Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Berdiam Diri dan Melihat? Itu Bukanlah Diriku! #122


__ADS_3

"Empat orang berjaket hitam, mereka sepertinya tengah baku tembak dengan Clone Nostra."


Garwig menerima laporan tersebut dari tiga aparat yang sempat melihat keributan yang terjadi dari atas. Sesaat setelah menerima laporan tersebut, seketika dirinya langsung memberikan perintah, "regu satu, dua, dan tiga, naik! Target lumpuhkan orang-orang berbaju putih itu, dan jangan tembak orang-orang berjaket hitam!"


"BAIK!"


Tiga buah regu yang disebutkan oleh Garwig langsung bergerak sigap memanjat ke atas atap melalui tiga tali baja tersebut. Di saat itu juga, salah satu perwiranya bertanya, "mengapa tidak kita gunakan seluruh kekuatan kita? Dengan begitu kita akan dapat dengan mudah menghabisi Clone Nostra itu."


"Tak semudah itu menggunakan seluruh alutsista dan personel," sahut Garwig, dan kemudian dirinya mengirim regu terakhir untuk melakukan pergerakan, "kalian putari gedung ini, kepung dan sergap dari berbagai arah!"


"Dengan begitu, aku yakin mereka tidak akan bisa melakukan perlawanan lebih, dan keuntungan ada di tangan kita," lanjutnya bergumam dengan sendirinya.


Terlihat jelas ambisi untuk mengalahkan Clone Nostra di kedua matanya yang menunjukkan semangat berapi-api. Tentu kedaulatan negeri sangat dipertaruhkan saat ini, apalagi menghilangnya sosok Walikota yang secara tiba-tiba itu. Gedung Pusat Pemerintah juga jatuh dan dikuasai musuh. Masa depan negeri akan ditentukan di hari ini, melalui segala upaya aparat atau personel serta beberapa pihak yang terlibat untuk menghadapi apapun rencana Clone Nostra yang sangat berkonfrontasi dengan pemerintah.


***


Mendengar semua baku tembak serta beberapa ledakan yang sempat terjadi, dan rata-rata semua itu berasal dari dalam serta atap gedung. Hati serta pikiran Berlin seolah memerintahkan dirinya untuk ikut bergerak. Keinginannya untuk membantu rekan-rekannya, dan membalaskan sebuah dendam terhadap Clone Nostra atas apa yang ia terima sebelumnya. Ambisi, niat, serta keinginan untuk itu semua sangatlah tinggi dalam dirinya.


Kedua mata milik Berlin sempat melirik ke arah beberapa tawanan yang hanya bisa terdiam di halaman belakang gedung tersebut. Beberapa dari mereka ada yang terluka namun tampaknya tidaklah terlalu parah, kecuali luka terhadap mental atau psikis mereka yang tentu tidak dapat diketahui.


Berlin dengan perlahan namun pasti, dirinya beranjak berdiri dengan satu tangan memegangi pohon tersebut untuk membantunya berdiri. Ia perlahan memaksakan dirinya untuk berjalan, meskipun harus terpincang-pincang dan sedikit menyeret kakinya yang cedera.


Perlahan-lahan Berlin keluar dari bawah pohon itu, dan kembali merasakan rintik hujan yang sekarang tidak lagi deras. Pandangannya terangkat ke atas menatap ke arah langit yang masih berwarna abu-abu pekat itu, dan kemudian menghela napas cukup panjang.


Langkahnya begitu tertatih dan terpincang, gips atau perban yang ia pakai pada pergelangan kaki serta lengan kirinya dibuat basah karena air hujan. Berlin berjalan perlahan-lahan menghampiri sebuah mayat salah satu orang Clone Nostra yang tergelatak di dekat pintu belakang gedung.


"Hei, kau ingin melakukan apa ...?!" seorang lelaki dengan jas berwarna hitam tiba-tiba saja menghampiri Berlin dari belakang, dan bertanya demikian.

__ADS_1


Berlin berbalik dan menatap pria tersebut, melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lelaki itu adalah salah satu tawanan yang dibebaskan oleh rekan-rekannya.


"Dengan siapa aku berbicara?" sahut Berlin, tatapannya seperti biasa tajam terhadap orang asing.


"Salah satu anggota dari regu pertama penjagaan Balaikota," sahut pria berjas hitam itu.


Mendengar jawaban tersebut, Berlin sedikit membuang pandangannya dan malas untuk menatap pria itu. Dirinya kembali berbalik, dan sedikit berjongkok untuk menggeledah mayat dari orang berbaju putih itu. Ia langsung memilih mengambil sikap cuek, dan tidak menghiraukan sama sekali kehadiran lelaki tersebut.


Berlin mengambil sebuah pistol dari balik jas berwarna putih milik mayat salah satu anak buah Clone Nostra yang tergeletak. Di saat itu juga, lelaki yang berdiri di belakangnya tiba-tiba saja berkata, "mengapa kau seolah tidak mempedulikan ku? Siapa tahu aku dapat membantumu, mungkin membantu kalian lebih tepatnya. Apakah kau tidak percaya?!"


Berlin bangkit meskipun dengan satu kaki yang sedikit berjinjit, sebelum kemudian berbalik badan untuk menatap pria tersebut dan berkata, "maka buatlah diriku percaya!" pinta Berlin dengan intonasi rendah dan terdengar mengancam, tatapannya tajam.


Merasa tertantang dengan sikap dan nada bicara yang ditunjukkan oleh Berlin. Lelaki berjas hitam itu mengambil sebuah kartu identitas dari balik jasnya, dan menunjukkan benda tersebut kepada Berlin.


Ketika Berlin melihat kartu identitas milik lelaki tersebut, yang menunjukkan bahwa memang benar kalau lelaki yang saat ini berada di hadapannya adalah salah satu anggota dari regu yang biasa menjaga Gedung Balaikota ini.


"Hei, kau benar-benar tidak sopan!" gusar pria tersebut, ia tampak cukup marah dengan sikap Berlin yang lebih tidak memedulikan kehadiran setelah dirinya menunjukkan identitasnya.


Berlin menghentikan langkahnya yang tertatih dan berkata, "maaf, tetapi aku tidak ada waktu untuk berbincang dengan aparat sepertimu," ucapnya dan kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke pintu masuk belakang gedung.


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja sekelompok regu aparat militer datang melalui bagian barat gedung. Mereka datang dengan senapan-senapannya, dan langsung menghampiri para tawanan yang sudah berkumpul di halaman belakang serta mengamankan mereka semua.


Di saat itu juga, tiba-tiba sesosok aparat taktis dari salah satu divisi khusus milik kepolisian berlari menghampiri Berlin yang berdiri tepat di depan pintu masuk belakang gedung.


"Be-berlin! Berlin, tunggu!" teriak Flix berlari menghampiri Berlin.


"Flix? Sedang apa kau di sini?" sahut Berlin, pertanyaan yang terlontar secara spontan ketika dirinya melihat kehadiran Flix.

__ADS_1


"Sedang apa tanyamu?! Jelas untuk membantumu, Berlin! Lebih tepatnya membantu kalian, Ashgard!" sahut Flix. Pandangannya langsung melihat Berlin dari ujung kaki sampai kembali ke atas untuk menatap wajah milik pria tersebut.


"Berlin, kakimu ...."


"Ya, aku tahu kondisiku, tetapi aku tidak ingin hanya diam dan menonton semuanya. Apalagi setelah semua yang mereka lakukan padaku," sahut Berlin.


Flix tampak cukup khawatir dengan kondisi Berlin yang tidak memungkinkan untuk berlari jika terjadi sesuatu yang buruk, "apakah kau yakin dengan keputusanmu?" tanyanya.


Berlin memandang ke arah dalam gedung yang cukup gelap itu dan berkata, "hanya berdiam diri dan melihat semuanya? Maaf saja, itu bukanlah diriku!"


"Aku tidak bisa melakukan itu," lanjut Berlin kembali menoleh dan menatap serius Flix.


Melihat keseriusan dan ambisi serta semangat yang tidak pudar dari kedua mata milik Berlin. Flix tersenyum lebar dan berkata, "baiklah jika itu keputusan mu, Berlin."


Flix menatap ke arah dalam gedung dari depan pintu besar yang terbuka itu, sebelum kemudian berkata, "mau bagaimanapun juga kau adalah keluargaku, Berlin," ucapnya sebelum kemudian kembali menoleh untuk menatap Berlin dan melanjutkan perkataannya, "apapun keputusan yang kau buat di detik ini, aku akan selalu ada di samping mu!"


"Apakah kau butuh bantuan untuk berjalan?" Flix tiba-tiba mengulurkan tangannya kepada Berlin.


Berlin meraih bantuan tersebut dan berkata, "ya, aku baru sadar kalau kau juga salah satu dari keluargaku," celetuknya sembari tertawa kecil.


"Astaga, aku tak mengira kalau ternyata kau sejahat itu. Yah, aku tidak bisa menyalahkan dirimu juga, sih. Aku bergabung ke dalam keluarga Gates setelah kepergianmu dari keluarga itu, sih. Jadi sudah dipastikan dari dahulu kau belum mengenal diriku," Flix ikut tertawa dan sedikit bergurau dengan Berlin.


Mereka berdua berjalan memasuki gedung, dengan sedikit berbincang dan bergurau. Berlin berencana untuk menyusul rekan-rekannya, sedangkan Flix berencana untuk terus mengikuti dan membantu Berlin. Flix sendiri telah sepakat kepada dirinya sendiri untuk membantu Ashgard, terutama Berlin. Bahkan dirinya siap menjadikan nyawanya sebagai tameng untuk Berlin jika terjadi sesuatu yang buruk dari yang terburuk.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2