
"Bagus, meskipun informasi itu sedikit, namun berharga." Tokyo terlihat menyeringai senang ketika dirinya duduk bersantai di halaman belakang vila mewahnya. Lantaran dirinya mendengar serta mendapatkan informasi yang menarik dari informan miliknya melalui pesan singkat yang dikirimkan pada ponsel miliknya.
Pada vila itu terpantau banyak sekali anak buahnya yang sedang mempersiapkan sesuatu. Mereka semua mempersiapkan segala perlengkapan seperti akan menghadapi sesuatu yang penting.
"Nico, kau sudah siap untuk memimpin bagianmu?" tanya Tokyo kepada rekannya yang baru saja datang menghampirinya.
"Tentu saja," jawab Nico berdiri di samping Tokyo.
"Hufftt ...! Permainan yang ditunggu-tunggu akan segera dimulai," gumam Tokyo lalu beranjak pergi meninggalkan Nico sendirian di sana.
Ketika Tokyo sudah pergi, Nico terlihat memikirkan dan mencurigai sesuatu. Dari semalam ketika pertemuan dengan dua kelompok lain, dirinya dapat merasakan ambisi yang cukup menggebu dari rekannya itu. Namun ambisi itu bukanlah untuk membantu dirinya untuk membalaskan dendamnya.
Namun Nico sendiri tidak ambil pusing, karena yang terpenting baginya adalah mendapatkan sebuah bantuan ataupun perantara untuk bisa membalaskan dendamnya. Akibat apa yang dilakukan Berlin pada saat kekacauan yang disebabkan oleh Mafioso beberapa bulan yang lalu. Kini di dalam pikiran dan hatinya hanyalah berisikan berbagai rencana untuk bisa mencelakai Berlin dan orang-orangnya.
"Aku tak peduli dengan apa yang sebenarnya kau inginkan, Tokyo." batin Nico menatap tajam Tokyo yang masih berjalan memasuki pintu belakang vila.
***
Pukul 10:02 pagi.
"Berlin, setelah ini aku akan pergi menemui Netty dan Siska di Kediaman Gates. Boleh, 'kan?" tanya Nadia ketika membantu suaminya bersiap-siap di ruang tamu untuk berangkat.
Berlin tersenyum dan menjawab, "iya, aku juga sudah memperbolehkannya, 'kan?" jawabnya. "Memangnya jam berapa kamu akan pergi ke sana?" tanyanya.
"Lima menit lagi, sih." Nadia menjawab sembari merapikan jaket Ashgard yang dikenakan Berlin.
"Ya sudah, kita bareng aja!" sahut Berlin.
Nadia merasa tidak enak dengan keputusan itu, lantaran arah menuju ke Markas Ashgard dengan Kediaman Gates sangatlah berlawanan, dan juga letak Kediaman Gates cukup jauh dari markas.
"Nggak perlu, aku bisa memesan taksi, kok!" cetus Nadia namun tidak berani menatap kedua mata milik lelakinya.
__ADS_1
Berlin tiba-tiba semakin mendekatkan dirinya dan berkata, "padahal aku ingin mengantarmu, apakah tidak boleh? Bahkan aku juga ingin menjemputmu nantinya jika kamu sudah selesai," ucapnya sembari mengangkat perlahan dagu lembut milik wanitanya dan menatapnya dengan tatapan ingin.
Pandangan mereka saling beradu dan berjarak sangat dekat, bahkan mereka saling bisa merasakan napas satu sama lain. Nadia dibuat sungguh berdebar dan tersipu. Dirinya hanya bisa terdiam seribu bahasa.
"Ba-baiklah, te-tetapi ... jangan sampai terlambat jemputnya!" kata Nadia sedikit tergugup.
Berlin tersenyum ditambah lagi dirinya dapat menyaksikan wajah cantik yang sedang tersipu dibuatnya. "Iya, sayang. Aku janji akan tepat waktu!" ucapnya memandang lembut istri cantiknya. Dirinya pun melepas sentuhannya dari dagu milik istrinya, dan kemudian segera bersiap untuk bergegas mengantar wanitanya.
"Ka-kalau begitu, aku bersiap-siap dahulu!" Nadia pun kembali ke kamar lantai atas untuk berganti pakaian dan bersiap untuk berangkat.
***
Setelah semuanya selesai, Berlin pun berangkat mengantarkan Nadia terlebih dahulu sebelum dirinya akan berkumpul dengan rekan-rekannya. Meskipun jaraknya sangat berlawanan dari markas, dan cukup jauh. Itu tidak menjadi masalah baginya, selama ia bisa mengantarkan dan sedikit berduaan lebih lama di perjalanan bersama istrinya.
"Kalau aku ikut latihan bersamamu, apakah boleh?" tanya Berlin sembari terus fokus untuk menyetir.
"Um, boleh-boleh saja, sih. Tetapi bukannya itu akan mengganggu pekerjaan mu?" jawab Nadia melirik dan menatap suaminya.
"Iya, sih ...," gumam Berlin.
"Kenapa malah senyum-senyum begitu? Apa aku terlihat aneh?" tanya Nadia lalu menunduk memperhatikan pakaiannya sendiri.
"Hahaha," Berlin terkekeh dan kemudian berkata, "sama sekali tidak terlihat aneh, kok. Hanya saja cukup jarang melihatmu tanpa menggunakan dress, biasanya kamu tak jauh-jauh dari dress. Dan ternyata ... kamu tetap terlihat sangat cantik."
"Hmph! Gombal!" Nadia mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya yang tersipu ke arah jendela mobil. Sedangkan Berlin hanya tertawa saja melihat sikap itu.
Setelah sampai di Kediaman Gates dan disambut oleh Netty dan Siska yang sudah hadir di sana. Tanpa membuang waktu la lagi, Berlin pun langsung saja segera bergegas untuk bertemu dengan rekan-rekannya.
"Jangan memaksakan diri, ya!" ucap Berlin kepada istrinya ketika turun dari mobil.
"Baik!" sahut Nadia tersenyum dan terlihat sangat bersemangat.
__ADS_1
***
Di dalam perjalanannya menuju markas. Berlin tiba-tiba mendapatkan panggilan suara dari salah satu rekannya. Tampaknya mereka sedang mengalami sebuah kendala yang sulit untuk diselesaikan tanpa adanya peran Berlin.
"Bos! Gawat!" suara yang ia kenal yaitu suara milik Asep salah satu rekannya.
Mendengar nada bicara yang cukup panik itu membuat Berlin semakin penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana. Sembari menyetir mobil, ia menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kent ... dia mendapatkan masalah dengan Red Rascals!" pekik Asep. Pekikan itu cukup membuat Berlin menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Red Rascals?!" Berlin cukup tercekat ketika mendengar nama yang disebutkan oleh rekannya itu.
"Jelaskan padaku di markas, aku saat ini sedang dalam perjalanan!" ucap Berlin dengan tenang.
"Tidak, tidak! Saat ini kami sedang berada di rumah sakit," sela Asep.
"Rumah sakit?"
Tentu saja apa yang dikatakan oleh rekannya itu cukup membuat dirinya terkejut. Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan itu terlintas di kepalanya, dan rasa khawatir muncul.
Berlin pun mengakhiri panggilan suara itu, dan segera bergegas melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit kota untuk menemui rekan-rekannya. Di kepalanya banyak sekali yang ia takutkan dan cemaskan. Ditambah lagi dirinya mendengar sebuah nama yaitu Red Rascals. Dirinya sangat mengetahui asal-usul nama itu.
Sesampainya di rumah sakit, Berlin langsung disambut oleh dua rekannya yaitu Kimmy dan Asep. Raut wajah mereka terlihat sangat takut dan mengkhawatirkan sesuatu.
"Ayo, ikut kami, bos!"
Berlin pun mengikuti langkah kedua rekannya masuk ke dalam rumah sakit melewati lobby. Dirinya melalui lorong ruang perawatan dan operasi. Ketika berjalan melalui lorong tersebut, Berlin langsung dapat menemui semua rekannya. Mereka semua terlihat sangat resah, dan seperti sedang menunggu serta mengharapkan sesuatu.
"Apa yang ...?" Langkah Berlin langsung terhenti ketika melihat melalui jendela kecil pada pintu ruang operasi. Dirinya langsung terdiam, terpaku, dan tidak berkata-kata. Meskipun jendela itu blur dan tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi dirinya dapat mengenali siapa pasien yang sedang berada di ruang operasi itu.
__ADS_1
.
Bersambung.