
Pukul 06:45 pagi, Gedung Balaikota.
"Berlutut!" titah tegas seorang pria yang memerintah Berlin dengan sangat kasar. Pria tersebut tampaknya adalah pria yang membawa Berlin dari Distrik Timur ke Balaikota.
"Doma, apakah kau yakin dia benar-benar Berlin Gates Axel? Kau tidak salah tangkap, bukan?" cetus seorang pria lain dengan tuksedo berwarna putih berjalan keluar dari suatu ruangan menuju ke ruang tengah gedung putih itu. Pria itu adalah Tokyo El Claunius, orang yang begitu mewaspadai pergerakan kelompok Ashgard.
"Tidak salah, bos. Aku berani yakin seratus persen, jika diriku salah maka kepalaku sebagai jaminannya!" sahut pria yang membawa Berlin sampai ke hadapan Tokyo, yang ternyata adalah Doma El Claunius.
Doma pun segera membuka penutup kepala yang masih diikatkan untuk menutupi pengelihatan Berlin yang hanya berlutut di ruang tengah itu. Ketika kain penutup kepala berwarna hitam itu terbuka....
Tokyo tiba-tiba saja tertawa dan berkata, "bagus, Dom! Kau tidak salah orang."
Berlin perlahan membuka matanya yang terpejam, dan langsung mendapati adanya seorang pria bernama Tokyo yang kini berdiri tepat di hadapannya. Tatapannya tajam menatap pria berjas putih itu, apalagi dirinya begitu mengetahui seperti apa orang dibalik nama Tokyo ini.
Tokyo terkekeh puas ketika melihat kondisi Berlin yang benar-benar habis babak belur dan penuh dengan luka itu. Dahi bagian kanan yang berdarah, lengan kiri yang juga ikut terluka dan berdarah, serta salah satu kaki milik Berlin yang tampaknya cedera dan membuatnya sangat kesulitan untuk berdiri.
"Apa tujuan dan keinginanmu melakukan semua ini, Tokyo? Mengapa kau begitu nekat melakukan suatu tindakan yang tentunya ini sangat berkonfrontasi dengan pemerintah. Kau tahu sendiri siapa pasukan yang akan kau hadapi jika melakukan kekacauan ini, bukan?" Berlin berbicara sekaligus bertanya mengenai tujuan Tokyo, yang berarti juga menjadi tujuan dari Clone Nostra.
Tokyo menyeringai sinis dan kemudian sedikit tertawa kecil sebelum akhirnya menjawab, "aku hanya ingin mencoba untuk merubah sejarah yang ada, Berlin."
"Aku tahu pasukan yang akan ku hadapi setelah aku melakukan ini semua, aku juga tahu semua konsekuensi yang akan ku tanggung. Namun ... itu semua ... tidak akan terjadi selama aku memiliki dirimu sebagai tawanan di sini, Berlin."
"Aku tahu siapa pemimpin di balik bergeraknya pasukan gabungan militer itu, dan aku tahu seberapa pedulinya orang itu terhadap keselamatan dirimu, Berlin."
Tokyo melangkah sedikit mengitari Berlin yang hanya bisa berlutut dan terdiam di sana dengan kedua tangan terikat. Ketika sampai tepat di belakang Berlin, Tokyo kemudian berkata, "tenang saja, aku tidak akan membunuhmu di awal, bahkan mungkin aku akan mengizinkan dirimu untuk berpamitan dengan istri tercintamu yang saat ini tengah mengandung anak pertamamu berusia lima bulan itu."
"Aku juga akan mengizinkan dirimu untuk berpamitan dengan seorang anak perempuan berusia empat tahun yang akan kau adopsi, Berlin. Tak hanya itu, aku juga akan memberikan waktu untuk dirimu berpamitan dengan rekan-rekan Ashgardmu itu." Tokyo membisikkan semua itu di telinga kiri milik Berlin dengan intonasi dan ekspresi yang terkesan kejam dan dingin.
__ADS_1
Meskipun Berlin tahu Tokyo akan mengetahui segala seluk beluk dirinya. Namun Berlin dibuat terkejut dan tidak menyangka, bahwa Tokyo akan mengatakan semua itu. Dia hampir sepenuhnya mengenai orang-orang terdekat dan orang yang ia cintai.
Setelah mengatakan semua itu, Tokyo kembali beranjak tepat berdiri di hadapan Berlin yang berlutut di hadapannya dan berkata, "baiklah, kurasa ada yang ingin kau bicarakan dengan seseorang yang akan bertemu denganmu sesaat lagi."
Sesaat setelah Tokyo berbicara demikian. Seorang pria dengan pakaian rapi jas berwarna hitam keluar dari sebuah ruang kerja milik walikota di gedung tersebut. Melihat kehadiran pria yang baru saja muncul itu, membuat Berlin langsung menetapkan bahwa apa yang sempat ia duga beberapa waktu yang lalu adalah benar.
"Kau ...?! Boni Jackson," gumam Berlin dengan tatapan tajam mengarah ke pria yang baru saja muncul itu.
"Apa kabar, Berlin? Sepertinya kabarmu tidak sedang baik, ya?" ucap Boni menyunggingkan senyuman sinis kepada Berlin.
"Oh, tampaknya kau tidak begitu terkejut dengan kehadiranku di sini, ya?" lanjut Boni sedikit duduk berjongkok dan menatap tajam wajah Berlin yang cukup babak belur itu.
Boni kembali berdiri dan terkekeh kecil sembari berkata, "aku sangat salut padamu, Berlin. Meskipun saat ini kau berada di pinggir jurang kematian, namun wajahmu tak menunjukkan adanya rasa ketakutan dalam dirimu."
"Justru ekspresi seolah menantang jurang tersebut," lanjut Boni.
"Mengapa kau melakukan ini, Boni ...?!" cetus Berlin bertanya, tanpa menggunakan bahasa yang baku dan sopan seperti saat berhadapan dengan walikota. Dirinya tidak peduli, dan sudah menganggap pria tersebut lebih sampah daripada sampah negara.
Gates? Sontak Berlin dibuat bertanya-tanya dengan pernyataan tersebut. Ya, dirinya tidak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh mulut pejabat kotor itu. Namun Boni sangat serius ketika berbicara mengenai hal tersebut.
Boni tiba-tiba menyeringai sinis dan berbicara dengan menyebut soal walikota sebelumnya yakni Axel Gates atau ayah kandung Berlin, "seperti yang seharusnya sudah kau ketahui, aku adalah walikota pengganti Axel sejak dia tewas mengenaskan di kediamannya."
Sesaat setelah berbicara seperti itu. Boni melangkah lebih dekat dan berpindah ke belakang Berlin sembari berkata, "namun ada hal yang mungkin tidak kau ketahui, bahkan tidak terpikirkan oleh dirimu untuk mengetahui hal ini."
Boni terus berjalan mengitari Berlin. Langkahnya kemudian berhenti ketika berada di depan Berlin kembali sebelum akhirnya mengatakan, "berdasarkan berita yang beredar, aksi pembunuhan kedua orang tuamu adalah bentuk dari kekejaman politik, bukan begitu?"
"Berdasarkan isu yang beredar juga, bahwa kedua orang tuamu tewas akibat komplotan pembunuh bayaran yang dibayar oleh lawan politik mereka," lanjut Boni.
__ADS_1
Berlin terlihat mendengarkan dengan saksama setiap kata yang diucapkan oleh Boni, meskipun dirinya tidak begitu percaya dengan semua yang dia ucapkan. Namun ketika Boni bertanya, "mau tau, siapakah lawan politik yang dimaksud itu?"
Senyuman sinis dan menorehkan arti kekejaman ditunjukkan oleh Boni, sebelum akhirnya melanjutkan pembicaraan, "lawan politik yang dimaksud ...," ucapan Boni berhenti sejenak sembari kembali berpindah posisi ke belakang Berlin. Ia mendekatkan mulutnya di telinga kiri Berlin dan kemudian melanjutkan, "itu adalah ... diriku, Berlin," bisiknya.
DEG.
Jantung Berlin langsung berdebar-debar, hatinya sontak merasa tidak terima atas apa yang baru saja ia dengar. Meskipun Berlin berusaha untuk tidak mempercayai hal tersebut, namun semua yang dikatakan Boni saling dapat dihubungkan satu sama lain.
"Tidak ... mungkin," gumam Berlin, dirinya gemetaran dan kedua matanya tiba-tiba saja dipenuhi air yang membuatnya berkaca-kaca.
Boni tertawa melihat ekspresi wajah yang dipenuhi dengan rasa sendu itu, "apa yang ku katakan adalah kenyataan, Berlin. Aku melakukan itu dengan tujuan untuk merebut kursi jabatan milik ayahmu," ucapnya ketika berada kembali berdiri tepat di depan Berlin yang masih berlutut di hadapannya.
"Aku membayar Mafioso yang dipimpin oleh Nicolaus Matrix untuk melakukan pekerjaan kotor yang tak bisa ku lakukan sendiri, yakni membuat kedua orang tuamu terbunuh di sana. Dan kebetulan sekali, Nicolaus memiliki tujuan yang hampir sama dengan diriku, karena pada saat itu keluarga besar Matrix sedang memanasnya dengan pihak keluarga besarmu yakni Gates."
"Br*ngs*k! Keparat kau, Boni!"
BUGHH ...!!!
"Akhh!!!"
Meskipun dalam keadaan kedua tangan terikat di belakang. Berlin memaksakan dirinya untuk berdiri, dan hendak menyerang sosok Boni di hadapannya. Namun seorang pria yakni Tokyo menghentikan niatnya dengan memukul keras bagian punggung, dan membuatnya jatuh tersungkur.
Hati Berlin tampaknya sudah terbakar api amarah yang amat membesar. Namun dengan luka-luka yang ia alami di sekujur tubuhnya, membuatnya tak bisa melakukan tindakan.
"Hahahaha ...!!!" Boni terbahak-bahak ketika melihat sosok Berlin yang hanya bisa berlutut dan tersungkur di hadapannya.
Tokyo dengan kasar menginjak punggung milik Berlin dan sedikit menunduk untuk berkata, "lebih baik kau tidak melawan, daripada aku menghabisi dirimu sekaligus orang-orang yang kau cintai ...!" pintanya dengan intonasi yang begitu pelan dan terdengar kejam kepada Berlin yang saat ini berada di bawah kakinya.
__ADS_1
.
Bersambung.