
"Pertandingan seperti apa?" tanya Garwig, duduk bersebrangan dengan Berlin.
Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut dan menjelaskan kebingungan Garwig. Berlin justru memutar laptop yang sebelumnya menghadap dirinya ke arah pria itu sembari berkata, "lebih baik kau lihat ini terlebih dahulu."
Garwig pun melihat layar laptop yang ditunjukkan oleh lelaki itu padanya. Seperti dengan apa yang diduga oleh Berlin, pria yang duduk di hadapannya terlihat cukup terkejut ketika melihat rekaman tersebut. Tak hanya Garwig yang melihat, namun Carlos juga telah melihat rekaman itu. Tetapi reaksinya berbeda dengan Garwig, laki-laki itu lebih cenderung tenang dan diam dengan ekspresi datar.
"Apakah Prawira tidak mendapatkan laporan mengenai penyerangan ini?" tanya Berlin.
"Kepolisian tidak berkomentar soal penyerangan yang terjadi pada rekaman ini, dan sejauh pengetahuan ku mereka memang tidak bergerak sama sekali. Antara kepolisian tidak mengetahuinya, atau memang mengetahuinya namun tidak begitu ditunjukkan ke publik," jawab Garwig.
Asep yang kini duduk tepat di sebelah Berlin melipat kedua lengannya di atas dada, dengan pandangan sedikit tertunduk dirinya berasumsi, "kamera pengawas ini milik kepolisian, dan sudah seharusnya mereka mengetahui kejadian ini."
"Jaket ungu, apakah Cassano menolak untuk bubar dan mereka kembali lagi?" cetus Siska, yang juga telah melihat rekaman yang sama.
Carlos yang kini berdiri tepat di belakang sofa yang ditempati oleh Berlin angkat bicara dan menjawab, "wajah-wajah mereka walaupun tertutup oleh masker, tetapi aku tidak merasa asing dengan perawakan mereka."
"Mereka memang sisa-sisa dari Cassano yang berhasil meloloskan diri, namun aku tidak yakin mereka berani atau begitu nekat untuk mengembalikan kelompok yang sudah dibubarkan secara resmi oleh pemerintah. Kecuali memang mendapat dukungan dari pihak lain," lanjut laki-laki itu dengan tatapan serius ke arah Garwig ketika berbicara.
"Dukungan pihak lain?" gumam Garwig setelah mendengar kalimat terakhir yang diucap oleh Carlos.
Berlin yang sedari tadi diam beberapa saat mendengarkan orang-orang di sekelilingnya berbicara. Kini ia ikut angkat bicara dengan berkata, "dukungan itu pasti berasal dari kelompok paling besar yang ada di kota ini, dan kedudukan tersebut saat ini telah dipegang oleh Red Rascals," ucapnya menjawab serta menanggapi pertanyaan Garwig.
"Aku sependapat dengan Berlin," ucap Carlos, mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Berlin.
"Bila memang benar, dan mereka ikut campur serta membuat onar di hari esok. Sepertinya aku bisa memastikan besok akan menjadi hari yang melelahkan buat kita," ucap Garwig, kemudian menatap serius kepada Berlin yang duduk di hadapannya.
Berlin hanya menghela napas dan bersandar dengan santai. Ia tahu bahwa besok pasti menjadi hari yang merepotkan, tidak peduli walaupun besok akan berjalan lancar atau tidak, karena sudah dipastikan akan menjadi hari yang melelahkan.
"Oke, sekarang ... rekan-rekan kalian ada di mana? Sepi banget ini tempat," cetus Garwig, mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Berlin meraih tongkat yang ia sandarkan di sisi sofa, dan beranjak dari sofa tersebut sembari berkata, "mari saya perlihatkan kegiatan mereka sore ini ...!"
Mereka pun segera beranjak melalui pintu kaca belakang, kecuali Asep menyusul karena harus mengemasi terlebih dahulu beberapa berkas dan barang miliknya.
"Kau mau ikut main basket?" tanya Berlin kepada Carlos yang jalan tepat berdampingan dengan dirinya.
"Basket?" sahut Carlos terlihat heran, karena dirinya tidak melihat dan mengetahui keberadaan lapangan basket di pekarangan belakang ini.
"Mengapa kau memilih kegiatan bermain basket di hari terakhir persiapan? Bukankah hari terakhir untuk bersiap-siap adalah hari yang krusial, ya?" tanya Garwig, berjalan mengikuti langkah Berlin melalui lapangan rumput lembut itu dengan perlahan.
Dengan santai dan tenangnya Berlin hanya menjawab, "kau akan mendapat jawaban dari pertanyaan mu itu," jawabnya tanpa menoleh sedikit pun, dan kemudian tersenyum tipis tanpa terlihat oleh Garwig dan Siska yang berjalan mengikutinya dari belakang.
Carlos hanya melirik dan hanya dirinya yang menyadari senyuman itu. Sebuah senyuman yang seolah menyembunyikan jawaban tersirat atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Garwig.
"Masuk!"
"Nice!"
Terdengar suara teriakan yang bersahut-sahutan dari dalam lapangan basket. Semua komunikasi mereka terdengar oleh Berlin yang bahkan belum benar-benar memasuki area lapangan tersebut.
Kedua tim yang sedang bertanding itu terlihat sangat serius. Percakapan mereka dan juga aksi mereka sangatlah pasif, terutama tim yang dipimpin oleh Adam yang posisinya diunggulkan dua poin. Saking serunya permainan yang sedang mereka mainkan. Mereka sampai tidak sadar dengan kehadiran Berlin, Carlos, Garwig, dan Siska yang sudah berdiri di tepi lapangan.
"Kau mau ikut main?" tanya Berlin kembali kepada saudara laki-lakinya yang tampak tertarik dengan permainan yang sedang berlangsung.
Carlos menggeleng dan menjawab, "tidak, sepertinya akan terjadi ketidakadilan dalam jumlah."
Asep datang dengan napas yang terengah-engah karena berlarian, "aku tidak ketinggalan pembicaraan, 'kan?"
Berlin tertawa kecil dan menjawab, "tidak." Kemudian lelaki itu berkata, "kau mau ikut main, Sep? Kebetulan Carlos mau ikut, nih."
__ADS_1
"Kalau kalian berdua masuk di masing-masing tim, jumlah kedua tim akan tetap adil," lanjut Berlin.
"A-apa yang kau katakan ...?!" sahut Carlos terlihat canggung.
"Boleh," jawab Asep tersenyum senang.
"Salva, bisa menambah pemain?" cetus Berlin, memecah serta membuat permainan berhenti sejenak.
Salva meniup peluitnya, dan kemudian berjalan ke tepi lapangan sembari berkata, "tetapi itu akan melebihi jumlah yang sudah menjadi aturan permainan ini, bos."
"Tidak apa! Lagipula ini bukan pertandingan serius," sahut Berlin.
"Oke, baiklah! Kalian berdua langsung saja masuk lapangan!" sahut Salva, tersenyum dan menyuruh Asep serta Carlos untuk turun ke lapangan.
Mendengar hal tersebut, Asep melepas jaketnya dan kemudian langsung masuk ke lapangan dengan begitu semangat bercampur dengan antusias. Sedangkan Carlos, ia justru terlihat cukup gugup meskipun dirinya mau-mau saja.
"Nikmati permainannya!" ucap Berlin dengan nada sedikit berbisik kepada laki-laki tersebut.
"Carlos, kau masuk ke tim ku!" teriak Adam, melambaikan satu tangannya untuk mengajak Carlos bergabung dengan timnya.
"Baiklah," jawab Carlos.
Setelah penambahan dua pemain telah dimasukkan ke lapangan, permainan pun kembali dilanjutkan dengan jumlah masing-masing tim enam orang.
Berlin duduk di salah satu dari sekian bangku taman yang terpasang di pinggir lapangan, sedangkan Garwig dan sekretarisnya masih berdiri tepat di sampingnya.
"Duduklah, dan lihat serta simak permainan yang sedang berlangsung jika kau memang ingin mengetahui alasanku membuat pertandingan ini untuk mereka ...!" ucap Berlin kepada Garwig dan Siska dengan santainya bersandar pada bangku tersebut.
.
__ADS_1
Bersambung.