Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Pengacau Rencana? #228


__ADS_3

"Pak, apa arahan anda selanjutnya? Apakah kita hanya diam menonton?" cetus salah satu dari kedua personel aparat kepada Berlin.


Berlin masih di tempat serta posisinya yang sama, di atap gedung parkir tersebut dengan pandangan masih memantau kerusuhan yang ada di kejauhan sana. Di belakangnya sudah ada Sasha, Kent, dan kedua personel dari pihak aparat yang terlihat tidak bisa jika hanya diam serta melihat kekacauan itu.


Kent dan Sasha hanya diam, apalagi ketika salah satu dari kedua personel itu melemparkan pertanyaan kepada Berlin. Di bawah guyuran hujan dengan intensitas yang masih sama derasnya, Berlin menjawab kedua pertanyaan itu dengan berkata, "sebaiknya kalian berdua lihat serta baca situasi dengan lebih cermat ...!" ucapnya dengan intonasi datar, bahkan tanpa menoleh.


Suasana seketika tenang karena semuanya diam, dan melihat pemandangan yang sama dilihat oleh Berlin. Distrik Komersial yang saat ini seolah tengah dikuasai penuh oleh orang-orang berjaket merah itu. Mereka tak henti-henti merampas serta merampok yang bukan milik mereka, tanpa henti. Bahkan beberapa warga sipil sempat mereka jadikan tawanan ataupun sandera jika tidak menuruti keinginan mereka, apapun itu keinginannya.


Tak hanya di Distrik Komersial, namun kejadian serta kericuhan yang sama juga terjadi di tiga wilayah lainnya. Kimmy, Adam, dan Asep telah diberitahu oleh Berlin untuk menahan serta jangan menunjukkan intensitas Ashgard terlebih dahulu, dan perintah atau arahan tersebut diterima serta dikerjakan dengan baik. Ketiga tim yang berada di ketiga wilayah yang berbeda sama-sama memberikan jarak dari lokasi kejadian, dan memantau kericuhan itu dari kejauhan sesuai dengan arahan yang Berlin berikan.


Tak berselang lama, sekitar lima menit waktu berjalan. Suara sirine pun terdengar, dan itu berasal dari rombongan mobil serta motor polisi yang mulai berdatangan ke setiap lokasi kericuhan, salah satunya Distrik Komersial. Melihat serta mendapati kehadiran atau kedatangan pihak kepolisian, dengan sigap orang-orang bersenjata itu mengangkat masing-masing senapan mereka, dan langsung melakukan tembakan ke arah kendaraan-kendaraan polisi yang baru datang.


Berlin sedikit tertunduk sembari menghela napas berat menyaksikan semua kejadian itu, "mengapa Prawira mengirimkan anggota-anggotanya ...?!" gerutunya, berbalik badan dan menghampiri Sasha yang berdiri sedikit jauh di belakangnya.


"Saatnya kita bergerak!" ujar Berlin, mendengus kesal, kemudian disusul dengan arahan yang diberikan untuk Kent dan kedua personel itu, "kalian bertiga ikut kami!"

__ADS_1


Berlin berjalan menuruni jalanan menurun, turun ke lantai dua, hingga ke lantai dasar. Laki-laki dengan mantel hitam dan berjalan dengan ditemani oleh tongkat yang selalu ia gunakan itu terlihat sangat kesal dan sebal. Sangat terlihat sekali dari bagaimana sikap serta intonasi bicaranya barusan.


"Kita akan bergerak?" Sasha sedikit mempercepat langkahnya untuk dapat berjalan bersampingan dengan Berlin. Meskipun melangkah masih dibantu oleh tongkat bantu jalan, namun langkah Berlin terbilang sangat cepat, mendahului rekan-rekan setimnya.


"Ya! Polisi-polisi itu mengacaukan rencana ku," sahut Berlin, tanpa menoleh atau melirik sedikitpun kepada rekan wanitanya.


"Memang apa salahnya? Mereka hanya menjalankan tugas seperti kita," celetuk salah satu dari kedua personel itu, yang ternyata mendengar apa yang Berlin katakan.


Seketika Berlin menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang, menatap tajam laki-laki bermantel hitam itu sembari berkata, "aparat sepertimu tidak akan pernah tahu jika apa yang dilakukan oleh polisi-polisi itu termasuk dari salah satu rencana mereka."


Kedua personel dari pihak aparat itu hanya terdiam, apalagi ketika mendapat tatapan yang sungguh tajam seolah menggambarkan hastrat tinggi untuk membunuh orang yang berhadapan dengannya. Mereka berdua terdiam seribu bahasa, bahkan terlihat tidak berani melakukan kontak mata dengan Berlin.


"Kent, aku butuh dirimu sebagai pengintai. Berangkatlah sekarang menuju ke gedung parkir yang ada di belakang mal, dan lakukan pemantauan dari sana. Cari tahu apakah ada sesuatu di barisan atau garis paling belakang mereka ...!" pinta Berlin ketika sudah berdiri tepat di pintu mobil miliknya.


Kent mengangguk tenang menjawab, "baik, aku akan berangkat sekarang," jawabnya, kemudian berlari menuju ke motornya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berada, dan kemudian segera berangkat ke posisi yang ditentukan oleh Berlin.

__ADS_1


"Kalian berdua, cukup ikuti ke mana mobilku berjalan. Tetap sarungkan pistol kalian, dan tahan segala hastrat serta emosi kalian untuk melepaskan tembakan sebelum ada perintah dariku!" titah Berlin, sangat tegas, menatap tajam dan serius kepada dua orang mantel hitam yang berdiri tepat di hadapannya.


"Baik," jawab mereka berdua, tunduk dan patuh, sebelum akhirnya bersiap di atas kendaraan bermotor mereka masing-masing.


"Sasha, kita berangkat ...!" ujar Berlin, kemudian masuk ke dalam mobil, tepatnya di kursi penumpang yang berada di sebelah Sasha yang duduk di kursi kemudi.


"Kita mau ke mana?" tanya Sasha, sembari menyalakan serta memanasi mesin mobil tersebut.


"Ke manapun itu, yang penting tempat aman terlebih dahulu," jawab Berlin, terlihat sibuk mengambil ponsel dan menghubungi seseorang melalui ponsel tersebut.


"Oh iya, katakan kepada yang lain untuk tetap tenang! Jangan ada yang melakukan perlawanan sebelum ada perintah untuk melakukannya," lanjut Berlin.


Sasha mengangguk, "baik," jawabnya sembari mengambil radio komunikasi yang ada di dashboard mobil, sembari menyetir.


Kedua aparat tak berseragam itu terlihat patuh, mengikuti ke mana mobil yang dikendarai oleh Sasha pergi. Di kala Sasha sedang sibuk menyetir untuk berpindah tempat. Berlin terlihat sibuk sendiri mencoba untuk menghubungi seseorang melalui panggilan telepon. Laki-laki itu benar-benar terlihat marah, kesal, dan sebal.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2