Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Bersih #169


__ADS_3

Tak berselang lama, setelah Netty beranjak pergi cari ruangan tersebut. Wanita berseragam itu kembali lagi, bersama dengan Prawira yang sudah datang bersamanya.


"Netty sudah menjelaskannya padaku, dan katanya kau ingin membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian, benarkah itu?" ucap Prawira, tersenyum, menatap Berlin yang turut berdiri dengan kedatangan dirinya.


"Ya, benar," jawab Berlin, berjabat tangan dengan Prawira, begitu pula dengan Nadia yang ikut berdiri di sampingnya.


Prawira menghela napas, berkata, "kau tahu? Walaupun kita berasal dari keluarga yang sama, dan saling kenal dekat satu sama lain. Namun prosedur tetaplah prosedur, Berlin." Prawira berbicara, sembari melangkah, berjalan mendekati meja kerjanya, dan bersandar di meja tersebut.


"Bagaimana prosedurnya?" sahut Berlin.


Prawira menatap ke arah Netty sembari berkata, "Netty, periksalah catatan soal Berlin di data base kita ...!" pintanya, terdengar tenang, namun tegas.


"Baik, akan segera saya periksa," jawab Netty, kemudian beranjak keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan ketiga orang yang ada di sana.


Sembari menunggu, Prawira mempersilakan kedua tamunya untuk duduk kembali. Ia mulai berbicara mengenai tujuan Berlin ingin bertemu dengan dirinya.


"Baik, apa keperluan mu menemui diriku, Berlin? Aku tahu betul dari ekspresi wajahmu, pasti ada yang ingin kau bicarakan denganku, 'kan?" ucap Prawira, melangkah, dan duduk di sebuah sofa single seat yang berjarak cukup dekat dengan posisi Berlin berada.


Seperti biasa, tanpa basa-basi, Berlin langsung menjawab, "aku ingin berbicara mengenai Carlos, lebih tepatnya pekerjaan untuk laki-laki itu."


"Karena tentu saja, dia tidak dapat terus diam di kediaman selamanya, bulan?" lanjut Berlin, santai.

__ADS_1


Prawira langsung menanggapi apa yang Berlin katakan dengan berkata, "kebetulan sekali, kemarin aku dan Garwig baru saja membahas soal itu. Namun kami tidak berani memutuskan apapun soal itu, karena tentunya otoritas kami atas Carlos berada tepat di bawahmu, Berlin."


Nadia, bumil itu hanya diam, menikmati secangkir teh manis hangat yang disajikan, dan menyimak pembicaraan kedua pria itu.


"Apa yang kalian bicarakan? Apakah sempat menemui sebuah titik solusi atau jawaban untuk pekerjaan yang cocok dengan Carlos?" sahut Berlin, bertanya.


Prawira bersandar pada sofanya, mengerutkan dahinya, menghela napas, dan menjawab, "cukup sulit untuk memutuskan hal itu, ya. Apalagi dengan latar belakang dan nama Carlos sendiri yang sudah buruk sebagai narapidana bebas bersyarat."


"Namun kemarin pada saat acara keluarga, aku sempat berbicara dengannya, dan mengatakan padanya untuk tetap mencari pekerjaan. Walaupun sepertinya akan sangat sulit untuknya, mengingat dengan latar belakangnya sebagai narapidana yang bebas bersyarat," lanjut Prawira.


Berlin menghela napas, mengerutkan dahinya, turut bingung. Cukup sulit untuk memikirkan pekerjaan apa yang cocok untuk saudara laki-lakinya itu. Apalagi dengan nama Carlos sendiri yang sudah kotor, dan membawa gelar narapidana walaupun kini sudah menjadi "mantan".


Tetapi, pembicaraan mereka berdua harus terpotong, dengan kedatangan Netty kembali sembari membawa sebuah tablet di tangannya. Ia menghampiri Prawira yang duduk di sofa single seat, dan menyerahkan tablet tersebut padanya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Netty, cukup memancing perhatian Berlin, apalagi sang istri yang juga terlihat sangat penasaran dengan apa yang kepolisian miliki atas informasi tentang suaminya.


"Hmm ...!" Prawira bergumam, menghela napas, menggelengkan kepala dengan kedua mata masih tertuju kepada layar tablet yang menyala, dan kini berada di pangkuannya.


Tatapan Prawira kemudian teralih kepada Berlin, tajam, dan sangat serius. Namun tatapan tersebut juga menyimpan rasa penasaran.


"Jujur saja, aku cukup terkejut, namun juga tidak terlalu terkejut." Prawira berbicara, meletakkan tablet itu di atas meja, dan menunjukkannya kepada Berlin, sekaligus Nadia yang tentunya juga dapat melihat.

__ADS_1


Layar tablet itu menampilkan foto profil milik Berlin, beberapa data diri seperti nama lengkap, sampai golongan darah yang mencatat bahwa golongan darahnya adalah B. Di kolom bagian bawah dari foto profil itu tertulis sebaga kolom "catatan kriminal". Namun pada kolom tersebut, terlihat sangat bersih, bersih sekali, tidak ada catatan kriminal yang dilakukan oleh Berlin yang tercatat di sana.


"Aku dari awal tidak menutupi soal catatan kriminal yang kau lakukan. Namun berdasarkan apa yang kepolisian miliki, kau benar-benar bersih, Berlin. Tidak ada catatan kriminal yang tertulis," ucap Prawira, yang terlihat cukup bingung.


"Apa rahasiamu? Bagaimana caramu mengelabui kepolisian?" lanjut Prawira bertanya, tajam, serius.


Berlin terlihat sangat bingung dengan apa yang ia terima, ia lihat, dan ia ketahui saat ini. Ditambah lagi, dirinya cukup bingung dengan pertanyaan yang dilemparkan oleh Prawira. Karena dirinya menyangka, catatan kriminalnya bersih karena campur tangan Prawira, yang berkemungkinan besar merubah serta memainkan catatan tersebut di balik layar. Namun berdasarkan kedua mata Prawira yang saat ini menatapnya tajam. Prawira justru terlihat bingung, dan tidak menunjukkan kebohongan atas ketidaktahuan dirinya.


"Jujur saja, aku tahu selama ini kau pasti berbuat kriminal. Namun aku tidak tahu kalau ternyata dalam data base kami, tidak tercatat sama sekali kejahatan yang kau lakukan." Prawira berbicara sekali lagi, meyakinkan atas ketidaktahuan dirinya.


"Kalau kau aja yang petinggi kepolisian tidak tahu, bagaimana dengan diriku?" sahut Berlin. Nadia yang duduk di sampingnya sempat menoleh, melirik sang suami dan tiba-tiba saja berbisik, "Berlin, aku sangat tidak menyangka hal ini. Menurutku ... kau keren!" celetuk bumil itu, spontan dengan tatapan kagum.


Prawira menghela napas, tidak ingin ambil pusing lagi mengenai masalah tersebut. Ia kembali tenang, bersandar santai pada sofanya sembari berkata, "sudahlah! Pembuatan surat keterangan yang kau ajukan akan segera dikerjakan, tinggal tunggu saja."


"Netty, kerjakan sekarang!" lanjut pria berseragam itu, memberikan pintanya keada Netty.


"Baik!" Netty patuh atas perintah tersebut, kembali mengambil tablet yang ia bawa, dan segera beranjak pergi dari ruangan guna mengerjakan Surat Keterangan Catatan Kepolisian untuk Berlin.


Setelah wanita berseragam itu pergi. Prawira kembali membahas soal Carlos bersama dengan Berlin, tentu dengan Nadia juga yang hanya diam menyimak semua pembicaraan tersebut.


Nadia terlihat cukup antusias, tertarik dengan pembicaraan kedua pria tersebut. Rasa penasaran dalam dirinyalah, yang membuat dirinya merasa tak bosan untuk menyimak semua pembicaraan yang dilakukan, meskipun pembicaraan itu panjang lebar dan memakan cukup banyak waktu. Untung saja Akira tidak ikut, karena jika anak itu ikut, Nadia sangat yakin kalau ini akan menjadi hal yang sangat membosankan. Hanya duduk diam, menyimak pembicaraan Papanya dengan Paman Prawira, dan sembari menunggu hasil dari surat keterangan yang sedang dikerjakan oleh Netty, tentu menjadi hal yang sangat membosankan bagi anak-anak.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2