Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Ada yang Lebih Penting? #32


__ADS_3

Di esok harinya, Berlin mendapatkan pesan dari Garwig yang dikirimkan melalui ponselnya. Pesan itu berisikan soal keamanan Ashgard. Setelah alasan dan tujuannya untuk memberitahu semua yang ia ketahui di acara minum teh kemarin. Entah mengapa Berlin merasa sedikit lega. Dan di Pagi ini, Berlin harus bertemu dengan Garwig di Gedung Balaikota.


Kicauan burung terdengar di awal hari. Berlin terbangun terlebih dahulu dibandingkan istrinya yang tampak masih tertidur di sisinya. Ia beranjak dari ranjang itu, dan kemudian membuka tirai jendela kamarnya agar cahaya mentari pagi dapat masuk menyinari kamarnya.


"Ah, ternyata kamu sudah bangun terlebih dahulu, ya." Nadia ikut terbangun ketika menyadari ada yang membuka tirai kamar tersebut. Ia terlihat masih beberapa kali menguap dan mengusap matanya.


Berlin duduk di tepi ranjang tepat di dekat Nadia, lalu bertanya, "bagaimana kondisimu? Apa sudah baikan?" tanyanya seraya mengelus lembut pipi milik wanita itu.


Nadia tersenyum tipis dan menjawab, "kurasa begitu." Dirinya pun segera beranjak dari ranjang seraya berkata, "aku akan mandi terlebih dahulu, dan lalu menyiapkan sarapan," ucapnya berjalan menuju lemari dan mengambil perlengkapan mandinya.


Sedangkan Berlin terlihat tersenyum melihat kalau kondisi Nadia sudah lebih baik daripada kemarin. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan wajahnya tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Tatapannya menuju ke arah langit-langit kamar, dan memikirkan soal permasalahan Ashgard yang masih tak bisa lepas dari pikirannya.


***


"Apa menu sarapan hari ini?" Berlin menuruni tangga dan terlihat dirinya sudah bersih dengan baju Ashgard-nya berwarna biru yang rapi. Ia berjalan menghampiri istrinya yang tampak sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan.


Nadia membalikkan badannya seraya membawa sebuah mangkuk besar dan meletakkannya di meja makan yang ada di sana. "Hari ini kita akan sarapan soto ayam saja, ya?" ucapnya seraya mengulas senyum kepada suaminya yang sudah duduk di meja makan.


"Ada sayurnya, ya?" tanya Berlin dengan polosnya.


"Jelas ada, dong! Kamu harus makan sayur, sayang! Harus!" sahut Nadia dengan tegas seraya menata mangkuk dan alat makan untuk suaminya.


"Baiklah." Berlin sedikit tertunduk, ia terlihat tidak bisa dan tidak berani membantah hal tersebut.


Mereka pun menikmati sarapan bersama. Meskipun Berlin tidak begitu suka dengan yang namanya sayur. Tetapi tampaknya ia sangat menikmati menu yang disajikan oleh istrinya. Bahkan sampai ke kuahnya pun habis diminum olehnya.


Setelah selesai sarapan. Berlin ikut membantu istrinya untuk membereskan semua alat makan yang digunakan.


"Bagaimana acara minum teh kemarin malam?" tanya Nadia seraya merapikan mangkuk yang tercuci itu ke tempatnya.


"Berjalan dengan baik, dan aku menyampaikan semua yang ingin ku sampaikan pada pertemuan itu. Bahkan aku mendapatkan informasi menarik dari sana, bahwa pemerintah akan meningkatkan keamanan kota."


Berlin menjawab pertanyaan itu seraya mencuci beberapa sendok dan garpu sisanya.


"Pagi ini Garwig meminta padaku untuk menemuinya di Balaikota. Entahlah aku tidak tahu untuk apa, tetapi sepertinya penting," lanjutnya setelah selesai menata beberapa sendok dan garpu yang telah ia cuci pada tempatnya.

__ADS_1


"Sudah pasti penting, apalagi dia memintamu datang ke Balaikota, bukan?" sahut Nadia seraya tersenyum pada lelakinya.


DEG.


Di tengah perbincangan itu. Tiba-tiba Nadia terdiam seraya menutup mulutnya. Ia merasakan mual kembali seperti hari kemarin. Berlin dibuat terkejut dengan hal itu. Dirinya mengira keadaan istrinya sudah membaik.


"Ueekk!!"


Nadia mual-mual pada wastafel yang ada di dapur. Namun seperti hari kemarin, dirinya tidak memuntahkan apapun dari mulutnya. Hanya rasa mual saja yang ia rasakan.


"Sayang, kita harus pergi ke dokter!" Berlin terlihat sangat cemas setelah melihat istrinya mual-mual seperti itu.


"Tidak apa, aku sudah baikan sekarang," jawab Nadia setelah membasuh mulutnya dengan air.


"Tetapi aku khawatir dengan kondisimu! Kamu harus ke dokter untuk memeriksakannya!" tegas Berlin.


"Baik, aku bisa pergi ke dokter sendiri, sayang. Tidak perlu khawatir," ujar Nadia tersenyum.


"Aku akan mengantarmu!" sahut Berlin. Namun Nadia menolaknya dengan berkata, "bukankah pagi ini kamu harus menemui Garwig?"


"Kamu lebih penting, sayang!" sahut Berlin. Tetapi Nadia lagi-lagi menyanggahnya dengan mengatakan, "aku bisa sendiri, Berlin!" sanggahnya dengan cukup tegas dan membuat Berlin terdiam sejenak.


"Baiklah, kalau seperti itu maumu. Pastikan dirimu pergi ke dokter habis ini, ya!" ucap Berlin dengan tegas dan menatap balik istri cantiknya itu. Sedangkan Nadia mengangguk dan tersenyum kepadanya, "iya, aku akan memberimu kabar, deh."


Setelah semuanya siap. Berlin pun berpamitan kepada istrinya, dan segera pergi menuju ke Balaikota. Meskipun hatinya sangat berat jika harus membiarkan Nadia pergi sendirian untuk periksa ke dokter. Tetapi itu keputusan yang diambil oleh Nadia sendiri.


Namun, Berlin tetap saja tidak ingin terjadi sesuatu kepada satu-satunya orang tercintanya itu. Apalagi di tengah memanasnya situasi Ashgard dengan Clone Nostra. Dirinya mengirimkan dua orang rekan kepercayaannya untuk memantau keamanan Nadia. Melalui ponsel yang ia genggam, ia memberikan tugas itu kepada Kimmy dan Sasha tanpa sepengatahuan Nadia.


***


Perjalanannya tidaklah jauh untuk menuju Balaikota. Sesampainya di gedung putih itu. Dirinya langsung disambut oleh seorang penjaga wanita yang berjalan menghampirinya melalui pintu utama gedung putih itu.


"Apakah benar saya sedang berhadapan dengan Tuan Berlin Gates Axel?" ucap penjaga wanita itu sangat sopan, bahkan ia menundukkan kepalanya di hadapan Berlin.


"Ya, itu saya sendiri," jawab Berlin.

__ADS_1


"Baiklah, mari ikuti saya, Tuan! Anda sudah ditunggu di dalam." Penjaga wanita itu kemudian mengantarkan Berlin menuju ke ruangan di mana dirinya akan menemui Garwig.


Ketika berjalan melalui lobi utama gedung putih itu, dan melalui koridor pada gedung itu. Berlin merasa sikap penjaga yang sedang mengantarnya ini sangatlah dingin. Bahkan dirinya merasa tidak asing dengan sosok wajah wanita itu.


Ketika lirikan dan perhatiannya terus tertuju kepada penjaga yang mengantarnya. Penjaga wanita itu tampak sedikit salah tingkah, bahkan sedikit menunjukkan gerak-geriknya yang mencurigakan.


"Ah, Berlin! Aku sudah menunggumu dari tadi!"


Fokus dari perhatiannya terhadap penjaga itu tiba-tiba saja terpecah oleh Garwig yang langsung menyapanya di depan sebuah ruangan. Setelah selesai mengantarkan dirinya, penjaga wanita itu pun menundukkan kepalanya dan lalu segera buru-buru beranjak pergi dari sana. Pandangan Berlin menatap curiga orang itu. Perhatiannya cukup sulit untuk bisa lepas dari penjaga wanita tadi.


"Ayo masuk! Boni sudah menunggu di dalam," Garwig membuka pintu ruangan yang cukup besar itu, dan kemudian masuk ke dalamnya bersama Berlin. Tampaknya ruangan ini adalah ruang kerja milik walikota. Boni terlihat sudah menunggunya duduk di balik meja kerjanya yang berisikan tumpukan dokumen-dokumen penting pemerintahan.


***


"Selamat pagi, tujuan sesuai dengan aplikasi yaitu Rumah Sakit Kota?"


Taksi yang dipesan oleh Nadia pun akhirnya datang juga. Seorang pria yang menjadi supir taksi itu menyambutnya dengan sangat ramah.


"Benar, pak." Nadia pun masuk ke dalam taksi itu, dan kemudian segera bergegas menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Nadia turun dari taksi dan membayarnya. Di saat itu juga tiba-tiba dirinya merasa sedang diikuti oleh orang lain. Karena kondisi rumah sakit yang pada pagi ini cukup ramai, maka dari itu dirinya lebih memilih untuk cuek. Dirinya pun segera masuk ke dalam rumah sakit untuk mendaftar antrian periksa.


Di tengah keramaian yang ada di halaman depan rumah sakit. Kimmy sudah berada di sana bersama dengan satu rekannya yaitu Sasha, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Berlin.


Namun ketika dirinya sedang melaksanakan tugas itu dan berjaga di parkiran motor depan rumah sakit. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju kepada dua orang pria dengan baju putih lengkap. Matanya sangat tidak asing dengan gaya pakaian yang dipakai oleh mereka.


"Kim, apa kau ... melihat mereka?" tanya Sasha sedikit berbisik kepada Kimmy di sampingnya yang sedang bersandar santai pada motor miliknya yang terparkir.


Kimmy mengangguk pelan dengan kepala sedikit tertunduk, "ya." Lirikan matanya tak bisa lepas dari dua pria itu yang sedari tadi berjalan ke sana ke mari di sekitar halaman depan rumah sakit itu. Sikap mereka sangat mencolok seperti sedang menunggu atau menantikan seseorang.


"Ku harap ... mereka ada di sini bukan untuk menunggu Nadia," gumamnya lalu berjalan perlahan sedikit menjauh dari parkiran motor itu. Sasha mengikuti terus ke mana dirinya pergi. Beruntung dirinya dan Sasha tidak mengenakan atribut Ashgard yang akan mencolok dan menarik perhatian.


"Jadi ... apa yang akan kita lakukan?" tanya Sasha berjalan di sisi rekannya.


"Kita jalankan sesuai rencana dan keinginan Berlin," jawab singkat Kimmy. Lirikan matanya masih tajam mengarah ke dua pria yang masih mondar-mandir di sana.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2