Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Hanya Kau yang Bisa Kami Andalkan #203


__ADS_3

Dua hari sebelum hari persidangan soal Tokyo El Claunius dimulai. Clone Nostra yang sedang dalam masa terpuruknya, telah sepakat untuk mengikat sebuah benang merah dengan Red Rascals, sebuah benang persekutuan terbentuk di dalam pertemuan pagi ini di sebuah gudang terbengkalai.


Clovis, laki-laki itu terlihat cukup terpaksa untuk membuat ikatan persekutuan dengan pihak milik Felix. Ketetapan hatinya untuk tidak bergabung dengan Red Rascals sangat terlihat dari raut wajahnya yang terlihat sangat tidak rela untuk menjalin benang merah tersebut. Namun di titik serta posisinya saat ini. Dirinya dan rekan-rekannya tidak memiliki keuntungan jika melawan, dan hanya akan mengukirkan nama mereka di batu nisan dengan sangat cepat.


"Sesuai dengan perjanjian, aku akan membantu kalian untuk persidangan lusa. Jika soal mengurus aparat-aparat itu, jangan khawatir, kami tidak akan melepaskan mereka. Akan ku pastikan semuanya berjalan sesuai dengan rencana.


Felix berbicara dengan intonasi yang terdengar rendah dan berat, namun dengan tatapan yang sangat tajam dan serius kepada Clovis.


"Asalkan bayarannya sudah diatur," lanjut Felix.


"Baik, soal itu sudah kami atur untuk kalian. Tinggal tindakan kalian bekerja dengan baik atau tidak," sahut Clovis, tajam.


"Kapan aku bisa melihat bayaran untuk kami?" sahut Felix.


"Tidak sekarang," sahut Clovis, lugas dan tajam. Bahkan ia menjawab belum ada sepersekian detik setelah Felix selesai bertanya.


Cara berbicara mereka berdua terlihat cukup panas, bahkan situasi sempat terasa seakan sedang bersitegang satu sama lain. Jika salah berbicara sedikit saja, mungkin pertumpahan darah tidak dapat terelakkan, dan gudang terbengkalai itu akan menjadi saksi serta tempat pembantaian.

__ADS_1


Namun Felix tidak seperti rekan-rekannya yang terlihat cukup emosi dengan jawaban serta sikap yang ditunjukkan oleh Clovis. Dirinya terlihat sangat tenang, dan tidak begitu peduli soal sikap tersebut.


"Baik, kalau begitu sampai ketemu besok! Kami akan melakukan persiapan untuk lusa, dan sudah harus dipastikan wajib ada kehadiran kalian." Felix berbicara, tersenyum sinis, sebelum kemudian menarik pergi pihaknya dari lokasi tersebut.


Dalam waktu kurang lebih satu menit, kelompok yang identik dengan jaket merahnya itu sudah hilang dari lokasi atau tempat itu. Sekarang tinggal hanya Clovis dan rekan-rekannya.


"Kita pergi, dan bertemu di tempat biasa!" ucap Clovis, dan kemudian secara serempak mereka pergi dari gudang terbengkalai itu.


Clone Nostra pun juga ikut pergi, segera meninggalkan lokasi tersebut dan berniat untuk kembali berkumpul di tempat milik mereka sendiri. Tanpa bergerombol, mereka bergerak secara terpisah dan terpencar, melalui jalanan kota yang ramai secara terpisah.


Clovis sendiri tidak ingin keberadaan kelompoknya mencolok di mata publik, apalagi jika melakukan pergerakan secara bersamaan dan bergerombol. Terlebih mengingat posisi Clone Nostra yang saat ini sedang sangat terpuruk. Tentu dirinya dan rekan-rekannya sangat menghindari beberapa hal yang tidak diinginkan, serta berusaha agar tidak memancing perhatian aparat.


Clovis menggunakan tempat atau kelab malam yang dikelola oleh pihaknya sendiri untuk berkumpul bersama rekan-rekannya. Tidak ada tempat selain kelab malam tersebut yang bisa digunakan untuk bernaung dan berkumpul.


"Mereka mengincar aset dan harta kita, tidak lebih. Tidak ada yang namanya 'bantuan atau niatan membantu'!" ucap salah satu dari rekannya kepada Clovis sendiri.


"Clovis, kau adalah putra terakhir dari keluarga Claunius, keluarga besar Clone Nostra. Semua keputusan ada di tanganmu, dan kami harap kau benar-benar mengambil keputusan yang tepat," ucap seorang wanita berjaket putih dengan tatapan tajam dan serius kepada Clovis.

__ADS_1


Clovis tampak pusing sendiri, ia duduk di sebuah sofa panjang berwarna ungu dan kemudian tertunduk di sana. Ia terlihat putus asa, apalagi dengan posisi Clone Nostra yang mungkin berada di ujung tanduk.


"Tidak ada Bos Tokyo, tidak ada Doma, tidak ada Karina, juga tidak ada Farres. Kami hanya mengandalkan kau, Clovis. Kami siap mengikuti arahan apapun darimu!" ucap wanita tersebut, duduk tepat di sebelah Clovis.


Clovis menggeleng dan berkata, "aku tidak bisa seperti Tokyo, juga tidak bisa seperti mereka bertiga. Aku tidak memiliki kemampuan untuk memimpin."


"Justru kurasa kau bisa! Kau berbeda, tidak seperti Tokyo yang keras orangnya, dan tidak seperti ketiga tangan kanannya yang tidak memikirkan kami," sahut wanita itu, angkat bicara dan berpendapat mewakili rekan-rekannya.


Clovis menghela napas berat, mengangkat kembali kepalanya dan kemudian berkata, "untuk sementara ... kita akan tetap berada di balik bayangan, karena tentu kita tidak bisa muncul dalam posisi sedang diincar oleh banyak pihak."


"Aku harus bilang, kalau kesetiaan kalian akan diuji di sini, di titik ini. Dan meskipun aku berbeda dengan Tokyo, namun aku tetap tidak akan segan jika ada yang membelot di antara kalian," lanjut Clovis, menatap tajam wajah-wajah putus asa dari rekan-rekannya yang berdiri tepat di hadapannya.


"Lalu bagaimana dengan esok?" sahut wanita itu bertanya, menoleh dan menatap dalam nan serius Clovis di sebelahnya.


Tatapan Clovis benar-benar tajam, terlihat dari iris dan netranya yang berwarna cokelat kehitaman, semakin tajam bila dirinya mengingat kembali soal penghianatan yang dilakukan oleh Red Rascals di hari kekacauan Balaikota. Tentu ia tidak ingin hal tersebut terjadi untuk yang kedua kalinya.


"Untuk sementara, kita ikuti alur, sembari membaca beberapa rencana mereka untuk hari lusa. Sebelum kemudian, kita akan mengambil tindakan untuk apapun yang akan terjadi nanti," ucapnya, tajam dan lugas.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2