Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Diburu Wartawan #153


__ADS_3

"Sosok pria berjaket hitam bersama dengan sosok wanita yang berdiri di belakang dua tersangka masih menjadi kontrovesial. Lantaran identitasnya yang masih juga belum diketahui sampai detik ini. Namun kita sepertinya harus bersyukur, karena beruntung dia berada di pihak kita untuk menyelesaikan penyerangan yang dilakukan oleh Clone Nostra."


"Siapakah dia sebenarnya? Tentu pertanyaan itu masih sedang dicari tahu jawabannya."


Di malam hari yang tenang, ditambah dengan suasana dinginnya. Ketenangan Berlin bersama dengan istrinya harus diwarnai oleh media yang menyiarkan pemberitaan mengenai dirinya. Di sofa ruang tamu lantai satu, Berlin menghabiskan waktu santainya di penghujung malam yang indah ini.


"Sepertinya kamu mendadak terkenal," celetuk Nadia yang bersandar santai pada dada bidang milik lelaki itu. Ia menoleh, sedikit mendongak, dan menatap dengan tatapan lembut pria itu sembari berkata, "hati-hati, dan siap-siap ...! Firasatku berkata kalau akan ada banyak orang yang mencari mu."


"Iya, aku sudah tahu, kok. Sungguh merepotkan ...!" dengus Berlin, sedikit sebal dengan semakin naiknya pemberitaan yang masih membahas tentang dirinya. Lelaki itu sepertinya sangat tidak menyukai pemberitaan itu.


"Mama ...!" Di tengah obrolan santai mereka, Akira berjalan menuruni anak tangga dengan wajah yang sudah sangat mengantuk.


"Kamu kok belum tidur?" Nadia dengan sigap beranjak dari sofa, menyambut, dan merangkul gadis kecil itu.


Akira sempat menguap, sebelum menjawab, "Akira enggak bisa tidur."


Nadia tersenyum lembut melihat ekspresi anak itu yang sudah sangat mengantuk. Dirinya pun menggandeng salah satu tangan kecil milik Akira, "yaudah, yuk, sama Mama!" ucapnya dengan senyuman manis yang tersungging.


"Berlin, kamu nggak tidur?" Nadia menghentikan langkahnya di anak tangga ketiga.


"Aku masih ingin di sini terlebih dahulu, kamu tidur aja dulu ...! Nanti aku menyusul ke kamar," jawab Berlin, masih duduk di sofa ruang tengah.

__ADS_1


"Jangan terlalu malam, ya!" tegas Nadia, namun intonasi bicaranya masih terdengar begitu lembut.


Kedua orang tersayangnya kini telah lebih dahulu kembali ke kamar yang berada di lantai tiga. Kini hanya menyisakan Berlin seorang di ruang tengah yang cukup luas dan lebar ini. Lelaki itu mengambil remote televisinya di atas meja, dan mematikan televisi yang masih menyiarkan berita tersebut.


Langkahnya pelan, membawa dirinya menuju ke taman halaman belakang. Suasana malam yang sangat tenang, hanya terdengar suara hembusan angin malam yang cukup dingin, dan gemericik air kolam yang dapat didengar jelas.


Berlin menghentikan langkahnya, bersandar pada pagar beton putih di ujung taman, dan mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku hoodie putihnya. Dengan ponsel genggam tersebut, ia tampak membuka sebuah kontak, dan mulai berbicara dalam panggilan suara dengan seseorang.


"Dia sudah ada di kediaman?"


"Baik, terima kasih banyak!"


Berlin terlihat berbicara dua hal tersebut dengan sosok di balik panggilan suara yang sedang ia lakukan. Suara pria itu kemudian berkata, "oh ya, satu hal lagi! Besok datanglah ke kediaman, karena aku ingin mengadakan pesta kecil-kecilan! Ajak rekan-rekan Ashgardmu dan juga orang-orang yang kau hendak ajak!"


"Semakin ramai sepertinya akan semakin seru!" sahut pria itu.


Beberapa saat berlalu, Berlin menghabiskan waktunya untuk bercakap-cakap dengan lelaki di dalam teleponnya, sebelum akhirnya panggilan suara tersebut ia akhiri. Namun tidak selesai sampai di situ, Berlin kembali disibukkan dengan sebuah panggilan masuk yang tidak ia duga.


"Kimmy?" gumam Berlin, melihat nama kontak yang muncul pada layar ponselnya.


"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Berlin, menerima panggilan telepon tersebut.

__ADS_1


"Tidak terlalu bermasalah, sih. Tetapi ... ini pasti cukup merepotkan, Bos." Kimmy menjawab pertanyaan tersebut. "Sepertinya kita masuk ke dalam daftar DPO para awak media, beberapa dari kami sempat dikejar-kejar wartawan, namun berhasil lolos."


Berlin menghela napas berat menerima kabar soal itu. Sepertinya tidak hanya dirinya yang dicari-cari oleh para awak media, namun itu juga terjadi pada rekan-rekannya. Memang, mendadak viral itu tidak selamanya menyenangkan, malah yang ada adalah sangat merepotkan. Begitulah kira-kira yang dirasakan oleh Berlin saat ini. Dirinya merasa beruntung karena lokasi dari vila miliknya ini berada di lokasi yang cukup jauh dari kota, dan tidak ada yang tahu kecuali diberitahu.


***


"Masuk, dan diamlah di dalam sini!" tegas seorang aparat dengan wajah tertutup masker wajah. Aparat itu membawa seorang pria berbaju putih yakni Tokyo El Claunius kembali ke jeruji besinya.


Tokyo hanya menuruti perintah itu, dengan begitu patuh dan tunduk. Ia masuk ke dalam ruangannya, dan kemudian dikunci rapat-rapat di dalam sana. Dinding ruangan yang terbuat dari beton yang sangat sulit dibobol, dan pintu yang terbuat dari baja tebal yang tidak dapat didobrak paksa serta diledakkan. Lantai beralaskan semen hitam yang terasa dingin. Sungguh tidak menyenangkan suasana di dalam ruang tahanan itu.


Tokyo telah selesai melakukan pemeriksaan untuk yang kesekian kalinya, pemeriksaan yang dibutuhkan untuk melengkapi datanya di persidangan yang akan segera diselenggarakan oleh pemerintah. Padahal persidangan itu masih belum dimulai, namun Tokyo sudah dapat menebak apa hukuman yang akan dijatuhkan untuk dirinya.


PYAARRR ...!!


Tokyo menjatuhkan sebuah gelas kaca dari atas meja di sudut ruangan. Ya, hukuman yang ia terima kemungkinan besar akan sama nasibnya seperti gelas kaca itu. Pecah, berceceran ke mana-mana, tak karuan.


Namun meski begitu, pria bernama Tokyo itu terlihat begitu tenang seolah tidak terlalu memusingkan nasibnya di persidangan kelak. Ekspresi wajahnya seperti menyimpan sebuah rencana dan niatan yang tentunya tidak baik, sama seperti ketika Clone Nostra sebelum melakukan penyerangan terhadap Gedung Balaikota.


"Meja hijau yang menarik, sepertinya akan lebih menarik jika aku mencoba menguji sesuatu dalam persidangan itu?" gumamnya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2