Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Si Kecil Aktif Sekali #202


__ADS_3

Suasana rumah sakit di pagi ini cukuplah sepi, tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pekerja rumah sakit, dan beberapa pasien yang mengantre pengambilan obat. Berlin berjalan bersama istrinya dan juga putrinya melalui lobi rumah sakit dengan rasa antusias yang begitu tinggi, dan kemudian berbelok ke sebuah lorong yang akan membawanya menuju ke ruang dokter spesialis kandungan.


"Selamat pagi, dok!" ucap Berlin, sesaat setelah membuka pintu ruangan.


"Selamat pagi!" seorang dokter muda wanita menyambut kedatangan pasutri dan putrinya itu yang memasuki ruangannya, "lebih awal dari jadwal, ya?" lanjutnya.


Nadia tertawa kecil dan tersenyum, "iya, dok. Ada yang sangat antusias soalnya," jawabnya sembari melirik ke arah Berlin yang berdiri di sampingnya.


"Oh, baik, ternyata seperti itu," sahut dokter itu, tertawa dan tersenyum kemudian menyapa kehadiran gadis kecil yang juga datang bersama pasutri itu, "hai, siapa, nih? Boleh kenalan, nggak?" sapanya tersenyum hangat. Namun Akira hanya diam, malu-malu sambil sedikit bersembunyi di belakang Nadia. Melihat sikap tersebut, dokter itu hanya tertawa kecil dengan senyuman ramahnya yang sulit untuk hilang.


"Baiklah, mari ikut saya!" ajak dokter itu.


Mereka pun melangkah berjalan sedikit ke belakang, menuju ke sebuah ruangan yang berada di balik tirai berwarna putih. Di sana terdapat sebuah brankar dan alat yang akan digunakan untuk melihat serta memeriksa keberadaan si kecil.


Nadia dipersilakan untuk berbaring di atas brankar tersebut, ditemani oleh Berlin dan Akira yang duduk tepat di samping brankar. Sedangkan dokter itu, ia terlihat sibuk untuk menyiapkan serta menyalakan alat yang bernama USG.


Sebelum menggunakan alat tersebut untuk mengetahui serta melihat kondisi janin. Dokter muda itu sempat mengajak ngobrol, dan menanyakan beberapa hal kepada Nadia. Pertanyaan-pertanyaan itu mengacu pada topik tentang kesehatan, serta keluhan yang dialami oleh sang bumil.


"Ngomong-ngomong, kita belum kenalan, loh! Cantik, namanya siapa?" cetus dokter itu setelah selesai menanyakan beberapa hal, dan kemudian beralih berbicara kepada Akira yang duduk manis di sebelah Berlin.


"Um ... Akira," jawab Akira, sedikit tertunduk menyembunyikan wajahnya yang malu-malu itu, "Kakak namanya siapa?" lanjutnya, mengangkat wajahnya dan menatap penasaran dokter itu.


"Lyra," jawab singkat dokter muda itu, dengan senyuman manisnya.


"Namanya bagus!" sahut Akira, berseru antusias setelah mendengar nama yang menurutnya unik.


"Makasih," sahut Lyra, senyumannya tidak bisa lepas, apalagi ketika memandang wajah cantik nan imut Akira, "kamu kelas berapa?" lanjutnya bertanya, sembari mempersiapkan beberapa alat untuk USG.

__ADS_1


Akira tampak kebingungan menjawab. Ia menoleh kepada Berlin dan bertanya, "kelas? Maksudnya bagaimana, Pa?"


"Maksudnya kamu TK kecil atau besar," jawab Berlin, tersenyum.


"Oh, Akira TK besar!" sahut Akira, kemudian menatap ke arah Lyra yang terlihat sedang mengoleskan gel pada perut milik Nadia.


"Oh, ya? Pintar, dong!" ujar Lyra, sikap dan tutur bicara sungguh ramah sekali, bahkan mungkin ia terlihat suka ketika berbicara dengan anak itu.


"Akira mau lihat adiknya, nggak?" lanjut Lyra, mengambil sebuah alat bernama transduser, dan kemudian secara perlahan ditempelkan pada permukaan perut milik Nadia.


"Adik? Emangnya bisa, ya?" sahut Akira, polos, dan penasaran. Sikapnya berbeda tidak seperti saat pertama kali ia masuk ke ruangan ini. Ia terlihat mulai nyaman ketika berbicara dengan Lyra.


"Bisa! Yuk kita lihat!" jawab Lyra, kemudian pandangannya teralih menuju ke sebuah layar USG yang perlahan mulai menampilkan gambar bersamaan dengan dirinya yang perlahan menggerakkan alat yang ia genggam di atas permukaan perut milik Nadia.


Perlahan layar USG memperlihatkan sosok kecil yang sepertinya asyik bergerak-gerak di dalam perut milik Nadia. Sosok itu sepertinya tidak bisa diam, apalagi ketika sadar kalau ia sedang diperiksakan atau dilihat.


Lyra dan Nadia tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Lyra pun menjawabnya, "itu adik kamu."


Sedangkan Berlin, terlihat hanya terdiam. Pria itu sepertinya sedang terpana dengan apa yang ia lihat. Apalagi ketika melihat calon buah hatinya bergerak aktif di dalam sana. Ia sempat menoleh kepada istrinya dengan wajah terpananya itu, dan kemudian kembali lagi melihat ke arah layar USG.


"Aktif sekali ya, Bun," ucap Lyra, tersenyum sembari perlahan menggerakkan alat yang ia genggam untuk mendapatkan gambar yang jelas.


"Iya, nih!" jawab Nadia, sempat tertawa kecil dan kemudian menoleh kepada Berlin yang duduk di sampingnya, "kamu kenapa diam saja? Dari rumah kamu yang paling semangat buat ke sini," ucapnya.


Berlin pun terlepas dari fokusnya melihat pergerakan calon buah hatinya, dan kemudian teralih kepada Lyra untuk melemparkan pertanyaan, "jadi ... anak saya laki-laki atau perempuan, Dok?"


Sembari menggerakkan perlahan dan dengan lembut alat yang ia genggam. Lyra pun menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, "ini sedang kita cari tahu, karena dia aktif sekali jadi cukup sulit untuk diintip."

__ADS_1


Berlin mengembalikan fokusnya kembali ke layar USG setelah mendengar jawaban tersebut. Sikapnya yang sebelumnya sangat antusias dan bersemangat, tiba-tiba saja menjadi diam dengan tatapan terpana melihat setiap pergerakan dari sosok kecil itu.


"Mau diambil dan dicetak potretnya?" tanya Lyra kepada pasutri itu.


"Boleh, Dok! Bisa?" sahut Berlin dengan sikap antusiasnya, setelah Lyra selesai berbicara beberapa detik.


Lyra tertawa kecil, tersenyum dan menjawab, "bisa dong, Pak."


"Sekalian kita intip sedikit apakah dia laki-laki atau perempuan, ya," lanjut Lyra, kembali menggerakkan perlahan alat yang ia genggam, dengan pandangan ke arah layar USG.


***


Red Rascals, mereka melakukan pertemuan secara tertutup di sebuah gudang besar bersama dengan orang-orang yang tersisa dari Clone Nostra. Meskipun banyak dari mereka yang tewas di hari kekacauan pekan lalu. Namun itu seolah tidak mengurangi jumlah personel yang tersisa. Mereka masih banyak, kurang lebih ada sekitar dua puluh lima orang.


Felix Alarico memiliki tujuannya tersendiri, terlebih ketika melihat serta mengetahui kalau Clone Nostra kehilangan pemimpin mereka, dan mereka juga masih memiliki banyak aset berharga.


"Aku ingin tempat ini dijaga ketat! Jangan ada yang mengintai pertemuan kali ini!" titah Felix kepada beberapa anak buahnya.


"Baik!"


Ada lebih dari dua puluh anak buahnya yang langsung mengambil posisi berjaga di sekitar tempat tersebut. Sedangkan dirinya beserta anak buahnya yang lain berada di dalam gudang terbengkalai itu untuk sedikit berbincang sebentar dengan pihak laki-laki bernama Clovis.


"Kau mencemaskan sesuatu?" tanya seorang wanita yang sangat dekat dengan Felix.


"Ya, Ashgard br*ngs*k itu, aku mendapat kabar kalau mereka tengah melakukan penyelidikan kepada kita," jawab Felix, mengeluh kesal.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2