
Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam di rumah sakit dalam melakukan pemeriksaan kandungan. Tepat pada pukul setengah dua belas siang, Berlin bersama dengan istri dan putrinya pun sudah dalam perjalanan untuk kembali ke vila lagi. Tidak banyak waktu bagi Berlin di hari ini untuk bersantai dengan keluarga kecilnya, karena mengingat hari ini bukanlah akhir pekan, dan ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh Ashgard untuk persidangan lusa.
Sepanjang perjalanan, Berlin memilih rute yang sedikit memutar, melalui tepian kota dan area perbukitan di sebelah timur kota. Mengingat kemacetan yang ia lalui pagi tadi, dirinya tidak ingin terkena hal yang sama ketika dalam perjalanannya kembali.
"Papa, ini langsung pulang, ya? Enggak jalan-jalan dahulu?" tanya Akira, duduk di kursi tengah, memandang spion tengah untuk dapat sedikit melihat sosok Berlin yang tengah menyetir.
Mendengar pertanyaan tersebut, Berlin tersenyum lembut dan menjawab, "jalan-jalan, tetapi tidak lama, ya ...! Papa harus kembali kerja setelah ini," jawabnya, menyempatkan untuk melirik spion tengah mobil dan memandang kepada Akira yang duduk di belakangnya.
"Memangnya masih ada penjahatnya, ya? Sampai Papa harus sibuk banget," cetus anak itu, kembali bertanya dengan ekspresi polos bercampur penasaran.
Nadia sempat melirik kepada Berlin setelah mendengar apa yang diucap oleh anak itu. Lelaki itu sempat menghela napas perlahan, sebelum akhirnya menjawab, "iya, sayang, masih banyak penjahat di luar sana. Maaf, ya, kalau Papa terlalu sibuk."
Akira tiba-tiba saja tertawa kecil dan tersenyum lebar sembari mengatakan, "nggak apa-apa, yang penting Papa jangan sibuk pas akhir pekan!" ucapnya.
Berlin sempat tertegun dan terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya. Ia sempat melirik kepada istrinya sembari tersenyum setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Akira padanya.
"Iya, saat akhir pekan Papa 'kan sibuknya sama kamu, sama Mama juga," ucap Berlin, tersenyum hangat sembari melirik ke arah spion tengah, melihat ekspresi riang dari putri cantiknya yang duduk manis di belakang.
Berlin kembali diam setelah berbicara seperti itu, mengingat kembali apa yang barusan dikatakan oleh putrinya untuknya. Kata-kata itu seolah menjadi pengingat untuknya tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga membuatnya tidak mempedulikan orang-orang disekitarnya.
__ADS_1
"Sibuk boleh, tetapi jangan sampai terlena dengan kesibukanmu, ya ...!" timpal Nadia tersenyum sembari menoleh untuk menatap suaminya. Ia sedikit menambahkan kata-kata Akira untuk Berlin.
"Iya, ingatkan aku saja kalau kiranya aku terlalu terlena," sahut Berlin, tersenyum. Pandangannya kemudian tertuju kepada beberapa potret gambar hasil dari USG yang berada di pangkuan Nadia. "Aku boleh lihat itu, nggak?" lanjutnya, bertanya dengan rasa antusias dan penasaran yang cukup tinggi.
"Nanti saja! Kamu harus fokus untuk menyetir, 'kan?" sahut Nadia, menutupi potret-potret itu dengan kedua tangannya.
"Yah ...!" dengus Berlin, menghela napas. Sedangkan Nadia hanya terkekeh kecil setelah melihat ekspresi Berlin yang kelihatan sedikit sebal.
"Gimana? Rasa penasaran mu sudah mendapatkan jawabannya, 'kan?" cetus Nadia, bertanya. Terlihat sekali kalau calon ibu muda itu tengah berbahagia, wajahnya yang berseri tidak dapat menyembunyikan keceriaannya.
Berlin mengangguk dan tersenyum, "berarti kita harus siapkan nama untuknya," ucapnya.
Nadia memandangi salah satu potret hasil USG yang berada di pangkuannya, dan di potret gambar itulah jawaban dari rasa penasaran Berlin yang juga menjadi rasa penasaran dirinya selama ini. Ia tersenyum melihat hasil dari USG yang dilakukan pada dirinya, dan kemudian berkata menjawab, "tetapi entah mengapa, firasatku merasa yakin kalau ini adalah jawaban yang pasti," ucapnya dengan intonasi yang terdengar sungguh lembut.
Sembari menyetir, Berlin sempat melirik ke arah istrinya dan meraih salah satu tangan lembut wanita itu. Nadia meresponsnya dengan genggaman menggunakan jemarinya yang lentik, dan menoleh sembari tersenyum hangat kepada suaminya.
Tanpa kata-kata, mereka berdua seakan saling mengungkapkan perasaan bahagia satu sama lain hanya dari tatapan dan senyuman. Setelah beberapa saat, Berlin kembali memeriksa keberadaan Akira melalui spion tengahnya. Anak itu lagi-lagi terlihat anteng, asyik memandangi pemandangan kota melalui jendela mobil, apalagi mobil yang dikendarai oleh Berlin mulai menaiki serta melalui jalanan di lereng perbukitan kota.
...
__ADS_1
Perjalanan mereka bertiga pun akhirnya sampai kembali ke vila. Berlin bersama dengan istri dan juga putrinya turun dari mobil yang berhenti tepat di depan teras. Berlin lagi-lagi berjalan dan berdiri tanpa tongkat.
"Aku langsung berangkat, ya?" ucap Berlin, hendak berpamitan dengan istrinya.
"Kamu yakin menyetir sendiri? Biasanya ada teman yang jemput kamu," sahut Nadia, sedikit menaruh rasa khawatir.
"Iya, kamu tenang saja. Adam tidak bisa menjemput, karena memang sedang ada masalah di sana," jawab Berlin, tersenyum.
Lelaki itu kemudian sedikit berjongkok untuk dapat bertatapan dengan putrinya yang berdiri tepat di sebelah Nadia. "Kamu di rumah jangan nakal, ya ...! Jangan merepotkan Mama, dan jaga Mama juga adikmu," ucap pria itu, mendekatkan wajahnya, dan kemudian mencium kening milik putrinya.
"Baik, Pa!" sahut Akira berseru.
Berlin kembali berdiri, bertatapan langsung dengan Nadia dan kemudian berkata, "kalau ada apa-apa, langsung telepon aku, oke?"
"Iya, sayang. Kamu jangan khawatir," jawab Nadia tersenyum lembut.
Setelah sedikit berbincang di teras rumah tersebut. Berlin pun kembali menaiki mobilnya, dan kemudian segera beranjak pergi dari sana. Seperti biasa, Akira selalu melambaikan tangan ketika Papanya berangkat kerja, dan berseru "Dadah!" sampai mobil yang dikendarai oleh Berlin menghilang di kelokan jalan. Gerbang utama kembali tertutup otomatis setelah mobil yang dikendarai Berlin hilang di kelokan.
.
__ADS_1
Bersambung.