Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Kedamaian Hati #155


__ADS_3

Di Kediaman Gates yang sangat luas, Garwig tak sendiri. Selain di sana ada Carlos yang tengah asyik berkeliling pekarangan rumah. Di sana juga terdapat beberapa orang yang ia tunjuk untuk mempersiapkan pesta kecil yang akan dimulai sore ini. Beberapa orang itu adalah Siska, Flix, dan James. Ketiga orang itu ditunjuk dan diberikan kepercayaan oleh Garwig untuk mempersiapkannya.


Sedangkan Garwig sendiri, dirinya harus segera pergi dari kediaman itu, karena masih ada banyak tugas yang harus ia kerjakan. Salah satu tugas pentingnya adalah, dirinya harus mempersiapkan sebuah persidangan yang akan dijalani oleh Tokyo El Claunius guna menentukan hukuman yang akan diterima pria itu.


"Kau mau ke mana?" tanya Carlos, mengejar, dan menghentikan langkah Garwig ketika berada di halaman depan rumah. Di sana terparkir sebuah mobil SUV berwarna hitam yang terparkir rapi.


"Ada banyak urusan yang harus aku urus," jawab Garwig, berhenti, berbalik badan menghadap Carlos yang berdiri tepat di belakangnya.


"Kau ... yakin meninggalkan ku di sini? Kau tidak curiga, mungkin saja aku bisa merencanakan sesuatu yang buruk di sini." Carlos berbicara. Namun reaksi Garwig hanya biasa-biasa saja, setelah menyaksikan kedua mata Carlos yang tidak memperlihatkan keseriusan atas apa yang dia ucap.


Garwig menggeleng, menjawab, "aku percaya kau tidak akan melakukannya." Kemudian berbalik, dan melangkah pergi.


"Tunggu!" Carlos melangkah beberapa langkah ke depan. Tampaknya ia cukup meragukan sesuatu untuk tinggal di tempat ini.


"Apakah mereka akan benar-benar menerima kehadiran ku?" cetus sebuah pertanyaan dari mulut Carlos, dengan intonasi yang cukup gemetar, dan tampaknya menyimpan sedikit ketakutan akan tidak diterima.


Tepat di dekat pintu mobil, dan hendak membuka pintu tersebut. Garwig menghentikan tangannya yang sudah menyentuh pintu. Berbalik badan, menoleh, dan menatap serius Carlos sembari mengulas senyuman tipis.


Tatapannya yang serius dan terkesan tajam, perlahan berubah menjadi tatapan yang terkesan lembut. "Jika kau ingin kembali diterima oleh saudara-saudara mu, maka berbuatlah baik, dan bangunlah kepercayaan mereka kembali ...!" ucap Garwig, sebelum kemudian membuka pintu, dan masuk ke dalam mobil.


Kaca jendela mobilnya perlahan turun, terbuka. Tampaknya pria itu belum selesai berbicara, dan Carlos masih berdiri diam tepat di samping mobil itu.

__ADS_1


"Kurasa ini kesempatanmu, Carlos. Tinggal kau ingin memanfaatkannya atau tidak," ucap Garwig, sebelum kemudian deru mesin mobilnya terdengar, pergi perlahan keluar dari halaman dan hilang di kelokan jalan.


Carlos hanya terdiam dan berdiri di tengah halaman itu, setelah mendengar apa yang diucap oleh Garwig. Namun lamunannya terpecah ketika sebuah suara wanita dari belakang memanggilnya, "ma-maaf, tetapi biasakah ... anda membantu ku di dalam? Flix dan James sedang sibuk memindahkan barang di belakang, sedangkan aku butuh bantuan juga untuk memindahkan barang berat."


Sosok Siska berdiri tepat di depan pintu depan bangunan rumah itu. Siska terlihat tidak enak hati, apalagi setelah melihat paras Carlos yang tidak menunjukkan keramahan untuk membantu. Ia segera melangkah mundur beberapa langkah sembari berkata, "sepertinya tidak perlu jika itu merepotkan, aku bisa sendiri--"


"Tunggu! Biarkan aku membantu!"


Carlos menyela bicara Siska, dan segera mencoba untuk memasang ekspresi ramah, walaupun sepertinya cukup sulit. Ia segera melangkah sigap, kembali masuk ke dalam rumah, dan mengikuti langkah Siska berjalan.


"Mau memindahkan apa?" tanya Carlos, tampak berusaha mencari topik pembicaraan.


"Tidak, aku tidak keberatan," jawab Carlos, sikap dan intonasinya datar, tidak ada ekspresi istimewa, semua seperti dirinya biasanya. Keheningan kembali tercipta, dengan suasana yang lebih terasa canggung.


Sudah satu setengah tahun berlalu, dan Carlos tidak pernah bertemu dengan sosok perempuan selain perempuan terakhir yang ia temui adalah Nadia beberapa waktu lalu. Kini dirinya harus dihadapkan pada situasi ini, berjalan berdampingan dengan wanita yang tidak terlalu ia kenal. Ditambah situasinya terasa cukup canggung ketika keduanya sama-sama diam, tidak menciptakan sebuah topik pembicaraan.


"Ngomong-ngomong, bukankah kau polisi? Apakah tidak apa kau ada di sini, dan tidak bertugas?" tanya Carlos, tanpa menoleh atau bahkan melirik kepada Siska yang berjalan di sampingnya, melalui lorong utama rumah tersebut. Ia bertanya, mengambil topik secara acak, dan yang terlintas pertama kali di dalam kepalanya.


Siska tersenyum tipis, menggeleng dan menjawab, "tidak apa, tenang saja!" jawabnya, wajahnya begitu ceria bahkan seolah senyuman pada paras manisnya itu tidak dapat kendur. "Lagipula Garwig langsung yang memberiku kesempatan untuk mempersiapkan pesta ini, jadi aku harus berikan yang terbaik!" lanjutnya, menoleh dan menatap Carlos dengan berbinar-binar.


Wanita itu tanpa seragam polisinya, hanya berpakaian santai dengan baju putih dan celana jeans abu-abu. Tampaknya ia mendapat bagian liburnya dari Garwig untuk mempersiapkan pesta yang akan dilaksanakan sore ini.

__ADS_1


Carlos tidak begitu memperhatikan ekspresi Siska yang tampak sangat antusias itu. Dirinya lebih memilih untuk terus menundukkan pandangannya, sampai pada titik di mana Siska menyadari hal tersebut dan bertanya, "mengapa dari tadi kau selalu menunduk?" cetus Siska bertanya, sempat menoleh kepada Carlos yang berjalan di sampingnya, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke depan.


"Bukankah seharusnya ... laki-laki itu harus terus mengangkat pandangannya ke depan?" lanjut Siska, dengan intonasi yang tampaknya ingin menyindir sosok laki-laki yang berjalan di sampingnya.


Refleks Carlos langsung mengangkat pandangannya ke depan sesaat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Siska. Menyadari hal itu, Siska diam-diam menyimpan senyuman tipisnya dengan lirikan lembut mengarah kepada Carlos di sampingnya.


Langkah mereka berdua akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pintu ruangan kayu. Siska membuka pintu tersebut, ruangan yang tampaknya adalah gudang penyimpanan pun terbuka. Wanita itu langsung berkacak pinggang dan berkata, "baiklah, itu dia pemanggangnya. Apakah kau bisa mengangkatnya? Sendiri atau perlu ku bantu?" ucapnya, menunjuk ke arah sudut ruangan yang di sana terdapat sebuah pemanggang cukup besar berwarna merah.


"Kurasa aku bisa menanganinya," jawab Carlos, menggulung lengan bajunya.


"Baguslah, kalau begitu aku akan ke dapur untuk mempersiapkan alat-alat masaknya," sahut Siska, beranjak ke dapur yang letaknya tidak jauh dari gudang tersebut. "Kalau kesulitan, kau bisa panggil aku saja! Aku bisa membantumu untuk mengangkatnya dari sisi lain pemanggang," lanjut perempuan itu sembari berjalan menuju dapur yang sudah terlihat dari depan gudang.


Carlos tersenyum dengan sendirinya, sesat setelah Siska berbicara seperti dan pergi dari tempatnya berada. Setelah berbicara beberapa kali dengan Siska, dan melihat wanita itu.


Entah mengapa, dirinya merasa menemukan ketenangan dan kedamaian yang berasal dari dalam hatinya.


"Apakah caraku untuk mengambil kesempatan itu benar? Berlin, apakah ini tujuan dan alasanmu?" batin Carlos, sebelum akhirnya ia bersiap-siap untuk mengangkat benda pemanggang yang lebih besar dari lingkar badannya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2