Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Jaket Ungu #34


__ADS_3

Masih di hari yang sama, namun waktu sudah menunjukkan pukul lima sore hari. Berlin baru saja selesai dengan urusannya di Balaikota. Tentang rencana itu, dan semua pembicaraan yang dilakukan. Dirinya sudah mengetahui semuanya. Kini tinggal dirinya yang membuat keputusan. Apalagi dirinya merasa masih memiliki permasalahan dengan Nicolaus dan Clone Nostra yang belum selesai.


Ketika Berlin hendak berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman Balaikota. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, dan seseorang yang meneleponnya adalah salah satu rekan kepercayaannya.


"Asep? Tumben sekali?"


Berlin mengerutkan keningnya. Dirinya bingung, mungkinkah ada yang penting? Biasanya Kimmy yang meneleponnya, dan itupun untuk melaporkan segala urusan tentang Ashgard. Sangat jarang sekali Asep menghubungi dirinya.


Tanpa basa-basi dirinya pun segera mengangkat telepon tersebut.


"Bos, gawat! Kimmy dan Kina sedang terkepung!"


Betapa terkejutnya ketika Berlin mendengar apa yang dikatakan oleh Asep. Dirinya bingung dengan situasi apa yang sebenarnya terjadi.


"Hah? Apa? Bagaimana maksudnya?!" sahut Berlin sangat bingung mendengar kabar ini.


"Langsung saja bergabung di radio, Bos! Aku akan menjelaskannya singkat," sahut Asep.


Kabar ini sangatlah mendadak. Berlin pun mengakhiri panggilan itu dan hendak bergabung di radio komunikasinya. Di saat yang bersamaan, Garwig datang menghampirinya dengan berkata, "aku kira kau sudah pulang?" Namun kata-kata itu langsung berubah ketika melihat wajah bingung dan panik Berlin. "Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya kemudian.


Berlin pun menjawab dan sedikit menjelaskannya kepada Garwig. Setelah mendengar soal kabar tentang apa yang terjadi kepada salah satu rekan Berlin. Garwig langsung mengambil keputusan dan tindakannya.


***


Berlin langsung memacu kecepatan tinggi pada mobil yang dikendarainya. Di tengah perjalanan, tiba-tiba terlintas sesuatu pada pikirannya. Ia menyempatkan diri untuk meraih ponselnya yang tergeletak di bangku sebelahnya.


"Berlin? Padahal baru saja aku ingin mengirim kabar kalau aku sudah selesai periksa."


Terdengar suara wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Nadia istrinya. Berlin belum mengucapkan sepatah kata. Nadia sudah terlebih dahulu berbicara. Nada bicaranya terdengar seperti orang yang sedang bahagia. Namun itu tidak terpikirkan dan tidak disadari oleh Berlin.


Sembari terus fokus menyetir. Berlin berbicara pada telepon tersebut dengan nada bicara tenang. "Syukurlah kalau begitu. Bagaimana hasilnya? Kondisimu baik-baik saja, 'kan?" Meski nada bicaranya tenang. Tetapi terdapat sebuah kekhawatiran di baliknya.


Nadia terdengar cukup kikuk untuk menjawabnya. "A-aku baik-baik saja, kata dokter memang harus banyak istirahat saja," jawabnya berusaha menyembunyikan hasil pemeriksaan sebenarnya dari Berlin. Dirinya ingin membuat kejutan soal itu.


Berlin menghela napas lalu berkata, "sayang, sepertinya malam ini aku tidak bisa makan malam bersamamu. Maafkan aku, ya?"


Nadia terdiam. Dirinya menyimpan rasa sedih dan kecewa. Namun hal ini sering terjadi sebelumnya. "Apa sedang ada masalah?" tanyanya.


"Iya, dan sepertinya aku juga akan pulang sangat terlambat malam ini," jawab Berlin.


Berlin belum memutus panggilan suara itu. Sedangkan Nadia hanya diam selama beberapa detik.

__ADS_1


"Apakah ... masalah itu berurusan dengan ... Clone Nostra?" Nadia tiba-tiba melemparkan pertanyaan itu dengan nada rendah yang penuh dengan kekhawatiran.


Jujur saja Berlin masih belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan apakah ini ada hubungannya dengan Clone Nostra. Tetapi tampaknya ia telah membuat istrinya khawatir. Dirinya pun menjawab, "tidak, kok. Tenang saja!" serunya.


"Ya sudah, deh. Kamu tetap berhati-hati, ya! Aku menunggumu di rumah," ucap Nadia sedikit menghela napas lega ketika mendengar jawaban itu.


Berlin tersenyum mendengarnya, "iya, sayang. Aku akan berhati-hati," jawabnya kemudian membuat hati milik Nadia merasa tenang mendengar jawaban tersebut.


***


Sesampainya Berlin di markas Ashgard. Ia langsung mendapati semua rekan-rekannya tengah bersiap-siap. Dirinya berjalan menghampiri Asep dan meminta kejelasan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Di tempat ini, dirinya juga tidak dapat melihat keberadaan Kimmy berada.


Asep menjelaskan singkat seraya mempersiapkan pistol dan perlengkapannya. Begitu pula dengan Adam yang juga ikut membuat semuanya menjadi jelas.


"Lokasinya saat ini berada di pinggiran Timur Kota. Mereka berdua tidak memiliki maksud dan tujuan apapun selain hanya untuk jalan-jalan. Namun di tengah-tengah, mereka tiba-tiba saja dihambat oleh orang-orang berjaket ungu," tutur Asep.


"Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang?" tanya Berlin sembari mengambil dan mempersiapkan pistol miliknya.


"Mereka sempat melarikan diri ke Distrik Tenggara, dan kini ... mereka terpojok di salah satu dermaga di sana," jawab Adam.


Berlin mengangguk paham setelah mendengarkan sedikit penjelasan itu. Meskipun dirinya tidak tahu jelas kronologinya. Tetapi secara garis besar dirinya mengetahui bahwa kedua rekannya itu sedang dalam bahaya, dan lawannya kali ini adalah orang-orang berjaket ungu.


Adam mengetahui dan mengenal seluk-beluk lokasi dermaga di mana Kimmy dan Kina berada. Tentu ini membuat Berlin sedikit lebih mudah untuk memberikan arahan serta perintahnya kepada rekan-rekannya.


***


"Sudahlah, kalian tidak bisa kabur lagi," ucap seorang pria dengan jaket ungunya menghampiri Kimmy dan Kina yang sudah terpojok di ujung dermaga. Di belakang pria itu terdapat banyak sekali rekannya yang mengikutinya.


Pria itu tidak mengenakan topeng atau masker untuk menutup identitas wajahnya, tidak seperti rekan-rekannya yang berdiri di belakangnya. Dengan begitu, Kina dan Kimmy dapat melihat serta mengingat wajah pria itu. Namun meski begitu, mereka berdua tampak cukup ketakutan. Lantaran mereka tahu siapa yang sedang mereka hadapi saat ini. Orang-orang jahat itu tak hanya berjumlah satu atau dua orang, melainkan lebih dari sepuluh orang, dan mereka semua bersenjata.


"Berlutut, kalian!" pinta salah satu rekan dari pria itu dengan ketus seraya menodongkan senjata apinya.


Tidak ada cara dan pilihan lain selain menurut dan bersikap kooperatif untuk sementara. Kimmy dan Kina pun berlutut di ujung dermaga itu, lalu sedikit menunduk. Mereka hanya berharap pertolongan segera datang. Harapan mereka sangat besar, tidak peduli mau polisi ataupun Berlin dan teman-temannya yang datang menolong.


"Hei, kurasa aku mengetahui dirimu," ucap pelan nan dingin pria pertama seraya mendekati dan mengangkat perlahan dagu milik Kimmy. Ketika menatap pria di depannya dengan sangat dekat. Kimmy dibuat terkejut karena mengetahui siapa pria yang saat ini di hadapannya.


"Apa yang kau inginkan, Kibo Gates Matrix?" tanya Kimmy walau sedikit gemetaran ketika menatap ketajaman mata milik pria itu. Kina yang berlutut dan berada di sampingnya dibuat terkejut ketika mendengar nama itu.


Pria itu diam saja mendengar namanya disebut. Namun sepertinya tidak bagi satu rekan di sampingnya yang terlihat sangat marah ketika mendengar nama itu. "Berani-beraninya kau menyebutkan nama itu!"


PLAK!!

__ADS_1


Tiba-tiba saja tamparan keras mendarat ke pipi sebelah kiri milik Kimmy, dan membuatnya tersungkur kesakitan. Orang yang menamparnya adalah rekan dari pria yang ia panggil dengan nama Kibo itu.


"Apa yang kau lakukan! Beraninya memukul wanita! Keparat! Sialan!" pekik Kina sangat marah, ia sempat ingin memukul pria itu. Namun usahanya terpatahkan karena beberapa rekan pria itu langsung membungkam dan mengikat kuat kedua tangannya di belakang.


"Maafkan dia, dia memang suka seenaknya terhadap wanita," ucap pria bernama Kibo itu kepada Kimmy dan Kina. Matanya memandang ke arah Kimmy yang tampak kesakitan seraya memegangi pipi kirinya. Tidak terlihat belas kasihan pada mata pria itu.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kina mendekati Kimmy di sampingnya. Dirinya dapat melihat bekas merah yang tertinggal akibat tamparan yang sangat keras itu.


"Aku tidak apa-apa," jawab Kimmy mencoba untuk berani dan tegar, meski terlihat kedua bola matanya berkaca-kaca setelah mendapat tamparan itu. Kedua tangannya masih memegangi pipi kirinya yang masih terasa sakit.


"Apa yang kalian inginkan?! Apa kalian sudah puas dengan melihat temanku kesakitan?!" Kina membentak orang-orang berjaket ungu yang berdiri di hadapannya. Meskipun mereka semua terlihat membawa senjata. Tetapi itu tidak membuatnya takut untuk mengucap dengan nada tinggi dan terbawa emosi.


Pria bernama Kibo itu kembali mendekati kedua wanita yang berlutut di hadapannya, terutama kepada Kimmy. Ia berkata, "aku hanya ingin ... satu hal saja," ucapnya seraya memandangi pistol berwarna perak yang ia pegang. Beberapa kali ia meniup dan mengelap pistol itu dengan jemarinya.


"Aku hanya ingin ... bertemu dengan Berlin. Apakah bisa? Bisakah kau membuat Berlin datang ke sini? Dan aku ingin dia datang sendiri tanpa teman-temannya."


Kimmy yang tertunduk melirik tajam pria yang kini berdiri di depannya. Pria itu mendekatinya, lalu memberikan ponselnya kembali kepadanya yang sebelumnya dirampas oleh rekan-rekan dari pria itu. Dirinya disuruh menelepon langsung Berlin, dan meminta rekan prianya itu datang ke sini sendirian.


***


"Aku tahu orang-orang berjaket ungu itu," gumam Berlin menatap tajam kumpulan orang-orang berjaket ungu yang menyudutkan dua rekan wanitanya.


Berlin telah sampai di lokasi di mana kedua rekannya kini terpojok dan berlutut di ujung dermaga. Dirinya memantau dan melihat semua itu dari kejauhan, tepatnya dari atas sebuah gudang terbengkalai yang letaknya cukup jauh dari dermaga itu.


"Bos, apa kau memiliki rencana?" Asep bertanya kepadanya melalui radio komunikasi yang ia bawa.


Berlin telah memberikan arahan kepada semua rekannya untuk menyebar ke berbagai sisi. Kini keputusan ada di tangannya. Mereka tinggal menunggu perintah darinya selanjutnya. Bersiap dengan senjata api dan perlengkapan yang sudah dibawa. Semua rekannya tampak sangat siap melawan orang-orang berjaket ungu itu. Meskipun mereka tahu, posisi Ashgard sangat tidak diuntungkan dari segi jumlah.


Berlin melihat dengan tatapan tidak tega kepada dua rekan wanitanya yang tampak berlutut ketakutan di sana. Matanya tertuju kepada Kimmy yang tampak kesakitan memegangi pipinya.


"Ini jam berapa?" tanya Berlin kepada rekannya yang berdiri di sampingnya.


Adam yang mendengar pertanyaan itu dibuat bingung. "Um, jam ... tujuh lewat lima belas menit malam," jawabnya.


"Pukul tujuh lebih dua puluh lima menit, kita akan bergerak ke sana. Kau siapkan mobil dari sekarang!" Berlin mengucap sekaligus memberikan perintahnya dengan wajah datar nan dinginnya. Dalam sarung pistol berwarna hitam yang tergantung di pinggangnya. Telah siap sebuah pistol berwarna hitam bercampur perak. Pistol itu juga sudah terisi oleh beberapa butir peluru hingga penuh, dengan begitu Berlin dapat menggunakannya kapanpun ia mau.


Berlin menghela napas perlahan. Kemudian berkata dengan sendirinya, "Cassano, ya? Kira-kira siapa, ya, ketua dari kelompok itu?" ucapnya dengan pandangan tajam tidak terlepas dari orang-orang berjaket ungu di dermaga sana.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2