
Berlin menyampaikan permintaannya, apa yang ia dan rekan-rekannya butuhkan kepada Garwig dan permintaan itu dicatat oleh Siska sekretarisnya. Lelaki itu menyebutkan beberapa hal soal permintaan yang ingin ia sampaikan. Semua permintaannya diterima dan dicatat oleh Garwig, tidak langsung dikabulkan karena tentunya memerlukan proses untuk itu. Setelah menerima semua permintaannya, Garwig segera berpamitan dan bertolak dari tempat tersebut karena dirinya masih menanggung tanggung jawab atas pekerjaannya di Balaikota.
Melihat mobil SUV yang dikendarai oleh Garwig sudah pergi dari pekarangan dan menghilang di kelokan jalan. Berlin kembali masuk ke ruang tengah bersama dengan rekan-rekannya, dan berniat untuk sedikit membahas tugas yang baru saja diberikan oleh Garwig untuk Ashgard.
"Berdasarkan peta yang diberikan Garwig di antara berkas-berkas ini, kita bisa lihat bagaimana titik-titik krusial dalam strategi prosedur pengamanan yang diterapkan oleh pihak kepolisian," ucap Adam, berdiri dekat meja kaca ruang tengah, sedangkan Berlin duduk di salah satu sofa panjang yang ada di sana.
"Melihat prosedur pengamanan yang diterapkan, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lalu mengapa sampai kita harus turut ikut?" celetuk Aryo, melangkah kembali berkumpul dengan teman-temannya di ruang tengah dengan satu tangan menggenggam minuman kaleng.
Berlin menggeleng, menjawab pernyataan dan pendapat Aryo mengenai pengamanan tersebut dengan berkata, "buatan manusia tidak ada yang seratus persen sempurna, salah satu contohnya adalah cincin pengamanan yang diterapkan oleh pihak kepolisian."
Tatapan Berlin tajam dan serius, melihat garis-garis pengamanan yang ada pada peta di atas meja kaca itu, garis pengamanan yang dibuat oleh pihak kepolisian terlihat melingkari area pengadilan sehingga membentuk layaknya sebuah cincin dengan tiga lapis.
"Seketat apapun penjagaan yang mereka lakukan, pasti ada kelemahan di baliknya dalam bentuk apapun itu," ucap Berlin, melirik dan melihat setiap garis dan titik yang berwarna biru di peta yang terbentang di atas meja tersebut.
"Dan tugas kita adalah meminimalisir terjadinya hal yang tidak-tidak, serta menjadi informan untuk membantu aparat, bukankah begitu?" sela Bobi yang bersandar pada sebuah dinding putih tak jauh di belakang Berlin duduk.
"Kurang lebih seperti itu, bukan? Sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Garwig kepada kita baru saja," sahut Kimmy yang bersandar pada sisi samping sofa tepat di sebelah Berlin.
"Tetapi apakah kita benar-benar diperlukan? Meskipun terjadi hal yang tidak-tidak, aku yakin dengan banyaknya aparat ... pasti akan dapat mengendalikan situasi," ucap Rony.
Galang yang mendengar ucapan Rony, merasa cukup tidak sependapat dengan rekannya itu, "apakah mereka benar-benar bisa 'mengendalikan' situasi, setelah apa yang kita ketahui tentang mereka yang dibuat kewalahan oleh Clone Nostra pekan lalu?"
__ADS_1
"Aku cukup sependapat dengan Galang, sih. Memang otoritas keamanan di kota ini dipegang oleh aparat, namun kita tidak dapat sepenuhnya percaya kepada mereka. Bukankah begitu, Bos?" sahut Asep, kemudian menanyakan apakah Berlin juga sependapat dengan dirinya. Sepengetahuan dirinya dan juga rekan-rekannya, dari dahulu Berlin adalah salah satu orang yang tidak dapat sepenuhnya percaya dengan aparat apalagi anggota polisi, meskipun keluarganya sendiri adalah petinggi kepolisian.
Berlin dari tadi terlihat hanya diam dengan tatapan sedikit tertunduk melihat peta pemberian Garwig, dan membiarkan rekan-rekannya berbicara. Mendengar pendapat dan pertanyaan salah satu orang kepercayaannya, membuat Berlin terpecah dari lamunannya. Ia menghela napas sejenak, dan berkata, "ya, tidak dapat sepenuhnya percaya, namun bukan berarti tidak percaya."
Lelaki berjaket biru putih itu kembali mengangkat kepalanya, menatap satu-persatu wajah rekan-rekannya yang rata-rata duduk serta berdiri di depannya, sebelum kemudian berkata, "kita akan menjalankan tugas sesuai dengan kontrak yang tertulis, dan apapun yang terjadi akan kita hadapi bersama jika memang itu sesuai dengan kontrak kita, paham?"
Rekan-rekannya terlihat sangat patuh dan tunduk, menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata beberapa, "paham, bos!"
"Dimengerti!"
"Baik!"
Adam menoleh, menatap Berlin dan kemudian melemparkan sebuah pertanyaan dengan berkata, "lalu apa rencanamu, Bos?"
Namun lelaki itu belum selesai berbicara. Menyadari pergerakan Asep yang berpindah, dan bersandar tepat di belakang sofa yang didudukinya. Berlin pun langsung mengatakan, "kau siap untuk bermain di dunia maya, 'kan?"
Asep terkekeh kecil mendengar pertanyaan yang ia merasa tidak perlu lagi dipertanyakan, "tentu saja, kau meragukan kemampuan ku?"
Berlin tersenyum senang mendengar jawaban tersebut, "bagus, sepertinya kita memerlukan beberapa informasi tambahan untuk pengetahuan kita, karena pengetahuan adalah salah satu senjata yang harus kita miliki," lanjutnya.
***
__ADS_1
Pukul 17:00 sore.
Seorang pria berjaket merah menginjakkan kakinya di atas pasir pantai berwarna cream dan memiliki tekstur yang terasa lembut. Angin berhembus sangat kencang di sore menjelang pergantian menuju ke malam hari ini, ditambah dengan semakin mengganasnya ombak yang berkali-kali menghantam kokohnya batu-batu karang. Pemandangan matahari yang sudah berada di ujung barat juga dapat disaksikan dari bibir pantai ini.
Felix menghirup udara dan merasakan aroma air laut, dan kemudian kembali melepaskannya. Ia sempat memejamkan mata untuk beberapa saat, sebelum akhirnya terbuka kembali. Di saat yang bersamaan, seorang wanita yang terlihat sangat dekat dengan dirinya, perlahan menghampiri laki-laki itu.
"Seperti permintaan mu, kami sudah berhasil mengumpulkan beberapa dari Clone Nostra yang tersisa," ucap wanita itu, terkesan sungguh lembut, sesuai dengan parasnya yang terlihat sangat cantik. Namun sayangnya, dibalik kecantikan itu sepertinya menyimpan keburukan di dalam hatinya, itu dapat terlihat dari kedua iris matanya yang tajam berwarna cokelat.
"Bagaimana dengan aset-aset yang sempat disebutkan oleh Clovis? Apakah kau mengetahui sesuatu?" cetus Felix bertanya soal aset milik Clone Nostra. Laki-laki itu tampak sungguh antusias dan memiliki sebuah ambisi tersendiri untuk aset-aset tersebut. Apalagi mengetahui dan mengingat Clone Nostra adalah kelompok yang besar, pasti memiliki banyak aset dan harta yang berharga juga.
"Mereka masih tutup mulut soal itu, terutama Clovis. Kami masih belum mengetahui apapun soal apa saja aset-aset itu, berapa jumlahnya, dan di mana saja keberadaannya," jawab perempuan itu, berdiri dan sangat dekat dengan Felix sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya dengan manja pada salah satu bahu milik laki-laki tersebut.
"Jujur saja, aku tidak bisa sembarangan membunuh mereka, karena kunci aset-aset itu berada di tangan mereka," ucap Felix, membiarkan wanitanya bersandar pada bahunya, dan dengan pandangan memandangi ke arah pemandangan sunset yang indah.
Wanita itu menghela napas dan kemudian berkata, "jadi ... mau tidak mau kita harus benar-benar melakukannya?"
"Ya, kurasa begitu. Kita akan tampil dan melakukan aksi di hari yang penting itu, dan kurasa kita akan menarik perhatian banyak pihak," ucap Felix, terlihat cukup menyimpan rasa kekhawatiran soal rencana tersebut.
Wanita yang berada di sandarannya, tiba-tiba saja mengangkat kembali kepalanya, menoleh dan menatap Felix dengan jarak yang sungguh dekat, bahkan kedua hidung mereka hampir bersentuhan. Dengan tatapan yang dalam itu ia berkata, "kita pekerjakan saja Clone Nostra untuk mengerjakan rencana mereka sendiri, dan kita bersikap seolah membantu sesuai dengan apa yang sudah tertulis pada hitam di atas putih."
"Kita hanya perlu sedikit menjadi badut pertunjukan yang seolah bisa dipercaya, sebelum kemudian mengetahui dan mengambil apa yang kita inginkan. Bagaimana dengan cara itu?" lanjut wanita itu dengan intonasi yang sungguh pelan dan lembut, tatapan yang tajam, serta senyuman tipis yang terkesan sangat licik terpampang.
__ADS_1
.
Bersambung.