
Berjam-jam telah berlalu, dan pada pukul sebelas lewat lima belas menit menuju siang hari. Intensitas hujan yang sebelumnya sangat deras bahkan membuat jarak pandang terbatas, kini perlahan menurun dan tidak terlalu membatasi jarak pandang, namun masih saja deras dan tetap mengguyur seluruh kota secara merata.
Kent berdiri di tepi pembatas yang ada di atap sebuah gedung parkir yang ditempati olehnya. Kedua matanya terus melakukan pemantauan kepada sekelompok berjaket merah yang rata-rata berkumpul tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan. Di tengah jalanan para pejalan kaki itu terlihat banyak sekali orang-orang bersenjata yang tengah merampas hampir semua barang bawaan setiap warga sipil yang hanya bisa berlutut di sana.
Red Rascals, mereka benar-benar terlihat kejam, apalagi dengan beberapa tindakan kekerasan yang mereka gunakan hanya demi merampas hak yang bukan milik mereka. Kent menyaksikan semua itu, bahkan ia sempat melihat adanya seorang wanita dengan baju kantoran yang hanya bisa berlutut, bahkan sempat mendapatkan beberapa pukulan karena dia masih mempertahankan tas yang ia bawa.
Kedua mata milik Kent kemudian teralih menuju ke perempatan yang berjarak sangat jauh, bahkan perempatan jalan yang ia lihat itu berada di pinggir distrik sebelah Utara. Di sana ia melihat adanya sebuah mobil SUV hitam yang terparkir. Mobil itu tidak bergerak sama sekali, dan dirinya tidak dapat memastikan apakah ada orang di dalam kendaraan tersebut karena saking gelapnya kaca mobil itu.
"SUV hitam, berhenti di tepi perempatan sebelah Utara distrik, dan terlihat sungguh mencurigakan karena tidak terlihat adanya kendaraan lain di jalanan itu." Kent menggunakan radio komunikasi miliknya, dan kemudian melaporkan hal yang menurutnya mencurigakan itu agar dapat didengar oleh Berlin.
"Diterima," sahut Berlin melalui radio tersebut sebelum kemudian berbicara menambahkan, "untuk yang lain, jalankan rencana penyergapan sesuai dengan apa yang sudah kita siapkan! Sergap, serang, dan habisi sebanyak-banyaknya yang kalian bisa. Namun tetap untuk mengingat keselamatan diri, dan tarik mundur jika tidak memungkinkan untuk bertahan."
"Baik, Bos ...!" jawab ketiga orang kepercayaan yakni Adam, Asep, dan Kimmy yang memimpin masing-masing regu mereka di tiga wilayah lain.
"Kent, berikan kabar jika mereka sudah memulai pergerakan lagi, dan kau segera merapat ke posisi ku! Aku akan membagikan lokasi ku melalui ponsel," ucap Berlin sebelum kemudian mengakhiri bicaranya melalui radio tersebut. Kent menerima arahan serta perintah dari seseorang yang paling ia hormati itu dengan baik.
Kent lagi-lagi masih memandangi setiap tindakan jahat yang dilakukan oleh orang-orang berjaket merah itu. Tak hanya kepada orang-orang dewasa saja, namun mereka juga sempat melakukan kekerasan terhadap beberapa anak yang ada di sana. Jeritan dan tangisan dapat ia dengar meski dari kejauhan, ditambah dengan ketakutan yang sangat mendalam bagi orang-orang tak bersalah itu. Pihak kepolisian yang masih ada di sana juga tidak dapat melakukan apapun, karena di antara para pelaku masih ada warga sipil. Jika salah bertindak, kemungkinan untuk mereka membunuh orang-orang tak bersalah itu sangatlah tinggi.
__ADS_1
Laki-laki dengan mantel tebal berwarna hitam itu terlihat cukup kesal, bahkan pada genggaman tangan kanannya sudah siap sebuah pistol yang siap untuk ia tarik pelatuknya. Bagi orang yang pernah melakukan kejahatan atau tindakan kriminal dan juga pernah merampas hak orang lain, tentu tontonan yang mengerikan serta menakutkan seperti itu tidak membuatnya takut. Terlihat dari tatapan tajam Kent yang justru seolah menyimpan hasrat ingin menghabisi setiap orang yang ia lihat.
Ponsel yang disimpannya di dalam saku mantelnya sempat berbunyi sebagai pertanda bahwa ada pesan masuk. Kent segera mengambil ponsel miliknya, dan kemudian membuka pesan yang dikirim oleh Berlin. Sebuah lokasi telah dibagikan dan dikirimkan oleh Berlin.
Setelah membuka serta melihat pesan singkat tersebut. Tatapan Kent tiba-tiba saja teralihkan ke arah langit mendung, dan menyaksikan sebuah helikopter yang tampaknya bukan dari pihak kepolisian tengah mengudara berkeliling di wilayah ini.
"Ah, akan sangat merepotkan jika tindakan Ashgard dilihat oleh media ...!" gerutu Kent, kemudian menghela napas kesal ketika melihat helikopter milik awak media itu mengudara mengelilingi Distrik Komersial.
***
Ketegangan situasi pun terjadi, ditambah dengan sedikit menurunnya intensitas serangan yang dilakukan oleh Red Rascals. Mereka yang telah menduduki keempat wilayah yakni Area Pelabuhan, Area Apartemen, Distrik Barat, dan Distrik Komersial, kini cenderung menurunkan aksi serta tindakan mereka untuk sejenak. Meskipun aksi serta tindakan yang mereka lakukan telah diketahui oleh pihak kepolisian, bahkan sudah terdapat dua helikopter milik kepolisian yang mengudara serta mengelilingi keempat lokasi tersebut. Tetapi itu tidak membuat sekelompok orang bersenjata itu gentar, bahkan mereka seolah tidak menganggap bahwa polisi-polisi itu ada di sana.
"Penyerangan terjadi di keempat distrik berbeda, dan ketegangan pun tercipta. Belum ada tindakan pasti dari pihak kepolisian untuk menangani serta mengendalikan situasi, bahkan belum ada kejelasan soal apakah kepolisian segera bertindak untuk mengambil alih situasi tegang ini. Terlebih di waktu serta hari yang sama yaitu pagi ini, sedang dilaksanakan persidangan terdakwa Tokyo El Claunius, orang berbahaya yang menjadi dalang dari penyerangan Gedung Balaikota beberapa pekan yang lalu."
"Apakah penyerangan dari orang-orang yang identik dengan jaket merah ini, ada kaitannya dengan persidangan yang sedang berlangsung? Tentu kejadian di pagi ini langsung membuat banyak pihak berspekulasi serta berasumsi. Namun tidak ada yang tahu pasti jawaban dari segala pertanyaan tersebut."
"Semoga Tuhan melindungi kita semua."
__ADS_1
Nadia dengan dress panjang berwarna putih polos yang dikenakannya, duduk di sofa panjang ruang tamu, dan menyaksikan berita yang disiarkan secara langsung pagi ini. Seorang reporter wanita terlihat sedang berbicara sekaligus meliput kejadian yang sedang berlangsung itu melalui pantauan udara yakni helikopter milik awak media.
"Saat ini kami sedang mengudara di atas Distrik Komersial, dan terpantau terdapat beberapa warga sipil yang menjadi tawanan."
Wanita hamil itu menyaksikan dan melihat betapa mengerikannya situasi yang sedang terjadi, apalagi ketika melihat beberapa orang tidak bersalah itu menjadi tawanan mereka yang berjaket merah. Ketika menyaksikan berita yang sedang berlangsung, tiba-tiba saja timbul rasa khawatir dan gelisah yang menyelimuti hatinya.
"Mama, apakah Papa sedang bertugas di tempat itu?" cetus Akira, berlari kecil datang menghampiri Nadia dengan sebuah bola karet kecil berwarna hijau di kedua tangannya.
"Mama tidak tahu pasti, sayang. Tetapi yang jelas, kita doakan yang terbaik untuk Papa, ya ...?" jawab Nadia, tersenyum tipis sembari memeluk dan kemudian mengangkat tubuh kecil putrinya untuk duduk di pangkuannya. Salah satu tangannya kemudian meraih remot televisi yang ia letakkan di atas sofa tepat di sebelahnya, dan langsung dengan cepat mengganti kanal televisi ke acara yang lebih menarik.
"Setop!! Aku mau lihat ini!!" seru Akira bersemangat antusias ketika melihat salah satu tayangan kartun tentang kancil favoritnya di televisi. Nadia hanya tersenyum, menuruti keinginan putrinya. Lebih baik daripada tayangan berita soal itu. Meski sudah berganti saluran, tetapi rasa cemas dan gelisah masih dirasakan oleh bumil itu.
Pandangan kedua mata Nadia perlahan kosong setelah menoleh ke arah pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah menuju ke taman belakang. Bunga-bunga serta dedaunan di taman itu basah kuyup dengan guyuran hujan yang masih cukup deras. Hujan di luar sana masih saja deras, sehingga menciptakan suasana tenang dengan gemercik air hujan yang berjatuhan, dan terasa cukup dingin.
"Berlin, jagalah dirimu ...!" batin wanita itu dengan raut wajah cemas.
.
__ADS_1
Bersambung.