Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Mereka Datang ...! #88


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh dini hari. Di malam yang seharusnya tenang dan damai, menjadi waktu untuk setiap orang istirahat. Namun justru malam tersebut menjadi malam yang mengerikan dan mencekam.


Seluruh aparat berwenang di bawah kepemimpinan Prawira, dan juga beberapa dari pihak militer di bawah kepemimpinan Garwig dilibatkan sekaligus terlibat kontak dengan banyak personel dari pihak Clone Nostra.


Paletown dan Shandy Shell hampir keseluruhan telah dikuasai oleh Clone Nostra dalam kurun waktu tiga puluh menit. Mereka menyerang beberapa bangunan penting pemerintahan, dan mengambil alih kedudukan dalam waktu sekejap. Dengan personel yang berjumlah lebih dari ratusan orang, tentu hal tersebut tidak begitu sulit bagi Tokyo dan anak-anak buahnya. Apalagi dengan segala persenjataan lengkap yang telah tersedia di pihak mereka.


Clone Nostra juga langsung terlibat serta membuat kontak senjata dengan beberapa aparat yang mereka lihat atau temui. Akibat dari kontak senjata yang berkali-kali terjadi itu, korban dari kedua belah pihak pun berjatuhan. Namun pihak yang paling dirugikan adalah pihak aparat kepolisian, bahkan beberapa dari mereka dinyatakan tewas akibat dihabisi oleh Clone Nostra.


Setelah kedua wilayah tersebut diambil alih oleh pihak Clone Nostra. Mereka pun mengalihkan tujuan mereka menuju ke pusat Kota Metro. Target mereka selajutnya adalah Gedung Balaikota, dan menghabisi segala aparatur yang bertugas di sana. Mengambil alih tatanan pemerintah serta kekuasaan tertinggi menjadi ambisi tersendiri bagi Clone Nostra, terutama Tokyo El Claunius.


Penyerangan atau lebih tepatnya disebut sebagai penjajahan yang dilakukan oleh Clone Nostra membuat Garwig dan Prawira harus segera mengambil keputusan. Status kota ditetapkan ke dalam keadaan siaga satu, dan seluruh masyarakat diungsikan ke tempat teraman. Prawira dan Garwig juga memprioritaskan keamanan berlipat pada tempat-tempat krusial di kota, seperti salah satunya adalah Rumah Sakit.


"Di mana Boni?" cetus Prawira bertanya kepada Garwig ketika bertemu di kantor pusat.


"Berada di kediamannya, dan kediaman tersebut sudah terjaga ketat oleh pihak militer," jawab Garwig.


"Dua wilayah telah jatuh di tangan mereka, dan akan sangat sulit bagi kita untuk mengevaluasi warga keluar dari kedua wilayah tersebut."


"Jika memang mereka mengincar kekuasaan wilayah, maka target selanjutnya adalah pusat kota."


Prawira berbicara hal tersebut kepada Garwig, dan Garwig terlihat mengangguk setuju dengan pendapat tersebut sebelum kemudian menimpali dengan berkata, "dan jika memang benar begitu, maka yang harus mereka targetkan terlebih dahulu adalah pusat pemerintahan kita."


"Gedung Balaikota," sahut Prawira.


BraakK!!


Di saat keduanya sedang berbicara soal hal itu. Netty tiba-tiba dengan cukup panik memasuki ruangan hingga membanting pintu tersebut. Ia datang dengan membawa sebuah kabar buruk bahwa, "Pak, Clone Nostra mulai melakukan penyerangan di Gedung Balaikota dan sekitarnya!"


DEG.


"Nadia?!"


Prawira benar-benar terkejut mendengar kabar itu. Entah mengapa tiba-tiba saja dalam benaknya terlintas soal Nadia, mengingat kediaman Berlin dan Nadia berada tak jauh dari area Gedung Balaikota.

__ADS_1


***


Siska terbangun dari tidurnya karena perasaan yang sangat tidak nyaman. Ia sadar bahwa saat ini dirinya sedang menginap di rumah Nadia. Perempuan itu sempat menoleh dan melihat ke arah sahabatnya yang masih terlelap tepat di sampingnya.


"Mengapa perasaanku begitu buruk?" batin Siska bertanya-tanya dengan sendirinya. Ia beranjak dari ranjang tersebut dan melangkah ke arah jendela kamar.


Pemandangan dari jendela kamar tersebut langsung mengarah ke halaman belakang rumah dan kolam renang. Suasana malam yang begitu tenang dan sunyi. Dirinya memaklumi jika Nadia sempat kesulitan untuk tidur.


Sesaat kemudian, Siska memutuskan untuk keluar kamar sejenak untuk mengambil air minum ke lantai bawah. Ketika berada di lantai bawah, dirinya mendengar suara deru motor yang berseliweran di jalanan depan rumah.


"Tetangga di sini tidak tahu waktu apa, ya?" gumamnya sembari melangkah ke arah jendela ruang tamu sembari melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 02:35 dini hari.


"Ti-tidak mungkin ..!" betapa terkejutnya Siska ketika mengintip sedikit siapa yang berlalu-lalang di depan rumah dari balik gorden tebal. Kedua matanya menangkap banyak sekali orang-orang berbaju putih yang melintas menuju ke arah Gedung Balaikota yang berada di atas bukit kota.


Siska bergegas kembali menuju ke lantai dua, dan mengambil satu buah pistol miliknya yang ia taruh di atas meja ruang keluarga yang berada di lantai dua. Menyadari situasi yang buruk kemungkinan besar akan terjadi. Dirinya pun juga segera membangunkan Nadia yang sedang terlelap itu, meskipun ia tahu itu adalah perbuatan yang tidak sopan, apalagi sampai mengganggu seorang ibu hamil yang tengah beristirahat.


"Nadia ...! Nadia!" ucap Siska dengan sedikit berbisik sembari menepuk-nepuk lengan milik sahabatnya.


"Hmm?" gumam Nadia sedikit tersadar lalu menyeletuk, "kamu mau ke kamar mandi? Itu langsung saja tidak perlu sungkan, nggak ada hantu juga, kok," celetuknya sembari mengarahkan telunjuknya ke arah pintu kamar mandi yang tertutup di ujung kamar. Kedua matanya masih setengah terpejam, dan kesadarannya belum sepenuhnya kembali.


Perlahan Nadia beranjak duduk di atas ranjangnya dengan wajah kebingungan, namun tetap terlihat muka bantal itu yang belum hilang. "Kenapa? Ada apa?" tanya Nadia membuka paksa kedua matanya.


"Mereka ada di sini, Clone Nostra!" bisik Siska.


Betapa terkejutnya Nadia mendengar hal tersebut. Yang ia ketahui adalah Clone Nostra tidak akan mungkin berkeliaran di malam ini, karena tentu mereka berada di Pulau La Luna dan Berlin pergi ke sana.


...


Beberapa saat kemudian, keduanya pun bersiap-siap untuk segera berangkat. Nadia berencana pergi bersama dengan Siska menggunakan mobil cepat milik sang suami. Tentu saja bukan dirinya yang menyetir, karena akan berbahaya mengingat kondisi tubuhnya sedang mengandung calon bayi.


"Di mana mobilnya?" tanya Siska ketika berada di ruang tamu.


Melalui balik jendela, Nadia menujuk ke sebuah garasi yang letaknya berseberangan dengan teras rumah, "di sana," ucapnya.

__ADS_1


"Namun apakah kau pernah mengendarai mobil cepat?" lanjut Nadia.


Sembari sibuk mempersiapkan amunisi senjata apinya. Siska pun menjawab, "belum pernah sama sekali. Mungkin ini akan menjadi pengalaman pertamaku mengemudikan mobil sport seperti itu."


"Tentu aku akan berusaha untuk tidak menabrak, kalaupun lecet akan ku ganti," sambung Siska kemudian menatap mata sahabatnya yang terlihat cukup menyimpan ketakutan.


"Ku-kurasa ... Berlin tidak akan marah. Kalaupun begitu, biar aku yang menanganinya," jawab Nadia.


Nadia tiba-tiba mengambil langkah sigap menuju ke dapur dan ke sebuah brankas kecil yang menempel di antara dinding-dinding di sana.


"Nadia, kamu mau ke mana?!"


"Aku juga akan mengambil pistol, entah diperlukan atau tidak nantinya namun buat jaga-jaga," jawab Nadia.


Ketika ibu hamil itu kembali dengan pistol yang telah di tangannya. Tiba-tiba saja suara yang cukup menggelegar dan mengejutkan pun terdengar.


BOOM ...!


Suara ledakan, dan suara tersebut berasal dari puncak bukit kota yang di mana di sana adalah letak dari Gedung Balaikota. Di saat yang bersamaan, orang-orang berbaju putih itu kembali memenuhi area perumahan elite milik Nadia dengan senapan-senapan mereka.


"Ti-tidak mungkin ...! Mereka ada di mana-mana, mereka bersenjata." Nadia gemetar ketakutan di saat kedua matanya menangkap adanya lebih dari lima orang yang berhenti tepat di depan gerbang rumahnya.


Siska dapat melihat kepanikan dan ketakutan yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Dirinya pun menggenggam salah satu tangan sahabatnya dan kemudian mengatakan, "aku akan melindungi dan menjagamu, itulah amanah yang sudah Berlin percayakan dan berikan kepadaku."


...


Di antara semak-semak atas bukit tepat di seberang jalan kediaman milik Berlin dan Nadia. Terdapat seorang pria berpakaian serba hitam yang tampak memantau keramaian yang ada di depan gerbang rumah tersebut. Di tangannya terdapat sebuah pistol berwarna hitam metalik.


"Hufftt!!" pria muda itu menghela napas panjang dan kemudian berkata, "para bedebah itu beneran muncul, dong?!"


"Baiklah, aku akan menangani keroco-keroco itu," lanjutnya dengan tatapan tajam mengarah ke kumpulan orang-orang yang mondar-mandir tepat di depan kediaman Berlin dan Nadia. Ia mengokang pistol yang digenggamnya, dan pistol tersebut telah siap untuk ditembakkan.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2