
"Akira di mana?" tanya Berlin, sudah berdiri di depan pintu masuk vila, celingukan ke belakang istrinya, mencari sosok yang tidak terlihat.
Nadia yang berdiri tepat di depannya, sembari membenarkan jaket berwarna hitam yang digunakan oleh sang suami. Ia menjawab, "dia sudah ada di kamar," ucapnya, kemudian selesai membenarkan jaket tersebut.
"Ya sudah, aku berangkat dahulu, ya?" ucap Berlin, berdiri di depan pintu, berpamitan dengan istrinya.
Pada pukul tujuh malam, tiga orang kepercayaan Berlin sudah berada di halaman vilanya. Mereka sebelumnya telah mendapatkan kabar dan arahan dari Berlin langsung datang ke vila tersebut.
"Kamu hati-hati, ya! Dan jangan pulang terlalu larut ...!" sahut Nadia, intonasinya terdengar sungguh lembut, berdiri tepat di hadapan lelakinya dengan senyuman manisnya.
Berlin membelai rambut wanita tersebut dengan satu tangannya, sedikit menunduk untuk dapat menatap matanya, tersenyum padanya, dan berkata, "aku tidak akan lebih dari jam sebelas. Kamu kalau mengantuk, langsung saja tidur, tidak perlu menungguku apalagi sampai begadang, ya ...!?" sebelum kemudian mengecup kening milik bumil itu.
Nadia tersenyum, mengangguk patuh dengan tatapannya yang terkesan sungguh lembut nan hangat. Ketiga rekan Berlin tampak sudah menunggu cukup lama di halaman. Berlin pun segera menyusul mereka, naik ke dalam sebuah mobil SUV berwarna hitam, dan segera bertolak dari kediaman tersebut, kemudian hilang di kelokan jalan.
...
"Ini kita langsung saja ke Balaikota?" tanya Adam kepada Berlin yang duduk tepat di bangku sebelahnya, sembari mengemudikan mobilnya, berliku-liku di jalanan lereng perbukitan kota.
"Ya, Garwig sudah menunggu di sana," jawab Berlin, dengan sebuah ponsel yang menyala dalam genggamannya.
"Kira-kira apa yang akan dibahas, ya?" cetus Asep, duduk di kursi tengah bersama dengan Kimmy.
"Seharusnya sih tentang peran pekerjaan yang nanti akan kita isi," ucap Kimmy, menjawab pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"Apapun yang dibicarakan di sana, aku ingin kalian untuk tetap diam, jika belum menerima kesempatan serta perintah dariku untuk berbicara. Bisakah itu dilakukan?" ucap Berlin, kemudian menoleh dan menatap satu-persatu wajah dari ketiga rekan kepercayaannya.
Mereka bertiga mengangguk takzim, "baik, bos!" jawab mereka.
Suasana malam yang dingin dan sungguh terasa tenang. Keadaan lalu lintas yang berliku di perbukitan kota terpantau sangat lengang, jarang terlihat kendaraan yang berlalu-lalang, namun bukan berarti tidak ada.
Perjalanan yang cukup singkat, hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Mobil yang dikendarai oleh Adam, perlahan memasuki Area Balaikota, dan berhenti tepat di sebuah lahan parkir yang ada tepat di depan gedung.
Berlin dapat melihat, hampir setengah gedung yang kemarin hancur berantakan, perlahan mulai direnovasi dan diperbaiki. Bahkan di malam hari, terpantau beberapa pekerja proyek yang masih mengerjakan pekerjaan mereka, beberapa terlihat sedang memanjat gedung dengan peralatan mereka.
Bersama dengan ketiga rekan kepercayaannya yang berjalan mengikuti langkahnya dari belakang. Berlin berjalan, melewati rerumputan halus di halaman gedung tersebut, dan langsung disambut oleh Garwig yang sudah berdiri tepat di pintu besar Gedung Balaikota.
"Bagaimana kabarmu, Berlin?" sapa Garwig, langsung meraih, dan berjabatan tangan dengan Berlin, serta juga dengan ketiga rekannya.
Garwig memimpin langkah keempat orang tamu terhormatnya, berjalan masuk ke dalam gedung dengan melalui aula utama serta beberapa ruangan.
"Aku ingin bertemu dengan kalian, dengan maksud aku ingin menyampaikan beberapa hal yang sepertinya harus kalian ketahui," ucap Garwig, sembari berjalan melalui aula utama gedung yang amat luas itu.
"Soal pekerjaan?" sahut Berlin, memastikan.
"Ya, soal itu," jawab Garwig, menoleh, dan tersenyum tipis kepada Berlin yang berjalan perlahan menggunakan tongkatnya tepat di sebelahnya.
Langkah pria yang kini memiliki peran sebagai walikota itu, membawa ketiga orang tamu pentingnya menuju ke ruang kerja miliknya. Di ruangan tersebut, Garwig mengambil sebuah dokumen, dan menyerahkan dokumen tersebut kepada Berlin.
__ADS_1
"Beberapa hal yang harus kalian ketahui, dan sekaligus beberapa hal yang harus siap kalian terima sesuai menurut aturan yang sudah tertulis dan berlaku di kota ini. Aku merangkumnya di dokumen ini," ucap Garwig saat menyerahkan dokumen itu kepada Berlin.
Berlin terlihat mengerutkan dahinya ketika membawa semua yang tertulis dalam dokumen tersebut. Semuanya berkaitan dengan aturan, aturan, dan aturan. Mata milik lelaki itu seketika langsung terasa malas untuk membacanya.
Garwig tersenyum melihat raut wajah Berlin yang terlihat seperti muak dengan semua aturan-aturan itu. "Aku tahu ini pasti bertentangan dengan prinsip serta pendirianmu, dan juga prinsip serta pendirian kelompok kalian. Di titik ini, aku masih memberikan kalian kesempatan untuk mundur, dan menyerahkan peran serta pekerjaan penting ini kepada kandidat lain, ya walaupun kandidat tersebut masih belum ada," ucap pria itu, bersandar di depan meja kerja miliknya.
Dokumen yang ditunjukkan oleh Garwig berisikan banyak sekali peraturan yang wajib dipatuhi dan ditaati oleh Ashgard, jika memang Ashgard sudah membulatkan tekad untuk mengisi peran serta menjalani pekerjaan tersebut. Dan beberapa peraturan tersebut cukup berkonfrontasi dengan pendirian serta prinsip yang Berlin buat sejak Ashgard berdiri.
Tatapan Berlin tajam, mengarah kepada Garwig, setelah selesai membaca ringkasan dokumen itu sampai habis, dan mencerna setiap kata dan kalimat yang ia baca.
"Aku tidak bisa menjamin, Ashgard akan terus patuh dan tunduk atas semua peraturan ini. Kini keputusan ku lemparkan padamu, Garwig. Aku sendiri mewakili Ashgard, bersedia menerimanya," ucap Berlin, sangat serius, kemudian menyerahkan dokumen itu kepada ketiga rekannya untuk dibaca.
Garwig menghela napas, melipat kedua lengannya di atas dada sembari berkata, "ku akui kau cukup pandai, Berlin." Dirinya cukup terkejut dengan Berlin yang tiba-tiba saja melempar pengambilan keputusan itu padanya.
Pria itu melangkah, dan berhenti tepat di hadapan Berlin, cukup dekat, hanya berjarak satu meter. Tatapannya serius kepada Berlin, dan memulai kontak mata yang cukup tajam.
Garwig menghela napas, sebelum kemudian berkata, "kalau memang kau melemparkan keputusan itu padaku, maka keputusan yang akan ku buat adalah, kalian akan tetap mengisi peran tersebut atas izinku."
Berlin tersenyum sinis, mengangkat satu alisnya dan berkata, "meskipun aku sudah berkata dan memberi peringatan seperti itu? Kau tidak takut jika terjadi suatu penghianatan lagi di internal antara walikota dengan divisi khususnya?" ucapnya, tajam.
"Aku sangat percaya pada dirimu, Berlin! Sama seperti aku memberikan kepercayaan serta kesetiaanku sepenuhnya kepada kedua orang tuamu dahulu," sahut Garwig, menjawab dengan lugas, tegas, dan sangat yakin atas apa yang ia katakan.
.
__ADS_1
Bersambung.