Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Bantuan Dari Siapa?! #241


__ADS_3

Baku tembak masih saja terjadi di antara bangunan serta gedung-gedung yang ada di distrik tersebut, dan peristiwa itu sudah berlangsung lebih dari satu jam. Tidak ada aparat atau polisi yang masuk, karena belum ada arahan atau pesan lebih lanjut yang dikirimkan oleh Berlin untuk pergerakan pihak kepolisian masuk ke distrik. Berlin sendiri masih merasa masalah ini dapat ditangani oleh pihaknya yakni Ashgard. Apalagi melihat adanya konflik atau permasalahan personal yang terjadi di antara Clone Nostra dan Cassano dengan Red Rascals. Permasalah personal yang terjadi di antara tiga kelompok itu tentu dapat dimanfaatkan oleh pihak keempat, yakni Ashgard yang ingin mengambil kesempatan tersebut.


Total personel dua puluh dua, dan kini telah terbagi menjadi dua. Kimmy dan Sasha, bersama dengan empat rekan yang ditunjuk oleh Berlin, mereka berenam akan menangani beberapa pelaku dari pihak Red Rascals yang sudah dilumpuhkan dan saat ini dalam kondisi kritis karena luka tembak. Berlin terlihat tidak ingin melepas atau bahkan membiarkan para pelaku yang berhasil dilumpuhkan itu untuk tewas.


Enam orang telah diutus untuk tetap berada di belakang, dan enam belas orang sisanya akan maju, memberikan pelajaran serta melumpuhkan orang-orang berjaket merah yang masih ada di arah Timur distrik.


Beberapa ada yang jalan kaki dan berlari, namun juga beberapa ada yang menggunakan kendaraan untuk mobilitas, salah satunya adalah Berlin yang menaiki mobil serta disupiri oleh saudaranya yakni Carlos. Kendaraan adalah salah satu hal terpenting menurutnya, apalagi dengan mobil yang kebal terhadap peluru yang ia bawa, tentu akan membuat perlindungan yang dapat bergerak serta berpindah tempat.


"Menurutku kau benar-benar gila, Berlin. Apa yang terjadi jika Clone Nostra dan Cassano tiba-tiba saja menyerang kita saat di sana?" tanya Carlos, mengendarai mobil besar tersebut dan berhenti di depan sebuah mal pusat perbelanjaan.


"Maka dari itu, aku membutuhkanmu untuk ada di dekatku, jika memang skenario terburuk itu terjadi." Berlin menoleh serta langsung memberikan jawabannya tanpa berpikir panjang, dan berbicara dengan lugas seolah sangat percaya dengan kehadiran Carlos di dekatnya.


"Mengapa kau begitu mempercayai ku?" sahut Carlos, menatap Berlin dengan tajam dan serius.


Namun Berlin menanggapi tatapan tajam dan serius itu dengan wajah santai, bahkan sebuah senyuman tipis terukir sebelum kemudian ia menjawab, "entahlah, aku hanya mengikuti naluri hatiku saja," jawabnya, kemudian membuka pintunya dan turun dari mobil bersama dengan tongkatnya yang setia di tangan kirinya.


Carlos segera turun juga dari mobilnya, dan kemudian segera menyusul serta menyeimbangi langkahnya bersama dengan langkah kaki milik Berlin. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam sebuah gang, berbelok ke kanan dan kemudian ke kiri, sampai akhirnya mereka menemukan jalan keluar lain dari gang tersebut. Melalui jalan keluar tersebut, mereka dapat langsung melihat bagaimana baku tembak yang sedang terjadi.


"Apakah kami sudah diizinkan untuk menembak?" tanya Asep, melalui radio komunikasi.

__ADS_1


"Pakai tanya? Tentu saja! Manfaatkan posisimu!" sahut Berlin, melihat ke arah sebuah gedung yang memiliki tinggi seratus meter yang ada tepat di sebelah mal pusat perbelanjaan itu, dan dirinya mendapati sosok Asep yang berdiri di atas sana.


Ashgard pun membuka tembakan sesuai dengan arahan serta perintah yang diberikan oleh Berlin. Mereka tidak ingin berlama-lama untuk gabung ke peperangan yang sedang terjadi. Serangan kejutan tersebut sepertinya berhasil, karena berkat serangan yang diberikan oleh Ashgard, itu membuat banyak orang berjaket merah yang tiba-tiba saja terpecah, panik berlarian menjauhi jalan utama dan masuk ke gang-gang kecil di sela-sela gedung.


"Kau akan ke mana?" tanya Carlos, melihat gerak-gerik Berlin yang terlihat hendak segera beranjak mendekat ke lokasi pusat baku tembak.


"Tentu saja aku akan ikut bergabung dan menembak," jawab Berlin.


Carlos yang sedari tadi menyarangkan senjata apinya, secara tiba-tiba menarik pistol yang bergelantung pada pinggangnya sembari berkata, "katamu kau membutuhkanku untuk terus di dekatmu, bukan?"


Berlin terkekeh kecil, "tentu saja ...!"


Clone Nostra dan Cassano yang seharusnya terhimpit dan terpaksa harus bertahan di dalam sebuah restoran yang sudah rusak karena jumlah mereka yang lebih sedikit daripada Red Rascals, secara tiba-tiba situasi tersebut berubah. Clovis mendengar suara tembakan bertubi-tubi dari gedung-gedung pertokoan yang ada di sisi kiri jalan, dan menyaksikan banyak orang berjaket merah yang ada di depannya berjatuhan tersungkur tak berdaya.


"Bantuan?! Namun dari siapa?!" gumam Clovis menyaksikan orang-orang yang hendak menyerang kelompoknya yang terjebak di dalam restoran tiba-tiba saja tersungkur dalam keadaan bersimbah darah.


"Kau mau ke mana?!" teriak seorang wanita berjaket merah ketika melihat Clovis yang tiba-tiba saja melangkah mendekati pintu masuk restoran.


"Ini kesempatan kita!" sahut Clovis, kemudian menatap ke arah beberapa rekannya yang terlihat cukup panik berlindung di balik meja dan sofa yang ada pada restoran tersebut. Tak hanya dari pihaknya, namun dari pihak Cassano juga ada di sana, terkurung di tempat itu secara terpaksa.

__ADS_1


Clone Nostra dan Cassano keluar dari tempat perlindungan mereka, serta sekaligus memberikan perlawanan terhadap beberapa orang berjaket merah yang ada di depan restoran tersebut. Ketika sudah berada di luar dan masih terlibat baku tembak oleh pihak Red Rascals yang ternyata masih banyak di sana. Clovis melihat ke arah atap dari gedung pusat perbelanjaan, dan menyaksikan ada seorang laki-laki dengan mantel hitam yang berdiri di atas sana, menembaki ke arah bawah tepatnya ke arah orang-orang berjaket merah.


Tidak hanya itu, Clovis juga menyaksikan terdapat banyak orang yang mengisi posisi di beberapa atap gedung yang ada di kiri jalan, dan mereka juga menembaki musuhnya. Pakaian mereka sama, mengenakan mantel dengan warna gelap, dan hanya bermodalkan pistol untuk bisa menjatuhkan banyak lawannya.


"Jika kalian melihat orang-orang dengan mantel berwarna hitam, maka jangan beriak tembakkan atau perlawanan kepada mereka! Jika ada yang melanggar perintah ini, maka urusannya denganku!" Clovis secara tiba-tiba mengutarakan perintah serta arahnya, dan keputusan tersebut yang ia ambil secara sepihak dengan sangat tegas.


***


Prawira berjalan menemui sekretarisnya yang terlihat berada di bawah sebuah tenda medis yang didirikan oleh kepolisian. Netty terlihat membawa sebuah berita atau kabar yang harus ia sampaikan kepada pria itu, terlihat sekali di salah satu tangannya terdapat sebuah tablet dengan layar menyala.


"Bagaimana?" tanya Prawira, berjalan melalui rintik-rintik hujan yang masih deras, dan kemudian berteduh di bawah tenda.


"Baku tembak di Distrik Komersial masih terjadi, namun skalanya perlahan turun," jawab Netty, sebelum kemudian menyerahkan serta menunjukkan sebuah gambar beserta rekaman video yang ada pada tablet miliknya kepada Prawira.


Gambar dan rekaman video itu diambil oleh salah satu regu taktis milik kepolisian yang mengintai serta memantau situasi yang sedang kacau di Distrik Komersial. Pada gambar serta rekaman tersebut diperlihatkan bahwa kelompok pertama dari Red Rascals berhasil dilumpuhkan, dan juga terlihat terdapat dua orang wanita bermantel hitam yang tengah menangani beberapa pelaku yang kelihatannya sedang kritis di tengah jalan. Di sekitar kedua wanita itu juga terlihat terdapat beberapa orang bersenjatakan pistol yang tampak menjaga mereka.


"Aku mengenal mereka," gumam Prawira, lalu menyerahkan kembali tablet tersebut sembari berkata, "terus kabarkan situasinya, jika memang diperlukan aku akan memberikan perintah untuk regu taktis kita masuk dan membantu mereka," lanjutnya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2