
Flix berkumpul dengan regunya. Ia memberikan beberapa arahan serta menerangkan singkat tentang rencana yang akan ia gunakan. Regu taktis itu mempersiapkan perlengkapan mereka di sebuah mobil baja milik Brimob. Persenjataan serta pakaian taktis telah mereka gunakan, dan mereka seolah siap untuk memberikan pelajaran kepada kelompok merah yang telah membuat kegaduhan itu.
"Kalian siap?" tanya Flix setelah selesai menerangkan singkat rencana dan arahannya.
"Siap kapan pun, Ndan!" sahut rekan-rekannya.
Flix tersenyum tipis di balik masker atau topeng yang menutupi identitas wajahnya ketika melihat semangat pada rekan-rekannya. Tak terlihat ketakutan sama sekali dari rekan-rekannya, meskipun ia tak bisa melihat wajah rekan-rekannya karena tertutup oleh topeng atau masker yang menutup penuh wajah mereka.
"Kita sudah dilatih dan ditempa untuk hal-hal seperti ini, meskipun situasi ini tidak ada selama pelatihan dan simulasi, tetapi kita akan memenangkan situasi ini!" ujar Flix dengan sangat tegas, sangat terlihat aura wibawa darinya sebagai seorang perwira yang paling muda di angkatannya.
"Semoga Tuhan melindungi kita," lanjut Flix lalu berdoa dan setelah itu melakukan tos dengan rekan-rekannya yang menandakan bahwa mereka sudah siap untuk bergerak.
Di sisi lain Prawira dan anggotanya yang berjumlah cukup banyak itu juga terlihat sudah sangat siap. Flix pun mulai bergerak cepat namun perlahan dan senyap masuk ke dalam gang-gang yang ada di sana. Meskipun regunya hanya berjumlahkan belasan orang saja, namun itu tidak masalah baginya.
Sedangkan Prawira dan anggotanya bergerak satu blok lebih lambat dari pergerakan regu Flix, dan melalui gang yang letaknya tepat di sebelah Barat dari pergerakan Flix.
Keduanya sangat berhati-hati ketika bergerak, dan keduanya juga siap untuk menyerang dari dua sisi yang berbeda. Ketika berada sudah cukup dekat dan memasuki dua blok yang dikuasai oleh sekelompok bersenjata itu. Flix menghentikan langkah dan rekan-rekannya sejenak. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.
"Kami sudah berada di posisi, Prawira." Flix berbisik pelan menghubungi Prawira melalui radionya. Ia dapat melihat bangunan atau gedung kecil berwarna abu yang di mana atap gedung tersebut adalah posisi pelaku paling tinggi.
"Kami juga sudah siap, silakan komando," jawab Prawira.
"Regu penembak jitu sudah ada di posisi dan menandai sasaran kalian masing-masing?" tanya Flix kembali berbisik karena dirinya tidak ingin diketahui oleh salah satu dari para pelaku.
"Penembak jitu siap menunggu perintah," jawab salah satu anggota dari regu penembak jitu.
Flix melihat sejenak kembali ke arah langit barat untuk melihat cahaya senja yang sangat indah dan cerah berwarna jingga itu.
__ADS_1
"Baik, sesuai aba-aba ku, regu penembak jitu ... lumpuhkan target kalian, dan kemudian Prawira akan masuk sesaat setelah aku ...!" ucap Flix. Kini kegugupannya terasa sangat sulit untuk dibendung.
Ia tampak menarik napas lalu menghela napas panjang untuk mengurangi rasa gugupnya. "Oke, ini saatnya, saat yang tepat bagimu untuk bersaksi, Flix!" batinnya seraya sedikit mendongak ke atas dan memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali.
"Baik, dalam hitungan tiga ... dua ... satu ... sekarang!" Perintah dan aba-aba itu didengar oleh semua anggota, termasuk regu penembak jitu dan Prawira.
Jleebb ...!!!
Tanpa adanya tanda-tanda dan suara, secara tiba-tiba tiga orang bersenjata laras panjang di atap gedung tersebut tergeletak dalam kondisi bersimbah darah. Begitu pula dengan empat pelaku di tingkat kedua. Hal tersebut membuat para pelaku lainnya terlihat kebingungan dan panik. Di saat itulah, Flix dan Prawira memanfaatkan keadaan. Mereka tampak sangat tidak ingin membuang-buang kesempatan yang kini sudah terbuka.
Flix pun bergerak maju bersama rekan-rekannya tanpa ada rasa takut sama sekali. Ia menembak beberapa pelaku bersenjata di sana yang juga hendak menembaknya. Di saat yang bersamaan, Prawira dan anggota polisi lainnya juga datang dari arah yang berbeda.
"Ku habisi kalian semua, dasar para keparat!" Flix berteriak dan terlihat sangat kesal terhadap para pelaku. Ia menembaki para pelaku yang juga hendak menembaknya.
Baku tembak di distrik barat pun terjadi dan tak bisa terelakkan lagi. Kedua belah pihak saling menukar peluru mereka, dan tentunya juga menjatuhkan korban. Namun korban dari pihak pelaku lebih banyak. Mengetahui posisinya kini tersudut dan terpojok. Para pelaku yang tersisa pun mencoba untuk melarikan diri dengan kendaraan yang sebelumnya mereka bawa.
Melihat beberapa pelaku melarikan diri, Flix tampak terbawa oleh amarah. Ia sempat menembaki mobil dan motor yang digunakan pelaku untuk melaju seraya berteriak, "sialan!"
"Kerja bagus, mari kita selesaikan yang di sini terlebih dahulu." Prawira menghampiri Flix dan menepuk salah satu pundaknya. Terlihat seragam aparatnya ternodai oleh bercak merah yang sepertinya itu adalah darah.
"Kau terluka?" tanya Flix terlihat masih terengah karena setelah berusaha mengendalikan amarahnya.
"Tidak, tetapi ... beberapa rekan kita iya," jawab Prawira sembari menoleh ke arah beberapa anggota polisi yang tergeletak dengan keadaan terluka. Mereka langsung dibawa dan dievakuasi oleh rekan-rekan polisi lainnya untuk segera mendapatkan pertolongan.
"Lalu, bagaimana dengan ... pelaku yang tewas?" tanya Flix melihat ke sekelilingnya. Ia dapat menyaksikan tak sedikit pelaku yang tergeletak tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan lagi.
Dirinya melepaskan senapan yang ia bawa dan kalungkan, lalu berlutut begitu saja. Ia melepas helm dan masker yang dikenakan lalu berkata, "maafkan aku, aku melanggar banyak peraturan sebagai aparat, kau boleh menjatuhi hukuman kepada ku setelah ini."
__ADS_1
"Prawira, aku menembak mereka semua ... bukan dengan niatan untuk melumpuhkan, tetapi untuk ... membunuh serta menghabisi mereka. Aku benar-benar di luar kendali, dan aku terbawa oleh emosi." Flix tampak meracau dan merasa sangat bersalah atas apa yang ia perbuat. Ia melihat para pelaku yang tergeletak di sekitarnya dalam keadaan bersimbah darah.
Prawira memegang pundak Flix lalu dengan tenangnya berkata, "bangunlah! Kau tidak sepenuhnya salah, Flix. Dalam situasi seperti ini, banyak hal bisa saja terjadi."
"Ingatlah, kau seorang perwira tertinggi, dan tak sepantasnya kau berlutut seperti itu." Prawira menarik lengan rekannya itu untuk berdiri, dan akhirnya Flix pun mau untuk kembali berdiri.
"Rencana dan komando yang bagus," ucap Prawira berdiri di samping Flix dengan memegang satu pundaknya. Ia memuji kinerja Flix yang sangat tidak mengecewakan itu.
Berkat kerja sama tim yang amat baik. Baku tembak yang terjadi di Distrik Barat hanya berlangsung sesaat saja dan tidak lama. Namun dampak yang dihasilkan cukuplah parah. Para aparat dan pihak medis harus mengevakuasi para korban, termasuk mayat dari para pelaku yang tewas. Tak hanya itu, fasilitas publik di sekitar terlihat rusak akibat peluru-peluru yang sempat beterbangan. Beruntung sekali pihak kepolisian sempat mengevakuasi serta mengamankan masyarakat dari lokasi itu terlebih dahulu sebelum baku tembak terjadi.
"Apakah tidak ada pelaku yang selamat?" gumam Flix berjalan bersama Prawira melewati beberapa mayat pelaku menuju kembali ke perimater. Kepalanya tertunduk dan ia tampak sedikit murung, meskipun dirinya berhasil menuntaskan tugasnya.
"Ada tiga pelaku, namun mereka dalam keadaan terluka cukup parah dan kritis, jadi sekarang mereka sedang ditangani oleh anggota dan pihak medis." Prawira menjawab pertanyaan tersebut. Dirinya memang merasa sedikit sedih karena para pelaku yang memberikan perlawanan dan itu mengakibatkan mereka tewas di tempat.
"Ku harap ketiga pelaku baik-baik saja agar aku bisa mengintrogasi mereka, aku sangat penasaran apa motif mereka," ujar Prawira kepada Flix berjalan menuju ke sebuah mobil baja kepolisian yang terparkir di area perimater.
Tepat pada pukul 18:00 situasi pada lokasi tersebut sudah kembali aman dan terkendali. Meskipun lokasi itu sudah steril, namun lokasi tersebut masih diamankan dan berada di bawah pengawasan serta penjagaan ketat para aparat.
Para media juga mulai berdatangan satu-persatu ke lokasi untuk meliput apa yang sebenarnya terjadi di sana. Berita pun dipublikasikan oleh para reporter atau media yang berdatangan. Prawira juga tampak sangat disibukkan dengan para jurnalis yang menghujaninya banyak pertanyaan. Namun beruntung dirinya tak harus menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan itu.
~
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Berita tentang apa yang terjadi di Distrik Barat Kota sampai ke telinga dan mata Tokyo. Tokyo melihat dan mendengar berita tersebut, begitu pula dengan Nico. Nico berjalan menghampiri Tokyo yang tampak duduk santai di kursi taman belakang.
"Mereka melakukan tugasnya dengan baik," ujar Nico setelah melihat serta mengetahui berita tersebut.
"Ya, tahap pertama selesai, dan kita siap memasuki tahap kedua," sahut Tokyo terlihat sambil merokok santai.
__ADS_1
.
Bersambung.