Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Dua Wilayah Berbeda #190


__ADS_3

"Berlin, aku telah menyiapkan beberapa lencana ini untuk Ashgard, masing-masing dari kalian akan mendapatkan satu sebagai identitas bahwa kalian adalah bagian dari anggota secara resmi."


"Lencana itu berguna untuk identitas kalian, namun di sisi lain lencana itu juga dapat kalian gunakan dalam beberapa situasi genting untuk memasuki area yang dijaga ketat oleh aparat."


"Aku sangat menginginkan kepada untuk menggunakan lencana tersebut sebijak-bijaknya, dan jangan disalahgunakan! Karena jika kalian menyalahgunakan lencana tersebut, kalian akan mendapatkan masalah yang sangat rumit dengan pemerintah."


"Dan untuk berkas-berkas itu, itu semua adalah berkas keanggotaan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sepertimu, Berlin. Di dalam masing-masing berkas terdapat Kartu Tanda Anggota yang wajib dimiliki oleh Divisi Khusus seperti kalian, dan wajib kalian jaga."


"Terakhir, maafkan aku karena bukan diriku yang langsung bertemu denganmu dan memberikan barang-barang ini. Karena tanggung jawab yang dibebankan pada diriku saat ini tidak bisa ku lepas begitu saja."


Begitulah isi surat yang ditulis langsung dengan tulisan tangan oleh Garwig, dan dibaca langsung oleh Berlin setelah menerima barang-barang tersebut. Berlin sempat menghela napas berat, sedikit menaruh rasa kecewa karena Garwig tidak bisa menemui dirinya dan menyerahkan langsung barang-barang ini. Namun rasa kecewa itu tidak begitu ia hiraukan. Dirinya lebih fokus untuk membagikan beberapa lencana serta Kartu Tanda Anggota yang ada di dalam kotak itu kepada teman-temannya.


Satu-persatu dari rekannya masuk ke dalam ruang kerjanya, dan keluar dengan lencana serta kartu anggota yang diberikan oleh Berlin. Setelah semuanya mendapatkan lencana dan kartu anggota mereka. Berlin pun kembali mengumpulkan rekan-rekannya di ruang tengah, dan menyampaikan beberapa hal soal lencana serta Kartu Tanda Anggota yang kini sudah berada di tangan masing-masing rekannya.


Berlin menyampaikan beberapa hal yang juga disampaikan oleh Garwig melalui surat yang ia baca. Beberapa hal itu mengenai kegunaan lencana dan kartu anggota yang dibagikan, serta larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar. Berlin menyampaikan semua itu dengan sangat tegas, tatapannya tajam menatap satu-persatu wajah rekan-rekannya. Aura seorang pemimpin benar-benar dapat terlihat dari caranya dan sikapnya ketika berbicara di depan teman-temannya, begitu tegas dan berwibawa meskipun hanya dengan jaket biru miliknya.


"Apakah ada yang kurang dari perlengkapan kalian? Jika ada, bilang saja langsung kepadaku, agar aku dapat memastikannya!" ujar Berlin sebelum mengakhiri pembicaranya di hadapan rekan-rekannya.


"Tidak ada, terima kasih, Bos ...!" ucap Bobi mewakili rekan-rekannya.


"Baik," sahut Berlin, kemudian sedikit menunduk, melihat waktu pada jam tangannya dan berkata, "kurasa ini sudah waktunya untuk kalian."

__ADS_1


"Tetap saling jaga satu sama lain, dan usahakan tidak memancing keributan! Apapun yang terjadi, laporkan dan komunikasi! Jangan sampai putus kontak, paham?" lanjut Berlin, menegaskan beberapa hal kembali kepada rekan-rekannya.


"Baik!"


"Dimengerti!"


Pada siang hari, tepatnya pukul dua belas lebih lima belas. Ashgard terbagi menjadi dua kelompok, dan pergi menuju ke dua distrik atau wilayah yang berbeda. Tujuan mereka adalah mencari tahu beberapa hal soal kelompok-kelompok kriminal yang terlibat dan dicurigai. Berdasarkan informasi dasar yang dimiliki oleh Berlin saat ini, Red Rascals telah mengklaim banyak wilayah kekuasaan yang sebelumnya adalah wilayah milik Clone Nostra. Salah satu dari wilayah-wilayah yang diklaim adalah kedua wilayah yang diputuskan oleh Berlin untuk rekan-rekannya pergi ke sana, Distrik Barat dan juga Area Pelabuhan.


Selain Red Rascals, Berlin juga mengantongi beberapa informasi mengenai klub motor bernama Western Motor Club. Kelompok yang bersembunyi di balik topeng "legal" dari depan publik itu memiliki teritorialnya sendiri, yakni di beberapa tempat di Distrik Barat, sesuai dengan namanya.


...


Lima belas menit telah berlalu, sejak hampir seluruh rekannya telah bertolak pergi dari Kediaman Ashgard. Kini di kediaman tersebut hanya ada Asep yang duduk manis di balik meja kerjanya serta di depan layar-layar monitornya yang menyala, sedangkan Berlin yang bersandar pada pintu ruang kerja milik Asep.


"Tenang saja, Bos. Mereka tidak akan bertindak melewati batas, kok!" cetus Asep, sembari jari-jemarinya lihai menekan abjad yang ada pada keyboard komputernya.


Asep memutarkan kursinya, dan meraih sebuah kursi lain yang berada tak jauh dari dirinya berada. "Duduk saja dahulu, aku tidak enak jika hanya melihatmu bersandar di situ," ucapnya.


"Aku bukan mengkhawatirkan mereka, ya ... walaupun itu tidak ada salahnya juga. Tetapi aku hanya ... merasa bosan. Tidak banyak yang bisa ku lakukan di sini, selain hanya memantau pergerakan mereka dari kejauhan, dan menunggu laporan."


"Siapa bilang?!" sahut Asep, menatap Berlin, dan kemudian kembali beralih kepada layar utama komputernya sembari lanjut berkata, "kau mau main game, bos? Bisa, nih! Apalagi spesifikasi komputer yang ada di sini sangat hebat!" ucapnya dengan penuh kagum dan antusias. Ia menggunakan layar utama untuk membuka aplikasi atau permainan daring kesukaannya.

__ADS_1


Berlin hanya tertawa kecil melihat sikap temannya itu, menghela napas dan kemudian berkata, "jadi gimana, apakah kau sudah naik pangkat?" cetus Berlin, menyindir soal permainan daring yang dimainkan oleh rekannya.


"Kau meragukan ku?! Aku sudah meraih pangkat paling tinggi di game ini! Menembak di dunia nyata saja sangatlah mudah, apalagi di dalam game," sahut Asep, dengan nada sombong dan angkuh. Kedua tangannya sibuk dengan keyboard dan mouse untuk mengoperasikan komputer tersebut.


Asep menoleh ke belakang, menatap Berlin dan bertanya, "mengapa kau tidak mau mencoba untuk memainkannya?"


Berlin menggeleng dan langsung menjawab, "tidak, karena aku lebih suka menggunakan senjata api di dunia nyata daripada dunia maya."


Pandangan Asep kembali ke arah monitor di depannya sembari berkata, "iya, sih. Lebih seru memegang senjata asli daripada hanya sekedar di dalam game online."


Di tengah keasyikan Asep memainkan komputer tersebut. Perhatiannya tiba-tiba saja tertuju ke arah salah satu layar monitor dari total lima layar yang tertempel di dinding ruangan tepat di hadapannya. Ia cukup terkejut ketika melihatnya dan langsung berkata, "Bos, jaket merah, bukankah mereka ...?" cetusnya, memanggil Berlin untuk mendekat, dan melihat ke layar yang letaknya berada di kiri atas.


"Red Rascals ...!" sahut Berlin, dengan tatapan seolah tertekejut melihat rekaman gambar pada layar tersebut. Rekaman gambar yang ditampilkan adalah rekaman yang berasal dari salah satu kamera pengawas yang ada di Distrik Barat.


"Aku akan memberitahu Adam dan yang lainnya, kau ... bisakah terus pantau dan lacak orang-orang itu?" cetus Berlin, meminta kepada Asep sebelum kemudian beranjak dari ruangan tersebut.


"Tentu, aku akan coba terus mengambil visualnya!" sahut Asep, segera menutup video games yang ia mainkan, dan beralih pada tugas yang tiba-tiba saja diberikan padanya.


Berlin pun segera beranjak dari ruangan tersebut, setelah melihat adanya pergerakan dari sekelompok orang berjaket merah, dan mereka semua sudah dipastikan bersenjata. Ia segera kembali ke ruang kerjanya, dan menghubungi kelompok yang ia kirim ke Distrik Barat untuk penyelidikan.


Sedangkan Asep, dirinya sibuk di balik komputernya, mengambil setiap potret dan rekaman yang ditangkap oleh beberapa kamera pengawas milik kepolisian yang terpasang di area distrik tersebut, serta melacak ke mana pergerakan sekelompok orang berjaket merah itu. Beruntung sekali perangkat komputer ini adalah barang milik pemerintah, jadi dirinya tidak perlu repot-repot untuk melakukan peretasan guna mendapatkan akses pada kamera-kamera pengawas itu.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2