Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Menyiapkan yang Diperlukan #166


__ADS_3

Di keesokan harinya, di pagi hari yang cukup cerah, di sebuah vila milik Gates. Berlin bersama dengan istrinya terlihat sibuk di ruang tamu, mereka tengah menyiapkan beberapa dokumen keluarga yang nantinya akan dibutuhkan untuk pengajuan adopsi anak. Namun kesibukan itu terhenti, ketika sebuah telepon masuk melalui ponselnya.


"Sebentar, ya," ucap Berlin kepada Nadia yang terlihat sibuk memeriksa setiap berkas yang tergeletak di atas meja ruang tamu.


Berlin mengambil tongkatnya, beranjak dari sofa ruang tamu, menuju ke halaman belakang untuk menerima panggilan suara tersebut.


"Ada apa?" tanya Berlin, langsung berbicara, sesaat setelah menekan lingkaran berwarna hijau pada layar ponselnya untuk menerima panggilan suara.


"Maaf, kalau ku dengar dari intonasi bicaramu, sepertinya kau sedang sibuk, ya?" sahut suara seorang pria di balik telepon itu. Suara yang sangat tidak asing.


"Sepertinya begitu, hari ini aku harus mengurus dokumen untuk pengadopsian. Apakah kau ada perlu denganku, Garwig?" jawab Berlin, bersandar pada sebuah pagar beton berwarna putih di tepi halaman.


"Aku berencana untuk memanggilmu ke sini, untuk pengenalan soal pekerjaan yang akan kalian terima. Namun karena kau sedang sibuk, jadi sepertinya lebih baik aku tidak mengganggu," jawab Garwig, dengan intonasi bicara yang terdengar tidak enak hati kepada Berlin.


"Aku sibuk dari pagi sampai sore, jadi mungkin aku baru bisa ke sana malam. Bagaimana? Apakah bisa?" sahut Berlin, ia terlihat cukup antusias setelah mendengar soal pekerjaan, dan tampak tidak ingin menunggu-nunggu esok hari.


"Bisa saja, namun apakah tidak apa? Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang cukup melelahkan buatmu, Berlin." Garwig sendiri tampak tidak mau memaksakan kehendaknya. Namun berbeda dengan Berlin, yang justru dirinya yang menginginkan.


"Tidak apa, tidak masalah. Soal pekerjaan itu, Ashgard sangat membutuhkannya," ucap Berlin, santai, dan tenang.


Tak berselang lama, panggilan suara tersebut mencapai titik akhir, dengan kesepakatan yang telah dibuat. Berlin akan menemui Garwig malam ini di Gedung Balaikota. Namun sebelum pertemuannya dengan Garwig malam nanti. Mulai pagi hingga sore nanti, Berlin harus mengurus beberapa dokumen yang akan diperlukan untuk pengadopsian anak.

__ADS_1


"Dari siapa?" cetus Nadia yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Kini bumil itu tengah asyik bermain boneka dengan Akira di sofa.


"Garwig," jawab Berlin, sebelum akhirnya ia disambut oleh sosok Akira yang tampak ceria mengajaknya bermain bersama boneka beruang berwarna putihnya.


"Papa, Teddie mau kenalan, nih!" seru Akira, riang sekali, dengan kedua tangan sibuk memainkan peran sebagai boneka beruangnya.


Berlin tersenyum melihat tingkah putrinya yang asyik sendiri dengan boneka tersebut. Ia menyandarkan tongkatnya di tepi sofa, duduk di sofa tersebut, dan menanggapi anak itu dengan berkata, "halo, Teddie? Kenalin, aku papanya Akira ...!" ucapnya, dengan sikap yang terkesan sedikit canggung.


Akira tersenyum riang, kembali mendekap bonekanya, mendekatkan wajah boneka beruang itu pada telinganya. "Sebentar, Pa. Teddie kayaknya haus, minta minum," cetus anak itu, kemudian beranjak dari sofa tersebut, menuju ke kulkas yang ada di dapur.


Berlin tersenyum, membiarkan anak itu untuk asyik bermain sendiri. Nadia yang sibuk memeriksa kembali beberapa berkas yang ada di atas meja ruang tamu, menoleh kepada Berlin yang duduk tepat di sebelahnya, dan bertanya, "Berlin, fotokopi akta kelahiran mu mana?"


"Akira sayang, kamu ngapain?" seru Nadia, menoleh ke belakang, dan melihat ujung kepala kecil Akira yang terlihat dari balik meja makan. Anak itu tengah membuka kulkas, dan mengambil sebuah botol air minum dingin dari dalam sana.


"Ambil minum, Ma ...!" sahut Akira, menutup kembali pintu kulkas yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuh kecilnya. Setelah itu, dengan langkah perlahan, karena kedua tangannya tengah sibuk memegang boneka dan botol air mineral beserta sedotan plastik putih. Ia kembali ke ruang tengah, dan duduk di sofa tepat di sebelah Nadia.


"Mama mau? Siapa tahu mama haus juga," lanjut Akira, menoleh, menatap lembut, dan tersenyum manis sembari menyodorkan botol dingin tersebut kepada Nadia.


"Makasih, sayang. Tetapi Mama belum haus, deh," jawab Nadia, sangat ramah sekali, bahkan sembari mengelus kepala milik putrinya.


Akira menanggapinya hanya dengan senyuman ceria. Wajahnya yang riang itu seolah sulit sekali untuk pudar. Ia membuka tutup botol tersebut, dan kembali bermain peran bersama dengan bonekanya.

__ADS_1


"Teddie, pelan-pelan ya minumnya ...!" ujar Akira, sembari berpura-pura membantu bonekanya untuk minum dengan sebuah sedotan yang sedari tadi ia genggam. Sedangkan Nadia hanya diam, tersenyum, membiarkan putrinya asyik bermain dengan bonekanya.


"Ketemu, nih! Untung aja aku ada, jadi ga perlu pergi ke tempat fotokopi, deh ...!" Berlin perlahan menuruni anak tangga menggunakan tongkatnya, berjalan kembali menghampiri istrinya, dan meletakkan satu buah lembar fotokopi akta kelahiran miliknya.


"Baiklah, berarti siang ini kita tinggal ketemu sama bunda aja," ucap Nadia, menghela napas, tersenyum.


"Sebelum itu, kita ke kantor polisi terlebih dahulu, ya? Aku mau ketemu sama Prawira," sahut Berlin, berdiri tepat di tepi sofa samping Nadia.


Lirikan Berlin yang sebelumnya menatap kepada Nadia, tiba-tiba berpindah kepada Akira yang duduk di sofa yang sama dengan istirnya. Anak itu terlihat asyik bermain sendiri dengan bonekanya, bahkan tidak cukup menghiraukan kedua calon orang tuanya berbincang.


Seolah tahu arti dari lirikkan tersebut. Nadia menoleh kepada Akira di sampingnya, tersenyum hangat pada anak itu, dan bertanya, "Akira, mau ikut Mama sama Papa atau main sama teman-teman? Mama sama Papa mau mengurus beberapa hal."


Akira meletakkan bonekanya di atas pangkuan kecilnya, menoleh dan menatap wanita itu sembari bertanya, "apakah lama?"


"Sepertinya begitu," jawab Nadia, tersenyum.


"Akira ke tempat bunda sama Kak Alana aja, deh! Akira bosan menunggu, jadi mending main sama teman-teman!" sahut Akira, tersenyum riang, tidak keberatan. Nadia terlihat tersenyum hangat sesaat setelah mendengar jawaban tersebut.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2