
Masih di hari yang sama, di sore harinya. Berlin bersama dengan istrinya kembali mendatangi rumah sakit di kota. Kali ini tanpa Akira, anak itu dititipkan sementara kepada Helena dan Alana di panti asuhan, karena mereka berdua tahu ini akan menjadi hal yang membosankan bagi anak-anak.
Dengan bermodalkan catatan yang ditulis serta dibuat oleh Helena, Berlin melangkah perlahan menggunakan tongkatnya, masuk ke dalam rumah sakit didampingi oleh sang istri tentunya. Jika tanpa catatan dan informasi yang diberikan oleh Helena, mungkin sampai detik ini Berlin masih bingung untuk mempersiapkan berkas-berkas yang akan digunakan untuk pengajuan adopsi anak.
"Tidak rumit, ya? Kurasa ini lumayan, sih," gumam Berlin, menghela napas, sedikit menyinggung apa yang sempat dikatakan oleh Helena tadi siang.
Nadia yang berjalan tepat di sampingnya hanya tersenyum, bahkan beberapa kali tertawa kecil melihat ekspresi Berlin persis seperti siswa yang tengah dihadapkan soal-soal sulit ujian nasional.
"Semangat! Kamu mau jadi papa yang baik, 'kan?" cetus Nadia, tersenyum, dan menatap pria itu dengan tatapan yang terkesan sungguh lembut.
Berlin hanya menghela napas, membalas senyuman itu juga dengan senyumannya, dan terus berjalan melalui lorong rumah sakit yang cukup lengang di sore ini.
...
Tiga jam kemudian, waktu menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh. Berlin bersama dengan Nadia melangkah keluar dari rumah sakit, menuju ke halaman parkir dengan ekspresi yang sedikit lega. Dalam genggamannya, sudah ada tiga buah berkas yang berisikan keterangan soal kesehatan, yang nantinya akan diperlukan dalam membuat lampiran untuk pengadopsian anak.
"Sepertinya sudah cukup larut, bagaimana kalau kita lanjut besok?" ucap Nadia, melihat ke arah jam tangan yang terpasang di pergelangan tangannya.
Berlin mengangguk takzim, tersenyum, menjawab, "sepertinya itu ide yang baik."
"Kita jemput Akira, pulang, habis itu makan malam bareng, ya?" sahut Nadia, sampai di mobil milik Berlin yang terparkir. Wanita itu kemudian membukakan pintu mobil untuk Berlin, sebelum kemudian ia turut naik dan duduk di kursi kemudi.
Perjalanan untuk menuju ke panti asuhan cukuplah terhambat, karena lalu lintas pulang kerja yang sungguh padat. Sembari menunggu antrean mobil yang cukup lama, Nadia sempat melirik ke arah catatan yang diberikan oleh Helena yang tergeletak di atas dashboard mobil.
"Di kolom nomor lima, memangnya kamu punya SKCK?" celetuk Nadia, melirik kepada Berlin yang masih terlihat sibuk memeriksa kembali berkas-berkas yang baru saja ia terima dari pihak rumah sakit.
Berlin menghentikan aktivitasnya dengan berkas-berkas yang ada di pangkuannya itu. Perlahan ia menoleh, sesaat setelah mendengar pertanyaan tersebut, dan menatap dengan tatapan yang seolah tidak berdosa sembari menjawab, "gimana mau punya SKCK, aku 'kan penjahat?"
__ADS_1
Mendengar jawaban yang sepertinya terlontar secara spontan, Nadia dibuat sedikit tertawa, apalagi ketika melihat ekspresi tak berdosa itu, "dasar, kamu ini ...!" ucapnya, dengan intonasi yang justru terdengar lembut.
"Memangnya kamu punya?" tanya Berlin.
"Punya, dong! Aku 'kan orang baik, mantan anggota polisi, pula!" sahut Nadia, dengan sikap dan intonasi yang seolah sedang menyombongkan diri. Namun sesaat setelah menjawab seperti itu, bumil yang tengah mengemudikan mobilnya itu terkekeh geli sendiri atas apa yang baru saja ia katakan.
Berlin menghela napas, tersenyum, dan dengan santainya berkata, "soal itu biar aku urus sendiri, deh. Aku akan bicara kepada Prawira untuk surat itu."
Nadia langsung melirik sinis sembari berkata, "ih, curang! Mentang-mentang kamu satu keluarga dengan petinggi kepolisian, ya ...!?" ucapnya, intonasinya kini terdengar rendah, namun terdengar cukup tajam di telinga Berlin.
Berlin hanya tertawa lugu, dan ekspresi seolah tak berdosa terpampang lagi di wajah tampannya. Melihat reaksi tersebut, Nadia jadi ikut tertawa, dan diakhiri dengan senyuman yang terlihat sungguh manis.
***
Di malam yang tenang, suasana sunyi kembali ditemui oleh Carlos. Ia melangkah menuju ke taman belakang, mengingat kembali hari kemarin, di mana taman tersebut sangat ramai dan meriah. Namun itu adalah hari kemarin, dan sangat berbeda dengan hari ini.
Carlos menghampiri sebuah sekat yang terbuat dari kayu, dan melihat ke arah kayu-kayu yang terpasang sebagai sasaran tembak di kejauhan sekitar lima belas sampai tujuh puluh meter, bahkan ada yang paling jauh berjarak seratus meter lebih.
Ingatannya seketika mundur kembali ke masa lalu, saat di mana dirinya memegang sebuah pistol atau senjata api untuk pertama kalinya. Pengalaman pertama atau perdana itu diperkenalkan dan diajarkan oleh sosok yang memiliki peran penting dalam hidupnya, yakni Prawira Gates Putra.
Tiga belas tahun yang lalu, tepatnya ketika Carlos pertama kali menginjak usia sepuluh. Dirinya dibawa oleh Prawira ke lapangan tembak ini, dan mengajarkannya cara menembak serta melumpuhkan target yang berjarak jauh darinya berdiri. Dan sejak saat itu, Carlos sendiri mengenal Prawira sebagai guru mudanya, karena memang usia Prawira pada saat itu dua tahun lebih muda dari dirinya di masa sekarang.
"Kau ku cari, ternyata ada di sini," ucap suara seorang pria yang berasal dari belakangnya. Sosok pria yang baru saja terlintas di kepalanya, kini benar-benar nyata dan ada di belakangnya.
"Ada apa? Apakah aku membuat kesalahan?" sahut Carlos, bertanya, intonasinya sungguh datar dan terkesan dingin. Ia berbalik badan perlahan, dan berhadapan langsung dengan sosok Prawira di sana.
Prawira tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, tatapannya santai namun serius. "Aku datang bukan karena kau melakukan kesalahan atau sebagainya, jangan anggap aku sebagai guru BP, lah ...!" ucap Prawira.
__ADS_1
Carlos terkekeh kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Prawira. Ia melangkah, melewati Prawira, dan menghampiri sebuah bangku kayu panjang sembari bertanya, "lalu, apa yang membuatmu mencari diriku?"
"Apakah karena memang aku adalah tahanan yang bebas bersyarat, jadi kau ingin terus mengawasi ku? Tenang saja, aku tidak keberatan jika memang seperti itu," lanjut Carlos, kemudian duduk santai pada bangku tersebut.
"Bukan begitu, aku ingin membicarakan serta mempertanyakan satu hal padamu," jawab Prawira, kini sudah berdiri tepat di tepi bangku tersebut.
"Apa itu?" sahut Carlos, terlihat tidak ingin berbasa-basi.
Prawira berpindah duduk di samping Carlos, tatapannya tajam, dan sangat serius. Cuaca malam yang dingin membuat suasana menjadi cukup tegang, seolah akan menerima pertanyaan yang memiliki level kesulitan paling tinggi di dunia.
"Carlos, apakah kau tidak memiliki rencana untuk mencari pekerjaan?" tanya Prawira, intonasi bicaranya terdengar sangat tenang.
"Memangnya narapidana sepertiku bisa mendapatkan pekerjaan?" sahut Carlos, tanpa harus menoleh, bahkan ia bertanya sesaat setelah Prawira bertanya.
Prawira menghela napas, mendongakkan kepalanya, memandangi langit malam yang bertabur bintang. Bagus Prawira, apa yang dipertanyakan oleh Carlos sebenarnya ada benarnya, namun juga tidak selamanya benar.
"Ya, kau benar juga, itu akan sulit. Namun aku mempercayai satu hal. Kita tidak tahu keberuntungan, nasib, dan takdir seseorang. Namun aku selalu percaya, selama orang itu berusaha, pasti dia dapat mencapai tujuan dan impiannya," ucap Prawira.
Carlos terlihat santai, "soal pekerjaan, biar ku pikirkan sendiri. Lagipula, aku yakin Berlin tidak akan melepas ku begitu saja."
"Sesuai dengan perjanjian kontrak yang sempat dibuat antara aku dan Berlin, aku akan menunggu serta menuruti apapun keputusannya, apapun ...!" lanjut Carlos, terlihat tidak terbebani oleh apa yang baru saja ia katakan, justru ia terlihat senang hati atas apa yang dikatakannya.
"Baiklah, namun jika kau kesulitan dan membutuhkan pertolongan, jangan sungkan untuk berbicara kepadaku, atau kepada yang lain. Kita keluarga, dan sudah menjadi kewajiban setiap anggota keluarga untuk saling membantu," ujar Prawira, tersenyum ramah.
.
Bersambung.
__ADS_1