Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Maaf, Aku Merahasiakannya #198


__ADS_3

"Yang perlu kalian ketahui sebelum aku menjelaskan semuanya. Carlos Gates sudah terikat kontrak denganku, bahkan jauh sebelum kita berangkat ke Pulau La Luna, baik dalam konteks pekerjaan dan juga personal, dan dalam kontrak tersebut ada banyak aturan yang akan siap mengekang dirinya. Jadi dia tidak dapat bertindak seenaknya, apalagi membahayakan diriku atau orang-orang yang dekat denganku. Karena jika dia melakukannya, maka ancaman mengerikannya adalah hukuman mati."


"Secara personal, kontraknya yang terikat denganku berlaku selama diriku dan dirinya masih hidup, alias seumur hidup. Sedangkan kontrak pekerjaannya yakni yang terikat dengan Ashgard, akan berjalan sesuai dengan yang aku tentukan sendiri. Jadi semua jalan hidupnya, aku bisa mengubahnya dan menentukannya."


"Apakah sampai di sini kalian paham dengan yang ku katakan?"


Berlin menyudahi pembicaraannya sejenak, dan menanyakan rekan-rekannya terlebih dahulu sebelum dirinya lanjut untuk menjelaskan. Mereka semua terlihat mengangguk pelan, dan tampaknya memang mereka paham.


"Lalu ... apa alasanku merekrut Carlos Gates untuk bergabung dengan kita? Jawabannya adalah ... aku merasa ... aku membutuhkan perannya."


Alasan yang diberikan oleh Berlin, tentu sempat membuat kontra yang terjadi di antara rekan-rekannya muncul. Mengapa harus dia? Apakah Berlin tidak mempercayai rekan-rekannya? Ataukah kinerja rekan-rekannya kurang? Ataukah jangan-jangan memang lebih berguna Carlos dibanding rekan-rekannya? Tentu beberapa prasangka dan pertanyaan itu sempat terlintas dalam benak masing-masing rekannya. Namun mereka tidak mau mengutarakan atau mengucapkannya, dan lebih memilih diam sampai Berlin benar-benar selesai menjelaskan.


"Meskipun Ashgard tidak sering tersorot kamera, dan peresmiannya untuk bergabung sebagai Divisi Khusus juga dilakukan sangat tertutup. Namun kita ... Ashgard, sudah menarik banyak perhatian, banyak mata, dan banyak media di luar sana atas tindakan yang kita lakukan dalam beberapa pekan terakhir."


"Jadi aku butuh seseorang yang memang jarang tersorot untuk mengisi peran tersebut, sebagai informan yang akan masuk ke area-area terlarang."


"Lalu apakah maksudmu kami tidak bisa mengisi peran tersebut?" cetus Kimmy, menyela keheningan yang tercipta di antara rekan-rekannya.


Berlin tersenyum mendengar pertanyaan tersebut dan menjawab, "aku percaya tentu saja kalian bisa, namun belum waktunya."


"Untuk saat ini situasi kita sedang menyelidiki Clone Nostra, dan keterikatannya dengan Red Rascals."


"Dan mengapa aku mengandalkan Carlos? Karena dahulu dia adalah salah satu petinggi Mafioso, sebuah kelompok yang memiliki rivalitas yang sangat tinggi dengan Clone Nostra."

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya?" sahut Aryo.


"Ada beberapa hal yang dia tahu, dan mungkin tidak kalian ketahui. Selain itu, dengan memanfaatkan posisinya waktu di Mafioso, kurasa ... dia akan mendapat informasi yang sulit untuk kita dapatkan."


"Tunggu, aku masih bingung ...!" ujar Adam, mengerutkan dahinya, dan mencoba untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Berlin.


"Sebelum pergi, Carlos sempat bilang padaku kalau Mafioso masih memiliki banyak koneksi yang tersebar, dan intensitas mereka masih ada meskipun Mafioso itu sendiri sudah 'dibubarkan' oleh kepolisian. Yah ... walaupun, aku tidak yakin mereka benar-benar bubar."


"Sewajarnya dan layaknya mafia pada dasarnya yang kita ketahui, koneksi yang dimiliki oleh Mafioso tidak kalah dengan yang dimiliki oleh Clone Nostra, dan itu tidak kita miliki. Maka dari itu, aku membutuhkan dirinya," ucap Berlin, menjawab kebingungan rekan-rekannya dengan lugas dan tegas, bahkan sempat menunjuk-nunjuk permukaan meja karena saking seriusnya ketika menjelaskan.


Kata-kata pada dialog terakhir yang Berlin utarakan sepertinya berhasil membuat rekan-rekannya terdiam dan berpikir-pikir, karena apa yang ia katakan memang tidak ada salahnya. Ashgard bukanlah kelompok yang besar, dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Mafioso dan Clone Nostra yang memiliki kekuasaan serta koneksi di mana-mana. Dari segi personel saja sudah jelas kalah jumlah.


Berlin tiba-tiba saja sedikit menundukkan kepalanya dan kemudian berkata, "maafkan aku, karena aku tidak pernah membicarakan hal ini kepada kalian sebelumnya, dan membuatnya sangat dadakan seperti ini."


Sikap yang ditunjukkan oleh Berlin, justru membuat rekan-rekannya yang melihat cukup terkejut. Karena sangat jarang sekali bisa melihat Berlin menundukkan kepalanya seperti itu.


"Baiklah, kalau begitu, kita cukup mengawasi Carlos agar tidak berbuat seenaknya, bagaimana?" cetus Kent, berseru dan membuat suasana sedikit berbeda.


"Aku cukup setuju dengan ide Kent," sahut Bobi, yang berdiri tepat di sebelah Kent.


"Boleh juga, itu ide yang tidak buruk," timpal Galang.


"Sekaligus kita bimbing dia untuk berjaga-jaga agar orang itu tidak seenaknya dalam bertindak," lanjut Faris, mengusulkan dan menambahkan ide tersebut.

__ADS_1


Kepala dan pandangan Berlin kembali terangkat, dan tersenyum melihat rekan-rekannya yang tampak sudah tidak menghiraukan permasalahan awal. Argumen dan perdebatan yang memanas, secara tiba-tiba dalam waktu kurang dari tiga puluh menit langsung berubah menjadi perbincangan hangat dan saling berbagi saran. Ia sempat sedikit menoleh dan melirik kepada Asep yang berdiri tepat di sebelah sofa yang ia duduki. Asep meliriknya, dan melemparkan senyuman tipis kepadanya sembari kemudian berkata dengan nada rendah, "aman, bos. Tenang saja ...!"


***


Malam yang begitu gelap, tidak ada cahaya bulan ataupun bintang-bintang yang biasanya gemerlap memenuhi langit malam. Suasana di malam ini juga terasa dingin, mungkin lebih dingin daripada malam biasanya.


Di sebuah tempat yang terletak jauh dari kata "baik" dan "bersih", Carlos berjalan di tengah-tengah antara gedung-gedung kelab malam yang sangat ramai akan orang. Beberapa langkah ia lewati, dan langkahnya terhenti ketika sampai tepat di depan sebuah gang kecil. Di dalam gang tersebut, terdapat seorang pria dengan jaket kulit hitam, dan kedua lengan kekarnya yang penuh tato.


"Ku kira kau sudah mati, Carlos. Sama seperti mafia mu itu," cetus pria itu menyambut kedatangan Carlos yang perlahan masuk ke dalam gang.


Jika dibandingkan, tubuh Carlos jelas kalah jauh dan bukan tandingannya jika berhadapan dengan pria tersebut. Namun Carlos sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, karena memang dirinya sudah kebal dengan rasa tersebut, bahkan lebih tepatnya tidak mengenal apa itu rasa takut.


"Aku bukan seperti anggota Mafioso yang lain, sampah-sampah yang hanya tahu uang serta kekuasaan," jawab Carlos, berdiri tepat di hadapan pria tersebut, dan kemudian bersandar pada dinding di belakangnya.


Pria itu terkekeh kecil. Ketika tertawa saja, nada suaranya terdengar cukup mengerikan. Begitu berat.


"Apa yang kau perlukan?" tanya pria itu, menatap tajam Carlos dan kemudian lanjut berbicara, "namun sebelum itu, aku tidak akan memberikan apa yang kau perlukan jika kau belum memberikan uang mukanya."


"Tch!" Carlos berdecak, tersenyum sinis dan berkata, "kau tidak meragukan diriku jika sudah bersangkutan dengan uang, 'kan? Aku bisa membeli harga dirimu jika aku mau, bahkan juga seluruh isi lokasi ini sekaligus semua kupu-kupu malam itu," ucapnya, pada kalimat terakhirnya, dirinya sempat melirik tajam ke arah luar gang yang kebetulan pada saat itu terlihat banyak sekali wanita-wanita cantik dengan pakaian minim mereka jalan melintas.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2