Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
"Lah, sudah selesai?" #36


__ADS_3

Dengan keadaan kedua tangan diikat kuat di belakang. Tentu ini membuat Berlin tidak bisa berbuat apa-apa. Di dalam mobil van yang tengah melaju entah ke mana ini, dirinya dijaga oleh dua orang berjaket ungu di kursi belakang van. Mereka berdua terlihat bersenjatakan sebuah pistol dan senapan.


Berlin harus berpikir keras, bagaimana caranya agar dirinya dapat melawan dua orang yang kini ada di dekatnya itu. Dalam keadaan tangan terikat di belakang, dan tanpa senjata. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya ia bisa melawan dua orang bersenjata itu, sedangkan posisi dirinya dalam keadaan terikat dan tidak membawa senjata?


Berlin menunduk, namun matanya melirik ke sana ke mari. Dirinya terus mencoba untuk mencari celah dari dua orang pria yang menjaganya. Hanya mereka berdua, sedangkan satu orang yang menyetir tak menjadi hambatan baginya, karena posisi itu terbatasi oleh sebuah kaca dan pembatas alumunium.


"Ada apa?" tanya sang supir dari mobil van itu kepada rekan-rekannya di luar. Mobilnya terhenti secara tiba-tiba.


"Pemeriksaan? Pemeriksaan apaan?"


Sepertinya mereka telah sampai di sebuah pelabuhan yang letaknya tak jauh dari dermaga awal. Namun Cassano tampaknya mendapat sedikit hambatan di sini. Terdapat beberapa pihak keamanan yang menjaga pintu masuk pelabuhan itu. Mereka meminta untuk memeriksa setiap orang yang memasuki pelabuhan.


Berlin sempat melirik ke arah jendela kecil di bagian samping mobil van itu. Dirinya dapat melihat beberapa aparat mengenakan seragam khusus serba hitam, seragam itu bukanlah seragam polisi.


"Uhuk!" Berlin berdeham dan membuat kedua pria yang menjaganya melirik dan menatapnya tajam.


"Sepertinya aku sedikit kesulitan bernapas di dalam sini," ucap Berlin.


"Kau diam saja!" tegas salah satu dari dua pria yang bersamanya. Pria itu adalah pria yang membawa sebuah senapan yang duduk tepat di sampingnya.


"Kenapa kita berhenti di sini? Apakah sudah sampai?" tanya Berlin celingukan ke jendela-jendela kecil yang ada di mobil van itu.


Namun pertanyaan Berlin tak digubris sama sekali oleh dua pria itu. Keheningan tercipta sejenak. Setelah itu pecah ketika pria di samping Berlin meminta kepada rekannya untuk turun dan memeriksa situasi di luar.


"Kau turun coba periksa apa yang sebenarnya terjadi!" pinta pria itu seraya mengalungkan senapannya.


Rekan dari pria itu menghela napas berat kemudian berkata, "kau saja sendiri! Mengapa harus aku?" ucapnya dengan malas.


"Sudahlah! Buruan sana!" sahut pria di samping Berlin.


Dengan terlihat sangat malas untuk menuruti perintah tersebut. Pria yang disuruh itu kemudian melaksanakan perintah itu. Ia pun kemudian turun dari mobil itu melalui pintu belakang, lalu menutup kembali pintu tersebut rapat-rapat.


Kini hanya ada Berlin dan pria yang membawa senapan duduk di sampingnya. Berlin melirik ke arah arloji yang ada pada genggaman tangan pria yang duduk di sampingnya.


"Lihat apa kau?" cetus pria itu bertanya dengan intonasi tinggi dan tegas.


"Kebetulan aku tidak memakai jam tangan, aku hanya ingin melihat jam saja," jawab Berlin dengan menunjukkan sikap santainya.


"Ini jam tujuh lewat tiga puluh. Sudah jangan tanya-tanya lagi!" sahut pria itu.


Berlin kemudian kembali diam setelah mendapatkan jawaban. Pukul tujuh lewat tiga puluh, ya? Berlin menyimpan senyuman tipisnya, serakan menyimpan sebuah rencana di baliknya.


"HACIHH ...!!!"


Klotakk ..!


Secara tiba-tiba dan sengaja namun juga diimbangi oleh akting. Berlin bersin sembari menyenggol tangan pria di sampingnya menggunakan lengannya. Alhasil, arloji itu terjatuh dan terlepas dari genggaman pria itu.


"Dasar! Aku kira seorang Berlin Gates Axel akan berwibawa dan beraura mengerikan. Ternyata tidak, hanya merepotkan saja!"

__ADS_1


Pria itu tiba-tiba menggerutu kesal dengan sendirinya, lantaran dirinya harus repot-repot mengambil arloji miliknya yang terjatuh.


DRAP!!!


Ketika pria itu membungkuk untuk mengambil arlojinya. Berlin dengan sengaja menyenggol dan menubruk pria itu, hingga tubuhnya menindih pria tersebut. Di posisi tertindih itu, Berlin menginjak senapan yang bergelantung pada leher pria itu, sehingga membuat pria itu tercekik dengan sendirinya.


"Si-sialan ...!" rintih pria yang ia injak dengan cukup kesakitan dan sulit bernapas.


Berlin melihat sebuah pisau lipat yang tersimpan pada saku belakang celana pria yang kini ada di bawah kakinya. Dengan sudah payah dan sedikit memunggungi pria itu. Ia meraih pisau lipat tersebut dengan kedua tangannya yang terikat di belakang.


Pria itu terus memberontak ketika Berlin mengambil pisau lipat miliknya. Namun saking kuatnya injakan kaki yang diberikan oleh Berlin. Badan kekar pria itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika tertindih dan diinjak begitu.


"Fiuh! Kau yang mengikatku, ya? Lumayan juga ikatanmu," Berlin kemudian memotong ikatannya menggunakan pisau tadi, sembari ia memberikan pujiannya kepada pria yang kini kepalanya berada di bawah injakannya.


Setelah itu, Berlin meraih dan menarik senapan yang bergelantung di leher milik pria itu. Tali pada senapan itu masih melingkar pada leher milik pria yang kini ada di hadapannya.


"Aku menarik kembali kata-kata ku tentang dirimu," gumam pria itu tampak begitu takut, apalagi kondisinya kini malah tunduk di hadapan Berlin.


***


"Langsung, sergap mereka di tempat! Lalu bawa kembali Berlin!"


Perintah itu terdengar dari mulut Adam kepada rekan-rekannya. Ashgard yang sedari tadi sudah mengepung pintu masuk pelabuhan, kini langsung menyergap Cassano yang tertahan di sana.


Di saat yang bersamaan, terlihat beberapa aparat khusus yang ikut membantu mereka. Para aparat itu adalah bawahan Garwig, dan mereka bergerak menurut perintah dan arahan Garwig.


DOR ...!! DOR ...!!!


Mengetahui posisi dan jumlahnya sangat tidak diuntungkan. Cassano tidak ingin membuang-buang waktu di posisi itu. Kibo langsung memerintahkan anak-anak buahnya untuk segera pergi begitu saja meninggalkan tempat itu. Mereka juga tidak menghiraukan rekan-rekannya yang tertinggal, atau bahkan terluka di pintu masuk pelabuhan itu.


Kaburnya Cassano dari tempat itu, membuat pelabuhan kini terkendali oleh para aparat. Beberapa dari orang-orang berjaket ungu yang tertinggal, langsung saja diamankan oleh para aparat.


"Fiuh! Lah, sudah selesai?" Ketika Berlin turun dari mobil melalui pintu belakang, dengan membawa senapan yang ia rampas dari pria yang tertunduk di dalam mobil itu. Dirinya sedikit dibuat terkejut dengan selesainya baku tembak yang sempat terjadi di tempat ini. Padahal baru saja dirinya ingin bergabung.


"Bos!!"


"Berlin!"


Suara-suara yang ia kenal dapat ia dengar memanggilnya. Suara-suara itu berasal dari teman-temannya. Mereka langsung menghampirinya, dan melihat kondisi dirinya. Rekan-rekannya terlihat cemas ketika Berlin menggunakan rencana ini. Terutama Kimmy yang tampak sangat mengkhawatirkan keselamatannya.


"Berlin, kau baik-baik saja, 'kan,?" tanya Kimmy menatap lelaki itu dengan berkaca-kaca.


Berlin tersenyum yang menandakan kalau dirinya baik-baik saja, "aku baik-baik saja, kok. Walaupun ... aku sedikit terkejut dengan tanganku yang tiba-tiba diikat di belakang, karena itu tidak sesuai yang ku bayangkan," ucapnya lalu terkekeh kecil.


"Lalu, baku tembaknya sudah selesai, ya?" lanjut Berlin bertanya dengan pandangan melihat ke sekeliling. Pemandangan yang ia lihat adalah beberapa orang berjaket ungu yang sedang diamankan aparat.


"Hahaha!" Rekan-rekannya dibuat terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu. "Bos, sudah selesai dengan cepat," ucap Asep.


"Bisa-bisanya kau masih memikirkan hal itu," ucap Sasha masih mengulas tawanya.

__ADS_1


"Beruntung sekali, ada para aparat di saat yang tepat membantu kita, Bos. Jadi ... ini semua lebih cepat tertangani," ucap Adam.


Di saat yang bersamaan, seorang pria paruh baya dengan seragam aparatnya datang menghampiri Berlin yang terlihat asyik berbincang dengan rekan-rekannya. Ya, pria itu adalah Garwig.


"Syukurlah kau baik-baik saja, Berlin."


Mengetahui kehadiran Garwig. Berlin langsung menyambutnya, dan tak lupa berterima kasih padanya. "Terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Berlin seraya sedikit menundukkan kepalanya.


Tidak lupa juga, Berlin menyerahkan senapan hasil rampasannya kepada Garwig. Dirinya tidak mau tanggung jawab untuk membawa senapan itu ada pada dirinya. Maka dari itu ia menyerahkannya.


"Yah, Bos. Senapan itu kenapa tidak kita bawa pulang aja?" celetuk Aryo.


"Iya, yak? Cuan juga kalau kita jual," timpal Faris.


Berlin terkekeh lalu menjawab, "kalau yang ini memang bukan hak kita. Jadi biarkan pihak berwajib yang mengurusnya."


"Baiklah kalau begitu. Berlin, aku permisi terlebih dahulu, selamat malam," Garwig pun berpamitan dan segera pergi dari sana membawa seluruh rekan aparatnya bersama beberapa pelaku yang teramankan.


Mendengar Garwig mengucapkan kata "selamat malam". Berlin jadi teringat waktu. Ia melihat waktu pada jam tangan milik Adam, dan mendapati bahwa hari sudah mulai larut tanpa ia sadari.


***


Tepat pada pukul sebelas malam. Berlin baru sampai di rumahnya. Dirinya harus mengurus banyak hal di markas bersama rekan-rekannya terlebih dahulu. Alhasil, dirinya baru bisa sampai di rumah pada pukul sebelas.


Ketika ia membuka pintu perlahan. Dirinya dibuat sedikit terkejut dengan kehadiran istri tercintanya yang tidur di sofa panjang ruang tamu.


"Ya ampun, mengapa nggak tidur di kamar aja, sayang?" gumam Berlin perlahan mendekati, lalu mencium lembut kening milik wanitanya.


Nadia sama sekali tidak bergerak, bahkan terdengar dengkuran halus ketika ia tertidur. Tampaknya tidurnya sangatlah pulas. Bahkan kehadiran dan sentuhan Berlin saja tak membuatnya terbangun.


Berlin tidak tiga jika harus membangunkannya untuk pindah ke kamar. Alhasil, ia lebih memilih untuk menggendongnya saja. Berlin langsung membopong tubuh ramping milik wanitanya dengan kedua tangannya.


"Padahal aku sedang menggendongmu, loh. Tetapi kamu tidak sadar? Kamu tertidur sangat nyenyak sekali, ya?" gumam Berlin ketika sampai di kamar, lalu merebahkan tubuh milik istrinya di atas ranjang empuk itu. Tak lupa, ia memakaikan selimut agar tubuh istrinya tidak kedinginan akibat AC pada kamarnya.


"Kamu sangat tidak waspada, ya? Padahal aku sudah menyentuhmu, bahkan membawamu dari lantai bawah ke kamar. Tetapi kamu tidak sadar. Bagaimana jika yang menyentuhmu atau yang membawamu bukanlah diriku? Dasar kamu ini."


Berlin berbicara dengan sendirinya seraya membelai lembut kepala milik wanitanya yang masih terpejam itu. Tak lupa juga sesekali ia mencium kepala dan kening milik Nadia. Ia dapat merasakan aroma bunga yang sangat ia sukai. Seperti biasa, aroma milik Nadia selalu membuatnya ingin memeluk dan mendekap wanita itu.


"Berlin? Kamu sudah pulang?" Nadia tiba-tiba terbangun, walau dengan kedua mata yang masih cukup melekat dan sulit untuk terbuka.


"Sudah dari tadi, sayang," jawab Berlin lalu kembali mencium kening milik Nadia.


"Berlin, aku ingin ... memberitahumu sesuatu," ucap Nadia, namun matanya kembali terpejam meskipun ia sudah berusaha untuk membukanya. Sepertinya rasa kantuknya lebih dominan dibandingkan kesadarannya.


Melihatnya masih sangat mengantuk seperti itu, membuat Berlin tidak tega jika harus membuat wanita itu memaksakan untuk membuka matanya. "Sudahlah, besok saja kamu beritahu aku, ya? Karena ini sudah larut malam, mendingan kita tidur saja ...!" ucapnya.


"Mmhm ... ya sudah, deh." Nadia bergumam dengan sendirinya dengan kondisi mata terpejam. Ia kembali melanjutkan tidurnya, dan langsung nenyak berada di alam bawah sadarnya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2