Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Akhir Pekan #12


__ADS_3

***


Masih kilas balik.


"Bolehkah aku tahu namamu?"


Pertanyaan itu didengar oleh laki-laki yang menyelamatkannya. Dia terlihat tertegun dengan pertanyaan itu. Namun masih saja, dia belum membalikkan badannya ke arah gadis yang menanyainya.


"Maafkan aku jika aku lancang bertanya dan mungkin itu menyinggung mu," ucap gadis itu seraya menundukkan kepalanya. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan dinding, lantaran ia tidak dapat melihat wajah laki-laki yang sedang ia ajak bicara.


Laki-laki itu tampak menghela napas, dan lalu dengan perlahan membalikkan badannya seraya berkata, "aku lelah mendengarmu berbic ---" kata-kata terhenti. Tatapannya menatap penuh kagum dan terpana dengan wajah cantik yang ia lihat. Dan sepertinya begitu pula dengan gadis yang ia tatap. Keduanya saling terpana dan terdiam dalam beberapa detik.


"Ah, maafkan aku, aku terlalu banyak bicara dan menyita waktumu," cetus gadis itu seraya kembali menundukkan kepalanya.


"Ekhem," laki-laki itu tersadar dari lamunannya beberapa saat dan kembali dengan sikapnya yang begitu dingin. "Tidak apa, lagipula waktuku tidak begitu penting saat ini," ucapnya.


Suasana tiba-tiba terasa canggung. Gadis itu kembali bertanya, "a-apakah aku boleh tahu namamu?" tanyanya dengan sedikit gugup karena dirinya jarang sekali berbicara dengan laki-laki.


"Kau boleh lari setelah mengetahuinya," sahut laki-laki itu yang justru membuat gadis itu bingung. Boleh lari? Apa maksudnya? Apakah nama miliknya mengerikan?


"Namaku ... Berlin G Axel," ucap laki-laki itu memberitahukan namanya dengan sedikit cemas kalau gadis yang ada di hadapannya akan ketakutan. Namun gadis itu justru malah tersenyum dan kemudian memperkenalkan dirinya, "nama yang bagus, salam kenal, aku Nadia Nayanika, biasa dipanggil Nadia."


Berlin tampak menghela napas lega mengetahui gadis yang ada di hadapannya tidak ketakutan setelah mengetahui namanya.


"Hanya itu yang kau perlu, 'kan? Sebaiknya kau segera pergi dari sini, ini tempat yang buruk bagi gadis baik sepertimu," ucap Berlin lalu kembali membalikkan badannya, dan lalu perlahan berjalan pergi.


Ketika berjalan menjauh, Berlin sempat menghentikan langkahnya kembali lalu berkata, "berhati-hatilah, apalagi kau mengenakan baju akademi itu, kau sangat mencolok di wilayah ini." Lalu ia kembali melangkah berjalan menjauhi Nadia yang masih terdiam di sana mendengar apa yang barusan Berlin katakan.


Nadia mengingat kembali apa yang sempat diucap oleh salah satu dari para preman itu. "Apalagi dia mengenakan seragam akademi itu, pasti sungguh berharga," begitulah yang dikatakan oleh salah satu dari mereka.


Kilas balik: Off.


***


"Oh, pertemuan itu?" jawab Berlin tersenyum dan sedikit tertawa kecil.

__ADS_1


"Kamu jahat sekali! Kala itu kamu pergi begitu saja, padahal aku berharap kamu bisa menemaniku lebih lama agar aku bisa mengenalmu lebih dekat, atau ... kamu mengantarku untuk pulang." Nadia tiba-tiba terlihat sedikit sebal dan mengerucutkan bibirnya ketika berbicara.


"Oh, begitu, 'kah? Saat itu aku tidak kepikiran untuk melakukan apa yang kamu katakan itu, sih," ucap Berlin lalu tertawa melihat wajah kesal yang justru terlihat imut di matanya.


"Ah, sudahlah! Lebih baik aku bersiap-siap, tokonya akan buka jam sembilan," ucap Nadia lalu beranjak dari ranjang, ia mengambil handuk yang tersimpan di lemari.


Berlin pun menghampiri Nadia yang tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan mandinya. Ia memeluknya dari belakang lalu berkata, "biar mempersingkat waktu, bagaimana kalau kita ... mandi bersama?"


"Eh?" Nadia terkejut mendengar ajakan tersebut, tubuhnya serasa sedikit merinding dan tanpa ia sadari pipinya kembali merona. Ditambah lagi Berlin berbicara tepat sangat dekat dengan telinganya.


"Yuk! Jika kesiangan nanti tokonya akan ramai dan antriannya lama." Berlin secara tiba-tiba mengangkat tubuh Nadia, dan membopongnya dengan kedua tangannya.


"Tu-tunggu, Berlin!" ketus Nadia yang terkejut, namun dirinya tak menolak apa yang dilakukan Berlin.


"La-lain kali ... tu-tunggulah jawabanku terlebih dahulu! Kau benar-benar mengejutkan ku," lanjut Nadia tampak sangat tersipu, matanya tidak bisa menatap Berlin yang kini sedang mengangkat tubuh rampingnya.


Berlin tersenyum dan melirik ke arah Nadia lalu berkata, "tetapi kamu tak menolaknya, tuh."


"Ya, te-tetapi tetap saja, lain kali kamu harus mendengar jawabanku terlebih dahulu! Kalau kamu melakukannya secara tiba-tiba kan membuatku kaget, bilang dahulu 'aku ingin menggendong mu' gitu atau apalah!" gerutu Nadia menatap Berlin, namun kembali lagi tatapannya berpaling karena malu.


Berlin hanya tersenyum dan tertawa kecil mendengar celotehan wanitanya seraya berjalan ke arah kamar mandi. Mereka berdua pun memasuki kamar mandi, dan Berlin langsung menutup rapat-rapat pintu kamar mandi tersebut.


.


~


.


Pukul 11:00 siang.


Pusat Perbelanjaan Metro.


Berlin pun akhirnya berada di pusat perbelanjaan kota bersama dengan Nadia. Pusat perbelanjaan tersebut buka dua jam sebelumnya, dan Nadia berencana datang pada saat itu juga. Namun karena terdapat sedikit kegiatan yang tak terduga, ia pun datang pukul 11 bersama dengan Berlin yang menemaninya.


"Sebenarnya aku ingin sampai di sini dua jam yang lalu, tetapi ... gara-gara kamu! Katanya mempersingkat waktu, nyatanya?" gerutu Nadia melirik Berlin di sampingnya dan tampak sedikit kesal.

__ADS_1


"Ehehehe ...." Berlin tertawa kecil seraya menggaruk kepalanya. "Maaf, aku malah mengajakmu bermain sebentar tadi," ucapnya.


"Sudahlah, ayo! Keburu tambah ramai pengunjung nanti." Nadia pun menarik tangan Berlin lalu berjalan masuk melewati pintu kaca otomatis itu.


Ketika melewati pintu kaca otomatis itu. Terlihat pusat perbelanjaan itu sudah ramai dengan pengunjung. Meskipun tidak begitu padat, tetapi itu sangatlah ramai mengingat ini adalah akhir pekan.


Nadia langsung berjalan menuju ke supermarket yang ada di sana, diikuti oleh Berlin tentunya yang terus menggandeng tangannya. Berlin melirik dan sedikit terpana dengan penampilan Nadia. Dengan dress selutut berwarna putih, Nadia tampak sangat cantik di matanya.


"Ada apa?" tanya Nadia menyadari kalau dari tadi Berlin terus melirik dirinya.


"Ah, tidak ada apa-apa, kok." Berlin memalingkan pandangannya ke depan, dan kemudian berkata, "aku hanya ... suka dengan penampilanmu saat ini."


Nadia merasa tersanjung dengan pujian tersebut. "Kamu juga tampak keren, meskipun tanpa atribut Ashgard mu itu," ucapnya. Ia mengomentari baju santai berwarna hitam polos dan celana panjang berwarna abu yang digunakan oleh Berlin.


"Ayolah, jangan bahas apapun yang berhubungan dengan pekerjaan, aku ingin bersantai hari ini," sahut Berlin.


Nadia tersenyum kemudian berkata, "baik!"


Sampai di supermarket, Berlin mengambil satu troli belanja dan lalu mendorongnya masuk mengikuti ke mana Nadia berjalan. Jarang sekali bagi dirinya masuk ke supermarket dan berbelanja jika tidak bersama Nadia.


"Kita akan ke mana dahulu?" tanya Berlin berjalan mendorong troli tersebut mengikuti Nadia di depannya.


"Hari ini kamu mau aku masakin apa?" tanya Nadia menoleh dan menatap Berlin di belakangnya.


"Apa saja boleh, asalkan masakan yang enak," jawab Berlin seraya mengulas senyumnya.


"Baiklah, kita akan pergi ke area daging, setelah itu kita akan pergi ke area sayur-sayuran, lalu kita akan cari beberapa bumbu dapur," jawab Nadia seraya mengetukkan jari telunjuknya pada dagunya, dan Berlin hanya mengikuti saja langkah ke mana Nadia berjalan.


"baik ....! " sahut Berlin dengan nada yang terdengar datar. Tampaknya semangatnya sedikit menurun mendengar urutan jadwal yang dikatakan oleh Nadia.


"Apakah ini akan membosankan ...? Ku harap tidak," batinnya seraya terus mendorong troli kosong itu mengikuti Nadia ke area daging pada supermarket tersebut.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2