Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Diterima #156


__ADS_3

Dengan langkah perlahan dan hati-hati. Carlos membawa alat panggang dengan kedua tangannya, melangkah melalui pintu samping, dan menuju ke taman belakang rumah. Di sana terdapat dua orang pria yang terlihat sedang menata meja serta kursi-kursi kayu. Dua pria itu adalah Flix dan James.


"Carlos, kemarilah! Letakkan saja alat pemanggang itu di dekat meja," ucap James, selesai menata beberapa kursi kayu di sana.


"Bagaimana? Apakah benda itu berat buatmu?" cetus suara Siska bertanya, berjalan dengan kedua tangan penuh dengan alat-alat memasak. Ia berjalan menghampiri Carlos, setelah laki-laki itu telah meletakkan benda tersebut tak jauh dari meja.


"Tidak terlalu," jawab Carlos, berkacak pinggang, dan menghembus napas berat setelah angkat beban. Melihat ekspresi Carlos yang cukup kelelahan itu, Flix dan James tertawa kecil.


"Duduk dan istirahatlah sejenak, kerjaan kita tinggal hanya menyiapkan sajiannya saja, kok." Siska berbicara kepada Carlos, sembari meletakkan beberapa alat masak yang ia bawa ke atas meja.


Sikap Siska begitu ramah, bahkan begitu pula dengan sikap yang ditunjukkan oleh Flix dan James. Suasana yang tercipta benar-benar damai sekali, begitulah kira-kira yang kini dapat dirasakan oleh Carlos. Ketiga orang yang bersamanya seolah benar-benar menerima keberadaannya, bahkan bersikap ramah padanya.


Carlos terlihat sangat menikmati suasana kekeluargaan yang dapat ia rasakan di sana. Ternyata kenyataannya sungguh berbanding terbalik dari apa yang ia kira sebelumnya. Mereka terlihat sangat menerima kehadiran dirinya di sana.


"Apakah ada yang bisa ku bantu lagi?"


James tertawa kecil, tersenyum ramah, menjawab, "sepertinya kau semangat sekali, ya?"


"Jika memang begitu, kemarilah, Carlos! Aku perlu untuk menyiapkan dekorasinya," cetus Flix, sedikit berteriak, berdiri di ujung gazebo dengan kedua tangan mengangkat kardus berisikan beberapa lampu-lampu hiasan.

__ADS_1


Memasang ekspresi antusias, Carlos beranjak dari kursi kayunya, melangkah dengan semangat menghampiri Flix di sana. "Baik!" serunya. Atmosfer dalam diri Carlos sangat berbeda dengan dirinya ketika pertama kali datang ke kediaman.


***


Penjara Federal. Di tempat mengerikan, tempat di mana banyak narapidana berbahaya menjalani hukuman mereka. Prawira bersama dengan beberapa rekan aparat taktis terpilihnya, melakukan sebuah interogasi terhadap seorang pria yang kini telah dicap sebagai penghianat oleh semua orang. Pria itu adalah Boni Jackson, mantan walikota yang kini ditahan di Penjara Federal.


Dalam sebuah ruang interogasi khusus yang sangat tertutup. Prawira mendata setiap keterangan yang disampaikan oleh Boni yang duduk di sebuah kursi kayu secara detail. Sepanjang Boni menjawab setiap pertanyaan yang melayang padanya. Prawira ditemani oleh seorang pria yang sepertinya ahli dalam hal psikologi.


Setiap Boni Jackson selesai memberikan keterangan atas tujuan dan alasannya melakukan tindakan serta keputusan yang sangat membahayakan banyak nyawa itu. Prawira menoleh, melirik ke arah ahli psikologi yang berdiri di sampingnya, dan melihat tanggapan pria itu melalui anggukkan atau gelengan kepalanya.


Pemeriksaan tersebut berlangsung cukup lama, lebih dari tiga jam, penuh dengan dialog antara pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan itu mengenai alasan, tujuan, niat, dan ambisi yang dimiliki oleh Boni Jackson. Prawira menerima banyak penjelasan, keterangan, dan jawaban atas semua itu dari Boni langsung.


Prawira mengangguk pelan, berkata, "terima kasih atas kehadirannya, itu cukup membantu kami." Kemudian berjabat tangan dengan pria tersebut.


Setelah pemeriksaan keterangan tersebut. Prawira pun bergegas pergi, keluar dari gedung tersebut, menuju lobi Federal, dan menuju ke mobil miliknya yang terparkir di halaman depan. Data tentang semua keterangan yang diberikan oleh Boni Jackson kini ada di tangannya. Namun itu saja belum cukup, karena untuk membawa para dalang di balik kekacauan beberapa hari yang lalu ke atas meja hijau belumlah cukup.


Berdasarkan prosedur yang telah ada, pemeriksaan setiap tersangka harus dilakukan lebih dari dua kali, dan secara berkala. Pemeriksaan terhadap setiap bukti atas tuntutan yang ada, dan juga pemeriksaan terhadap keterangan dari setiap tersangka.


Selain Boni Jackson, Prawira juga telah menerima hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap Tokyo El Claunius dan Kibo Gates Hadi. Sekarang yang terakhir adalah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka bernama Farres El Claunius. Prawira sudah menjadwalkan untuk melakukan pemeriksaan itu di keesokan harinya.

__ADS_1


"Aku sudah menerima data hasil keterangannya yang pertama, sudah ada di tanganku."


"Dia menyampaikan semua keterangannya dengan lugas, ekspresi datar, tatapan yang sedikit kosong. Berdasarkan ahli yang kita miliki, dia tidak menyimpan kebohongan atas keterangannya. Namun aku masih ragu."


Prawira terlihat tengah berbicara, dengan sebuah ponsel genggam yang tertempel di telinga kirinya. Ia sudah ada di dalam mobil, di atas kursi kemudi. Namun mobil tersebut masih diam di tengah halaman parkir tersebut. Dirinya masih berbicara beberapa hal mengenai pemeriksaan yang baru saja ia lakukan kepada mantan walikota Boni Jackson.


"Baik, kita lakukan sesuai prosedurnya, dengan melakukan pemeriksaan lebih dari dua kali," ucap pria di balik telepon itu, yang ternyata sosok pria itu adalah Garwig Gates.


"Baik, tenang saja. Aku telah mengatur jadwalnya," sahut Prawira, sebelum kemudian mengakhiri panggilan suara tersebut.


Namun sesaat sebelum panggilan tersebut berakhir. Garwig sempat memperingatkan Prawira dengan berkata, "berhati-hatilah ...! Di pemeriksaan kedua akan hadir pengacara dari pihak tersangka, jadi jangan sampai mereka melakukan manipulasi di dalam sana!" ucap pria itu, sangat serius.


Prawira terdiam setelah panggilan itu berakhir, dan masih terpikir soal peringatan Garwig di akhir teleponnya. Hal yang seperti itu memang benar adanya, dan kemungkinan besar sudah biasa terjadi dalam kasus-kasus seperti ini. Apalagi jika kasus-kasus tersebut sudah terangkat di atas meja hijau, dan menyerahkan keputusan kepada hakim.


"Ku harap hukuman mati akan dijatuhkan kepada mereka bertiga," gumam Prawira, bersandar sejenak, dan menghela napas berat sembari menyisir rambut hitamnya dengan jemari.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2