
Perlahan Nicolaus menuruni anak tangga itu sembari tepuk tangan ke arah Berlin yang berdiri di tengah ruangan tersebut. "Hebat, kalian--Ashgard memang kelompok kecil yang hebat," ucapnya sembari tepuk tangan dan melangkah menuruni anak tangga tersebut.
Melihat wajah dan sikap Nicolaus yang tampak meremehkan dirinya, itu cukup menggugah api emosi milik Berlin. Apalagi dirinya datang ke pulau ini untuk menemui pria itu dengan suatu tujuan tentang tragedi yang terjadi bertahun-tahun yang lalu.
"Dari mata dan ekspresi mu, ku tebak--kau ingin menghujani diriku dengan banyak pertanyaan," ucap Nicolaus mengehentikan langkahnya tepat ketika sudah berhadapan dengan pria itu. Ekspresi dan mata yang amat tajam, seolah menyimpan sebuah dendam dan rasa ingin membunuh yang amat dalam. Namun untuk sementara waktu, Berlin benar-benar menahan semua emosionalnya dengan cukup susah payah.
Berlin menghela napas cukup pelan dan kemudian berkata, "senang bisa bertemu denganmu lagi, Nicolaus. Ku kira kau mati terpanggang dalam peristiwa Mafioso itu."
"Aku hanya menggunakan sedikit trik untuk lolos dari ledakan mobil itu. Ya, meskipun aku harus mengorbankan sebagian wajahku," sahut Nicolaus sembari mengangkat satu tangannya, dan sedikit menyentuh bekas luka bakar pada wajah bagian kanannya yang tidak bisa hilang.
"Nico, langsung saja aku tidak ingin basa-basi." Berlin berusaha menguatkan sedikit dirinya untuk bertanya, "mengapa kau melakukan penyerangan itu?" tanyanya. Ingatan Berlin seketika teringat soal rekaman ulang kamera pengawas yang pernah ia lihat. Rekaman yang begitu mengerikan dengan penuh kekejaman dan tanpa ampun.
"Penyerangan?" Nicolaus diam sejenak dan kemudian menangkap maksud dari pertanyaan tersebut. "Oh, soal penyerangan Kediaman Gates?" lanjutnya dengan ekspresi seolah meremehkan dan tidak merasa bersalah ketika mengingat hal tersebut.
"Yah, anggap saja itu keisenganku," celetuk pria itu dengan ekspresi penuh dengan gelak tawa.
Berlin benar-benar cukup kesulitan untuk mengendalikan emosinya. Hatinya sangat tidak dapat menerima sikap Nicolaus yang seperti itu, seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Kepalanya terasa panas, dan kedua tangannya seolah tidak sabar untuk menghabisi Nicolaus sepuas-puasnya.
"Di sisi lain, sebenarnya aku memiliki tujuan dan alasan lain selain hanya 'iseng' belaka." Tatapan Nicolaus tajam mengarah Berlin, seolah menyimpan arti di baliknya tentang dendam dan sebuah ambisi tersendiri.
"Aku--lebih tepatnya kami, telah dibayar seseorang untuk melakukan hal tersebut, dan sekaligus aku berdasarkan niat serta tujuan pribadiku sendiri," lanjut Nicolaus.
Dibayar? Oleh seseorang? Seketika Berlin bertanya-tanya dalam benaknya soal siapa orang yang membayar Nicolaus untuk melakukan hal tersebut. Namun menyingkirkan sementara hal tersebut, dan fokus kepada orang yang telah melakukan aksi bahkan mengeksekusi kedua orang tuanya dengan sangat kejam. Pria itu kini ada di hadapannya.
"Nicolaus, seharusnya kau telah mengetahui mengapa aku datang ke sini, dan apa tujuanku sampai berani datang ke pulau ini."
__ADS_1
"Ya, aku sempat menerka-nerka, dan mungkin aku tahu tujuanmu."
Nicolaus benar-benar menunjukkan sikap yang tidak menghormati kehadiran Berlin, serta memikirkan perasaannya soal tragedi pembunuhan yang ia lakukan.
"Aku tidak habis pikir, ternyata kau adalah dalang di balik meninggalnya kedua orang tuaku. Jujur saja dan asal kau tahu, Nicolaus. Setelah mengetahui hal tersebut, aku tidak dapat menerimanya begitu saja," Berlin berkata demikian dengan penuh emosional yang sampai titik ini ia tahan. Kedua tangannya sudah mengepal erat seolah menahan segala amarah yang mungkin dapat meledak sewaktu-waktu.
"Sekarang aku sudah berada di hadapanmu, Berlin. Akulah orang yang membunuh orang tuamu, dan akulah dalang yang mengendalikan orang-orang itu untuk menyerang kediaman keluarga besarmu. Aku tak hanya membunuh kedua orang tuamu saja, tetapi aku juga membunuh banyak dari saudara-saudara mu di kediaman itu, Berlin."
"Dan asal kau tahu, tujuan pribadiku sebenarnya adalah ... untuk membunuhmu di sana, Berlin. Di kamar itu."
Mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Nicolaus. Seketika Berlin tertegun dan ingatannya terlempar ke masa lalu ketika Garwig menceritakan soal kronologi kematian kedua orang tuanya pada dirinya.
**
Setengah tahun yang lalu.
"Lalu, apa yang terjadi? Kenapa kau tampak sedih seperti itu?" sahut Berlin menoleh dan menatap penasaran Garwig di sampingnya.
"Apa kau ingin aku melanjutkannya?" sahut Garwig bertanya.
"Ya, aku ingin mengetahuinya!" pinta Berlin dan menatap dengan tatapan memohon kepada Garwig.
Tampak secara terpaksa, Garwig melanjutkannya. "Tepat dua tahun setelah mereka berdua menjabat, dan setelah semua yang mereka raih selama menjabat. Tiba-tiba saja sebuah tragedi politik yang sangat mengerikan pun terjadi dan menimpa mereka berdua."
"Tragedi?" Berlin cukup terkejut dan semakin dibuat penasaran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Rumah ini ... diserang tengah malam ... oleh sekelompok orang bersenjata. Sekelompok orang itu membunuh para penjaga walikota, beberapa anggota keluarga Gates, dan juga termasuk dengan kedua orang tuamu yang tewas di kamar ini," ucap Garwig dengan mata berkaca-kaca dan tampak tidak ingin lagi mengingat-ingat kejadian itu.
"Mereka tewas karena melindungi mu yang pada saat itu masih bayi berusia 10 bulan," lanjutnya yang lalu menghela napas cukup berat.
Berlin tertegun dan terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Garwig padanya. "Melindungi ku ...?" gumam Berlin dengan mata berkaca-kaca setelah mendengar apa yang Garwig katakan. Napasnya tiba-tiba gemetaran terisak dan merasa tidak menyangka dengan apa yang Garwig katakan.
Garwig pun menghentikan ceritanya karena mengetahui kalau dirinya sudah membuat Berlin meneteskan air mata. Dirinya pun mendekat dan merangkul laki-laki itu di sampingnya.
Flashback OFF.
**
"Memang benar seharusnya aku menghabisimu waktu itu, namun sayangnya kedua penghalang mu yaitu orang tuamu sangat mengganggu. Mereka benar-benar menjengkelkan," gumam Nicolaus berbicara dengan sendirinya.
"Cukup ...! Jangan membicarakan mereka, karena kau tidak memiliki hak untuk itu ...!" Berlin sedikit tertunduk dan berbicara dengan intonasi yang berat serta terdengar cukup rendah. Tatapannya tajam, dan api balas dendam sekaligus rasa tidak terima itu amat membara. Hal itu terlihat jelas pada kedua bola matanya yang seolah membara ingin menghabisi pria di hadapannya.
Nicolaus melihat tatapan tajam yang penuh amarah dan dendam itu. Dirinya tahu siapa yang sedang ia hadapi, maka dari itu ia tetap memasang sikap waspada dan hati-hati terhadap pria bernama Berlin itu.
"Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan. Kebetulan waktu dirimu masih bayi, aku gagal untuk membunuhmu di waktu itu," celetuk Nicolaus dengan satu tangan masuk ke dalam kantong celananya seolah meraih sesuatu di dalam sana.
Berlin melihat hal tersebut, dan memasang sikap siaga. Salah satu tangannya berada di balik jubah hitam yang ia kenakan, dan siap menarik cepat sebuah pistol yang bergelantungan di pinggangnya.
.
Bersambung.
__ADS_1