
Malam sebelum hari eksekusi tiba. Garwig kembali mengunjungi Federal, dan memastikan keadaan tersangka Tokyo El Claunius. Pria berbahaya itu tidak ada yang berubah, bahkan juga tidak ada yang berbeda dari ekspresinya seperti biasa. Setelah memastikan tahanan yang akan mendapatkan hukuman eksekusi mati. Garwig beranjak menuju ke sebuah tempat yang nantinya akan menjadi saksi eksekusi tersebut dilaksanakan.
Sebuah tempat yang luas seperti lapangan, namun di dalam ruangan. Di lapangan tersebut sudah terdapat dinding yang nanti di dinding tersebut si tersangka akan berdiri dan bersiap menerima tembakan eksekusi. Berjarak cukup jauh dari dinding, terdapat sebuah pembatas yang tidak boleh dilewati, dan dari balik pembatas tersebut akan ada beberapa penembak yang diutus untuk melakukan tembakan eksekusi.
Ketika sedang meninjau lapangan eksekusi, seorang pria berpakaian taktis bernama Prime datang menghampirinya dan memberikan laporan mengenai eksekusi yang akan dilaksanakan esok hari. Beberapa laporan itu juga memuat soal personel-personel pilihan yang sudah siap untuk melakukan eksekusi ke arah terpidana mati. Regu penembak itu tidak diberikan kejelasan mengenai siapa-siapa saja nama mereka, karena identitas mereka benar-benar dijaga tertutup oleh pihak berwajib.
Mental, tentu kondisi psikis yang akan dihadapi oleh regu tembak, tak hanya tersangka yang akan mendapat serangan mental atau gangguan mental ketika waktu eksekusi sebentar lagi dilakukan. Mengeksekusi seseorang, tentu bernyawa, adalah tindakan yang sudah dipastikan mengambil nyawa seseorang. Tindakan tersebut tentu akan memperlihatkan darah dan kekejaman. Hati serta kondisi psikis seseorang yang melakukan eksekusi atau bahkan hanya melihat bisa saja terganggu.
Garwig menerima semua data laporan mengenai eksekusi yang akan dilakukan esok hari, dan kemudian bernajak pergi dari lapangan eksekusi bersama dengan Prime untuk menemui masing-masing personel yang akan bergabung dalam regu tembak. Dirinya ingin memastikan beberapa hal dari orang-orang itu.
"Senapan yang akan digunakan ada sekitar sepuluh senapan, beberapa di antaranya hampa, namun beberapa di antaranya terisi peluru tajam yang akan ditembakkan mengarah tepat ke jantung terpidana. Para personel di regu tembak tidak diberitahu apakah senapan yang mereka gunakan hampa atau terisi." Prime sempat memberikan kejelasan mengenai eksekusi mati yang akan dilaksanakan esok hari kepada Garwig, sembari berjalan melalui lapangan utama Federal yang kosong dan sepi bersama dengan Garwig.
Garwig memahami hal tersebut, dan dirinya juga sudah mengetahui setiap tata cara bahkan hingga ada beberapa metode hukuman mati selain dengan menembak terpidana mati.
Suasana malam yang sungguh dingin, sunyi, sepi, dengan angin yang berhembus lembut. Tidak ada bintang ataupun bulan di langit malam ini, benar-benar gelap dan kelam. Suara-suara jangkrik atau hewan malam lainnya juga tidak terdengar di malam ini, benar-benar sunyi.
***
__ADS_1
Perlahan waktu terus berjalan, dan mentari pagi mulai terlihat. Tepat pada pukul lima pagi, terpidana Tokyo El Claunius langsung digiring, dibawa ke sebuah kantin untuk diberikan kesempatan menikmati sarapan terakhirnya. Kantin di pagi ini sangat sepi, tidak ada tahanan lain selain Tokyo El Claunius, serta beberapa pengawal yang menjaga dirinya dengan begitu ketat.
Pria itu makan dengan santai dan tenang, seolah tidak akan terjadi apa-apa. Ekspresi yang sungguh tidak dapat diduga, meskipun ia tahu dirinya akan menghadapi kematian, namun pria itu berekspresi datar seolah tidak akan terjadi apa-apa. Tentu hal tersebut tidak begitu mengejutkan para aparat taktis yang sedang menjaga Tokyo El Claunius ketika sedang menikmati sarapan terakhirnya.
Beberapa tahanan lain yang juga terpidana mati di sebelum-sebelumnya juga melakukan hal yang sama, tidak ada ekspresi sama sekali seolah sudah siap menerima kematian tersebut. Dan kini terjadi kembali di Tokyo El Claunius, yang hanya berekspresi datar.
Waktu terus berlalu, jam menunjukkan pukul enam pagi tepat. Waktu sarapan Tokyo El Claunius telah habis, dan ia langsung dibawa menuju ke lapangan eksekusi tanpa harus menghabiskan waktu lagi. Beberapa aparat taktis terlihat begitu menjaganya, masuk ke dalam sebuah gedung, dan di dalam gedung tersebut terdapat sebuah lapangan yang amat luas yang memang menjadi tempat eksekusi.
Para penembak terlihat sudah siap, dengan senapan-senapan yang sudah berada di tangan mereka. Personel pada regu tembak melibatkan beberapa dari pihak militer, dan beberapa dari perwira penegak hukum. Mereka tidak ada yang tahu, dan tidak diberitahu apakah senapan yang mereka gunakan terisi peluru atau tidak. Mereka hanya menjalankan tugas.
Semuanya telah siap, terpidana juga sudah berdiri di posisi yang sudah seharusnya, sedangkan regu penembak juga sudah berada di posisinya. Prawira di tempat itu karena dirinya yang diberikan amanah untuk menjadi komando eksekusi ini. Lelaki berseragam aparat itu berdiri di belakang para penembak, dan memeriksa waktu yang ada di jam tangannya.
"Bersiap!" titahnya lantang, ketika waktu eksekusi sudah mulai dekat dengan jadwal yang sudah ditentukan.
Detik demi detik berlalu, hingga beberapa menit terlewati. Berdebar? Tentu hal itu yang dirasakan oleh setiap orang yang terlibat dalam eksekusi ini, apalagi para personel dari regu tembak. Mereka tidak tahu siapakah di antara mereka yang akan menghilangkan nyawa terpidana, dan mereka hanya menjalankan tugas dengan ketidaktahuan mereka atas senapan yang mereka pakai.
Prawira menghela napas, menurunkan lengan kirinya, selesai melihat jam tangan. Ia menatap pria bernama Tokyo El Claunius itu dengan tatapan prihatin. Satu tangan kanannya sedikit terangkat sebagai pertanda jika ia menurunkannya maka perintah akan keluar dan tembakan akan dilancarkan.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, dan menunjukkan bahwa sudah berada di jadwal eksekusi mati yang harus segera dilakukan. Prawira pun segera mengambil keputusan, menurunkan perlahan tangan kanannya sembari memberikan perintah, "lakukan! Tembak!" ucapnya, lantang dan tegas.
DOR ...!!!
Satu tembakan dilakukan secara serempak, dan menargetkan ke dada kiri milik terpidana. Tubuh Tokyo El Claunius langsung terkulai, jatuh, dan tidak bernyawa seketika dengan kondisi bersimbah darah. Prawira sendiri tidak kuat menyaksikan hal tersebut, bahkan ketika tembakan terdengar dirinya memilih untuk memejamkan mata.
Serangan psikis sepertinya dirasakan olehnya, dan juga didapatkan beberapa personel dari regu tembak. Mereka langsung diamankan, dijauhkan dari segala senjata api maupun tajam, dan langsung dibawa oleh pihak medis menuju ke ruang medis untuk dilakukan pemeriksaan mental dan psikologis. Beberapa pihak medis dari aparat yang juga hadir di sana segera bergegas membereskan jasad Tokyo El Claunius.
Prawira segera meninggalkan ruangan tersebut, dan menemui Garwig di lapangan utama Federal, melaporkan bahwa eksekusi mati telah berhasil dilaksanakan. Garwig mengangguk paham, terlebih dirinya dapat melihat jasad Tokyo El Claunius yang sudah dievakuasi keluar dengan menggunakan kantung jenazah.
"Kerja bagus, semuanya. Dengan ini kita nyatakan kasus telah terselesaikan."
...***...
...~ Tamat ~...
...Terima Kasih untuk Semua Pembaca! :3...
__ADS_1