
Di siang harinya yang sangat cerah, bahkan terik matahari dapat terasa membakar kulit. Garwig berada di Pelabuhan Tenggara Kota. Pelabuhan di mana kapal-kapal dagang internasional berlabuh, dan menjadi pusat keramaian.
Meski terik matahari begitu membakar kulit. Tetapi itu tidak menghentikan segala aktivitas dan kesibukan di pelabuhan itu. Sangat ramai sekali orang di sana. Beberapa kargo diturunkan dari kapal-kapal besar, dan dilanjutkan untuk menjalani pemeriksaan dari pihak keamanan sebelum diperbolehkan memasuki wilayah kota.
Garwig ke sana untuk meninjau aktivitas orang-orang di pelabuhan, sekaligus memeriksa kembali keamanan yang sudah diperketat sesuai dengan pembicaraannya kemarin dengan Walikota.
Ketika berada di sebuah Markas Penjagaan Pelabuhan. Garwig menerima beberapa laporan mengenai segala aktivitas yang ada di pelabuhan. Semua laporan itu ia terima dari beberapa aparatnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya aman terkendali, bahkan tidak ada tanda-tanda dari Clone Nostra di sini.
"Baguslah jika begitu. Teruskan tugas kalian, dan jangan kendurkan penjagaan serta pemeriksaan setiap barang dan orang yang masuk!" titahnya.
"Siap, Pak!" sahut beberapa anggotanya yang berdiri di hadapannya seraya memberikan hormat padanya. Lalu setelah itu, mereka pun beranjak keluar dari Markas Penjagaan untuk terus melanjutkan tugas mereka.
Beberapa saat kemudian, ketika Garwig berada di dalam sebuah ruang atasan dan hendak mempersiapkan sesuatu. Pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Ia pun mempersilakan masuk orang itu.
"Selamat siang, Pak." Orang itu ternyata adalah Prawira. Ia datang dengan seragam polisinya, dan di tangannya terdapat sebuah lampiran kertas.
"Bagaimana? Apakah dari anggotamu sudah siap?" tanya Garwig.
"Sudah, dan mereka sudah siap di depan." Prawira pun menjawab, dan lalu memberikan lampiran miliknya kepada Garwig.
Lampiran itu berisikan nama-nama anggota yang sudah siap di depan, sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Prawira. Totalnya hanya ada tujuh orang yang diberikan oleh Prawira.
"Oh, Flix ikut serta?" cetus Garwig ketika membaca satu nama yang ia kenal.
"Iya, dan itu kehendaknya sendiri," jawab Prawira.
Tok ... Tok ...!
Di tengah pembicaraan mereka. Tiba-tiba pintu ruangan yang terbuka itu diketuk kembali. Seorang pria berdiri di depan pintu, dan pria itu adalah Prime.
__ADS_1
"Pak, Regu Khusus sesuai dengan permintaan anda sudah siap untuk berangkat kapanpun." Prime membawakan informasi dan berita ini kepada Garwig. Regu khusus? Ya, itulah yang Garwig minta sejak setelah diskusi dengan Berlin dan Walikota selesai.
Mendengar hal ini, tentunya Garwig tak ingin membuang waktu lama lagi. Ia pun beranjak dari ruangan itu. Kemudian menemui Regu Khusus yang kini sudah berbaris di halaman Markas Penjagaan Pelabuhan. Halaman itu sangatlah luas, bahkan sudah seperti lapangan hijau tempat upacara bendera.
Para anggotanya pada Regu Khusus ini tampak tidak menggunakan seragam layaknya seorang aparat. Mereka hanya mengenakan pakaian santai, bahkan orang biasa mungkin tidak akan mengetahui identitas mereka yang sebenarnya adalah aparat berwenang. Namun meski begitu, masing-masing dari mereka membawa sebuah ransel besar di punggung mereka.
Tidak diketahui pasti apa isi dari ransel yang masing-masing mereka bawa. Tetapi yang jelas di dalam ransel itu adalah perlengkapan yang akan mereka gunakan untuk bertugas.
"Apa semua sudah?" tanya Garwig berjalan dan berhenti berdiri di depan para anggotanya yang berjumlahkan hanya 14 orang saja. Tujuh orang berasal dari anggota milik Prawira, dan tujuh lagi berasal dari anggota milik Garwig sendiri. Meski begitu, mereka tetap bernaung di bawah instansi pemerintah yang sama yaitu Departemen Kepolisian Metro.
"Sudah, Pak!" sahut mereka serempak.
"Apakah kalian sudah tahu tugas kalian?" tanya Garwig kembali dengan intonasi tegas layaknya pemimpin.
"Sudah, Pak!" sahut mereka.
"Bagus, jadi aku tidak perlu menjelaskannya kembali," gumam Garwig. "Ingat! Kalian akan berada jauh dari rumah dan Pusat Komando. Jadi utamakan keselamatan kalian, dan tetap ikuti rantai komando yang ada di lokasi!" lanjutnya.
Koordinasi dilakukan cukup lama, dan ketika koordinasi itu selesai. Satu buah helikopter militer tiba-tiba saja datang, dan mendarat di halaman tersebut. Tujuh orang pun diangkut menggunakan helikopter pertama. Sedangkan tujuh orang sisanya menyusul dengan helikopter militer yang kedua.
Regu yang dipimpin oleh Prime telah diterbangkan ke Tenggara, dan mendarat di atas dari sebuah kapal militer yang amat besar. Kapal itu mengapung di atas perairan lautan yang sangat luas. Sejauh mata memandang, hanya ada kapal itu saja yang tampak sedang berjaga di tengah laut sana.
Setelah itu, Prime kembali memimpin regunya untuk berpindah ke sebuah kapal nelayan yang sedang bersandar di pinggir kapal militer itu. Kapal nelayan itu cukup untuk mengangkut 14 orang. Meskipun ukurannya lebih kecil dibandingkan kapal militer yang menjadi tempat untuk dua helikopter tadi mendarat. Tetapi jangan meremehkan kemampuannya.
Dengan kapal nelayan inilah, Prime akan membawa regunya untuk pergi ke sebuah pulau. Pulau itu akan dijumpai jika terus berlayar terus ke arah Tenggara. Dan ya, nama pulau itu adalah Pulau La Luna.
***
Kabar soal pengiriman Regu Khusus yang dilakukan oleh Garwig sepertinya telah sampai ke telinga Berlin. Ia menerima informasi ini dari Garwig sendiri yang memberinya kabar, dan dari salah satu orang kepercayaannya yaitu Asep.
__ADS_1
"Jadi Garwig benar-benar melakukannya, ya?" gumam Adam.
Berlin berkumpul dengan ketiga orang kepercayaannya, yaitu Adam, Kimmy, dan Asep. Mereka berkumpul di ruangan pribadinya. Sedangkan rekan-rekan yang lain tampak sedang menikmati waktu luang mereka di ruang utama yang berada di lantai dasar Markas Ashgard.
"Mereka memasuki kandang harimau," timpal Kimmy.
"Tetapi menurutku pulau itu tidak sepenuhnya 'kandang harimau'," sela Asep sedikit menyangkal pendapat rekan-rekannya.
"Apa yang kau ketahui?" tanya Berlin. Ia dapat menyaksikan gerak-gerik Asep yang seperti telah mengetahui sesuatu.
"Um, maksudku ...." Asep tampak mengambil sebuah ponsel dari sakunya, "lihatlah ini, Bos!" lanjutnya sembari menunjukan layar ponselnya yang menyala.
Layar ponsel itu menunjukan sebuah berita yang sangat lama. "Pada pertengahan tahun 2000, telah terjadi konflik perebutan hak pemegang atau pemilik pulau, yang melibatkan antara penduduk lokal dengan sekelompok orang berjas putih." Begitulah artikel pada berita tersebut tertulis.
"Aku baru saja menemukan berita lama ini tadi," gumam Asep.
"Tetapi di sini tidak dijelaskan secara detail apa yang terjadi pada 23 tahun yang lalu," cetus Adam mengerutkan keningnya setelah membaca berita serta artikel singkat itu.
"Jadi ... apa maksudmu ... di pulau itu masih ada orang-orang baik?" tanya Kimmy langsung mengambil kesimpulan dari apa yang ingin dikatakan oleh Asep.
"Ya! Itu maksudku!" seru Asep.
Berlin jadi terdiam dan berpikir setelah mendapatkan sesuatu yang menurutnya menarik. Tetapi dirinya tidak begitu peduli dengan sejarah pulau tersebut. Karena yang di pikirannya hanyalah masalahnya dengan Clone Nostra dan dua kelompok aliansinya.
Merasa cukup bosan, Berlin pun tiba-tiba beranjak dari kursinya. "Sudahlah, aku ingin menjenguk Kent terlebih dahulu di rumah sakit," katanya.
"Kami juga ikut!" sela Kimmy dan kedua rekannya dengan bersemangat.
.
__ADS_1
Bersambung.