
Mentari pagi kembali menjelang, dengan cuaca yang begitu cerah. Kicauan burung-burung yang merdu terdengar, bunga matahari di taman belakang vila seolah turut menyambut cahaya mentari yang begitu lembut nan hangat. Di pagi hari ini, Berlin memiliki sebuah jadwal untuk memeriksakan kakinya yang cedera, sesuai dengan anjuran dokter. Dirinya sudah tidak dapat merasakan rasa sakit lagi dari cedera yang dialami, malahan merasa jauh lebih baik dan perlahan sudah bisa digerakkan tanpa harus merasa sakit atau nyeri.
Ditemani oleh sang istri yang selalu setia di dekatnya, bahkan seolah tidak ingin ditinggal pergi olehnya. Berlin pun pergi ke rumah sakit, dengan Nadia yang menyetir. Ibu hamil itu tampak begitu tangguh dan lihai sekali dengan kemampuan mengemudinya. Tanpa Akira, mereka hanya pergi berdua. Akira sepertinya sedang sibuk bertemu dengan teman-teman panti asuhannya. Meskipun anak itu telah memilih tempatnya serta rumahnya sendiri, namun sepertinya ia masih belum bisa jauh dari rumah lamanya. Berlin dan Nadia pun mengizinkannya, mengizinkan anak itu pergi bersama Alana yang tadi pagi menjemputnya di vila.
"Tidak apa-apa kamu menyetir?" tanya Berlin yang duduk di samping sang istri.
Lirikan Nadia tajam dan serius, dengan senyuman yang tersungging, "kamu meremehkan ku? Sudah, kamu duduk manis saja, biarkan aku yang menyetir! Lagipula, sudah lama aku tidak pegang kemudi, rasanya kangen."
Melihat ekspresinya yang begitu meyakinkan, Berlin menghela napas tersenyum. Tidak ada pilihan lain selain dirinya hanya duduk manis menikmati perjalanan. Mau ambil alih kemudi, namun kakinya sedang tidak mendukung untuk itu. Bagaimana caranya menginjak pedal gas jika dirinya menyetir? Tentu saja itu tidak bisa dengan keadaan kaki yang masih terbalut gips kuat.
"Oh iya, aku ingin mengajakmu bersama Akira ke pesta nanti sore, kalian mau ikut, 'kan?" cetus Berlin, dengan acak mengambil topik pembicaraan di tengah perjalanan menuju rumah sakit.
"Pesta? Siapa yang ulang tahun? Lalu di mana tempatnya?" sahut Nadia, memelankan mobil yang dikendarainya, dan berhenti tepat di belakang mobil lain guna menunggu lampu merah menjadi hijau.
"Bukan pesta ulang tahun, sih. Semalam Garwig mengabariku, dan memberikan ajakan itu. Pestanya akan berlangsung di kediaman keluarga besar pada pukul tiga sore. Sepertinya tidak akan lama." Dengan intonasi yang santai, Berlin menjawab pertanyaan istrinya.
"Sepertinya di sana akan dihadiri oleh anggota keluargaku," lanjut Berlin, pandangannya sedikit tertunduk, namun kemudian terangkat kembali sembari berkata, "kamu mau ikut, 'kan?" tanyanya, kedua mata yang berbinar-binar antusias menoleh dan menatap ke arah Nadia.
Nadia tersenyum hangat dan menjawab, "tentu saja, kita berempat akan ke sana!" jawabnya, satu tangannya mendarat dan mengelus lembut perutnya yang besar itu.
"Ngomong-ngomong, lampunya sudah hijau, sayang," cetus Berlin, disusul oleh beberapa kali suara klakson mobil yang mengantri di belakang.
__ADS_1
"Oh iya!" Nadia segera memasukkan gigi maju, dan bergegas menginjak pedal gasnya, sebelum kemudian tertawa kocak dengan sendirinya.
Tidak menghabiskan perjalanan yang panjang lagi, Berlin dan Nadia pun akhirnya sampai di halaman parkir rumah sakit. Selesai memarkirkan mobilnya di halaman parkir yang terlihat masih cukup lengang di pagi ini. Nadia langsung keluar, bergegas, dan dengan sigap membantu Berlin untuk turun dari mobil.
"Perhatian banget sih, istriku ini," celetuk Berlin dengan intonasi menggoda, dirinya cukup merasa tidak enak karena sudah cukup merepotkan.
"Jangan menggodaku, ah! Udah, ayo!" sahut Nadia, terlihat cukup canggung dan tersipu. Tidak menanggapi dengan kata-kata, Berlin hanya mengulas senyuman tipis sembari menikmati pemandangan yang selalu menjadi kesukaannya, yakni ekspresi imut Nadia ketika sedang merona seperti itu. Beberapa kali ia dibuat terkekeh kecil karena melihat Nadia yang tersipu-sipu itu ketika berjalan di sampingnya.
"Lagi di rumah sakit, nih! Udah, ah!" ucap Nadia ketus, mengerucutkan bibirnya yang berwarna merah muda itu, dan terlihat sedikit sebal.
"Hehehe, iya, maaf," ujar Berlin, tersenyum, dan tertawa kecil beberapa kali sebelum benar-benar memasuki lobi rumah sakit.
***
Carlos dengan langkah canggung, secara perlahan dirinya berjalan melalui sebuah taman di pekarangan belakang rumah. Tempat itu adalah tanah yang cukup lapang dengan rumput hijau yang bertekstur lembut. Di tengah taman itu terdapat sebuah gazebo yang sungguh besar, dan luas. Di tengah-tengah gazebo itu terdapat sebuah meja panjang dan kursi-kursi yang terbuat dari kayu jati. Sepertinya tempat itu dapat muat lebih dari lima belas orang.
Laki-laki itu terus berjalan melalui taman, suasana di sana begitu tenang dan sejuk. Kedua matanya terus memperhatikan sekitar tanpa henti. Sesekali dirinya berhenti, dan dengan tatapan yang sedikit melamun.
"Sedang bernostalgia?" cetus suara seorang pria, orang itu berjalan menghampiri dirinya dari belakang, dan berhenti tepat di samping Carlos yang tengah berdiam diri menatap bangku-bangku yang ada di tengah taman.
Pria berbaju abu-abu santai itu rupanya adalah Garwig. Menyadari kehadiran Garwig, Carlos kembali melontarkan pertanyaan yang hampir sama ketika Garwig menjemputnya di Federal.
__ADS_1
"Aku masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apa maksud semua ini? Apa maksud dan tujuan aku dibebaskan bersyarat seperti ini? Apakah semua ini telah terencana?" ucap Carlos, melontarkan beberapa pertanyaan yang masih menjadi kebingungan baginya.
Garwig menggelengkan kepala, mengangkat bahu, menghela napas dan menjawab, "aku tidak tahu, yang jelas kau bisa meminta kejelasan soal itu langsung padanya."
Carlos menoleh dan menatap tajam nan serius sosok Garwig di sampingnya, sebelum akhirnya bertanya, "kapan aku bisa menemuinya?" tanyanya, cukup antusias.
"Nanti sore, dia akan datang ke sini untuk menghadiri pesta yang ku adakan," jawab Garwig.
"Pesta? Pesta apa?" gumam Carlos. Sepertinya laki-laki itu tidak mengetahui soal rencana Garwig mengadakan pesta di kediaman ini.
Garwig mengangguk, merangkul pundak laki-laki yang berdiri di sampingnya sembari menjawab, "ya, anggap saja perayaan karena telah melewati banyak hal beberapa hari yang lalu, dan mungkin ... sekaligus menyambut kehadiranmu kembali di sini, Carlos." Pria itu tersenyum ramah kepada Carlos.
"Kau mau kembali ke keluarga ini, 'kan?" lanjut Garwig, dengan tatapan serius dan tulus, serta senyuman yang tersungging.
Carlos terdiam sejenak, menggeleng. Hening seketika. Sebelum akhirnya ia menjawab, "entahlah, itupun jika aku masih diterima. Kau tahu, aku pernah mengkhianati dan memusuhi keluarga, bukan?" jawabnya, intonasinya sungguh terdengar pelan seolah tidak ada harapan.
Garwig melepas rangkulannya, tertawa kecil, tersenyum. Ia melangkah dua langkah ke depan, sembari mengatakan, "ya, kau benar, sih. Apa yang kau lakukan di masa lalu benar-benar memusuhi kami."
"Tetapi sekarang kurasa kami dapat menerimamu kembali, Carlos." Garwig berbalik, melangkah kembali mendekat kepada Carlos. "Itupun jika memang sesuai dengan keputusan yang akan dia buat nantinya," lanjut pria itu, sebelum kemudian beranjak pergi dengan berpapasan dengan Carlos.
Dia? Apakah maksudnya adalah Berlin? Carlos menghela napas berat. Langkah Garwig terus menjauh, dan sosok pria itu menghilang ketika memasuki sebuah pintu besar yang tembus langsung ke ruang keluarga.
__ADS_1
.
Bersambung.