperti dahulu. Transisi Ashgard yang awalnya hanya kelompok kriminal dan kini menjadi Divisi Khusus yang dimiliki oleh pemerintah sangatlah cepat. Betapa cepatnya transisi itu, cukup membuat Berlin kepikiran soal bagaimana adaptasi rekan-rekannya.


"Aku kira kamu pergi ke mana, ternyata di sini?" cetus Nadia, membuka pintu kamarnya dan kemudian melangkah perlahan menghampiri Berlin yang duduk di sofa ruang keluarga itu.


"Kenapa? Kamu kesulitan tidur?" lanjut bumil itu bertanya dengan intonasi yang terdengar sungguh lembut dan sopan, sembari duduk tepat di sebelah Berlin.


Wanita itu kemudian tertawa kecil dengan nada yang terdengar sangat lembut, dan kemudian menyandarkan kepalanya perlahan pada bahu milik lelakinya sembari berkata, "semua orang pasti deg-degan ketika menjalani hal-hal yang pertama kali mereka jalani."


"Enggak cuma kamu, aku juga merasa deg-degan," lanjut Nadia dengan meletakkan salah satu telapak tangannya di atas dada milik Berlin.


Berlin merangkul istrinya dan bertanya, "Akira sudah tidur?"


"Sudah, anak itu akhirnya berani tidur di kamarnya sendiri," jawab Nadia, tanpa menatap lelaki itu karena sudah nyaman dengan posisinya ketika bersandar.


Di lantai ketiga vila tersebut memang terdapat dua kamar yang berbeda, dan berukuran sama luasnya. Letak dari masing-masing kamar juga tidak jauh karena bersebelahan.

__ADS_1


"Untuk sekitar lima sampai enam bulan ke depan, kita akan masih tinggal di sini sampai pembangunan rumah selesai. Jadi aku harap kalian nyaman di sini, ya ...!" ujar Berlin, dengan pandangan yang masih menatap ke arah luar jendela.


Bumil itu mengangguk dan bergumam menjawab, "he'em!" dan kemudian lanjut berkata, "aku sudah mulai nyaman, dan kelihatannya anak itu juga."


"Ngomong-ngomong, soal janji yang kamu buat dengan Akira. Kamu menepatinya, 'kan?' ujar Nadia, mengingatkan kembali apa yang sempat Berlin katakan pagi ini sebelum berangkat. Lelaki itu menjanjikan untuk membelikan bola untuk putrinya.


Berlin terkekeh kecil dan menjawab, "aku tak melupakannya, kok. Bolanya aku simpan di gudang bawah, besok saja aku berikan padanya."


"Bagus, deh, kalau kamu memang tidak mengingkarinya," sahut wanita itu sambil perlahan memeluk tubuh milik lelakinya sembari tersenyum.


"Aku memang tidak ingin untuk mengingkari janji, karena itu perbuatan yang tidak baik," ucap laki-laki itu sembari perlahan terlihat asyik membelai rambut milik istrinya yang sudah mulai panjang sampai punggung.


"Sayang, bobok, yuk! Aku udah ngantuk, dan besok kamu juga harus bangun pagi, 'kan?" ujar Nadia, kemudian dengan satu tangan menutupi mulutnya ketika menguap.


Berlin mengangguk, "iya, yuk," ucapnya kemudian beranjak pergi bersama istrinya kembali ke kamar.


Lima belas menit kemudian. Sudah berada di dalam kamar, di atas ranjang dengan kasur yang empuk dan nyaman, dan berada di balik selimut tebal yang bisa membuat tubuh merasa hangat di ruangan yang ber-AC ini.


Nadia sudah terlelap pulas di dalam mimpinya, tepat di sebelah Berlin berbaring. Namun tidak dengan Berlin sendiri yang masih saja terjaga di tengah malam, bahkan hingga sepertiga malam tiba.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2