
"Berlin, apa kau sudah gila?!" pekik Prawira dengan sedikit menggebrak sebuah meja di depannya.
Suasana di ruang tamu sangatlah sepi, hanya ada mereka bertiga. Berlin memutuskan untuk memberitahukan semuanya, termasuk soal rencana serta keputusannya kepada Garwig dan Prawira. Tidak lupa juga, dirinya membahas soal surat yang dikirim oleh Nicolaus padanya.
"Kau tahu, 'kan?! Pulau itu adalah kandang mereka, dan kau mau mendatangi Nicolaus ke sana?!"
Prawira cukup dibuat terheran-heran dan sedikit naik pitam karena rencana serta keputusan yang diambil Berlin. Namun Berlin hanya diam dan memasang sikap yang begitu dingin seolah tidak begitu menghiraukan perkataan Prawira.
"Tenanglah, Prawira!" pinta Garwig dengan tegas kepada Prawira yang duduk di sofa hadapannya.
Prawira pun menghela napas berat, dan menyandarkan dirinya pada sandaran sofa tersebut. Setelah itu, situasi hening sejenak sebelum akhirnya Garwig yang angkat bicara dan menjelaskan soal tragedi pembunuhan itu.
"Berlin, aku tahu kau pasti sudah mengetahui siapa dalang di balik tragedi pembunuhan itu. Aku tahu apa yang kau rasakan ketika melihat rekaman itu, dan juga ketika kau tahu siapa dalang di balik peristiwa itu."
"23 tahun yang lalu. Pada saat itu ... situasi politik sedang panas-panasnya, dan posisi dari ayahmu adalah walikota yang berhasil. Pada masa jabatannya, beliau berhasil mensejahterakan rakyat, dan bahkan berhasil membuat tiga wilayah yurisdiksi saling menjalin hubungan yang sangat baik."
"Sebelumnya ... Wilayah Kota Metro, Shandy Shell, dan Paletown adalah tiga wilayah dengan tiga pemerintahan yang berbeda. Ketiga wilayah ini sering menyulut konflik di berbagai hal, salah satunya soal pembatasan wilayah dan sumber daya. Namun ... entah bagaimana caranya, beliau berhasil menyelesaikan dan mendamaikan semua permasalahan itu."
Berlin hanya diam dan mendengarkan semua yang dibicarakan oleh Garwig dengan saksama, apalagi jika pembicaraan itu mengenai orang tuanya. Setelah jeda beberapa detik, Garwig kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Namun ketika ayahmu berhasil sebagai walikota, ternyata ... banyak pihak yang rupanya tidak suka dengan kehadiran beliau, salah satu dari beberapa pihak itu adalah Keluarga Besar Matrix ... yang pada saat itu adalah saingan beliau dalam berpolitik."
"Mereka menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan kesuksesan beliau, termasuk juga keluarga beliau ... yaitu Gates. Dan situasi kami pada saat itu sedang sangat panas-panasnya dengan pihak mereka, bahkan di antara pihak kami dan mereka sempat terjadi gencatan senjata."
Gencatan senjata? Tentu itu membuat Berlin langsung bingung dan bertanya-tanya ketika mendengarnya. Dirinya pun angkat bicara untuk bertanya setelah Garwig menyelesaikan perkataannya.
"Apa maksudnya dengan gencatan senjata?" tanyanya sembari menduga-duga beberapa hal sebelum mendengar Garwig memberikan jawabannya.
Tanpa basa-basi, Garwig pun menjawab pertanyaan itu dengan lugas dan tanpa ada yang disembunyikan lagi dari Berlin.
"Ya, mungkin kau sudah menduganya. Keluarga Gates dan Keluarga Matrix bagaikan kucing dan anjing pada saat itu. Kami sering bentrok jika bertemu baik disengaja atau tidak disengaja, bahkan kami juga mengalami kehilangan beberapa anggota keluarga karena peperangan dengan Matrix yang hampir tidak ada jedanya."
"Seperti konflik antar kelompok?" celetuk Berlin dengan tatapan penasaran.
"Ya, dan mungkin kau ... Ashgard juga pernah mengalaminya. Namun bedanya, pada kasus ini adalah konflik antar pihak yang memiliki kekuasaan," jawab Garwig.
__ADS_1
Berlin mengangguk paham setelah mendengar jawaban tersebut. Apalagi dirinya sudah tahu siapa pria bernama Nicolaus Matrix itu, dan bagaimana perannya ketika Mafioso masih berjaya.
"Karena konflik yang berkepanjangan, Axel Gates yaitu ayahmu ... dia memutuskan untuk membuat kesepakatan gencatan senjata dengan pihak mereka, dan mereka pun setuju serta bersepakat di awal dengan keputusannya. Beliau juga berniat untuk melakukan negosiasi agar konflik itu dapat berakhir dengan baik tanpa harus jatuh korban lagi."
"Namun ternyata ... pihak Matrix mengingkari kesepakatan itu, dan ... secara frontal ... mereka ... melakukan penyerangan ke kediaman ini."
Garwig cukup sulit berbicara pada kalimat terakhirnya, ditambah lagi dirinya dapat melihat bertapa emosionalnya Berlin ketika mendengar hal tersebut. Tatapan Berlin benar-benar sangat tajam dan ekspresinya begitu dingin seolah sedang memendam sebuah dendam yang terdalam.
Sepanjang Garwig bercerita. Berlin jadi mengetahui beberapa hal yang baru baginya. Sedangkan Prawira hanya diam sepanjang Garwig berbicara.
"Apakah ... semua itu ... benar dan tidak ada kebohongan?" tanya Berlin lalu sedikit menundukkan kepalanya dan kemudian sedikit menghela napas.
"Sama sekali tidak ada lagi yang disembunyikan, Berlin. Aku berani bersumpah," jawab Garwig dengan lugas.
"Bolehkah aku bertanya satu hal?" sahut Berlin mengangkat kembali kepalanya dan menatap Garwig dan Prawira dengan tatapan penasaran.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Jika kalian sudah tahu pelakunya adalah Nicolaus. Mengapa kalian tidak segera menangkapnya ...?!"
Beberapa detik diam dan sunyi, tanpa ada kelanjutan jawaban dari Garwig ataupun Prawira. Berlin masih penasaran dan menunggu jawaban itu, meskipun dirinya rela jika pertanyaannya tidak akan mendapat jawaban.
"Jujur saja ... kami tidak berani melakukan itu, selagi Nicolaus masih memiliki hubungan atau koneksi dengan Clone Nostra." Garwig memutuskan untuk kembali angkat bicara dan menjawab pertanyaan itu.
Tidak berani?! Yang benar saja! Tentu hal itu cukup untuk membuat Berlin terheran-heran dengan kedua pria ini. Bukankah sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka untuk meringkus orang-orang seperti Nicolaus? Tentu pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.
"Apakah selemah itu pemerintah, terutama pihak berwenang?" celetuk Berlin dengan intonasi bertanya yang seolah merendahkan serta meremehkan. Tatapannya tajam dan seolah merendahkan dengan kedua orang penting di hadapannya.
"Kurasa ... kami pantas mendapatkan kritikan pedas itu," gumam Garwig menghela napas dan sama sekali tidak marah ketika Berlin berkata seperti itu.
Berlin sedikit terbawa suasana ketika berbicara, apalagi setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Garwig. Dirinya jadi teringat dengan kedua orang tuanya yang kini hanya bisa ia pandangi melalui foto.
"Kurasa keputusan yang tepat untuk tidak terlalu percaya dengan kalian. Terima kasih banyak sebelumnya, dan maaf karena telah menyita waktu kalian untuk hal yang sia-sia," ucap Berlin lalu beranjak dari sofa tempat ia duduk.
"Berlin, tunggu dahulu! Kurasa aku bisa membantumu," cetus Garwig dan membuat langkah Berlin terhenti ketika sampai di pintu masuk.
__ADS_1
"Ya, meskipun kau boleh untuk tidak mempercayai kami, tetapi ... kami percaya dengan keputusanmu," lanjutnya berkata.
Mendengar hal tersebut, Prawira sontak menoleh dan menatap bingung Garwig di sampingnya. Soal keputusan Berlin untuk bertemu dengan Nicolaus tentu sangat kontra dengan dirinya.
"Jika kau mau, aku bisa mengkoordinasikan rencanamu dengan regu milikku yang sampai saat ini masih berada di pulau. Tetapi mengingat risiko yang sangat tinggi, dan jika terjadi sesuatu akan cukup susah untuk mengirim bala bantuan. Maka aku tetap sangat tidak merekomendasikan kau untuk pergi ke sana, Berlin."
Berlin sedikit menoleh ke belakang setelah mendengar tawaran yang menarik perhatiannya. Namun tidak dengan Prawira yang tampak cukup bertentangan dengan tawaran yang diberikan oleh Garwig.
"Garwig, tunggu dahulu! Aku tidak bisa melepaskan Berlin untuk pergi ke sana begitu saja. Kau sendiri tahu, 'kan?! Mungkin dia bisa pergi ke pulau itu, namun belum tentu dia dapat kembali dari sana dengan selamat."
"Ya, aku tahu. Maka dari itu, aku sangat tidak merekomendasikannya, Berlin. Mungkin kita bisa memakai rencana lain?" sahut Garwig.
"Tidak! Aku sudah memutuskannya," sahut Berlin tegas dan lugas namun tanpa membalikkan badannya untuk menghadap lawan bicaranya.
"Berlin, tolong pikirkan lagi! Keputusan dan rencanamu untuk sungguh nekat!" tegas Prawira melangkah sedikit lebih dekat di belakang Berlin.
Berlin sama sekali tidak membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Prawira. Dirinya hanya menoleh dan melirik tajam pria yang kini berdiri di belakangnya itu sebelum kemudian berkata, "maaf, Prawira. Aku dan hatiku tidak bisa membiarkan pembunuh kedua orang tuaku bergerak bebas dan leluasa. Aku tetap akan pergi ke sana."
"Garwig, aku mohon bantuannya, terima kasih!"
Setelah berkata demikian, dan mendapat jawaban dari Garwig yang hanya mengangguk ketika ia memohon. Berlin langsung beranjak pergi dari kediaman itu.
"Garwig, kau tidak serius, 'kan?" tanya Prawira menatap tajam Garwig. Dirinya sangat kontra dengan keputusan Garwig yang tampaknya mendukung keputusan Berlin.
"Berlin adalah orang yang keras kepala, dan dia juga orang yang cukup pendendam dengan orang lain yang berani menyakiti orang yang berharga baginya. Apapun yang kita lakukan untuk menghalangi keputusannya, kurasa itu tidak akan berhasil."
"Lagipula dia tidak akan pergi sendiri, dia pasti membawa Ashgard bersamanya. Maka ... aku akan sedikit berbicara dengan petinggi Ashgard untuk menyampaikan suatu pesan."
"Kau tenanglah, Prawira. Percayalah dengan keputusan anak itu! Percayakan saja dengan segala pengalaman yang sudah dia miliki."
Garwig memberikan jawaban untuk pertanyaan Prawira. Mendengar jawaban itu, Prawira dapat merasa sedikit lebih tenang, namun tetap saja rasa cemas terhadap keselamatan Berlin masih sangat tinggi.
.
Bersambung.
__ADS_1