
Hari berganti, pagi hari di hari Kamis dengan cuaca yang cukup berawan dan tidak hujan. Di pagi hari ini Berlin cukup terlambat untuk bangun karena terlalu lelah di hari kemarin. Nadia dan Akira terlihat sedang menyantap penekuk manis di ruang makan tanpa kehadiran Berlin, karena memang laki-laki itu masih belum beranjak dari ranjangnya.
"Papa belum bangun?" tanya Akira setelah selesai suapan pertama.
Nadia tersenyum melihat putrinya, apalagi ketika melihat ujung bibir kecil Akira yang terkena sirup madu. Bumil itu mengambil sehelai tisu dan kemudian mengelap madu tersebut sembari menjawab, "belum, Papa kamu masih capek sepertinya."
Akira terlihat diam dan tersenyum ketika bibirnya dibersihkan oleh Nadia, sebelum kemudian lanjut untuk menyantap kembali penekuk berbentuk ikan miliknya dengan menggunakan sirup madu.
"Mama, aku mau tambah madu, dong!" cetus Akira selesai dengan suapan ketiganya, dan kemudian tersenyum manis kepada Nadia.
"Oke, tunggu sebentar!" jawab Nadia tersenyum, mengambil sirup madu yang ada di dapur dan kemudian menuangkannya ke atas penekuk milik putrinya yang sudah tinggal setengah.
Nadia pun kembali bergabung untuk sarapan bersama putrinya, sampai benar-benar selesai. Ketika sarapan selesai, dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Sosok Berlin tak kunjung terlihat menuruni tangga juga. Sepertinya laki-laki itu benar-benar tidur nyenyak.
"Sayang, coba kamu bangunkan Papa di kamarnya ...! Bilang saja padanya kalau jika tidak segera sarapan, nanti penekuknya kita habisin," ucap Nadia sembari tersenyum tipis kepada putrinya.
"Baik!!" sahut Akira berseru semangat, perlahan turun dari kursinya dan kemudian beranjak pergi menuju tangga, menaiki anak-anak tangga tersebut secara pelan dan hati-hati.
Akira perlahan terus menaiki anak tangga tersebut bersama dengan boneka beruang yang selalu ia bawa, langkah-langkah kecilnya membawa dirinya melalui lantai kedua, dan kemudian akhirnya sampai di lantai ketiga. Tidak terlalu melelahkan baginya, dirinya langsung bergegas menuju ke depan pintu kamar milik Berlin. Ketika sudah di depan pintu, gadis kecil itu perlahan membuka pintu yang tidak terkunci itu dengan sangat pelan-pelan, bahkan dibarengi dengan dirinya perlahan mengintip ke dalam kamar.
Ketika pintu sudah benar-benar terbuka, kedua mata Akira melihat sosok Berlin yang terlihat masih tertidur pulas di atas ranjang dan di balik selimut putih. Sepertinya laki-laki tersebut tertidur sangat pulas, bahkan sedikit terdengar suara dengkurannya.
"Papa tidur nyenyak banget, emangnya enggak apa-apa kalau dibangunin?" gumam Akira berbicara sendiri dan bertanya kepada boneka beruang putih yang ia bawa.
Namun anak itu tetap melakukan apa yang sudah disuruh oleh ibunya yakni Nadia. Perlahan ia mendekati ranjang dan kini berada tepat di samping Berlin yang tengah tertidur. Akira diam sejenak melihat betapa nyenyaknya sosok ayah baginya yang masih tertidur itu, terlebih ketika melihat wajah lelahnya.
__ADS_1
Akira perlahan mencolek salah satu pipi milik pria itu dengan jari telunjuk mungilnya sembari berkata, "Papa?" ucapnya dengan tatapan polos nan menggemaskan. Belum ada reaksi apa-apa dari Berlin, hingga Akira mencolek perlahan untuk yang ketiga kalinya dengan jari telunjuk yang sama.
Berlin perlahan membuka kedua matanya dan kemudian langsung tersenyum. Bagaimana tidak, ketika bangun tidur dirinya langsung menyaksikan malaikat kecil dan menggemaskan di samping tempat tidurnya, apalagi dengan ekspresi serta tatapan polosnya.
"Papa, Mama buat penekuk buat sarapan, pakai madu. Kalau Papa enggak cepat-cepat, penekuknya nanti dimakan sama Akira sama Mama, loh!" ucap Akira mengingat apa yang dikatakan oleh ibunya padanya.
Berlin terkekeh kecil mendengar hal tersebut, dan dengan suara yang masih berat dirinya menjawab, "iya, Papa akan segera ke sana," ucapnya kemudian mengusap puncak kepala milik putrinya sembari berkata, "makasih sudah memberitahu, kalau tidak Papa akan kehilangan kesempatan untuk memakan penekuk yang pasti sangat enak itu."
"Enak banget! Papa harus coba!" sahut Akira dengan tatapan berseri-seri.
Berlin kembali tersenyum dan tak henti-henti untuk tersenyum ketika melihat sosok anak perempuan itu, "iya, habis ini Papa akan segera coba!" ucapnya.
Setelah perbincangan singkat itu, Akira perlahan beranjak keluar dari kamar tersebut dengan kaki kecilnya. Sedangkan Berlin masih berbaring di kamarnya, untuk mengumpulkan nyawa sebentar karena baru bangun tidur.
"Papa jangan tidur lagi!!" cetus Akira berseru ketika kembali mengintip dan hanya terlihat kepalanya melalui pintu kamar yang masih terbuka.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, Akira kembali melanjutkan langkahnya dengan perlahan menuruni anak tangga, melalui lantai dua dan kemudian sampai di lantai dasar. "Sudah! Papa sudah bangun," ucap anak itu berlari kecil mendekati Nadia yang terlihat sedang duduk di sofa panjang.
"Makasih," ucap Nadia tersenyum hangat kepada putrinya.
"Mama," panggil Akira sembari perlahan naik dan duduk di sofa tersebut, tepat di sebelah Nadia, "aku mau nonton kartun, dong ...!" lanjutnya.
"Mari kita lihat kartun apa di jam segini!" sahut Nadia, kemudian mengambil remot televisi yang tergeletak di atas meja kaca.
Ketika televisi tersebut dinyalakan, kanal televisi langsung menyambut dengan berita harian. Berita yang dibawakan masih mengenai topik yang masih panas kemarin, yakni soal persidangan yang sempat dilakukan kemarin. Namun beberapa saat setelah membahas persidangan, topik dari laki-laki pembawa berita tersebut langsung berubah membahas soal kelompok yang berhasil mengambil alih situasi di Distrik Komersial yang sempat kacau. Si pembawa berita terus bertanya-tanya siapakah orang-orang dengan mantel hitam itu, ditambah dengan beberapa gambar yang berhasil tertangkap oleh kamera dan ditampilkan di layar kaca.
__ADS_1
Nadia sendiri sempat terkejut dan tertawa kecil melihat berita tersebut, karena dirinya tahu siapa orang-orang itu. Siapa lagi kalau bukan Berlin dan teman-temannya. Namun sepertinya informasi mengenai Ashgard tidak sampai ke publik, sehingga membuat si pembawa berita masih bertanya-tanya.
"Mama, itu Papa bukan, sih? Tidak terlalu jelas, tetapi dia pakai tongkat, dan mirip banget sama kayak Papa!" cetus Akira, menunjuk ke salah satu gambar yang menampilkan sosok laki-laki dengan mantel hitam berdiri menggunakan tongkat di tangan kirinya.
Di saat yang bersamaan Berlin muncul menuruni anak tangga dengan tongkatnya yang ia genggam di tangan kiri, dan langsung disambut dengan seruan Akira yang berkata, "Papa, lihat sini! Papa masuk televisi!" ucap Akira, beranjak turun dan segera menarik salah satu tangan milik Berlin.
Berlin terkejut mendengar hal tersebut, apalagi ketika dirinya melihat ke televisi. Namun setelah melihat ke televisi, lelaki itu menghela napas lega karena gambar-gambar yang diambil oleh pihak media tidak terlalu jelas atau lebih tepatnya burik.
"Biarkan saja, Papa mau sarapan dahulu," ucap Berlin, kemudian dengan santainya berjalan menuju meja makan.
Nadia tersenyum melihat suami dan putrinya, sebelum kemudian ia mengganti kanal televisi tersebut ke acara anak-anak untuk ditonton oleh Akira putrinya. Setelah itu, dirinya menghampiri suaminya yang sedang asyik menikmati penekuk bagiannya di meja makan.
"Sepertinya kamu bisa menjadi orang yang dicari-cari oleh media, hati-hati," ucap Nadia, duduk tepat berhadapan dengan lelakinya.
Berlin terkekeh kecil dan berkata, "sepertinya begitu," ucapnya menghentikan suapannya sejenak dan kemudian lanjut berkata, "aksi kemarin memang mencolok sekali, sih. Dan itu adalah salah satu risikonya."
"Iya, aku tahu, jadi kesimpulannya kamu harus lebih berhati-hati ...! Ashgard jangan sampai terlalu terekspos pokoknya, benar begitu?" ucap Nadia dengan sikap dan intonasi yang terdengar sungguh lembut.
"Iya, seharusnya begitu," sahut Berlin mengangguk, kemudian melanjut aktivitas sarapannya.
Setelah mengetahui soal publik yang mulai bertanya-tanya siapa identitas di balik sekelompok orang dengan mantel hitam kemarin. Berlin tidak terlihat senang, dan justru terlihat cukup berat hati serta mengeluh. Menurutnya Ashgard jangan sampai terlalu terekspos ke publik, karena itu bisa membawa masalah tersendiri bagi Ashgard. Dengan terkenalnya Ashgard di mata publik, tentu akan sangat mudah untuk mencari serta mendalami segala informasi tentang Ashgard, dan hal tersebut tentu akan menjadi masalah yang cukup besar serta rumit. Maka dari itu dari awal Berlin berusaha untuk sangat menghindar dari popularitas.
Setelah selesai dengan sarapan paginya. Berlin langsung berusaha untuk menghubungi seseorang menggunakan ponselnya untuk masalah yang masih kecil ini. Karena masalah kecil tersebut bisa semakin besar seiring berjalannya waktu jika tidak segera teratasi.
.
__ADS_1
Bersambung.